
Keesokan harinya...
Tidak seperti biasanya, hari ini Mitha mendadak merasa canggung dan jadi sedikit gugup saat harus memasuki ruangan Lucas.
"Duhh, kenapa jadi mendadak nervous gini ya?" Gumamnya dalam hati yang mulai sedikit ragu untuk mengetuk pintu ruangan Lucas.
Namun setelah beberapa kali menghela nafas panjang, Mitha pun akhirnya mulai mengetuk pintu itu.
*Toktoktok*
"Masuk!" Jawab Lucas dari dalam.
Mitha pun perlahan masuk ke dalam ruangan itu, Lucas yang awalnya terlihat tengah fokus menatap lembaran kertas yang kala itu tengah ia pegang, mendadak langsung nampak berbinar saat mendapati jika seseorang yang datang adalah Mitha, orang yang baru saja bertunangan dengannya.
"Ow, hai my fiance, good morning." Sapa Lucas sembari tersenyum.
Mendengar hal itu, Mitha pun bergegas menghampirinya sembari melotot.
"Ssssttt, ngomong apasih kamu? Jangan keras-keras." Ucap Mitha.
"Loh memangnya kenapa?"
"Bukannya sebelumnya aku udah bilang untuk merahasiakan pertunangan ini sebelum kita akhirnya benar-benar setuju untuk menikah."
"Kamu gak ada bilang sama aku kok!"
"Akukan bilang sama bunda, dan bunda udah bilang sama tante Nonna."
"Haiss harus banget ya kegitu? Kenapa? Kamu malu tunangan sama aku? Oh atau...." Lucas pun mulai memicingkan kedua matanya.
"Atau apa?" Dahi Mitha pun nampak mengkerut.
"Hmm, atau kamu takut kabar ini di denger sama Vino? Oh jadi kamu masih berharap sama dia ya?"
"Terserah deh mau ngomong apa."
"Saranku, mending kamu lupain deh laki-laki gak gantle dan gak peka kayak dia."
"Apasih, kok malah jadi kamu yang ngatur-ngatur perasaan orang."
Mendengar hal itu, Lucas pun seketika bangkit dari duduknya, ia menatap lekat ke arah Mitha dan terus melangkah mendekatinya.
__ADS_1
"Memangnya apasih susahnya lupain laki-laki itu?" Tanya Lucas dengan suara yang merendah, saat ia sudah berada di hadapan Mitha.
Saat itu Mitha pun seketika terdiam.
"Lupain aja dia, dan belajar cinta sama aku!"
Lagi dan lagi, jantung Mitha kembali berdegub hebat saat Lucas kembali mengatakan hal yang serupa seperti semalam.
"Kalau kamu setuju, aku juga bakal lakuin hal yang sama!" Tambah Lucas lagi.
Mitha masih terus bungkam dan memilih untuk memalingkan wajahnya, namun disaat yang sama, secara tidak sengaja Lucas melirik ke arah jari tangan Mitha yang kala itu terlihat polos, tidak ada cincin pertunangan mereka yang mengikat jari manisnya.
Hal itu pun sontak membuat Lucas mendelik sembari meraih tangannya.
"Kamu tidak memakai cincinnya??!!" Tanya Lucas.
"Enggak!" Jawab Mitha yang kembali menarik tangannya menjauh dari Lucas.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka dengan modelnya?"
"Bukan itu."
"Terus???" Dahi Lucas pun kembali mengkerut.
Lucas pun menghela nafas kasar dan terlihat seolah tidak senang.
"Sekarang dimana cincinnya?"
"Ada di sakuku, baru tadi aku buka."
"Berikan padaku!" Tegas Lucas sembari mengulurkan tangannya.
"Un,, untuk apa lagi?"
"Berikaan saja!" Tegas Lucas lagi.
Dengan wajah yang sedikit masam, Mitha pun mulai merogoh saku yang ada di blazernya, lalu menyerahkan cincin itu pada Lucas.
"Nih!" Ucapnya.
Lucas pun memandangi sejenak cincin itu lagi, lalu tanpa permisi terlebih dulu, ia pun kembali meraih tangan Mitha dan memakaikannya kembali pada jari manis Mitha.
__ADS_1
"Aku gak mau denger alasan apapun, kamu harus tetep pake cincin ini kemanapun kamu pergi!" Tegas Lucas namun dengan suara yang lembut.
Mitha pun hanya bisa tercengang memandangi Lucas yang entah kenapa hari itu jadi bersikap lembut padanya, tidak seperti dulu lagi, yang selalu marah-marah.
"Tapi aku..."
"Orang lain juga gak bakal nyadar kalau yang kamu pakai ini cincin tunangan, kalaupun ada yang nanya, kamu bisa bilang ini aksesoris." Ucap Lucas lagi.
Mitha pun akhirnya kembali memandangi cincin yang sudah kembali melingkar indah di jari manisnya itu.
"Kamu ngerti kan maksudku?" Tanya Lucas lagi.
Mitha pun akhirnya mengangguk patuh. Ini pertama kalinya Mitha seolah sangat mudah pasrah dan mematuhi permintaan Lucas tanpa melakukan perlawanan terlebih dulu.
"Nah, kalau nurut gini kan manis." Celetuk Lucas sembari mengusap singkat ujung kepala Mitha dan kemudian kembali melangkah untuk menuju kursinya.
Mitha lagi-lagi dibuat tercengang dengan perlakukan Lucas yang bahkan jadi terkesan sangat manis padanya saat itu.
"Sekarang bilang, apa yang bawa kamu datang ke ruanganku? Apa ada sesuatu?" Tanya Lucas kemudian.
"Owh iy,, iya, aku mau ingetin kalau setengah jam lagi kita bakal meeting dengan klien di lantai 5, jadi siap-siap ya."
"Kamu udah siapin semuanya?"
"Udah kok:"
"Owh ok." Lucas pun mengangguk sembari tersenyum tipis.
Hal yang sebelumnya sama sekali tidak pernah disadari oleh Mitha, namun entah kenapa saat itu akhirnya Mitha mulai menyadari, jika Lucas terlihat begitu tampan ketika sedang tersenyum hingga membuatnya terpaku untuk sesaat.
"Ada lagi?" Tanya Lucas sembari menaikkan sebelah alis matanya.
"Owwh, enggak, gak ada kok." Jawab Mitha dengan cepat setelah pertanyaan Lucas itu membuatnya tersentak.
"Terus kenapa masih berdiri disitu? Masih kangen??" Goda Lucas yang kembali tersenyum.
"Dih no way!" Elak Mitha yang seketika langsung beranjak pergi begitu saja dari ruangan itu dengan membawa wajahnya yang nampak memerah karena menahan malu.
Lucas pun kembali terkekeh geli saat memandangi kepergian Mitha, wanita yang semakin hari justru terlihat semakin menggemaskan baginya,
"Haais astaga, kenapa makin hari dia jadi makin gemesin?? Huh pengen ku gigit rasanya." Gumam Lucas dalam hati sembari terus tertawa.
__ADS_1
Bersambung...