Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Moment tak terduga


__ADS_3

Lucas pun langsung menelpon Ronald, papanya.


“Halo pa.”


“Hey Lucas hahaha, gimana? Apa kamu udah di rumah nak?”


“Apanya yang di rumah pa?? Udah hampir satu jam aku menunggu Sekretaris papa yang katanya mau menjemputku.”


“Hah?! Serius? Memangnya Mitha gak ada ngubungi kamu??”


“Mitha??? Siapa lagi Mitha itu?"


“Iya Mitha, dia itu lah Sekretaris papa.”


“Gak ada pa.”


“Really??” Ronald pun nampak bingung.


“Hmm ya udah, gak apa lah pa. Aku pulang naik taksi aja, lagian tadi ada kejadian kecil yang bikin baju yang ku pakai sekarang jadi kotor.”


“Kamu yakin gak papa pulang naik taksi?”


“Iya gak papa pa, sampe in aja sama Sekretaris papa, gak perlu lagi menjemputku!"


“Ya udah kalau gitu, take care.”


“Ok pa, see you at home.”


Panggilan telepon pun berakhir, Lucas kembali bangkit dari duduknya dan langsung melangkah pergi menuju pintu keluar, namun tak lama, ponselnya kembali berdering, membuat dahinya mulai berkerut saat memandangi nomor asing yang saat itu meneleponnya.


Di sisi lain, Mitha akhirnya sedikit merasa antusias karena nomor Lucas yang sejak tadi tidak bisa di hubungi, kini sudah bisa tersambung.


“Aghhh akhirnya nyambung juga,,,” Celetuk Mitha penuh semangat.


*tut..tut..tut..* 


Namun meski sudah menunggu beberapa saat, masih juga belum terdengar jawaban dari Lucas hingga membuat Mitha mulai kembali geregetan.


“Ayo angkat, ayolah!!!" Gerutunya lagi.


Sementara Lucas, yang sudah terlanjur naik ke taksi, memilih mengabaikan panggilan yang menurutnya sudah tidak penting lagi baginya.

__ADS_1


Satu jam berlalu, kali ini Mitha nampaknya sudah benar-benar putus asa untuk mencari dan mencoba menghubungi Lucas. Ia pun terkulai lemas di sebuah kursi tunggu yang berada di area loby kedatangan,


“Aaaghh, kakiku sakit sekali!!" Ringisnya sembari mengusap-usap kakinya yang kala itu terlihat menggunakan sepatu hak tinggi.


Dengan lesu Mitha meraih kembali ponselnya dan akhirnya memberanikan diri untuk menelpon Ronald, atasannya.


“Halo Mitha..”


“Ha,, halo pak. Hmm pak, sebelumnya saya sangat minta maaf pak, sampai sekarang saya masih belum menemukan anak bapak. Saya minta maaf pak, saya sudah cari kemana-kemana, dan bertanya pada beberapa petugas bandara tentang pesawat yang landing dari London. Bahkan saya juga sudah beberapa kali mencoba menghubungi anak bapak, tapi sampai sekarang tidak ada jawaban.” Jelas Mitha dengan nada yang terdengar begitu lirih.


“Mitha, Mitha! tenang dulu, jangan panik, ok! Anak saya sudah di rumah.” Jelas Ronald dengan tenang.


“Hah??!!” Mitha pun tercengang.


“Iya, dia sudah pulang naik taksi, karena dia bilang ada sebuah insiden kecil yang membuatnya ingin cepat-cepat pulang.” Jelas Ronald lagi.


Saat itu Mitha pun masih terdiam, menahan rasa kesalnya pada Lucas.


“Dan maaf sekali, saya juga lupa mengabarimu Tha, karena tadi saya sedang memimpin rapat. Maaf ya Tha, kalau begitu kamu boleh pulang sekarang dan beristirahat."


“Hemm ya sudah kalau begitu, tidak apa-apa pak, saya yang harusnya minta maaf pak, saya tidak amanah, tidak bisa menjalankan tugas saya dengan baik kali ini, maafkan saya ya pak.”


“Eemm baik pak, kalau begitu saya pulang ya pak.”


“Iya Tha, sampai bertemu nanti malam ya.”


“Iya pak.”


Mitha pun tertegun sejenak, perasaan kesalnya kini seakan semakin menjalar hingga ke ubun-ubun, ia pun kembali memandangi foto jadul Lucas dengan tatapan seperti ingin benar-benar membunuhnya saat itu juga.


“Bener-bener kau ya!!! Kakiku serasa mau patah keliling bandara untuk mencari-carimu dengan sepatu hak tinggi ini, tapi ternyata kau malah udah enak-enakan di rumah, bahkan kau gak ada niat untuk mengangkat teleponku cuma untuk sekedar ngomong kalau kau udah di rumah???!!” Gerutu Mitha seorang diri.


“Rasa-rasanya sia-sia aja nuntut ilmu sampai ke Inggris, tapi sama sekali gak punya rasa kemanusiaan. Huh, mentang-mentang anak bos!!” Tambahnya lagi sembari bangkit dengan kasar dari duduknya.


Mitha pun akhirnya melangkah pergi, menuju area parkiran mobil tempat dimana ia memarkirkan mobilnya. Sepanjang jalan, Mitha terus saja mengutuk Lucas dalam diamnya, banyak hal yang membuatnya masih saja begitu kesal pada Lucas yang memutuskan untuk pulang begitu saja tanpa memberi kabar apapun padanya.


“Apa sih susahnya??! Setidaknya dia bisa mengangkat teleponku dan ngomong kalau dia udah pulang!! Dia itu gak bisu kannn?!!” Gerutu Mitha seorang diri.


“Aaagghh!! Bener-bener masih gak habis pikir, gara-gara dia, sampai jam segini aku bahkan belum makan siang!!” Tambahnya lagi setelah ia melirik ke arah jam tangan miliknya.


Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 13:30 siang, cacing-cacing di dalam perut Mitha pun seolah-olah sudah menunjukkan rasa protesnya karena masih juga belum diberi makan. Pelan-pelan Mitha mulai merasakan sakit pada bagian ulu hatinya.

__ADS_1


“Haaaiiss, ini sakit pasti karena aku telat makan siang, di tambah dari tadi aku terus jalan keliling bandara untuk mencari lelaki itu.” Keluh Mitha.


Semakin lama, Rasa sakit pun semakin terasa, membuat Mitha mulai kehilangan konsentrasi dalam mengemudi, tak ingin menunda lebih lama lagi, ia pun memutuskan untuk berhenti di sebuah cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari daerah perusahaan tempat ia bekerja.


Mitha terus melangkah memasuki cafe itu sembari memegangi perut dan ulu hatinya yang semakin terasa sakit ketika dibawa berjalan. Wajahnya mulai sedikit pucat dan ia pun akhirnya terduduk lesu di salah satu kursi yang kosong. Dan kebetulan, baru beberapa detik terduduk, Mitha merasakan ada seseorang yang menepuk pelan pundaknya, ia pun seketika langsung menoleh ke belakangnya.


Kedua matanya pun sontak membulat sempurna saat mendapati seseorang yang begitu familiar sudah berdiri di dekatnya.


“Kak Vino???” Ujarnya terkejut.


“Ah ternyata beneran kamu, Tha.” Jawab Vino dengan sebuah senyuman simpul.


“Kak Vino ngapain disini??" Tanya Mitha yang mendadak jadi sedikit gugup.


“Ya mau makan lah, masa mau nonton.” Jawab Vino santai sembari terkekeh geli.


Mendengar jawaban Vino membuat Mitha yang masih merasakan sakit, hanya bisa tersenyum. Saat itu ia sama sekali tidak berniat ingin menampakkan rasa sakitnya, karena ia tidak ingin merusak suasana, menurutnya ini moment begitu berharga dan tidak selalu terjadi.


“Jam segini baru mau makan?” Tanya Mitha lagi.


“Heem sebelum ku jawab, boleh aku duduk disini?” Tanya Vino seketika.


“Oh sure.” Jawab Mitha cepat.


Tak lama seorang pelayan pun datang dengan membawa sebuah buku menu, tanpa basa basi mereka langsung memesan makanan dan minuman yang diinginkan.


“Baik, silahkan di tunggu.” Ucap sang pelayan dengan sebuah senyuman dan kemudian langsung beranjak pergi.


“Hari ini kerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya, makanya aku baru sempat makan sekarang.” Jawab Vino kemudian.


“Oh hehe begitu rupanya.” Mitha pun kembali tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.


“And you, kenapa baru makan jam segini? aku bahkan gak ada liat kamu lagi di kantor setelah dari ruangan pak Ronald tadi. Where are you been?"


“Oh itu hehe, iyaa tadi pak Ronald menugaskan aku untuk menjemput anaknya itu di bandara.”


“Ohh I see, pantesan aja aku gak liat batang hidungmu lagi sejak pagi tadi hehehe. Tapi, kenapa malah makan sendirian disini? Memangnya anak bos itu gak ada niat mentraktirmu makan siang?”


Mitha pun hanya tersenyum tipis dan menggelengkan pelan kepalanya.


...Bersambung…...

__ADS_1


__ADS_2