
Mitha kembali duduk dan tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, ia pun langsung menyantap makan siang yang dibawakan oleh Vina dengan sedikit tergesa-gesa.
“Heh, apa gak bisa makan pelan-pelan?!"
“Enggak! Sama sekali gak bisa! Kamu tau kan hari ini aku dikejar deadline.” Jawab Mitha sembari terus fokus pada makanannya.
“Haisss, makan itu harus pelan-pelan, nikmati setiap rasanya, dan nikmati juga proses mengunyahnya.”
“Haaahh iya iya aku tau, tapi enggak untuk hari ini!” Bantah Mitha yang seolah tidak ingin menggubris segala ucapan Vina.
Hal itu pun akhirnya hanya membuat Vina mendengus sembari menggelengkan kepalanya.
“Oh ya, kenapa kamu gak dateng semalem? Kamu juga gak angkat teleponku.”
“Oh itu, hmm iya, magh ku kambuh kemarin, jadi mau gak mau harus milih untuk tidur dan banyakin istirahat semalaman di rumah.”
“Nah kann bener, magh mu kumat, makanya jangan sering telat makan!! Hemm, pantes aja gak ada kabar.”
“Iyaa, lagian gak ada kak Vino juga kan disana, jadinya semakin gak ada alasan untuk memaksakan diri datang kesana.” Kali ini, mendadak Mitha nampak kembali lesu, saat kembali mengingat Vino.
“Oh iya, bener juga, aku emang gak ada liat kak Vino sih semalam, kemana dia? Dan gimana kamu bisa tau kalau dia gak dateng? Apa kalian berkomunikasi?” Vina pun mulai mengernyitkan dahinya.
Namun spontan raut wajah Mitha yang sebelumnya nampak lesu, kini mendadak berubah menjadi begitu sumringah.
“Aaaaa aku mau curhattt!!” Ucapnya yang terlihat tersipu malu.
“Curhat apa? Loh, kenapa tiba-tiba wajahmu jadi begitu ha?” Vina pun mulai merasa bingung melihat sikap aneh Mitha.
“Tapi nanti aja deh! Aku udah selesai makan dan mau lanjut kerja dulu.”
“Hah?!! Kok nanti?? Sekarang aja dong ah!"
"Jangan sekarang, aku takut jadi gak fokus kerjain semua ini."
"Ah gak seru ah!"
“Nanti aja, aku beneran sibuk sekarang. Kamu tau kan, aku ini orang yang paling gak bisa kerja sambil ngobrol, aku harus fokus!" Jelas Mitha yang saat itu mulai kembali fokus pada laptop yang ada di hadapannya.
“Eeemm ya udah kalau gitu, kamu lanjut aja kerja, biar aku dulu yang cerita, ya?!" Ujar Vina.
“Cerita apa??” Tanya Mitha santai, dengan sorot matanya yang masih begitu fokus pada layar laptop dan beberapa berkas di tangannya.
__ADS_1
“Tentang Lucas, hehehe.” Jawab Vina yang kemudian mulai terlihat tersenyum.
“Ahh laki-laki nyebelin itu, kenapa memangnya? Heemm, pasti sesuai dugaanku kan, pasti wajahnya di bawah standart kan? Pasti dia berkaca mata, culun, dan berjerawat? Aahh udah kuduga.” Ungkap Mitha yang nampak sangat percaya diri.
“Hah?! Kenapa kamu masih punya pikiran kegitu sih? Bukannya kalian udah ketemu ya?” Tanya Vina yang nampak heran dan bingung.
“Haiss kamu tau gak, aku jadi telat makan dan akhirnya magh ku kambuh, itu semuanya ya gara-gara laki-laki brengsek itu!” Ketus Mitha yang mendadak nampak kembali kesal saat membahas Lucas.
“Hah kok bisa gitu?! Memangnya kenapa?”
Mitha pun mulai menjelaskan secara singkat dan padat tentang apa yang telah terjadi padanya kemarin di bandara, hal itu pun sontak membuat Vina terkekeh geli, namun juga merasakan prihatin dalam waktu yang bersamaan.
“Ohh ya ya, jadi kamu ngetawain aku sekaranh?? Ketawa di atas penderitaan sahabatmu sendiri??”
“Hahaha enggak, enggak! Maaf aku gak bermaksud.” Vina pun menggelengkan kepalanya namun masih sesekali tertawa.
“Jadi kamu beneran belum ketemu sama dia??” Tanya Vina lagi memastikan.
“Belum! aku juga bener-bener gak penasaran sama wajahnya, kalau pun seganteng-ganteng dia, palingan juga gak terlalu jauh beda dengan pak Ronald.”
“Hemm itu dia masalahnya, sayangnya kali ini dugaanmu salah, salah besar!!” Tegas Vina dengan penuh semangat.
“Salah besar??” Mitha pun mulai mengerutkan dahinya.
“Halah kamu ni, emang suka lebay deh kalau lagi ngomong.”
“Dihhh enggak, kali ini aku gak lebay!! Semua staff wanita disini juga mengakuinya. Dia bahkan jauh lebih ganteng dari Kak Vinomu itu, dia lebih ganteng sepuluh kali lipat.”
“Hihh, gak mungkin!” Sahut Mitha tak terima.
“Kamu ngomong gitu karena kamu belum ketemu sama dia. Kamu tau, visualnya bener-bener mirip kayak cowok-cowok ganteng yang ada di dalam novel. Muda, tampan, kaya raya, dan satu lagi yang bikin dia semakin jadi cowok idaman, kamu mau tau apa??”
“Apa?” Mitha pun akhirnya melirik ke arah Vina dengan dahi sedikit mengkerut.
"Ternyata dia juga humoris.” Jawab Vina yang kemudian terlihat semakin melebarkan senyumannya.
“Aaaaaah, Lucas Armando, gimana dia bisa seganteng itu ya?” Gumam Vina lagi yang benar-benar dibuat kesemsem oleh ketampanan Lucas.
“Aku masih gak percaya, dia anak pak Ronald, udah pasti wajahnya gak jauh beda juga dari papanya. Atau pun kalau dia mirip bu Nonna, setidaknya aku masih bisa membayangkan gimana wajahnya, hmm yang jelas dia gak bakal lebih ganteng dari kak Vino.”
“Justru itu, aku juga sebenernya heran juga sih, wajah Lucas ini, bener-bener gak ada mirip-miripnya sama kedua orang tuanya, bahkan perpaduan antara keduanya juga kayaknya enggak! Dia ini beneran ganteng loh, dan gantengnya itu kayak diluar logika ku.”
__ADS_1
“Hah udah lah, Ceritamu ini makin kesini makin kedengeran lebaynya, aku jadi makin gak percaya.”
“Hemm ya udah kalau gak percaya, itu urusanmu!” Vina pun langsung bangkit dari kursinya.
“Aku mau balik ke ruanganku aja deh, mau balik kerja dan bayangin wajah Lucas yang ganteng, hihihi.” Tambah Vina lagi.
“Eeemm ya, lebih baik memang gitu, supaya aku bisa lebih fokus kerja.” Jawab Mitha tanpa melirik sedikit pun lagi ke arah Vina.
“Hemm terserah kamu aja, asal jangan nyesel aja ya. Byee.” Vina pun akhirnya melangkah pergi.
“Byee, makasih untuk makan siangnya yaa.” Ucap Mitha dengan senyuman tipisnya.
Mitha pun kembali melanjutkan segala macam pekerjaannya yang sangat padat hari itu. Sesekali ia kembali terbayang bagaimana perpisahannya dengan Vino sebelum akhirnya Vino pergi ke luar kota. Tak luput pula sebuah senyuman hangat kembali terlukis di wajahnya yang lembut saat ia mengingat Vino. Mitha oh Mitha, ia benar-benar semakin dibuat jatuh hati karena sikap Vino yang begitu manis padanya kemarin.
Tak terasa, perputaran jarum jam seolah sangat cepat, Mitha melirik ke arah jam tangan miliknya, saat itu ternyata jam sudah menunjukkan pukul 17:00 sore, sudah waktunya jam pulang kantor.
Mitha pun segera menghentikan segala aktivitasnya, lalu memilih bersiap-siap untuk pulang, merapikan meja kerjanya yang berantakan, merapikan pakaian serta dandanannya seolah sudah menjadi kebiasaannya sebelum keluar dari ruangannya.
Memastikan semuanya sudah aman, ia pun bergegas meninggalkan ruang kerjanya, melangkah dengan tenang menuju lift yang dapat mengantarkannya ke lantai dasar. Namun belum sempat ia tiba di depan pintu lift, langkah Mitha sontak terhenti saat mendengar suara lelaki memanggil namanya dari belakang.
“Mbak Mitha.” Panggil lelaki itu.
Lelaki itu ternyata juga salah satu staff di perusahaan itu.
“Oh iya, ada apa?” Tanya Mitha saat menoleh ke arah staff itu.
“Maaf mbak, saya mau tanya, apa besok pak Ronald sudah masuk ke kantor?” Tanya lelaki itu dengan memasang raut wajah cemas.
“Tidak, pak Ronald beristirahat di rumah sampai besok. Mungkin lusa dia baru datang.” Jawab Mitha dengan ramah.
“Astaga, mati lah aku!!" Celetuk lelaki itu yang terlihat jadi semakin gusar.
“Memangnya kenapa?”
“Begini mbak, laporan persediaan ATK kantor, baru selesai saya rekap hari ini dan butuh di tanda tangani segera oleh pak Ronald, karena besok pagi harus sudah di ajukan agar barang-barangnya bisa segera di kirim siangnya.” Jelas lelaki itu.
Mendengar hal itu, membuat Mitha pun jadi terdiam sejenak. Di satu sisi, ia ingin segera pulang dan beristirahat dengan nyaman di rumahnya, karena hari itu ia benar-benar sangat lelah. Namun di sisi lain, ia juga sangat iba melihat lelaki itu yang terlihat sangat cemas dan panik.
“Jika tidak di tanda tangani sampai besok pagi, maka habis lah aku, Manager pasti akan memarahiku habis-habisan jika barang-barang keperluan kantor harus di undur lagi pengirimannya.” Jelas lelaki itu lagi dengan wajahnya yang terlihat semakin memelas.
Membuat Mitha semakin tak tega dibuatnya, Mitha pun akhirnya menghela nafasnya, memilih untuk menyingkirkan egonya saat itu dan mulai menjulurkan tangannya pada lelaki itu.
__ADS_1
“Heemm baik lah, kalau begitu berikan saja berkasnya padaku, biar aku yang mengantarkannya ke rumah pak Ronald, agar bisa langsung di tanda tangani.” Ucap Mitha sembari tersenyum tipis.
...Bersambung......