
Malam hari di kediaman keluarga Lucas
“Ini teh nya, pa.” Ucap Nonna sembari menghidangkan secangkir teh hangat ke atas meja.
“Thanks sayang.” Jawab Ronald yang seketika melirik singkat ke arah istri tercintanya sembari tersenyum hangat.
Malam itu, meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, namun Ronald dan Nonna nampaknya belum mau tidur, mereka masih saja memilih untuk duduk bersantai di ruang TV sembari menonton sebuah film komedi.
Tak lama, Nonna yang sempat duduk di sisi suaminya, sontak kembali bangkit dari duduknya.
“Mau kemana, ma?” Tanya Ronald.
“Sebentar pa, tadi mama lagi masak brownies coklat kesukaan papa, dan barusan ovennya bunyi, kayaknya udah mateng.” Jawab Nonna dengan senyumannya yang begitu khas.
“Oh ya? Pantes aja papa kayak ada nyium aroma yang enak hehe.” Ronald pun terlihat semangat.
“Ya udah, tunggu sebentar ya pa, mama ambilin.”
“Ok sayang.” Ronald pun kembali tersenyum.
Tak butuh waktu lama, tidak sampai 5 menit, kini Nonna telah kembali datang dengan sudah membawa sepiring brownies coklat yang telah ia potong-potong rapi dengan penuh semangat.
“Tadaaaa!!! Brownies coklat datang.” Ucapnya sembari menyajikan makanan itu ke hadapan suaminya.
“Heemm, wanginya enak banget ma hehehe.”
“Ayo pa, dicoba.”
“Udah pasti enak banget sih ini, karena sejauh ini, mama gak pernah gagal dalam hal memasak apapun hehehe.” Ungkap Ronald sembari meraih sepotong brownies coklat.
Ronald terlihat begitu lahap saat menikmati kue lezat buatan istrinya, saat itu Nonna terlihat terus memandangi wajah suaminya dengan senyuman kepuasan kala melihat suaminya begitu lahap memakan masakannya.
“Pa, ada yang mau mama tanyain.” Ucap Nonna tiba-tiba yang secara mendadak mulai menatap Ronald dengan raut wajah yang cukup serius.
“Mau nanya apa ma?? Tanya aja!” Jawab Ronald santai.
“Ini tentang anak kita, Lucas.”
“Lucas?? Kenapa memangnya?” Ronald pun mulai menatap Nonna dengan mengernyitkan dahinya.
“Gimana tentang perjodohan yang tempo hari kita bicarain itu pa? Kok mama perhatiin dalam beberapa hari ini gak ada perkembangan?"
Mendengar pertanyaan itu, Ronald pun mulai terdiam sejenak, ia justru memilih untuk menyeruput teh hangatnya dengan tenang sembari seolah tengah berpikir.
__ADS_1
“Hmm, masalah itu ya?" Ucapnya kemudian yang kembali meletakkan gelas teh nya ke atas meja.
Nonna pun mengangguk cepat, tanda mengiyakan.
“Maa, Lucas itu baru aja setuju untuk bergabung di perusahaan, dia bahkan setuju untuk menggantikan papa sebagai CEO di kantor, dan hanya dalam waktu dua hari lagi, dia bakalan resmi jadi CEO. Jadi papa rasa ma, sebaiknya kita tunda dulu pembicaraan tentang perjodohan itu, papa gak mau hal itu nantinya bikin Lucas jadi tertekan dan membatalkan semuanya,” ungkap Ronald dengan nada lembut.
Nonna pun seketika melesu.
“Hemm jadi,,, harus sampai kapan lagi kita membahas itu pa? Tolong jangan lama-lama di tunda pa, bukannya semakin cepat bakalan semakin baik?!”
“Seenggaknya, tunggu Lucas resmi menjabat sebagai CEO, kalau udah diresmikan, dia tentu gak bakal bisa berubah pikiran lagi kalau merasa terdesak atau pun tertekan.”
“Hmm, ya udah kalau kegitu mama setuju. Tapi inget ya pa, setelah Lucas resmi jadi CEO, papa gak boleh nunda-nunda lagi, karena mama takut pa..”
“Takut kenapa ma??”
“Mama takut kalau terlalu lama, Mitha keburu udah dapat pacar baru, kalau udah kegitu, tentu bakal sulit dong kalau mau dijodohin sama Lucas.” Jawab Nonna yang nampak cemas.
“Hmm ya semoga aja enggak ma. Lagian ya, belakangan ini Mitha sibuk banget sama kerjaannya, jadi papa rasa dia gak ada waktu untuk pacaran saat ini.”
“Ya, tapi kita juga gak tau kan gimana dia di luar kantor, siapa aja yang deketin dia?? Mitha itu cantik pa, pinter lagi, udah jelas bakalan banyak banget laku-laki yang suka.”
“Kalau soal itu papa juga tau ma, jangankan di luar, di kantor kita aja ada banyak banget karyawan papa yang ngincar dia hehehe.” Ronald pun tersenyum simpul.
Ronald kembali tersenyum sembari menganggukkan kepalanya dengan tenang.
“Nah kan paa,,, gimana ini?? Mama udah terlanjur berharap kalau Mitha yang bakal jadi menantu kita paa,,.” Rengek Nonna yang mulai nampak ketar-ketir,
“Udah lah ma,, tenang aja, kalau mereka jodoh gak bakal kemana kok, tapi ingat, kalau memang gak ada jalan untuk mereka berjodoh, tolong jangan kita paksa, ok?” Tegas Ronald pada sang istri.
Nonna pun mengangguk pelan tanda setuju.
“Dan sebaiknya, masalah ini juga perlu kita obrolin sama Hendra dan Mely selaku orang tua dari Mitha.” Tambah Ronald lagi sembari kembali menyeduh teh nya,
“Iya pa, mama setuju! Kebetulan besok mama ada arisan dengan teman-teman mama, termasuk juga Mely, apa boleh mama bicarakan tentang niat kita pada Mely terlebih dulu??”
“Hmm boleh, silahkan aja.” Jawab Ronald dengan tenang.
“Ok deh pa." Nonna pun akhirnya mulai bisa mengembangkan senyumannya.
Tak berapa lama, hanya berselang beberapa menit dari perbincangan itu, Lucas tiba-tiba saja muncul dari pintu utama.
“Ma,, pa,, belum tidur??” Tanyanya begitu ingin menaiki anak tangga.
__ADS_1
Kedua orang tuanya pun spontan langsung menoleh ke arahnya.
“Lucas,, kamu baru pulang nak??” Tanya Nonna
“Hehe iya ma,” Jawab Lucas dengan menampilkan sebuah senyuman tipisnya.
“Dari mana kamu Lucas?” Kali ini giliran Ronald yang bertanya.
“Oh itu, hmm gak ada pa, cuma nongkrong biasa di cafe, sama Dika dan Aryo.”
“Oh.” Ronald pun mengangguk-anggukan pelan kepalanya.
“Ayo sini gabung! mama ada masak brownies coklat, kesukaanmu dan papa.” Pinta Nonna yang kemudian tersenyum menatap anak sulungnya.
Mendengar kata brownies coklat, sontak membuat raut wajah Lucas seketika terlihat sumringah.
“Wow Brownies coklat my favorite.” Celetuk Lucas yang langsung melangkah penuh semangat ke arah ruang TV yang berada tak jauh dari tangga.
“Ayo duduk!” Ucap Nonna lagi.
Lucas pun akhirnya duduk di antara kedua orang tuanya, lalu tanpa basa basi, ia langsung meraih sepotong brownies dan melahapnya.
“Hmm, delicious!!” Celetuknya dengan kedua mata yang membulat.
“Hehehe enak ya?” Nonna lagi-lagi tersenyum girang.
“Of course ma, gak ada makanan yang gak enak kalau itu terbuat dari sentuhan tangan mama hehehe.”
“Hih, bisa aja kamu ya, gombal!!!” Nonna pun terkekeh geli sembari mencubit pelan lengan kokoh anaknya.
“Noo, beneran gak gombal!!” Lucas pun ikut terkekeh sembari mengusap-usap lengannya.
“Oh ya, Dara mana?” Tanya Lucas kemudian.
“Dara udah tidur deh kayaknya, karena besok dia bilang mau pergi kuliah lebih awal.” Jawab Nonna,
“Ohh baguslah.” Lucas kembali tersenyum simpul sembari mengangguk singkat.
“Kenapa bagus?” Nonna pun mengerutkan dahinya.
“Bagus, karena aku gak perlu berebut brownies yang enak ini dengannya hehehe.” Jawab Lucas yang kembali terkekeh sembari meraih sepotong lagi brownies dan melahapnya.
“Hih!! Dasarrr kamu.” Nonna pun mencubit sekali lagi lengan anak sulungnya itu.
__ADS_1
...Bersambung…...