
"Hmm kalau gitu kita harus ke Apotik, beli obat untuk lukamu!" Ucap Mitha yang kembali sedikit menjauh dari Lucas.
"Gak perlu!" Tegas Lucas.
"Kenapa gak perlu? Kamu mau ya lukamu jadi infeksi karena gak langsung dibersihkan dan di obati? Please deh ya, disaat kegini jangan dulu deh nunjukin ke angkuhanmu di depanku!" Omel Mitha.
"Haiss, aku udah begini dan kamu masih aja sanggup ngomel?? Hmm maksudku kita gak perlu ke Apotik, karena aku ada kotak P3K."
"Owh, kamu bawa P3K?" Mitha pun sedikit tersenyum.
"Iya, ada di mobilku!" Jawab Lucas yang masih terlihat sedikit kesal.
"Hmm ya udah, dimana mobilmu? Kita ke mobilmu sekarang." Ajak Mitha yang nampak tak sabar.
"Ada disana, ayo!" Lucas dengan masih memegangi pipinya yang terasa berdenyut, langsung saja melangkah lebih dulu menuju mobilnya yang ada di parkiran.
Lalu ia membuka pintu mobil yang ada di samping pengemudi, membuka dashboard dan mengambil sebuah kotak persegi panjang berwarna putih.
"Sini!" Mitha pun dengan cepat meraihnya dari tangan Lucas begitu saja.
"Masuk ke kursi belakang!" Pinta Mitha lagi.
"Kenapa??" Tanya Lucas yang sedikit nampak bingung.
"Aih, udah masuk aja!" Tegas Mitha tanpa rasa segan sedikit pun saat memerintahkan orang yang sebenarnya adalah atasannya di kantor.
Tanpa berkata apapun lagi, Lucas segera menutup pintu mobil bagian depan, dan langsung beralih membuka pintu mobil bagian belakang. Lucas pun masuk, lalu di susul oleh Mitha yang ikut duduk disisinya.
"Tolong biarin pintu mobilnya terbuka, karena aku tidak mau ada orang yang salah paham." Celetuk Mitha dengan tenang sembari mulai membuka kotak P3K yang ia pegang.
Mitha memulai pengobatannya dengan membersihkan luka pada ujung bibir Lucas terlebih dulu dengan menggunakan cairan alkohol, lalu meneteskan obat tetes berwarna merah pekat ke sebuah kapas dan mulai menorehkannya ke luka itu.
"Aahhh!" Ringis Lucas lagi dengan suara pelan.
"Tahan, emang pasti agak perih di awal," celetuk Mitha pelan sembari saat itu ia masih terlihat begitu fokus mengobati luka Lucas.
Membuat Lucas lagi-lagi terdiam sembari kembali memandangi keindahan wajah Mitha yang terasa semakin menyejukkan hati ketika dilihat dari jarak yang sangat dekat.
"Apa aku boleh nanya satu hal?" Tanya Mitha tiba-tiba meski saat itu ia masih saja begitu fokus mengobati luka Lucas.
"Tanya aja!"
"Bukannya kamu benci banget ya sama aku? Kamu juga keliatannya seneng kalau liat aku kesusahan, terus kenapa sekarang rela jadi begini demi melindungi aku?"
"Kata siapa aku benci?" Ucap Lucas secara spontan.
__ADS_1
Jawaban yang juga sekaligus terdengar seperti sebuah pertanyaan itu pun sontak membuat Mitha terdiam sejenak sembari mulai menatap Lucas hingga membuat kedua mata mereka jadi saling beradu dalam waktu beberapa detik.
"Aku sama sekali gak benci! Dan jangan tanya kenapa aku rela berkelahi demi melindungimu, karena aku juga gak tau kenapa aku rela sakit begini demi perempuan ketus kayak kamu, itu bener-bener spontanitas," Ungkap Lucas yang terlihat begitu serius.
Membuat Mitha lagi-lagi terdiam.
"Tapi kayaknya wajar aja, laki-laki manapun juga kurasa bakal ngelakuin hal yang sama kalau liat seorang perempuan nyaris di pukul sama laki-laki."
"Gak juga, tadi ada banyak laki-laki disana, tapi buktinya mereka semua gak berbuat hal apapun untuk membelaku, mereka hanya menonton,"
"Hmm begitu ya?" Lucas pun hanya bisa mengusap-usap tengkuknya kala merasa sedikit gugup.
"Thank you so much." Ucap Mitha seketika, dengan nada yang terdengar lembut.
Kali ini Lucas kembali dibuat terdiam dan kembali memandangi Mitha.
"Thanks udah bersedia membelaku tadi, thanks juga karena rela kena pukul demi melindungiku. Jujur, ini pertama kalinya tindakanmu ini jadi bikin aku speechless dan juga jadi merasa bersalah karena selama ini udah bersikap terlalu ketus sama kamu, hal itu karena sikapmu sebelumnya yang bikin aku jadi benci banget sama kamu." Tambah Mitha lagi.
Lucas yang mendengar hal itu pun mulai terenyuh dan justru hal itu juga membuatnya jadi semakin canggung dan gugup.
"It's ok, no problem. Kamu benci sama aku pasti karena aku yang sering bikin kamu susah saat di kantor, juga pasti karena aku yang sering mengolokmu. Hmm jadi anggep aja ini sebagai penebusan dosaku selama ini." Ungkap Lucas akhirnya.
Mitha yang mendengarnya akhirnya mulai tersenyum tipis.
"Ya udah, sini aku obati lagi, masih belum selesai." Ucap Mitha yang kembali meraih wajah Lucas.
"Sekarang boleh gantian aku yang nanya satu hal?"
"Hal apa yang bikin kamu penasaran kali ini?" Jawab Mitha.
"Laki-laki yang kamu sebut pacar, kemana dia? Kenapa dia gak ada disaat kamu butuh dia?"
Mendengar pertanyaan itu, membuat Mitha sontak mendengus pelan dan kembali tertawa tipis.
"Kenapa malah ketawa?" Tanya Lucas lagi yang nampak bingung.
Namun belum sempat Mitha menjawab, tiba-tiba saja ponsel Lucas berdering.
"Owh, ada telpon, angkat aja dulu." Ucap Mitha spontan.
Dengan berat hati, Lucas pun mulai merogoh saku celananya untuk meraih ponselnya.
"Siapa sih yang nelpon??!! Ganggu aja!!" Gerutu Lucas dalam hati.
Dan melihat nama Bayu terpampang jelas di layar ponselnya, sontak membuat Lucas semakin menggeram dalam hati.
__ADS_1
"Haiss anak ini!!! kenapa dia harus banget nelpon aku disaat aku dan Mitha lagi mengobrol intens?!"
Dengan sedikit tak bersemangat, Lucas pun akhirnya mengangkat panggilan teleponnya.
"Hmm??"
"Bro, dimana?"
"Kenapa lagi? Apa masih ada masalah?" Tanya Lucas dengan wajah datar.
"Enggak, semua masalahnya udah clear berkatmu hehehe. Sekarang aku mau balikin kartu debit mu, kamu dimana?"
"Aku ada di parkiran, di dalam mobilku!"
"Oh ok, kami kesana sekarang!" Jawab Bayu yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya begitu saja.
"Ini Bayu, dia mau mengembalikan kartu debitku."
"Hmm apa kamu yang ganti rugi semua kerusakannya?"
Lucas pun mengangguk pelan.
"Terus laki-laki itu?? Apa dia gak mau ikut bertanggung jawab atas kerusakan di cafe ini?"
"Hmm kayaknya dia gak punya uang karena terlalu banyak alasan waktu Bayu menagihnya, jadi udahlah, lagi pula aku juga mau masalahnya cepat selesai."
"Hmm bener-bener bodoh banget si Cindy, bisa-bisanya dia mau selingkuh dengan laki-laki kayak gitu, kalau gini Duddy berarti jauh lebih unggul dalam segala hal!!" Gerutu Mitha seorang diri.
"Cindy? Duddy? Siapa mereka?" Lucas pun terlihat bingung kala mendengar omelan Mitha.
Selang beberapa detik, Bayu dan Aryo pun nampak muncul dan cukup terkejut saat melihat keberadaan Mitha yang juga berada di dalam mobil bersama Lucas, apalagi dengan jarak yang cukup dekat.
"Mi,, Mitha?? Ka,, kamu juga disini?" Tanya Bayu.
"Hmm kalian sedang apa berduaan di dalam mobil?" Tanya Aryo seolah penuh kecurigaan.
"Owh eng,, enggak! Tolong kalian jangan mikir aneh-aneh dulu. Ak,, aku...." Mitha nampak panik saat kedua teman Lucas yang juga merupakan teman kantornya juga mulai berfikir aneh tentang mereka.
"Intinya kami lagi gak berbuat mesum!! kalian bisa liat pintu mobil ini yang memang sengaja dibiarin kebuka!" Tegas Lucas dengan cepat.
"Owh terus kenapa ada Mitha di dalam mobilmu?"
"Dia ngobatin lukaku! Kamu gak liat apa dia sedang megang kotak P3K?"
"Iya hehe jadi jangan mikir yang aneh-aneh ya. Ini ku lakuin karena Lucas, hmm mak,, maksudku pak Lucas udah bersedia menolongku saat hampir di pukul sama laki-laki tadi. Jadi ini sebagai ucapan terima kasih." Jelas Mitha yang mendadak merasa kikuk di hadapan kedua temannya.
__ADS_1
...Bersambung......