Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Belanja


__ADS_3

Saat itu Mitha sedikit dibuat terheran-heran pada pilihan Lucas dalam memilih restaurant, karena bayangannya, Lucas akan mengajaknya makan makanan eropa atau setidaknya makanan jepang.


"Kenapa? Kamu gak suka dengan resto pilihanku?" Tanya Lucas yang menyadari gelagat aneh Mitha.


"Oh enggak, cuma sedikit heran aja." Jawab Mitha yang langsung duduk di kursi.


"Heran?? Heran kenapa?" Tanya Lucas santai yang akhirnya ikut duduk di hadapan Mitha.


"Heran karena awalnya saya berpikir kalau bapak bakalan ngajak saya makan di restoran jepang atau eropa."


"Ohh, kamu gak suka makanan Nusantara? Hmm kalau gitu kita bisa pindah sekarang juga, mumpung belum pesan." Lucas pun sontak kembali berdiri.


"Ouwh enggak! Gak perlu, saya suka kok, suka banget malah."


"Are you sure?" Tanya Lucas memastikan.


Mitha pun mengangguk.


"Hmm ok," Lucas akhirnya tersenyum singkat dan kembali duduk.


"Tumben banget nih cowok, kenapa tiba-tiba jadi berlagak baik? Dia bahkan rela pindah Resto loh pas ngira aku bakal gak suka makan disini." Gumam Mitha dalam hati.


Tak tunggu lama, mereka langsung memesan makanan sesuai selera masing-masing. Makan siang kali ini terasa sedikit berbeda, karena sikap Lucas tidak terlalu menyebalkan seperti biasanya bagi Mitha.


"Cuma segitu aja?" Tanya Lucas saat memandangi makanan yang dipesan oleh Mitha.


Mitha pun mengangguk.


"Ayo pesen aja lagi,"


"Gak usah pak, ini udah cukup."


"Haaiss, kalau cuma makan segitu, mana bisa kenyang. Udahlah, pesen aja lagi, mumpung saya lagi berbaik hati sekarang."


"Memangnya kenapa sih pak? Kok kayaknya maksa banget?!"


"Hmm enggak, saya cuma mau kamu makan yang banyak, supaya energimu terkumpul lagi, karena abis ini, kamu masih bakal banyak kerjaan." Jawab Lucas yang kembali menampilkan senyumannya,


"Hih, karena itu rupanya!" Celetuk Mitha pelan yang kembali merasa kesal pada bosnya itu.


Makan siang pun selesai, Lucas memanggil pelayan untuk meminta bill.


"Saya permisi ke toilet sebentar." Mitha pun bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Dari resto ini, kalau mau ke toilet agak jauh, apa mau saya temani?"


"Gak usah! Saya bisa sendiri!" Ketus Mitha yang terlihat tak senang.


"Dasar mesum!!" Gerutunya pelan sembari berlalu pergi begitu saja.


Lucas yang mendengar hal itu pun sontak dibuat mendengus pelan,


"Dihh, berani banget ngatain aku mesum." Gerutu Lucas saat memandangi kepergian Mitha.


"Perempuan yang satu ini bener-bener unik, beberapa perempuan sebelumnya bahkan dengan gak tau malunya malah nyamperin aku ke toilet, tapi dia malah nolak untuk kutemani." Gumam Lucas lagi yang akhirnya kembali tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


15 menit berlalu, Lucas yang merasa tidak sabar akhirnya menyusul Mitha ke toilet. Tapi tentu saja ia tidak menyusulnya masuk ke dalam, melainkan memilih untuk menunggu di lorong yang menuju ke toilet. Lucas pun berdiri tersandar di tembok, dan tak lama Mitha pun akhirnya keluar dan sedikit terkejut saat mendapati Lucas yang sudah menunggunya di lorong.


"Bapak ngapain disini?"


"Hah?! Masih nanya saya ngapain?! Ya jelas nunggu kamu lah! Ngapain aja sih di toilet, lama banget!!"


"Tadi toiletnya penuh, jadi harus antri dulu. Tambah lagi kan dari resto kesini cukup jauh." Jelas Mitha singkat.


"Hmm, ya udah, yuk!" Tak ingin terus berdebat, Lucas pun akhirnya melanjutkan langkahnya.


Lucas terus melangkah menyusuri mall yang begitu besar untuk menuju toko furniture terbesar dan terlengkap di mall itu. Sementara Mitha, ia memilih untuk berjalan dengan tenang di belakang Lucas. Lucas yang merasa tak sabar, seketika menoleh ke belakangnya dengan tatapan sedikit tajam.


Lalu tanpa permisi, ia pun langsung menarik tangan Mitha begitu saja, dan melanjutkan langkahnya. Mitha pun kembali terkejut, kedua matanya begitu membulat saat memandangi tangannya yang saat itu tengah digandeng oleh Lucas.


"Pak, saya bisa jalan sendiri!" Ucap Mitha kemudian yang mencoba untuk melepaskan tangannya.


Namun Lucas justru semakin mengeratkan pegangannya.


"Ya, kamu emang bisa jalan sendiri, tapi kamu tu lelet, bisa-bisa besok baru sampe!" Jawab Lucas yang terus saja melangkah tanpa berniat untuk melepaskan tangan Mitha.


Mitha akhirnya pasrah, membiarkan tangannya dikuasai oleh lelaki yang teramat ia benci. Selang beberapa menit, mereka pun tiba dan langsung memasuki toko.


"Tolong pilihkan barang-barang yang sekiranya bagus untuk menghiasi ruang kerjaku." Pinta Lucas pada Mitha.


"Ta,, tapi kenapa enggak bapak sendiri aja yang pilih, toh bapak juga udah disini."


"Haaiss, bisa enggak sih kalau disuruh itu langsung nurut aja?? Kenapa selalu aja ngebantah?!" Lagi-lagi Lucas pun mengeluh.


Sementara Mitha, akhirnya ia kembali terdiam sembari menghela nafas panjang.


"Hmm ya udah, ok!" Jawab Mitha dengan sedikit lesu.

__ADS_1


"Ya udah, tunggu apa lagi?" Tanya Lucas sembari menaikkan kedua alisnya.


"Gimana saya mau keliling cari barang kalau bapak masih menyandera tangan saya kegini?!" Ketus Mitha sembari menunjuk ke arah tangannya yang saat itu masih di pegang oleh Lucas.


Lucas pun cukup terkejut saat menyadari hal itu, tanpa pikir panjang, ia sontak melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Mitha.


"So,, sorry!" Ucapnya pelan yang saat itu juga terlihat kikuk.


"Hmm." Saat itu Mitha hanya memutarkan kedua bola matanya, sembari berlalu pergi.


Mitha mulai berkeliling, mencari barang-barang yang menurutnya unik dan menarik, sementara Lucas, ia juga tentu ikut melihat-lihat, namun sambil terus mengikuti langkah Mitha.


"Pak, gimana dengan ini?" Tanya Mitha sembari meraih sebuah lukisan jam pasir yang bisa bergerak dan menunjukkannya pada Lucas.



Lucas pun meraihnya dan tersenyum tipis.


"Bakal keliatan bagus kalau di letakkan di atas bufet yang ada di sisi kiri jendela." Tambah Mitha lagi.


"Ok, aku mau yang ini."


"Ok." Mitha pun tersenyum singkat dan langsung memasukkannya ke dalam troly yang ia bawa.


Mitha kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari barang lainnya. Mulai dari pengharum ruangan uap, lukisan dinding, serta aneka hiasan dinding lainnya juga tak luput ia masukkan ke dalam troly.


Hingga tak terasa jam kini sudah menunjukkan pukul 15.20 petang, troly belanjaan mereka nampaknya sudah sangat penuh saat mereka membawanya ke kasir untuk membayar segala barang yang mereka beli. Dari sekian banyaknya barang yang menjadi pilihan Mitha, tidak ada satu barang pun yang tidak sesuai dengan selera Lucas. Hal itu pun menjadi nilai plus tersendiri bagi Lucas terhadap Mitha, pilihannya benar-benar sangat cocok dengan selera Lucas.


"Kamu yakin gak mau beli beberapa barang untukmu?" Tanya Lucas.


"Yakin pak."


"Setidaknya beli lah beberapa!"


"Gak usah pak."


"Hmm." Lucas pun hanya bisa menghela nafas.


Setelah membayar dengan biaya yang cukup fantastis, akhirnya barang-barang yang tadi dibeli pun mulai di angkut oleh pegawai toko menuju mobilnya.


"Ok, kita balik ke kantor sekarang."


Mitha pun mengangguk dan langsung masuk ke mobil.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2