
Mendengar hal itu, Lucas pun seketika mendengus pelan, lalu mulai terkekeh untuk berusaha menyembunyikan fakta.
"Tuduhan macam apa itu ha?!!" Ucap Lucas yang mencoba mengelak.
"Hmm, jadi kamu yakin sejauh ini gak suka sama Mitha?" Tanya Bayu lagi seolah ingin lebih memastikan.
Lucas pun terdiam sejenak, dalam hati ia sebenarnya cukup berat untuk mengatakan tidak, namun entah kenapa ia sangat tak enak hati pada Bayu, yang ia tau begitu mengagumi Mitha sejak lama.
Lucas pun mulai menelan ludahnya sendiri, lalu akhirnya menggelengkan pelan kepalanya.
"Enggak?? Serius??" Tanya Bayu lagi.
"Enggak!" Ucap Lucas pelan.
"Ah ok, itu berarti posisiku masih aman dong ya hahaha." Bayu pun akhirnya kembali terkekeh senang.
Tapi tidak dengan Lucas yang hanya terdiam menatap sahabatnya itu.
"Kenapa gitu?" Tanyanya kemudian.
"Karena kalau kamu juga ternyata suka sama Mitha, udah pastilah aku yang harus siap-siap patah hati, karena aku sadar aku udah kalah telak dari kamu bahkan sebelum kita bersaing hahaha." Ungkap Bayu jujur namun tetap terlihat tertawa santai saat itu.
Sangat berbeda dengan Lucas, yang mendadak jadi terdiam saat mendengar Bayu mengatakan hal itu. Dalam hatinya, ia tidak bisa memungkiri jika Mitha mulai mengganggu pikirannya, bahkan rasanya semakin hari terasa semakin nyata. Itu jugala salah satu alasan ia menerima saat ingin dipertemukan dengan perempuan pilihan mamanya, demi mengalihkan pikirannya dari Mitha, tapi siapa sangka Lucas justru dibuat kesal dengan kesan pertama perjodohan itu.
"Hmm sudah lah! Kenapa jadi bahas dia sih disini!! Kayak gak ada pembahasan lain aja!!" Ketus Lucas akhirnya, demi menutupi perasaannya yang nampak sedikit tidak nyaman ketika harus terus berkata bohong pada Bayu tentang perasaannya terhadap Mitha.
"Hmm iya deh iya, sensi banget sih kalau ngebahas cewek, keliatan banget jomblo hahaha." Timpa Aryo yang kemudian ikut tertawa.
Lucas kembali diam, lalu mulai meraih minuman dan meminumannya hingga kandas.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, Mitha yang kala itu tengah asik membaca sebuah buku di kamarnya, harus menghentikan sejenak aktivitas itu saat seorang lelaki masuk ke kamarnya.
"Duddy?? Ngapain kesini? Tumben banget?" Tanya Mitha yang sontak langsung menutup buku yang tengah ia baca.
Ya, lelaki yang masuk ke kamarnya saat itu adalah Duddy, adik semata wayangnya.
"Kak, please help me!" Ucap Duddy yang langsung menarik tangan Mitha, membuat Mitha yang awalnya tengah berbaring santai di atas ranjang, sontak langsung berdiri berhadapan dengan adiknya.
__ADS_1
"Ada apa ha?" Tanya Mitha yang nampak cemas.
"Please ikut aku kak!"
"Kemana?" Tanya Mitha dengan dahi yang nampak semakin berkerut.
"Temenin aku ke cafe The milenials"
"Hah?! Ngapain? Gak ah, kakak males nongkrong! Mending kamu ajak temen-temen kamu aja sana gih!" Tolak Mitha yang kemudian langsung ingin kembali ke atas tempat tidur.
Namun Duddy kembali menarik tangannya.
"Bukan nongkrong kakkk!!!"
"Terus, ngapain kesana kalau bukan mau nongkrong?"
"Barusan pacarku bilang kalau dia mau tidur cepat malam ini, tapi ternyata ada salah satu temenku yang liat dia di cafe itu. Jadi tolong temeni aku kesana, bakalan canggung kalau kesana sendirian!!"
Mitha pun terdiam sejenak dan mulai memandangi raut wajah Duddy yang nampak begitu memelas serta terlihat sedih meskipun ia berusaha untuk tidak terlalu menampakkannya,
Berhubung Duddy adalah adik semata wayang, juga kesayangan baginya, ia juga agak sedikit geram saat mengetahui ada wanita yang tega membohongi adiknya itu.
"Kakak ganti baju dulu, ok!"
"Ok kak, aku tunggu di bawah ya."
Mitha pun mengangguk cepat. Duddy bergegas keluar dari kamar Mitha, sedangkan Mitha langsung bergegas menuju lemarinya untuk mulai meraih pakaian yang menurutnya cocok.
"Memangnya Duddy kurang apalagi sih, ganteng iya, baik iya, uang?? Walaupun dia belum bekerja karena masih kuliah, tapi kedua orang tuaku selalu mencukupinya dalam hal materi bahkan selalu melebihi. Tapi kenapa sih masih ada aja perempuan yang tega bohongin dia, kesel banget deh dengernya!!" Gerutu Mitha seorang diri sembari terus sibuk mengganti bajunya.
Hanya membutuhkan waktu lima menit, Mitha akhirnya selesai, dia bahkan hanya memoles wajah cantiknya dengan bedak sekedarnya juga hanya menggunakan lipgloss.
Mitha pun turun dengan tergesa-gesa menuju lantai satu rumahnya, Duddy pun sudah terlihat menunggunya di ruang tengah.
"Bunda sama ayah belum pulang juga?" Tanya Mitha begitu menghampiri Duddy,
"Belum kak!" Jawab Duddy menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Hmm, kalau gitu kita pergi aja langsung."
"Ya udah, yuk kak!"
Mereka melangkah keluar rumah, menuju mobil Duddy. Sepanjang jalan Mitha terus mengintrogasi sang adik seputar wanita yang ingin mereka temui di cafe itu.
"Lagian kamu kenapa juga sih, cari pacar yang begitu!" Ucap Mitha kesal.
"Ya mana aku tau kak! Selama ini aku taunya dia baik-baik aja!"
"Hmm," Mitha pun hanya menghela nafas berat.
Sesampainya di cafe itu, Mitha perlahan mulai turun dari mobil dengan sedikit canggung. Mitha bukanlah wanita kuper, ia cukup up to date dalam hal apapun terutama fashion, tapi dia memanglah orang yang tidak suka nongkrong, dia lebih suka dirumah, terutama melakukan banyak hal di kamarnya.
"Duhh mana rame banget lagi." Keluh Mitha pelan.
Duddy tanpa ragu, langsung saja menarik tangan sang kakak untuk masuk ke dalam cafe itu, membuat sang kakak jadi tercengang dan mau tak mau jadi terus mengikuti langkahnya.
Duddy terus melangkah menyusuri cafe yang begitu padat itu, bahkan tangannya saat itu terlihat begitu erat memegangi tangan Mitha layaknya seorang kekasih yang takut kehilangan pacarnya. Mitha pun memandangi tangannya yang tengah disandera oleh sang adik, lalu mulai berpikir jika Duddy pasti merasa sangat tegang karena sebentar lagi ia akan memergoki pacarnya yang ketahuan berbohong.
"Kasihan banget kamu Duddy, kakak ngerti gimana rasanya." Gumam Mitha lirih dalam hati.
"Apa kita akan naik ke atas??" Tanya Mitha saat menyadari jika Duddy akan membawanya menuju tangga.
"Ya, temanku bilang dia berada di lantai dua." Jawab Duddy.
"Hmm, ok!" Mitha pun lagi-lagi hanya mengangguk dan kembali mengikuti langkah Duddy.
Suasana di dalam benar-benar sangat ramai, bahkan dalam situasi seperti itu, cafe itu sudah hampir mirip seperti club malam, yang begitu padat dan berisik. Hal itu membuat Mitha semakin merasa gugup dan tidak nyaman berada disana, karenanya ia jadi kebelet buang air kecil.
"Duhh, tapi kakak jadi pengen pipis ni." Keluh Mitha.
"Di lantai dua, ada toilet kok kak, nanti aku temeni kakak ke toilet dulu, ok!"
"Ok!"
...Bersambung......
__ADS_1