Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Mendadak gugup


__ADS_3

Mitha pun duduk bergabung di sofa sembari menampilkan senyuman kikuknya. Seolah tak ingin banyak membuang waktu, keluarga Lucas pun langsung mengeluarkan dua cincin yang sudah mereka bawa dan menyerahkan salah satu cincin itu pada Lucas.


"Se,, sekarang??" Tanya Mitha yang lagi-lagi nampak terkejut dengan sikap keluarga Lucas yang nampaknya terlalu terburu-buru.


"Untuk apa kita menunda hal baik ini sayang? Kamu udah ada disini, terus tunggu apalagi?" Jawab Nonna sembari terus tersenyum.


Mitha, lagi-lagi ia hanya bisa terdiam sembari tersenyum kikuk, jangan ditanya bagaimana perasaannya kala itu, jelas ia sangat berdebar dan merasa tidak karuan.


"Sampai sekarang aku masih berharap kalau aku lagi mimpi buruk. Ayo Mitha bangun, bangun!!" Gumam Mitha dalam hati sembari secara diam-diam mulai mencubit tangannya sendiri.


"Awww, ini sakit. Gawat!!! Ini beneran bukan mimpi, sebentar lagi aku bakal tunangan sama Lucas." Gumamnya lagi.


Lucas dengan tenang mulai meraih cincin itu, lalu menatap Mitha dengan raut wajah datar yang seolah menunjukkan jika ia pun tidak terlalu senang dengan hal itu, yang padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat senang.


"Ayo sayang, ulurkan tanganmu, jangan malu-malu." Ucap Mely sembari membantu Mitha untuk menjulurkan tangannya ke hadapan Lucas.


Tanpa basa basi, Lucas pun langsung menyematkan sebuah cincin berlian yang begitu indah ke jari manis Mitha.


"Wah, cincinnya pas." Celetuk Mely yang nampak begitu sumringah.


Namun tidak sama halnya dengan Mitha yang kala itu masih memasang raut wajah manyunnya kala memandangi sebuah cincin yang sudah melingkar di tangannya.


"Sekarang giliranmu Mitha." Ucap Nonna.


Mitha pun menghela nafasnya, lalu dengan sedikit ragu, akhirnya meraih sebuah cincin yang polos tak bermata. Ia pun mulai menatap Lucas dengan tatapan tak senang, sedangkan Lucas yang tidak ingin ambil pusing dengan ekspresinya, hanya bisa menjulurkan tangannya ke hadapan Mitha.


Mitha pun kembali menghela nafas panjang sebelum akhirnya benar-benar menyematkan cincin itu pada jadi manis Lucas. Kini keduanya resmi terikat dalam ikatan yang lebih serius, yaitu pertunangan, satu langkah menuju halal.


Kedua keluarga itu pun nampak begitu sumringah saat menyaksikan hal itu, mereka begitu senang karena akhirnya rencana mereka untuk menjodohkan kedua anak mereka berhasil.


Mely pun mulai menghidangkan makanan yang sebelumnya telah ia sediakan untuk menyambut kedatangan calon besannya. Mereka pun mulai menyantap jamuan makanan sembari terus berbincang ringan.


"Om, tante, maaf sebelumnya, tapi boleh gak Mitha keluar sebentar ke halaman? Mau cari angin." Ucap Mitha.


"Owww keliatannya ada yang gugup nih karena baru tunangan hehehe." Goda Nonna,


Mitha pun hanya tersenyum kikuk.


"Boleh kok sayang." Ucap Nonna kemudian.


"Terima kasih tante." Mitha pun langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Lalu memilih menuju halaman samping rumahnya, ia berdiri dengan tersandar lesu di sebuah pilar yang ada di teras samping. Sekali lagi memandang sendu jari manisnya yang saat itu sudah terikat oleh sebuah cincin bermata satu.


"Huh, akhirnya ini beneran terjadi? Terus gimana tentang perasaanku sama kak Vino??" Gumamnya lirih dalam hati sembari terus mengusapi cincin itu.


Saat itu Lucas yang masih berada di dalam, tak jarang melirik ke arah luar dan mulai merasa gelisah karena Mitha tak lagi ada di depan matanya.


"Kamu keliatannya cemas banget, kenapa?? Apa karena tunanganmu lagi diluar?" Bisik Ronald.


Lucas pun hanya bisa mendengus pelan sembari tersenyum tipis,


"Ya udah, susul sana!" Ucap Ronald lagi,


"Susul??"


"Iya, lagi pula untuk apa juga kamu disini tapi pikiranmu diluar??"


"Hais papa, bisa aja!" Lucas pun kembali tersenyum malu.


"Ok lah, aku keluar juga ya,"


"Hmmm." Ronald pun mengangguk pelan.


Lucas pun langsung bangkit dari duduknya.


"Loh, Lucas mau kemana?" Tanya Mely.


"Mau keluar sebentar." Jawab Lucas yang nampak sedikit kikuk.


"Oh, iya, iya."


Lucas pun langsung beranjak pergi, meloloskan diri dari obrolan keluarganya dan Mitha yang tidak terlalu ia mengerti karena mereka sedang mengobrol tentang masa muda mereka.


"Biasa, dia takut tunangannya kenapa-kenapa diluar, makanya dia susulin." Celetuk Ronald begitu Lucas pergi.


"Oh hahaha, Lucas keliatannya bener-bener calon suami idaman banget ya hehehe." Mely pun kembali terkekeh.


Lucas pun berjalan santai untuk mendekat Mitha yang kala itu nampak masih berdiri bersandar di pilar. Ia pun memilih untuk bersandar di pilar yang sama hanya berbeda sisi dari Mitha, jika saat itu Mitha berada di sisi kiri pilar, maka Lucas berada di sisi kanan pilar itu.


"Bagus ya cincinnya? Di pandangi terus soalnya." Celetuk Lucas yang membuat Mitha sedikit terkejut,


"Kamu?? Ngapain disini?" Tanya Mitha yang seketika mengintip dari balik pilar itu.

__ADS_1


"Aku kayak orang bodoh di dalam, karena kedua orang tua kita lagi bicarain masa muda mereka." Jelas Lucas singkat.


"Dasar ikutan!" Celetuk Mitha pelan.


Lucas lagi-lagi hanya tersenyum tanpa menjawab.


"Aku mau nanya dong." Ucap Mitha kemudian.


"Nanya apa?"


"Kenapa kamu setuju?" Tanya Mitha.


"Jawabannya mudah aja, karena aku ingin jadi anak yang berbakti sama orang tua yang udah membesarkan aku dengan baik dan ngasi aku hidup yang layak!" Jawab Lucas dengan santai.


"Tapi kamu bakal menikah dan hidup dengan orang yang gak kamu cintai. Apa bisa hidup senang kalau begitu? karena jujur aja, aku sama sekali gak yakin dengan perjodohan yang didasari tanpa rasa cinta ini." Ungkap Mitha.


"Hmm kalau begitu, belajarlah mencintaiku, gampangkan!" Jawab Lucas enteng.


Mendengar hal itu, sontak membuat Mitha kembali menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.


"Heh." Mitha pun mendengus.


"Ya, gampang! Segampang ucapanmu barusan!" Tambah Mitha yang nampak mulai kesal.


"Aku serius!" Ucap Lucas yang berbalik menatap Mitha dengan tatapan yang begitu lekat.


"Belajarlah mencintaiku!" Ucapnya lagi.


Mitha pun seketika terdiam dan mendadak jadi berdebar saat Lucas mengatakan hal itu sembari menatapnya dengan begitu dalam.


"Ya, kamu menyuruhku untuk belajar mencintaimu, sedangkan kamu akan selalu membuatku kesal!"


"Aku juga akan melakukan hal yang sama kalau kamu setuju!" Jawab Lucas.


Lagi dan lagi, Mitha kembali terdiam dengan perasaan dan detakan jantung yang semakin tidak menentu, ini pertama kalinya Mitha merasa sangat gugup saat menatap mata Lucas.


"Ka,, kayaknya udara diluar makin dingin, aku masuk duluan deh!" Ucap Mitha yang seketika langsung pergi begitu saja.


Mitha berusaha menghindari Lucas karena merasa jika mulai ada yang berubah dengan perasaannya kala itu, ia mendadak sangat gugup dan begitu takut jika hal itu terus berlanjut.


"Astaga!! Ada apa dengan jantungku?? Kenapa jadi berdebar gini waktu tatap-tatapan sama dia!!" Gumam Mitha dalam hati sembari terus melangkah dengan cepat untuk kembali masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2