
Vina pun bergegas menyusul Mitha ke dalam ruangannya, saat itu Mitha terlihat sudah terduduk di kursinya sembari terus menggeram seorang diri.
“Thaa, kamu kenapa?” Tanya Vina yang semakin terheran-heran.
Menyadari keberadaan Vina yang telah berdiri di hadapannya, sontak membuat Mitha tersentak dan langsung berusaha bersikap tenang.
“Ak,, aku?? Eeem, memangnya aku kenapa? Aku gak apa-apa!” Jawab Mitha yang terlihat kikuk.
“Ku liat pagi ini kamu aneh banget, kamu marah-marah sendiri, ngomel sendiri, dan barusan, aku juga liat kamu menggeram sendiri. Ada masalah ya?” Vina pun perlahan mulai duduk di kursi yang ada di hadapan Mitha.
Saat itu Mitha tidak langsung menjawab, ia terdiam, lalu mulai bergumam dalam hatinya.
“Ya ampun, apa yang harus ku bilang sama Vina ya? Kan gak mungkin juga aku bilang apa yang sebenarnya baru terjadi antara aku dan Lucas kan?” Gumamnya.
“Hehh, kok malah melamun sih??!” Tanya Vina lagi sembari melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Mitha
Lagi-lagi hal itu pun berhasil membuat Mitha tersentak.
“Oh itu, eemm enggak, gak apa-apa hehee.” Mitha mulai cengengesan.
“Kamu yakin gak papa? Tapi,, kalau enggak ada apa-apa, kenapa harus ngomel-ngomel sendiri di sepanjang langkah menuju ruangan mu?”
“Oh itu eemmm ak, aku…” Mitha pun mendadak jadi gelagapan.
“Haiss, gak mungkin aku jujur sama dia kalau hari ini aku kesel banget sama laki-laki yang namanya Lucas itu. Dan gak mungkin juga aku ngomong sama Vina kalau hari ini Lucas yang nganterin aku ke kantor, bahkan dia juga minta aku untuk,,, untuk menciumnya. Hissss!!! bener-bener otak mesum!!!, aku benci laki-laki itu! Benci!!!” Gerutu Mitha lagi yang tanpa sengaja ia kembali menggeram di hadapan Vina.
“Pokoknya aku benci laki-laki itu! Benci, benci, benci!!!” Pekiknya tiba-tiba.
Vina pun sontak kembali terkejut dan semakin terheran-heran dibuatnya, ia tercengang memandangi sahabatnya yang benar-benar seperti orang gila pagi itu.
“Mithaaaa, hei! kamu kenapa sih?? Kesurupan ya??!!” Vina pun langsung meraih kedua pundak Mitha sembari mengguncang-guncang tubuhnya.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Mitha tersentak.
“Oh aku,,, emm aku cu,, cuma sedikit stress aja Vin hehehe. Maklumlah, pak Ronald udah dua hari gak masuk ke kantor, dan semua kerjaan jadi dibebankan ke aku, jadi itu lah yang bikin aku jadi sedikit stress, aku bener-bener gak suka situasi ini.” Ungkap Mitha yang sudah jelas jika pengakuan itu hanyalah kebohongan belaka.
“Maaf ya Vin, aku kepaksa bohong sama kamu, karena kalau aku jujur, aku takut kamu bakal salah paham sama aku.” Gumamnya lagi yang mulai tertunduk lesu.
“Oh gitu rupanya? Tapi bener cuma karena itu? Gak ada masalah yang serius kan?” Tanya Vina memastikan, dari sorot matanya bisa terlihat dengan jelas jika Vina cukup mengkhawatirkan sahabatnya itu.
Mitha pun tersenyum tipis dan menggelengkan pelan kepalanya.
“Iya, cuma itu aja kok. Lagian kamu tau gimana aku kan, kalau ada apa-apa, orang yang paling pertama bakal dengerin keluh kesahku udah pasti kamu lah. Kamu tau itu kan??” Jawab Mitha yang terus mencoba meyakinkan sahabatnya itu.
“Hehe iya sih, bener juga. Emm syukur lah kalau masalahnya cuma di pekerjaan. Tapi aku yakin kok dengan kemampuanmu, kamu bisa menghandle semuanya. Semangatttt!” Vina pun akhirnya ikut tersenyum lebar.
“Hehehe iya. Makasih semangatnya bestie.” Jawab Mitha yang ikut tersenyum.
Vina pun akhirnya keluar dari ruangan sepetak bernuansa putih itu, karena ia pun memiliki pekerjaan tersendiri yang juga harus ia selesaikan hari itu.
Sementara Mitha, kini ia bisa menghela nafas lega serta kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, lagi-lagi ia terbayang kejadian di mobil tadi, dan hal itu kembali membuatnya jengkel.
“Aduhhh, kenapa aku malah terus mikirin laki-laki gak ada akhlak itu sih???!! Enggak, enggak, dia gak pantes untuk dipikirin!” Tegas Mitha lagi, yang seolah mulai membulatkan tekatnya untuk melupakan kejadian tadi dan berhenti memikirkan lelaki yang amat sangat ia benci itu.
Beberapa saat terdiam, akhirnya Mitha bisa kembali tersenyum hangat dan kembali berceletuk.
“Dari pada aku terus naik pitam mikirin laki-laki gak tau malu itu, lebih baik aku manjain otakku dengan cara mikirin kak Vino,” Celetuknya sembari mulai melebarkan senyumannya.
“Aaaaa,, kak Vino, lagi ngapain ya dia sekarang? Dia gak ada niat untuk ngubungi aku sedikit pun apa?? Emm apa dia sengaja menguji kesetiaanku ya??”
Entah kenapa, wajah Mitha yang sebelumnya begitu masam kala mengingat kelakuan Lucas, kini mendadak terlihat jadi begitu berbinar saat bayang-bayang Vino kembali masuk ke dalam pikirannya. Bagi Mitha, Vino takkan terganti, walau semesta mendatangkan 1000 lelaki tampan ke hadapannya sekaligus, hal itu takkan membuatnya goyah, ia akan tetap selalu menunggu Vino, begitu lah pikirnya.
__ADS_1
-Sisi lain di kediaman Ronald Hendarto-
Pagi itu, Ronald dan Nonna tengah berduduk santai di teras yang ada di samping rumah mereka. Udara pagi itu sangat segar, dedaunan dan seluruh bunga-bunga yang ada di taman samping rumah itu juga terlihat basah akibat embun pagi hari yang menambah kesan menyejukkan. Cuaca juga sangat cerah, di tambah pula dengan suara gemericik air pancur di kolam renang, serta suara kicauan burung-burung camar yang seolah bernyanyi di atas ranting pohon yang lembab, turut menambah perasaan damai bagi Ronald maupun Nonna yang begitu menikmatinya.
Nonna dengan tenang mulai menuangkan teh yang sudah di campur dengan madu dan lemon ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Ronald yang kala itu tengah mengeluh jika badannya merasa meriang.
“Ini pa, di minum ya.” Ucap Nonna dengan lembut.
“Thanks ma.” Ronald pun tersenyum tipis sembari meraih gelas tehnya dan perlahan mulai menyeruputnya dengan penuh penghayatan.
“Eemmm enaknya.” Celetuk Ronald.
Nonna pun tersenyum, namun sesaat setelahnya, ia kembali menatap wajah suaminya yang kala itu nampak sedikit pucat, dan mulai bertanya,
“Pa, papa yakin tetap gak mau periksa ke Dokter?!” Tanya Nonna pelan.
“Hais gak perlu lah ma, papa ini cuma kecapekan sama masuk angin aja. Percuma juga periksa ke Dokter, paling juga cuma dikasi vitamin dan obat pusing.” Jawab Ronald santai.
“Tapi pa,,,”
“Udahlah maaa, gak perlu cemas, ok? Papa baik-baik aja, gak perlu berlebihan.”
“Eehhh gimana mama gak cemas ha? Jantung hati mama, cinta sejati mama yang paling mama sayang ini lagi sakit tau, ya pasti lah mama cemas paaaa, papa gimana sih.” Goda Nonna yang kembali tersenyum.
Ronald yang mendengar hal itu keluar dari mulut istrinya, sontak langsung terkekeh geli sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hehehe mama ini, masih aja sanggup gombalin papa, but I like it ma hehehe. Mama memang paling pinter bikin papa terhibur” Celetuk Ronald sembari mengusap-usap ujung kepala istrinya.
“Yaa pasti lah pa, memang itu tujuan mama, biar papa cepet fit lagi, jadi harus banyak ketawa hehehe, hemm habisnya mau gimana lagi, siapa lagi yang mau menghibur kita yakan? Cucu, kita belum punya.” Ungkap Nonna yang kemudian mulai nampak melesu.
“Gimana mau punya cucu, kalau anak-anak kita aja belum ada yang menikah.” Jawab Ronald yang kembali menyeruput tehnya.
__ADS_1
Hal itu pun sontak membuat Nonna jadi terdiam sejenak, entah dari mana asalnya, namun tiba-tiba saja sebuah pikiran untuk meminta Lucas agar segera menikah pun muncul begitu saja dalam benaknya.
...Bersambung…...