
Mitha pun ingin kembali bersuara, ia bermaksud ingin menyampaikan keputusan yang telah ia tetapkan, keputusan yang sudah ia ambil, yaitu bersedia untuk menjadi Sekretaris pribadi Lucas.
“Eeemm,, tapi sepertinya saya sudah…”
“Gimana kalau aku naikin gajimu jadi dua kali lipat dari sebelumnya? apa kau masih mau nolak??” Tanya Lucas yang langsung memotong ucapan Mitha.
Mitha pun terdiam seketika saat mendengar hal itu, terdiam bukan karena senang akan naik gaji, karena gaji bukanlah faktor utamanya dalam pekerjaan, jika dipikir-pikir tanpa bekerja pun sebenarnya ia tetap bisa hidup tenang mengingat orang tuanya juga cukup terpandang.
Begitu pula dengan Ronald yang sontak menaikkan kedua alisnya saat mendengar pernyataan dari putra sulungnya itu yang dirasanya cukup berani dalam mengambil tindakan itu. Lucas melirik ke arah Ronald yang nampaknya juga cukup terkejut, hingga membuatnya berinisiatif untuk menjelaskan secara singkat agar papanya tidak salah paham.
“Tenang paa, berapapun jumlah kenaikan gajinya, gak bakal ganggu data keuangan perusahaan sebelumnya kok, karena aku bakal pake uang pribadiku sendiri untuk kenaikan gajinya.” Jelas Lucas.
“Papa sama sekali gak ada masalah tentang kenaikan gaji, you’re the boss now, kamu berhak mengatur apapun yang menurutmu bagus untuk kelancaran perusahaan.” Jawab Ronald yang kemudian tersenyum lebar.
“Thanks paa.” Lucas pun akhirnya kembali menampilkan senyumannya yang manis layaknya gula dari tebu asli pilihan,
Sementara Mitha, dalam diamnya ia mulai kembali bergumam dan semakin merasa aneh dengan sikap Lucas.
“Sebenernya apa yang ada dalam benak laki-laki ini sih?? Sikapnya ini bener-bener bikin bingung!! Dia bahkan rela naikin gajiku dengan uang pribadinya, cuma demi supaya aku mau untuk jadi Sekretarisnya? Apa maksudnya cobak???!” Gumam Mitha dalam hatinya yang cukup merasakan kebingungan.
Namun kali ini Mitha sama sekali tidak menggubris Lucas, ia justru mulai mengarahkan pandangannya ke arah Ronald dengan tatapan yang serius, namun sangat terlihat jelas jika ia pun sangat gugup saat itu.
“Pak Ronald,” panggilnya pelan.
“Iya Tha, kenapa?”
“Benarkan kalau sampai detik ini bapak masih jadi boss saya?”
“Eemm iya, tentu aja. Memangnya kenapa Tha, kok kamu nanya gitu?” Tanya Ronald yang mulai terlihat sedikit bingung dengan pertanyaan semacam itu.
“Itu artinya, saya bakal nyampein apapun keputusan saya, kepada bapak terlebih dulu, right??” Jelas Mitha yang seolah tidak memperdulikan Lucas yang ada di hadapannya.
“Eemm ya, sure. Gitu juga boleh kok.” Ronald mengangguk cepat sembari melirik singkat ke arah Lucas yang masih dibuat terdiam karena sama sekalit tidak digubris oleh Mitha.
“Tapi Tha, memangnya kamu udah punya keputusan?” Tanya Ronald lagi.
__ADS_1
Mitha pun menghela nafas panjang, kepalanya menunduk, serta mulai memejamkan matanya sejenak. Dan begitu kedua matanya menutup rapat, seketika pula wajah tampan Vino seolah terlihat jelas dalam benaknya dan hal itu akhirnya membuatnya semakin merasa yakin dengan keputusan yang akan ia pilih.
“Udah pak! Saya udah berpikir dan juga udah buat keputusan!” Jawab Mitha tegas sembari menegakkan kembali kepalanya dengan kedua mata yang sudah kembali ia buka.
“Oh ya? Really? Are you sure?” Ronald pun mulai menatap serius pada Mitha.
Begitu pula dengan Lucas, kedua matanya terlihat kembali menyorot pekat ke arah Mitha, ditambah pula dengan perasaan yang kembali dibuat tak menentu serta sedikit cemas. Ia begitu deg-degan menantikan keputusan Mitha, yang tentu saja hal itu sangat berpengaruh baginya.
“Ya pak, saya yakin!” Tegas Mitha lagi sembari mengangguk penuh keyakinan.
“Maksud saya, apapun yang akan kamu putuskan saat ini, apa kamu udah yakin dengan hal itu??” Tanya Ronald lagi yang seakan benar-benar ingin memastikan pada Mitha apa dia sudah memikirkannya dengan matang-matang.
“Yakin pak!” Jawaban ini akhirnya keluar setelah Mitha kembali menghela nafas dalam-dalam.
“Heemm ok kalau gitu." Ronald pun ikut menghela nafas.
"lalu apa keputusannya?” Kali ini Ronald nampak mulai sedikit tegang akan keputusan apa yang telah diambil oleh Mitha.
Begitu pula dengan Lucas yang juga tak kalah tegang karena ia benar-benar tidak siap menerima penolakan.
“Saya memutuskan untuk…” Entah kenapa, tiba-tiba Mitha kembali merasa gugup saat tiba di tahap ini.
“Untuk…???” Tanya Ronald seolah menantikan kelanjutan perkataan Mitha.
“Baiklah pak, sa,,saya, eeemmm saya,,, saya mau jadi Sekretaris anak bapak.” Ungkap Mitha akhirnya.
Mendengar hal itu, sontak membuat wajah kedua lelaki yang sebelumnya nampak begitu tegang, kini perlahan mulai meregang dengan mata yang berbinar.
“Wohoo,, seriously??” Tanya Ronald lagi dengan wajah penuh kegembiraan,
Mitha pun hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Dan Lucas, seketika ia bersorak girang dalam hatinya, perasaan puas serta lega akhirnya bisa ia dapatkan saat itu, keputusan yang diambil Mitha adalah hal yang benar-benar ia harapkan saat itu.
“Huh! Finally.” Celetuknya pelan.
__ADS_1
“Terima kasih banyak, Tha. Terima kasih.” Ronald pun semakin melebarkan senyumannya sembari mengusap singkat pundak Mitha.
“Iya pak, sama-sama. Saya yang harusnya terima kasih, karena bapak udah percaya sama saya untuk mendampingi anak bapak yang pemula ini.” Mitha pun tersenyum dan melirik singkat ke arah Lucas,
Lucas yang jelas bisa mendengar hal itu, tentu dibuat sangat tidak senang, namun saat itu ia sama sekali tidak berminat untuk mempermasalahkannya, mengingat saat itu ia sedang merasa senang dan puas hati, maka ia membiarkan Mitha lolos kali ini.
“Hehehe.” Ronald pun hanya bisa terkekeh sembari mengangguk-anggukan kepalanya, karena apa yang dikatakan oleh Mitha memang benar adanya, benar jika Lucas memanglah masih pemula di bidang bisnis.
“Tapi Tha,, apa yang bikin kamu tiba-tiba jadi berubah pikiran dan mutusin untuk stay di perusahaan?” Tanya Ronald secara tiba-tiba yang kala itu merasa cukup penasaran.
“Hahaha kenapa papa masih nanyain soal itu pa? Ya udah jelas lah karena aku naikin gajinya.” Sambar Lucas sembari terkekeh.
“Iya kan??? Correct me if I'm wrong!” Tambah Lucas lagi yang kali ini menatap Mitha dengan penuh keyakinan.
“Salah!” Tegas Mitha cepat dengan tatapannya yang begitu pekat menatap Lucas.
“Kalau anda ingat, tadi sebelum anda mengatakan tentang kenaikan gaji, saya sudah mau menyampaikan keputusan saya. Tapi nyatanya, anda memotong pembicaraan saya!” Tambah Mitha lagi.
“Haaiss udah lah, gak perlu malu mengakuinya, lagian aku gak bakal mempermasalahkan soal itu kok.” Ucap Lucas yang terus tersenyum mengejek.
“Lucass, jangan ngoming gitu!” Ronald pun menggelengkan kepalanya pada anaknya.
“Mitha bukan perempuan yang kekurangan materi, dia berasal dari keluarga terpandang. Bukannya kamu pun udah tau soal itu??!”
“Eeemm gak apa pak, pak Lucas ini udah terlanjur menilai saya jelek sejak awal, jadi gak masalah.” Mitha pun hanya tersenyum tenang.
“Dan untuk masalah kenaikan gaji, anda gak perlu ngelakuin hal itu! saya bakal tetep kerja seperti biasa, dengan gaji yang sama kayak sebelumnya! Itu udah lebih dari cukup!" Tambah Mitha yang menatap Lucas dengan senyuman sinis.
Pernyataan itu membuat Lucas lagi-lagi jadi terdiam seribu bahasa karena tuduhannya kali ini ternyata meleset. Namun, bukan Lucas namanya jika ia tidak bisa membalikkan keadaan.
“Hmm gak masalah! aku juga bakal tetep pada ucapanku yang sebelumnya, gajimu bakalan tetep aku naikin jadi dua kali lipat, ok!” Tegas Lucas lagi.
Mitha pun hanya menaikkan singkat kedua pundaknya.
“Terserah anda saja pak, anda bosnya!”
__ADS_1
Merasa perbincangan telah sampai di puncaknya, mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kantor karena waktu istirahat juga sudah berakhir.
...Bersambung…...