Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Tugas pertama


__ADS_3

“Jadi gimana Lucas? Kamu setuju kan??” Tanya Ronald memastikan lagi.


“Hmm ok fine! Tapi, kalau sampai dia berbuat hal yang melenceng saat udah naik jabatan nanti, aku gak bakal segan-segan untuk mecat dia ya pa. Deal?!!” Lucas pun menjulurkan tangannya ke hadapan Ronald.


“Deal!” Ronald pun tersenyum dan membalas jabatan tangan sang putra sulung.


Mereka pun akhirnya kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang untuk menuju ruangan kerja Lucas yang baru, yang tidak lain adalah ruangan yang sebelumnya digunakan oleh Ronald sebagai CEO terdahulu.


Setibanya di depan pintu ruangan itu, Mitha pun berinisiatif membukakan pintu untuk Ronald dan Lucas agar mereka bisa langsung masuk terlebih dulu ke dalam ruangan kerja yang paling besar dan luas di antara ruangan kerja yang lainnya.


“Silahkan pak.” Ucap Mitha pelan.


“Thanks Tha,” Ujar Ronald yang melangkah masuk lebih dulu, lalu di susul pula dengan Lucas.


“Dan ruangan ini pun, mulai hari ini papa serahin sama kamu Lucas, hehe.” Celetuk Ronald yang langsung berdiri di tengah-tengah ruangan itu.


Lucas pun mulai memandangi setiap sudut ruangan itu dengan sebuah senyuman tipis.


“Gimana? Kamu suka?”


“Hmm, suka! Ruangan ini jauh lebih besar dari ruanganku sebelumnya.” Jawab Lucas sembari menghela nafas singkat dan melebarkan senyumnya.


“Tapi paa,,,” Ucapnya kemudian yang masih terus memandangi ke segala arah.


“Tapi apa??”


“Apa aku boleh merenovasi ruangan ini sesuai dengan seleraku? Karena jujur aja, penataan di ruangan ini terlalu tua untukku hehehe.” Ungkap Lucas tanpa segan.


“Oh hahaha sure! Kenyamanan di ruang kerja memang nomor satu.” Ronald pun mengangguk cepat sembari tertawa kecil.


"Lagian, kamu bosnya sekarang!" Tambah Ronald lagi.


“Yaa, thanks a lot, pa.” Lucas pun akhirnya mengembangkan senyumannya.


“Wajar aja kalau kita punya selera yang beda, mengingat usia kita yang juga jauh beda, hehehe.” Lagi-lagi Ronald pun terkekeh.


Lucas pun kembali tersenyum, sementara Mitha yang saat itu masih berdiri tak jauh dari pintu, hanya memilih diam dan hanya bisa terus menggerutu dalam hatinya.


“Dihh, belum apa-apa aja udah banyak banget maunya." Ketus Mitha dalam hati.


“Eemm ok lah, kayaknya papa udah harus pergi dari sini.”


“Oh really?"


“Ya!”


"Sekarang??"


"Iya dong, kapan lagi?" Jawab Ronald.


“Owh ok.” Lucas pun mengangguk pelan.


“Kalau gitu, selamat memimpin perusahaan ini, Nak. Semoga perusahaan kita bisa makin jaya di bawah kepemimpinan mu, buat papa bangga, ok?”

__ADS_1


“Ok pa, aku bakalan terus berusaha sebisaku untuk membuat bisnis keluarga kita ini jadi lebih maju dari sekarang” Lucas pun kembali tersenyum tipis.


“Good! I trust you, son!” Ronald kembali menepuk-nepuk pundak Lucas.


Lalu akhirnya ia pun beranjak keluar dari ruangan itu, meninggalkan Mitha dan Lucas yang saat itu masih saling diam.


Lucas pun melirik singkat ke arah Mitha yang terus memasang wajah datarnya, lalu perlahan mulai melangkah menuju kursi kejayaannya dan mulai duduk dengan tenang disana,


“Hey you!” Panggilnya.


Mitha pun menoleh ke arahnya.


“Come!” Ucap Lucas singkat.


Mitha pun menghela nafas panjang, seolah kala itu mulai mengumpulkan seluruh energi yang ada dalam dirinya, untuk bersiap memulai segala hal yang kemungkinan akan begitu menyulitkan dan melelahkan bagi fisik dan batinnya kelak.


“Hmm ok Tha, inilah waktunya, siapkan mentalmu, kawan!” Celetuk Mitha dalam hati yang kemudian akhirnya mulai melangkah menghampiri Lucas yang kala itu memanggilnya.


“Ya pak?” Ucapnya saat sudah berdiri tegak di depan meja kerja Lucas.


“Siapa yang nyuruh kamu berdiri disitu? Saya kan nyuruh kesini!” Lucas pun menunjuk ke arah sisi kanannya.


Mitha tidak menjawab dengan kata-kata, namun ia langsung saja berpindah tempat sesuai perintah Lucas yang sangat menyebalkan.


“Hmm sudah pak??!”


“Kamu udah tau kan tugas pertamamu pagi ini?”


Membuat Lucas yang melihat hal itu seketika langsung menghentikannya.


“Heh!” Serunya.


Mitha sedikit terkejut hingga seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Lucas.


“Come back!!” Panggil Lucas lagi dengan menggerakan jari-jarinya sebagai isyarat menyuruh Mitha untuk kembali mendekat padanya,


Mitha kembali menghela nafas, dan mau tak mau ia pun kembali ke sisi Lucas,


“Kenapa lagi pak?” Tanya Mitha seolah berusaha tetap sabar.


“Siapa yang menyuruhmu pergi?? Bukannya tadi saya nanya tentang tugas pertamamu??”


“Ya tugas saya mengatur jadwal anda untuk satu Minggu kedepan, dan saya juga harus menyiapkan segala berkas dan laporan hari ini untuk anda lihat dan anda tanda tangani.” Jelas Mitha yang berusaha untuk bernada lembut pada musuh yang saat ini telah resmi menjadi bosnya itu.


“Salah! Itu bukan tugas pertamamu untuk pagi ini! Lagian, beda bos, bakalan beda juga aturannya!”


“Hmm ok." Lagi-lagi Mitha menghela nafas singkat.


"Terus apa tugas saya sekarang pak?”


“Jadi kamu gak tau??”


Mitha pun menggeleng.

__ADS_1


“Gak tau???” Tanya Lucas lagi yang kini mulai berdiri di hadapan Mitha.


“Gak tau pak.” Jawab Mitha yang langsung menundukkan pandangannya.


Mitha menundukkan pandangannya sebenarnya bukan karena merasa segan apalagi takut terhadap atasannya itu, namun sejujurnya ia sangat malas bila harus menatap wajah bosnya itu apalagi dengan jarak yang cukup dekat seperti saat itu.


“Heh! Kalau sedang berbicara dengan seseorang, kamu harus liat wajahnya!” Tegas Lucas namun dengan suara yang pelan.


Lagi dan lagi, Mitha harus menghela nafasnya sebelum akhirnya ia mematuhi perkataan Lucaa.


“Baik pak, terus apa tugas saya pagi ini? Karena saya gak tau!” Jawab Mitha yang akhirnya mulai menatap Lucas.


Namun Lucas justru dibuat terdiam kala Mitha mulai menatapnya dengan kedua mata indah yang ia miliki. Lagi-lagi jiwa Lucas terasa hangat saat kedua mata mereka saling bertemu, Lucas bahkan harus menelan salivanya saat tak sengaja menatap bibir Mitha yang mungil, namun sedikit tebal di bagian bawah, yang kala itu nampak begitu mengkilat dan terkesan basah.


Namun hal itu tidak berlangsung lama, tatapan itu seketika harus buyar kala Mitha mulai memetikkan jarinya di hadapan Lucas.


*Klik*


“Hellowww, pak Lucas yang terhormat.” Celetuk Mitha.


“Ohh, emm.” Lucas pun langsung tersentak dan mulai mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


“Oh itu, hmm tugasmu, tugasmu adalah…” Ujar Lucas yang nampak begitu gelagapan sembari terus berpikir.


“Oh ya, tugasmu hari ini adalah, menata ulang ruangan ku.” Tambahnya kemudian sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, hal itu ia lakukan agar seolah terlihat tenang di hadapan Mitha.


“What???!!!” Mitha pun terlihat sangat kaget,


“Kenapa? Keberatan?”


Mitha terdiam sejenak dengan wajah datarnya, dan entah untuk keberapa kalinya, ia kembali menghela nafas.


“Eemm ok, saya panggilin OB dulu untuk membantu menata ulang ruangan anda.” Jawab Mitha yang kemudian ingin kembali beranjak dari ruangan itu.


“No!!” Tegas Lucas yang langsung menahan lengan Mitha.


Mitha pun kembali terkejut dan seketika menatap tajam ke arah tangan Lucas yang kala itu tengah mencengkram lengannya.


“Sorry!” Lucas yang sadar akan tatapan Mitha itu pun sontak langsung melepaskan tangannya.


“Gak perlu manggil OB! Saya mau kamu yang nata ulang ruangan ini!!”


“Ta,, tapi pakk…”


"Gak ada tapi-tapi, ok! Saya mau ruangan yang sangat classic ini, berubah jadi ruangan yang aesthetic."


“Tapi itu kan gak mudah pak, saya gak akan sanggup kalau sendirian.” Keluh Mitha.


“Hmm ok fine, kamu boleh minta bantuan beberapa OB, tapi mereka cuma untuk mindahin barang-barang aja, dan ada beberapa barang yang sangat kuno yang harus di keluarin dari ruangan ini dan diganti dengan yang baru, jadi jangan sampai salah! Awas aja kalau hasilnya gak memuaskan!”


“Hmm ok.” Jawab Mitha yang mendadak terlihat melesu.


...Bersambung…...

__ADS_1


__ADS_2