Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Perang tatapan sinis


__ADS_3

“Ah enggak, gak boleh!” Tegas Nonna.


Hal itu pun cukup membuat Mitha sedikit bingung dengan sikap Nonna.


“Mak,, maksud tante? Kenapa gak boleh tante?” Tanya Mitha yang terlihat bingung.


“Maksud tante, kamu gak boleh pulang dulu sebelum ikut makan malam bersama kami Mitha,” Jelas Nonna kemudian.


“Oh astaga hehehe gak usah repot-repot tante, Mitha makan malam di rumah aja, lagian bunda dan ayah pasti udah nungguin di rumah.” Tolak Mitha dengan senyuman kikuknya.


“Kamu udah terlanjur masih disini saat jam makan malam Tha, dalam keluarga kami, kalau ada yang bertamu sampai jam makan malam, maka kami gak bakalan biarin tamu itu pulang sebelum menyantap makan malam bersama kami.” Jelas Nonna dengan lembut.


“Ya udah ma, papa ke meja makan duluan ya,  ajak Mitha sekalian! Bilang sama dia kalau ini adalah perintah! Dan untuk urusan orang tuanya, biar papa nanti yang menghubungi Hendra." Ucap Ronald yang kemudian melangkah dengan tenang menuju meja makan yang terletak tak jauh dari ruang keluarga.


Mitha pun terdiam, sementara Nonna dan Dara, mereka kembali tersenyum memandangi Mitha yang nampak semakin kikuk.


“Kamu denger itu Thaa?! Apa sekarang kamu masih sanggup nolak perintah atasan?” Nonna semakin tersenyum sembari menaikkan kedua alisnya.


“Hehehe ya udah kalau gitu tante, Mitha gak mungkin bisa nolak kalau ini memang perintah.” Jawab Mitha dengan sebuah senyuman keterpaksaan.


“Nah gitu dong, good girl. Ayo kita ke meja makan sekarang!" Nonna pun membawa Mitha menuju meja makan.


Di meja makan sudah terhidang banyak menu makanan yang cukup menggugah selera. Mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup, semuanya tertata dengan sangat rapi. Nonna dan Dara langsung duduk di sisi kanan dan kiri Ronald yang telah lebih dulu duduk di kursinya. Sementara Mitha, saat itu ia masih terlihat sedikit segan dan seolah enggan ingin duduk.


“Mithaa, kenapa masih berdiri disitu?? ayo duduk disini!" Ajak Nonna sembari menunjuk ke arah kursi yang ada di dekatnya.


“Oh, iy,, iya tante.” Mitha pun mengangguk dan perlahan mulai duduk.


"Gimana pa, udah di telpon belum?" Tanya Nonna memastikan,


"Iya udah, ma." Jawab Ronald.


"Mitha, om udah telpon ayah kamu, dan dia sama sekali gak keberatan kalau kamu ikut makan malam bersama kami, Hmm jadi sekarang udah gak ada masalah lagi kan?" Tanya Ronald yang kali ini melirik ke arah Mitha.


Mitha pun akhirnya kembali tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya.


"Gak ada om." Jawabnya kemudian.


Semuanya sudah siap, namun Ronald nampaknya masih enggan menyantap makan malamnya lebih dulu hingga hal itu mengundang tanya pada Nonna.


“Ada apa pa? Kenapa belum mulai makan juga? Yang lain udah nungguin loh pa.” Bisik Nonna.


“Mama ini gimana?? Masa kita harus mulai makan malam tanpa Lucas??”


Mendengar hal itu, membuat Nonna sontak menepuk jidatnya.


“Oh astaga!!! Mama lupa hahaha.” Nonna pun kembali terkekeh.


“Maaf paa, mama beneran lupa kalau Lucas udah balik ke rumah ini. Maklum lah, dia udah terlalu lama di London, hehe.”

__ADS_1


Ronald pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis, begitu pula dengan Dara yang juga ikut tersenyum, namun hal itu ternyata tidak terjadi pada Mitha, ia justru hanya diam dengan segudang pikiran dan rasa kesalnya pada Lucas yang kembali mencuat.


“Bik Nur,” panggil Nonna.


“Iya bu?” Tak lama bik Nur pun muncul dari arah dapur.


“Dimana Lucas? Apa dia udah di panggil untuk makan malam?”


“Udah bu, tapi tadi katanya sebentar lagi mau turun.” Jawab Bik Nur.


"Tapi mana dia? Kok masih belum turun juga??" Kali ini giliran Ronald yang bertanya.


“Aku disini!" Tiba-tiba Lucas pun muncul, saat itu ia terlihat tengah menuruni anak tangga dengan langkah yang begitu tenang..


Penampilan Lucas pada malam itu pun terlihat cukup santai, ia memakai baju kaos berwarna hitam dengan celana pendek selutut berwarna putih, meski begitu tetap saja ketampanan Lucas masih terlihat jelas walau bagaimana pun penampilannya, namun sayangnya, Mitha belum menyadari hal itu.


Mitha pun melirik ke arahnya sesaat, namun setelahnya dengan cepat ia memalingkan pandangannya sembari memutarkan bola matanya, menandakan jika ia benar-benar tak suka pada lelaki itu. Sementara Lucas, ia juga tampak terus memandang ke arah Mitha yang kala itu terlihat terus memalingkan wajahnya.


"Perempuan itu, besar juga nyalinya!! Bisa-bisanya dia masih berani menampakkan mukanya disini sesudah menuduhku jadi penyusup!" Gumam Lucas dalam hati.


Lucas pun terus melangkah dengan tenang menuju meja makan, lalu dengan tidak malu-malu langsung menghampiri Mitha yang kala itu sama sekali tidak mau menatapnya.


“Loh, loh, loh, mau apa lagi dia? Kenapa dia malah jalan ke arahku??” Tanya Mitha dalam hati, namun tetap berusaha untuk bersikap tenang di hadapan mereka semua.


“Heh! siapa yang suruh duduk di kursiku?” Tanya Lucas dengan tenang pada Mitha.


Hal itu, sontak membuat Mitha mulai menatapnya dengan tatapan tak senang. Begitu pula dengan Ronald, Nonna, dan Dara yang juga mendengarnya, mereka bertiga sontak dibuat mengernyitkan dahinya kala melihat kelakuan Lucas.


“Kejadian apa?” Tanya Ronald yang ternyata belum tau ceritanya.


“Oh hahaha, mama belum cerita kejadian tadi sore sama papa ya?” Nonna pun kembali terkekeh geli saat teringat kejadian itu.


"Belum, ada kejadian apa memangnya?" Tanya Ronald santai.


“Hmm Lucas, ayo kamu duduk dulu! Lagian disini masih banyak kursi kosong.” Ucap Nonna.


Namun Mitha, ia justru langsung bangkit dari duduknya,


“Oh gak usah tante,  biar Mitha aja yang pindah.” Mitha pun tersenyum dan langsung beranjak begitu saja menuju kursi kosong yang letaknya tepat berhadapan dengan kursi Lucas.


Mitha kembali duduk, tatapan matanya kini semakin menyorot dengan tajam ke arah Lucas yang kala itu juga tak kalah menatapnya tajam. Lucas pun akhirnya duduk di kursi yang ia inginkan, dengan cepat ia membalikkan piring miliknya dan langsung menyendokkan nasi ke dalam piringnya.


“Ayo makan, aku udah laper.” Ucapnya datar.


“Oh ayo, ayo! Memang sebaiknya kita makan aja dulu." Ronald pun ikut membalikkan piringnya.


Nonna dengan sigap mengambilkan makanan untuk suaminya, sambil mulai menceritakan kejadian apa yang terjadi antara Mitha dan Lucas tadi sore di kolam renang. Dara yang juga mendengarnya pun akhirnya ikut terkekeh geli, suasana di meja makan pada malam itu sungguh terasa sangat hidup, dengan hadirnya kembali Lucas ke rumah mereka, di tambah pula kehadiran Mitha malam ini di meja makan, cukup menambah suasana terasa kian ramai.


Mitha sesekali ikut tersenyum meskipun dalam hatinya, ia sangat malu atas kejadian sore tadi.

__ADS_1


“Hahaha kak Lucas, makanya punya muka di kondisikan dong, jangan di mirip-miripin kayak penyusup wkwkwk.” Ejek Dara yang terlihat sangat puas menertawakan kakaknya.


“Gak ada tampang penyusup seganteng ini!” Sanggah Lucas.


“Memang dasar dia aja yang ceroboh, langsung nuduh orang tanpa cari tau fakta dulu!! orang kegitu kenapa ya bisa-bisanya jadi Sekretaris teladan.” Tambah Lucas lagi yang kembali menatap tajam ke arah Mitha.


Hal itu pun kembali memancing rasa kesal Mitha padanya, ia pun langsung membalas menatap wajah Lucas dengan sorot mata yang tak kalah menyeramkan.


“Dihh apa-apaan ni orang? Kenapa malah menjatuhkan aku di depan keluarganya?? Hih, coba aja disini gak ada om dan tante, pasti udah aku cekik lehernya dengan kuat, sampai kuku ku ini tembus ke kerongkongannya!!” Gerutu Mitha dalam hati.


Namun ucapan Lucas kali itu, dengan cepat di bantah oleh Ronald yang memang sudah lebih tau bagaimana kinerja Mitha selama ini di perusahaan mereka.


“Lucas stop, jangan ngomong gitu! Kamu jangan salah, asal kamu tau aja ya, Mitha ini udah banyak menaklukan perusahaan lokal maupun perusahaan asing di setiap presentasinya. Udah banyak juga tender bernilai puluhan milyar yang dimenangkan oleh perusahaan kita saat Mitha yang menghandle.” Jelas Ronald dengan senyumannya yang seolah penuh kebanggaan terhadap Mitha.


Mitha pun mulai tersenyum sinis pada Lucas saat Ronald mulai menjelaskan semua keunggulannya, seolah ia berhasil membuktikan pada Lucas jika ia memang memiliki value.


“Kau denger itu??! Bahkan papamu aja bangga sama aku.” Gumam Mitha dari dalam hati.


Melihat senyuman Mitha, Lucas pun seketika langsung mendengus sembari memutarkan kedua bola matanya.


“Dih, gitu aja udah sombong!!” Gerutu Lucas dalam hati.


“Apa yang dibilang sama papamu itu bener Lucas, bukan cuma wajahnya aja yang cantik, tapi Mitha ini juga perempuan yang sangat sopan, dan pintar. Bisa dibilang, Mitha adalah aset berharga di perusahaan keluarga kita, dialah jantung perusahaan, keberadaannya di perusahaan bener-bener penting. Jadi gak seharusnya kamu ngomong gitu tentang Mitha, sekarang ayo minta maaf sama Mitha.” Tambah Nonna


Mendengar hal itu, Mitha pun dibuat semakin tersenyum, tapi tidak dengan Lucas yang sontak jadi terbelalak.


“What???! Minta maaf???!”


“Yups, minta maaf!" Jawab Nonna dengan tenang sembari tersenyum.


“Ta,, tapi maaaa.” Lucas nampak mulai seperti ingin merengek.


“Lucass!! tolong turuti aja apa kata mamamu!” Tambah Ronald yang mulai menatap Lucas sembari menganggukkan pelan kepalanya.


Lucas pun seketika terdiam, ia hanya bisa mendengus kesal hingga akhirnya patuh.


“Heem ok fine, sorry!” Ucapnya singkat.


“Lucasss!!" Nonna pun kembali menatap Lucas dengan penuh penekanan.


“Apalagi maaaa???” Rengek Lucas yang mulai merasa terintimidasi oleh kedua orang tuanya sendiri.


“Yang tulus dong!"  Tegas Nonna dengan suara pelan.


Lucas pun kembali menghela nafas lesu, saat itu ia benar-benar tak bisa membantah apapun ucapan orang tuanya terutama ucapan mamanya.


“Hheeemm ok. Aku minta maaf ya, anggap aja aku gak pernah ngomong hal apapun denganmu.” Ucap Lucas yang menatap singkat wajah Mitha.


Mitha tentu mendengar ucapan maaf Lucas padanya, namun saat itu ia terlihat hanya diam, karena ia sangat paham jika Lucas sangat terpaksa melakukan itu. Hal itu bisa ia lihat dengan jelas dari sorot mata Lucas yang kala itu masih menatapnya dengan tatapan tak senang.

__ADS_1


...Bersambung…...


__ADS_2