Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Resmi jadi boss


__ADS_3

Membuat Lucas kembali meringis mengusap lengannya, namun ia tetap terkekeh. Saat itu, suasana malam yang kian larut, nyaris terasa hening, mendadak terasa kembali mencair dan terasa hangat saat kehadiran Lucas ke tengah-tengah mereka. Mereka bertiga terus berbincang hangat sembari menikmati sepotong demi sepotong brownies buatan Nonna yang memang selalu jadi rebutan di rumah itu. Bahkan Lucas juga sempat meminta bik Nur untuk membuatkan orange jus untuk melepas dahaga dan rasa seretnya setelah banyak memakan brownies.


“Cuma tersisa dua hari aja lagi, maka kamu bakalan resmi jadi CEO di perusahaan kita! How do you feel?” Tanya Ronald di sela-sela perbincangan santai mereka pada malam itu.


“Of course I'm so excited, pa!” Jawab Lucas penuh percaya diri.


“Oh really?” Ronald pun tersenyum,


“Yaps!” Lucas pun ikut tersenyum sembari mengangguk singkat.


“Ah syukur lah, papa seneng bisa liat kamu semangat kegini, ini baru anak papa! Hehehe”


“By the way, apa sih yang bikin kamu tiba-tiba setuju untuk gantiin posisi papamu di perusahaan?? Karena seingat mama ya, terakhir kali papamu minta hal itu, kamu masih bersikeras nolak loh.” Tanya Nonna yang cukup dibuat penasaran dengan keputusan Lucas yang terkesan begitu mendadak.


Keputusan Lucas yang terkesan mendadak, juga sebenarnya mempengaruhi banyak hal. Terutama dalam hal membuat pengacara perusahaan serta notaris juga sedikit kelimpungan untuk menyiapkan segala berkas alih nama serta pemindahtanganan perusahaan.


Pertanyaan ibunya itu, sungguh berhasil membuat Lucas jadi terdiam sejenak. Karena tidak bisa di pungkiri, alasan utamanya bersedia menjadi CEO perusahaan itu tak lain karena merasa tertantang oleh Mitha yang tidak mau di suruh-suruh olehnya, melainkan hanya bersedia mengabdi pada ayahnya, yang menjabat sebagai presdir sekaligus CEO. Namun hal itu tentu tidak mungkin ia ungkapkan secara terang-terangan pada kedua orang tuanya, ia pun mau tak mau harus memberi alasan palsu demi menutupi gengsi.


“Alasannya cukup simple sih ma, karena aku gak mau mama terus-terusan kesepian di rumah, itulah sebabnya aku mau ngambil alih tugas papa yang super sibuk ini, supaya papa bisa nemeni mama kemanapun mama mau hehehe,” Jawab Lucas dengan senyumannya yang begitu berkembang.


“Bukan begitu pa?” Tanyanya lagi sembari melirik ke arah Ronald.


“Hehee ya, bisa jadi begitu.”


“Oh ya?? Hhmm, terus apa yang bikin kamu jadi semangat banget kegini?” Tanya Nonna lagi.


“Hmm apa ya??? Kurasa ini cuma karena jiwa mudaku aja ma. Bukannya jiwa-jiwa anak muda memang selalu semangat ya dalam ngejalani hal apapun?” Jawab Lucas santai, sembari mulai meneguk orange jus miliknya.


“Ohhh, bukan karena Mitha yang bakal jadi Sekretaris dan dampingi kamu setiap hari kan??!” Nonna kembali menatap Lucas, dengan tatapan penuh selidik.


Mendengar hal itu, membuat Lucas yang awalnya tengah meneguk dengan tenang minumannya, sontak tersedak hingga membuatnya terbatuk-batuk.


“Uhuk,,uhukk,, ap,, apa?? Mitha??” Ucap Lucas yang mendadak nampak gelagapan.


“Kok kamu jadi tersedak gitu sih pas denger nama Mitha, hmm Kenapa??”


“Dihh enggak kok ma, sama sekali bukan karena itu, mungkin karena aku terlalu haus sampai-sampai meneguk minuman pun jadi terlalu bersemangat.” Jawab Lucas yang lagi-lagi harus berbohong.

__ADS_1


“Oh gitu?? Hmm ya ya ya,” Nonna pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya sembari terus menahan senyumnya.


Lucas adalah anak yang ia besarkan sejak kecil, maka dari itu ia tentu saja tau dan paham jika Lucas mulai mengeluarkan gelagat anehnya.


Membahas tentang Mitha, tiba-tiba saja membuat Lucas kembali teringat akan seseorang, seseorang yang tadi siang sempat dibahas oleh Vina sebagai seseorang yang begitu disukai oleh Mitha. Lucas pun jadi tertarik untuk membahas orang yang tak lain ialah Vino, pada papanya.


“Oh ya pa, ada hal yang pengen aku tanyain.”


“Apa itu?”


“Tentang GM perusahaan kita yang tempo lalu pernah papa bahas.”


“Oh Vino, hmm kenapa dengan Vino? Apa kamu udah kenal sama dia?” Tanya Ronald yang mulai mengernyitkan dahinya.


“Oh enggak, aku sama sekali belum mengenalnya.”


“Terus kenapa? Kenapa tiba-tiba pengen bahas Vino?”


“Oh enggak, cuma penasaran aja. Bukannya papa bilang dia itu orang yang loyal banget ya dengan perusahaan kita???”


“Ya, itu memang bener!”


“Oh itu haha, dia lagi dalam perjalanan tugas ke luar kota, untuk mengecek lokasi yang nantinya bakalan dibuat cabang perusahaan kita yang baru.”


“Ohhh gitu.” Lucas pun mengangguk-anggukan kepalanya.


“Terus,,, kira-kira itu sampai berapa lama, pa?”


“Hmm untuk berapa lama pastinya, papa juga kurang tau, itu tergantung Vino dan timnya lagi, semakin sigap mereka menyelesaikan semuanya, maka bakal semakin cepat juga mereka balik ke kantor utama.”


“Tapi perkiraannya, berapa lama??”


“Hmm maybe bisa sampai 1 atau 2 bulanan, maybe ya.” Jawab Ronald dengan tenang.


Lucas yang mendengar hal itu pun sontak mulai tersenyum tipis. Ia cukup senang saat mengetahui jika Vino akan cukup lama berada di luar kota, sehingga ia memiliki kesempatan untuk mengganggu Mitha lebih lama lagi, tanpa ada gangguan dari siapapun terutama Vino, lelaki yang dia ketahui adalah lelaki pujaan Mitha.


“Oh oke lah pa,” Jawabnya dengan sebuah senyuman yang begitu berkembang,

__ADS_1


“Semoga aja dia bisa lebih lama di luar kota, kalau perlu sampai Mitha bener-bener udah lupa sama dia, baru dia balik.” Gumam Lucas dalam hati.


Lucas pun melirik ke arah jam tangan yang melingkar gagah di pergelangan tangannya, saat itu malam semakin larut, tak terasa jam pun sudah menunjukkan pukul 23.55, hampir tengah malam, hingga Lucas memutuskan untuk segera naik ke kamarnya.


“Ok lah pa,, ma,,  udah hampir tengah malam, besok aku harus bangun pagi, kalau gitu aku ke kamar duluan ya?”


“Oh ya? Memangnya udah jam berapa ini? Papa juga mau tidur kalau gitu, takut kesiangan.” Jawab Ronald.


“Lima menit lagi jam 12 malam, pa.” Jawab Lucas yang akhirnya bangkit dari duduknya.


“Oh astaga, ya udah kalau gitu papa dan mama pun mau masuk juga deh ke kamar.”


“Ok, good night pa, ma.”


“Good night,” jawab Ronald dan Nonna secara serentak.


2 hari kemudian…


Ini adalah hari yang begitu dinantikan oleh hampir seluruh staf di kantor terutama staf wanita, hari dimana Lucas resmi menjabat sebagai CEO sekaligus presdir di perusahaan milik keluarganya sendiri,


Saat itu terdengar begitu banyak suara sorak gembira serta tepuk tangan dari seluruh staf kantor yang dikumpulkan di aula gedung untuk bersama-sama menyambut Lucas sebagai CEO yang baru, namun hal itu tidak terjadi pada Mitha yang justru terus menekuk wajahnya.


“Huh, aku bener-bener gak percaya kalau sekarang udah tiba waktunya, kenapa ya kalau dihindari, waktu seminggu itu terasa kayak sehari? Tapi kalau lagi di tunggu, seminggu kayak sebulan lamanya” Keluhnya dalam hati yang kala itu terus memasang wajah ketat.


Sementara Lucas, akhirnya ia bisa tersenyum puas, ia tersenyum penuh kemenangan atas Mitha yang akhirnya kini berada di bawah kendalinya saat di kantor. Lucas terus bersorak penuh kemenangan dalam hatinya, sembari terus memandangi Mitha yang terlihat lesu seolah tak memiliki gairah hidup.


Tak sengaja, di waktu yang sama Mitha pun melirik ke arah Lucas yang kala itu juga tengah menatapnya dengan lekat. Menyadari hal itu, Lucas pun kembali tersenyum dan berkata,


“You are mine, now!” Ucapnya ke arah Mitha tanpa mengeluarkan suara.


Mitha yang bisa melihat gerakan bibirnya, sontak dibuat semakin merasa geli hingga spontan menaikan sebelah ujung bibirnya.


"Dihh!" Ketusnya


Namun Lucas yang melihat reaksi Mitha terhadapnya, justru semakin dibuat sumringah penuh kepuasan hingga menampilkan senyuman yang justru semakin membuatnya terlihat semakin tampan.


__ADS_1


...Bersambung…...


__ADS_2