Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Stalker handal


__ADS_3

"Dimana Nia?? Apa dia gak tau kalau cafe ini udah mau tutup?” Tanya Dika pada kedua teman Nia.


“Kayaknya dia masih di toilet deh, kalian pulang aja duluan, biar kami yang nyusul Nia ke toilet.” Jawab salah satu temannya.


“Oh ya udah kalau gitu. Kebetulan memang kami mau buru-buru pulang, karena besok pagi harus kerja lagi." Jelas Aryo.


"Ok gak masalah."


"Ok, titip salam ya sama Nia.” Aryo pun tersenyum.


“Oh iya, pasti.”


Dika dan Aryo pun akhirnya beranjak pergi, membuat cafe jadi semakin bertambah lengang,


Tak lama, kedua teman Nia datang menyusulnya, mereka sedikit terkejut saat mendapati Nia yang saat itu terlihat lemas dengan menyandarkan tubuhnya di tembok.


“Astaga Nia! Kamu kenapa ha? Are you ok?”


“Kamu mabuk ya?”


“Dia, dia menolakku hu,,hu,,hu.” Ungkap Nia dengan sangat lirih.


“Siapa? Siapa yang sanggup menolakmu? Memangnya ada??”


“Cuma dia, cuma dia yang sanggup nolak aku kayak gini hu,,hu,,hu" Nia pun langsung memeluk kedua temannya.


“Tapi siapa yang kamu maksud?” Tanya salah satu temannya yang terlihat masih tidak tau siapa orang yang dimaksud oleh Nia.


“Lucas! Dia nolak aku!!” Jawab Nia yang kemudian mulai menangis tersedu-sedu.


“Hah?! Lucas?? Ma,, maksudmu Lucas yang duduk disampingmu tadi?”


“Iya, siapa lagi?!”


“Ya ampun, gimana bisa dia sanggup nolak perempuan secantik dan seseksi kamu? Apa dia buta?? Atau bodoh?!”

__ADS_1


“Entah lah! yang jelas kejadian ini bikin hatiku sakit, aku gak terima diginiin, gak ada yang boleh nolak aku hu,,hu,,hu.” Nia terus saja menangis.


“Ya udah, kamu yang sabar ya, nanti kita bicarain lagi. Sekarang ayo kita pulang dulu, cafenya udah mau tutup.”


“Oh ya??”


“Iya.”


“Huh, ya udah ayo.” Jawab Nia lesu yang kemudian langsung merangkul kedua temannya agar ia tidak jatuh saat berjalan


Tak terasa, jam kini sudah menunjukkan pukul 02:10 dini hari. Udara kian terasa semakin sejuk, cuaca juga terlihat mulai sedikit berkabut, bahkan embun juga perlahan mulai memberikan efek lembabnya. Lucas masuk ke kamarnya dengan perasaan yang tak menentu, kesal, lelah, emosi, penasaran, semuanya bergabung menjadi satu kesatuan di dalam otaknya.


Iya pun langsung meletakkan kasar ponselnya ke atas nakas yang ada di sisi tempat tidurnya, lalu kemudian langsung berbaring di atas ranjangnya sembari memijiti pelipisnya yang sedikit terasa berdenyut. Entah kenapa, ketika Lucas baru saja memejamkan matanya, secara tiba-tiba ia kembali terbayang wajah lembut Mitha yang sedang tertidur saat di mobilnya tadi. Hal itu pun sontak membuatnya terperanjat dan kembali bangkit dari tidurnya.


“Hah! Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba malah terbayang wajahnya!” Gerutu Lucas seorang diri sembari duduk bersandar pada kepala ranjang.


Tak sengaja, kedua mata Lucas melirik ke arah ponselnya, ia pun kembali meraihnya, lalu mulai membuka salah satu sosial media yang ia punya. Entah kenapa, tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya ide untuk mencari Mitha di sosial media, dengan hanya bermodalkan satu kata kunci, ia pun mulai mengetikkan nama Mitha di kolom pencarian.


Saat itu ada banyak hasil yang keluar, ada puluhan wanita yang bernama Mitha di sosial media dengan foto profil yang berbeda-beda. Lucas terus menggulir layar ponselnya hingga ke bawah, berharap di salah satu foto wanita bernama Mitha, ada Mitha yang ia cari.


“Mitha Admadja.” Ucapnya sembari terus tersenyum tipis.


“Oh,, jadi itu nama lengkapnya?” Tanyanya lagi yang akhirnya semakin tersenyum lebar.


Entah makna apa yang sebenarnya tersirat dari senyuman kali ini,, namun yang jelas, Kini Lucas diam-diam mulai merasa penasaran mengenai semua hal yang berhubungan dengan Mitha. Malam itu, Lucas berhasil menjadi seorang stalker yang handal, ia terus memeriksa setiap postingan foto yang Mitha upload ke media sosial miliknya.


Lucas seolah tak keberatan jika jam tidurnya jadi semakin berkurang demi memandangi satu persatu foto Mitha yang diambil dari berbagai angle yang berbeda. Lucas nampak selalu tersenyum setiap kali ia mengklik dan memperbesar foto Mitha,


“Haaiss, kenapa gak ada yang jelek ya fotonya? fotonya diambil dari angle manapun, kok tetap aja keliatan imut. Bener-bener fotogenik banget nih cewek.” Gumamnya dalam hati yang kembali melebarkan senyumannya.


Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03:50 pagi, Lucas pun akhirnya merasa jika matanya perlahan mulai terasa berat, namun ia seolah belum puas dan tak ada bosannya memandangi Foto Mitha yang lainnya. Ia terus memaksakan diri untuk tetap menjadi stalker dan terus menjelajahi profil Mitha, hingga akhirnya tanpa sadar ia pun tertidur dalam keadaan layar ponselnya yang masih menampilkan salah satu foto Mitha yang kala itu tampak tengah tersenyum manis.


Pagi hari yang cerah…


Jam sudah menunjukkan pukul 07:30 pagi, Pagi itu Mitha dengan sangat terpaksa harus kembali naik taksi online karena mobilnya belum selesai di perbaiki.

__ADS_1


“Thaa, lebih baik kamu ayah anter aja yuk ke kantor, sekalian ayah juga mau ketemu dengan partner bisnis ayah di pabrik.” Ucap Hendra yang menawarkan tumpangan untuk anaknya.


Namun bukan Mitha namanya jika ia tidak menolak tawaran yang dirasanya akan membuat ayahnya repot.


“Ihh gak usah yah, lagian kantor dan pabrik itu kan berlawanan arah, Mitha gak mau ayah yang jadi terlambat cuma karena nganterin Mitha, belum lagi ada banyak lampu merah yang harus di lewati, mana macet lagi.” Tolak Mitha secara halus.


“Tapi ayah bisa aja…”


“Ayahhh, gak usah ya,” potong Mitha dengan lembut sembari menggelengkan pelan kepalanya.


“Mitha naik taksi online aja, lebih praktis hehehe.” Tambahnya lagi yang akhirnya tersenyum.


“Kamu yakin sayang?”


“Yakin yah!” tegas Mitha yang semakin melebarkan senyumannya.


Hendra pun akhirnya pergi lebih dulu, meninggalkan Mitha yang masih berdiri di depan pintu utama rumah mereka. Sialnya, pagi itu aplikasi taksi online miliknya sedikit kesulitan untuk menemukan driver di sekitarnya, hal itu pun membuat Mitha sedikit gundah gulana meski sebelumnya ia sudah menelpon Ronald untuk meminta izin, ia meminta izin untuk datang sedikit terlambat hari ini karena mobilnya yang masih rusak dan susahnya mencari taksi online di jam sibuk seperti saat itu.


Tak lama, Mely pun ikut keluar dan berdiri di sisi Mitha.


“Belum dapet juga?” Tanyanya cemas.


Mitha pun menggelengkan pelan kepalanya dengan raut wajah sedikit murung.


“Haiiss, tau gitu kenapa gak ikut dengan ayahmu aja tadi??”


“Ayah buru-buru mau ketemu partner kerjanya, Mitha gak mau bikin ayah jadi kalang kabut.” Jawabnya pelan.


“Hemm it’s ok, lagian tadi kamu udah nelpon Ronald kan?”


“Udah bunda, tapi tetep aja pikiran gak bakal bisa tenang kalau datang terlambat.”


Namun, selang beberapa saat saja dari itu, tiba-tiba saja Mitha mendengar suara klakson mobil yang cukup keras dari luar pagar rumahnya. Mitha dan Mely sontak menoleh ke arah yang sama, yaitu ke arah depan pagar rumah mereka, yang saat itu sudah terlihat sebuah mobil jeep Rubicon yang begitu gagah terhenti tepat di depan pagar.


...Bersambung…...

__ADS_1


__ADS_2