Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Makan siang


__ADS_3

Kedua mata Vina pun semakin terlihat membulat.


“Ka,,, kamu yakin cuma berdua aja dengan pak Lucas di dalam lift??”


Mitha pun mengangguk lesu.


“Oh my god!! Terus,, ap,, apa yang terjadi saat lift berguncang??” Tanya Vina dengan tatapan sangat menyelidik.


“Haaaiiss, apa-apaan sih?! Kenapa malah bahas hal yang gak penting?! Males banget deh!! Ayo kita makan, bukannya tadi katanya udah laper bangettt??!” Rengek Mitha yang seketika mulai bangkit dari duduknya.


“Eeehhh, sebentar dulu!!” Vina pun menarik tangan Mitha seolah tak membiarkannya mengalihkan pembicaraan apalagi sampai beranjak pergi.


“Kamu mau makan atau enggak??! Kalau enggak, ya udah mendingan aku balik lagi ke ruanganku aja!” Tegas Mitha melotot.


“Haaaiis, kok malah ngancem gitu sih???”


“Mau makan atau enggak??!!” Tegas Mitha lagi.


Kali ini, Vina nampaknya tak bisa berkata apapun lagi selain menghela nafas panjang,


“Heeem ok fine, fine! Yuk kita makan!” Jawabnya kemudian sembari mulai ikut bangkit dari duduknya.


“Good!!" Mitha pun akhirnya bisa tersenyum puas.


Tanpa ingin lebih banyak basa basi, Mitha pun bergegas menarik tangan Vina untuk mengajaknya keluar dari lobby. Di sepanjang jalan, Vina pun terus saja memandangi Mitha yang kala itu terlihat sedang begitu fokus mengemudikan mobil maticnya yang ceper, karena sejujurnya ia masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi antara Mitha dan Lucas saat berduaan di dalam lift yang berguncang.


“Kamu kenapa sih Vin? Kok liatin aku terus? Liatinnya gitu banget lagi!" Tanya Mitha yang ternyata menyadari hal itu meskipun saat itu ia tidak melirik ke arah Vina sedikit pun.


“Aku masih penasaran banget sama kejadian di lift yang terjadi sama kamu dan juga pak Lucas. Ayolahhh Thaa, ceritain dong!” Pujuk Vina sembari mulai memegang sebelah lengan Mitha dan mulai menggoyang-goyangkannya.


“Haaiiss, tolong jangan rusak konsentrasiku saat nyetir dong, kalau nanti nabrak gimana??!”


“Ihhhh, nyebelin banget kamu Tha! Ngindar terus tiap di tanya!!” Gerutu Vina yang kembali tersandar lesu ke sandaran kursi.


Mitha memutuskan untuk mengajak Vina makan siang di sebuah cafe yang akhirnya masuk ke dalam salah satu cafe favoritnya, cafe itu tak lain adalah cafe tempat dimana ia dan Vino makan siang terakhir kalinya.


“Kita makan disini aja ya?!” Ucap Mitha begitu menghentikan mobilnya di parkiran cafe itu.


“Eeemm aku sering banget ngelewati cafe ini, tapi belum pernah sama sekali makan disini! Memangnya makanan disini enak-enak?” Tanya Vina sembari memandangi cafe itu dari dalam mobil.


“Soal rasa, kamu gak perlu khawatir, disini hampir semua menunya enak-enak, bener-bener recomended!” Jawab Mitha dengan tenang.

__ADS_1


Tak buang waktu, mereka langsung keluar dari mobil dan memasuki area cafe, seorang pelayan langsung menyambut kedatangan mereka dengan sudah membawakan buku menu. Dengan cepat mereka memesan beberapa menu makanan hingga minuman, tak lupa pula beberapa dessert juga mereka pesan sebagai pencuci mulut.


“Baik, silahkan di tunggu.”


“Ok.” Vina pun tersenyum ramah.


Sembari menunggu makanan mereka datang, Vina pun kembali menuba Mitha dengan berbagai pertanyaan yang sejak tadi ternyata masih mengganjal di otaknya.


“Thaaa, ayo jawab yang tadi!!” Rengeknya lagi.


“Astaga, apa lagi sih ah??” Mitha pun kembali melesu, ia sangat tak habis pikir ternyata sahabatnya itu masih saja ingin membahas hal yang menurutnya tidak penting.


“Yang tadiiii loh!! Antara kamu dan pak Lucas! Apa yang terjadi???”


“Eemmm denger ya! Gak terjadi apapun antara kami berdua!! Ok!” Jawab Mitha berbohong.


“Ah aku gak percaya!” Vina pun seketika menaikkan sebelah ujung bibirnya.


“Kenapa bisa gak percaya cobak??”


“Ya jelas lah gak percaya, menurut film drama yang sering ku tonton ya, laki-laki dan perempuan kalau udah kejebak di lift yang berguncang, udah pasti terselip adegan mesra di antara keduanya. Entah itu si perempuan yang ketakutan, lalu si laki-laki langsung nenangin dengan cara memeluknya, atau bisa juga keduanya terkejut dan seketika langsung saling berpelukan.” Ungkap Vina penuh semangat.


“Sial! kenapa adegan di film bisa persis banget kayak kejadian tadi ya?” Gumam Mitha dalam hati yang tiba-tiba saja kembali terbayang bagaimana nyamannya ia ketika mendekap tubuh Lucas yang kokoh dan juga harum.


Namun bayangan itu hanya terjadi beberapa saat saja, sebelum akhirnya harus dibuyarkan oleh Vina yang kembali menyentuh lengannya.


“Heh!! Malah melamun!” Gerutu Vina.


Mitha pun tersentak, entah kenapa saat membayangkan kejadian di lift tadi, tiba-tiba saja membuat bulu kuduknya merinding hingga membuatnya mulai mengusap-usap tengkuknya yang terasa dingin.


“Kamu diam, apa itu artinya apa yang ku bilang tadi bener-bener kejadian? Iya?” Tanya Vina yang seolah terus menyelidik.


“Eeemm hal itu cuma spontanitas aja kok Vin, gak ada romantis-romantisnya sama sekali.” Jawab Mitha tak bersemangat.


“Oh my god!! Berarti beneran apa yang ku bilang tadi??” Vina pun kembali terbelalak.


Membuat Mitha yang lagi-lagi keceplosan harus kembali menelan ludahnya dan mau tak mau ia harus terbuka kali ini.


“Hehehe iya, jangan marah ya, peace!” Jawab Mitha dengan sebuah senyuman kaku.


“Tapi walaupun kegitu, kamu gak perlu cemas, tetep gak ada yang bisa gantiin posisi kak Vino di hatiku, kamu tau itu kan?” Tambah Mitha lagi.

__ADS_1


“Haaaiiiss, lagi-lagi kamu jadi perempuan beruntung ya Tha. Duhh enak banget sih kamu bisa peluk-pelukan sama pak Lucas, pasti badannya wangi banget ya Tha? Aaaa aku jadi makin iri sama kamu.” Ungkap Vina yang kembali merengek.


“Beruntung apanya sih? Gak ada yang berkesan! Cuma ada satu yang berkesan, kamu mau tau apa??” Mitha tiba-tiba saja tersenyum.


“Apa??” Tanya Vina sembari mulai mengerutkan dahinya.


“Sebelum kak Vino pergi, aku dan dia melewati makan siang di sini, di cafe ini.” Ungkap Mitha dengan semakin mengembangkan senyumannya.


“Ha?!! Beneran??” Vina pun cukup terkejut mendengarnya.


Mitha langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


“Haaaiis, kenapa kamu baru cerita soal ini sekarang sih ha??!”


“Hehehe iya maaf, akhir-akhir ini kamu kan tau aku sibuk.”


“Terus, terus?? Gimana lagi??” Vina yang awalnya nampak sedikit sedih, seketika langsung dibuat kembali bersemangat saat mendengar cerita mengenai Vino dan sahabatnya itu.


Mitha pun dengan penuh semangat mulai menceritakan sedetail mungkin apa yang terjadi antara dia dan Vino sebelum kepergiannya ke luar kota.


“Aaaaaaaa.” Vina pun berteriak bahagia.


“So sweet banget ya ampun,” tambahnya lagi sembari terus mengguncang-guncang lengan Mitha.


“Aku gak nyangka pak Vino bisa semanis itu sama kamu. Tapi itu artinya, dia juga punya perasaan yang sama dong sama kamu?”


“Hemm entah lah!! dia gak pernah ngomong masalah perasaannya secara langsung, jadi aku gak mau berasumsi terlalu cepat.” Jawab Mitha sembari menghela nafas singkat.


“Eemm tapi seenggaknya udah ada sedikit kemajuan di hubungan kalian kan hehehe. Selamat ya Tha, semoga sesudah dia pulang nanti, kalian bisa cepet-cepet pacaran deh hehehe.”


“Aaaaa semoga aja.” Mitha pun semakin tersenyum manis.


Namun saat sedang asyik-asyiknya berbincang, tiba-tiba saja seorang lelaki yang sudah tidak asing lagi bagi mereka muncul. Hal itu membuat Vina seketika menjadi gemetaran dan salah tingkah.


“Oh my god, oh my god Tha…” Vina tiba-tiba saja kembali mengguncang-guncang lengan Mitha dengan tatapannya yang saat itu tengah mengarah ke arah pintu masuk.


“Ada apa?” Tanya Mitha yang sedikit kaget sembari mulai melirik ke arah pintu.


Melihat siapa yang baru saja tiba di cafe itu, juga akhirnya ikut membuat Mitha tercengang.


...Bersambung…...

__ADS_1


__ADS_2