Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Merencanakan perjodohan


__ADS_3

Sekitar lima menit sebelum tiba di kantor, Mitha sudah menelpon salah satu Office boy dan memintanya untuk menunggu di lobby utama, tak lupa pula Mitha juga memerintahkan agar sang office boy turut membawa beberapa orang rekannya mengingat barang yang akan di bawa cukup banyak.


Begitu tiba di Loby, Mitha pun bergegas keluar dan menyapa para OB yang sudah nampak berdiri menunggu kedatangannya.


"Siang, kalian udah makan?" Tanya Mitha ramah sembari tersenyum.


"Sudah kok mbak." Jawab beberapa OB.


"Hmm ya udah, barang-barangnya ada di mobil, tolong dibawa naik ke ruangan pak Lucas ya."


"Ok mbak Mitha." Para OB itu pun bergegas menuju mobil Lucas yang memang sudah terhenti tepat di depan teras lobby.


"Ok, thank you." Mitha lagi-lagi memancarkan senyumannya.


Beberapa barang pun mulai di angkut menuju lantai 30, tak berapa lama Lucas pun keluar dari mobil sembari menyerahkan kunci mobilnya pada Security.


"Pak, tolong parkirin mobil saya kalau mereka udah selesai!"


"Siap laksanakan pak Lucas." Jawab Security dengan lantang.


"Thanks." Lucas pun tersenyum singkat dan langsung melangkah memasuki lobby utama.


Menyadari Mitha yang saat itu masih berdiri di depan lobby, membuat Lucas kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.


"Heh you!!" Panggil Lucas dengan raut wajah datar.


Mitha pun menoleh ke arahnya.


"Tunggu apalagi? Kenapa berdiri terus disitu? Ayo!!" Ketus Lucas dengan dahinya yang sedikit berkerut.


"Tapi pak, saya cuma mau mastiin kalau gak bakal ada barang-barang yang ketinggalan di dalam mobil pak."


"Haaiiss!! Itu biar jadi urusan mereka! Urusanmu cuma satu, nurut sama perintah bos!!" Tegas Lucas lagi.


Hal itu pun lagi dan lagi membuat Mitha kembali menggeram dalam hati, namun kekesalannya saat itu tidak mungkin ia tunjukan mengingat ada banyaknya pegawai di loby.


Mitha akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang, lalu kemudian mulai melangkah lesu mengikuti Lucas.


Selang beberapa puluh menit kemudian, kini seluruh barang yang mereka beli sudah nampak berjejer memenuhi ruangan Lucas.


"Hmm sekarang waktunya kembali kerja rodi." Celetuk Lucas pada Mitha sembari menduduki dengan tenang kursi kerjanya.


Saat itu Mitha tidak merasa terlalu keberatan dengan tugasnya kali ini. Nalurinya sebagai perempuan, membuatnya begitu senang saat harus menata serta mendekorasi ruangan dengan segala pernak-pernik yang telah mereka beli.


Sesekali Mitha nampak tersenyum puas memandangi hasil karyanya pada setiap sudut ruangan Lucas yang semakin nampak menawan dari sebelumnya.


"Nah, gini kan bagus." Celetuk Mitha pelan sesaat setelah menatap vas bunga di atas sebuah nakas yang berada tepat di sudut ruangan.


Mitha lagi-lagi terus memancarkan senyumannya, tanpa ia sadari, sejak tadi ada Lucas yang terus saja memandanginya dengan tatapan kagum. Meski sikap Lucas masih saja terkesan ketus padanya, namun tidak bisa di pungkiri jika saat itu Lucas semakin hari semakin tertarik pada Mitha.


Satu setengah jam berlalu, ruangan Lucas telah tersetting sangat sesuai dengan apa yang ia harapkan. Selera Mitha, benar-benar sangat cocok dengannya, membuatnya lagi-lagi semakin merasa adanya perasaan yang aneh dalam hatinya.


"Gimana pak? Apa masih ada lagi yang kurang?" Tanya Mitha sembari mulai memandangi setiap sudut seisi ruangan Lucas saat itu.

__ADS_1


Lucas pun mulai bangkit dari duduknya, lalu memilih berdiri di samping Mitha sembari ikut serta memandangi ruangannya yang nampak sudah sangat apik.


"Perfect!" Ucapnya sembari mulai tersenyum tipis.


Mitha pun akhirnya bisa bernafas lega dan akhirnya ikut tersenyum.


"Ok, kalau gitu saya mau balik ke ruangan saya dulu pak." Mitha pun mulai beranjak pergi melewati Lucas begitu saja.


"Eh wait!"


Langkah Mitha sontak terhenti dan kembali menoleh ke arah Lucas.


"Thank you, seleramu bagus, aku suka!" Ucap Lucas dengan nada sedikit terdengar lembut, bahkan saat itu ia menatap Mitha dengan cukup pekat.


Mendengar hal itu, Mitha pun akhirnya hanya mendengus pelan dan mau tak mau kembali tersenyum singkat.


"Ya, you're welcome pak." Jawab Mitha pelan dan kemudian langsung beranjak pergi.


Lucas pun terdiam memandangi kepergian Mitha, lalu perlahan sebuah senyuman dengan malu-malu mulai muncul di bibirnya.


"Astaga!! Kenapa aku ini?" Celetuk Lucas yang seolah merasa malu pada dirinya sendiri.


Malam hari di kediaman keluarga Lucas...


Saat itu Lucas tengah duduk bersantai di sofa kamarnya, dengan sebuah laptop yang berada di pangkuannya.


*Tok,,tok,,tok*


"Lucas, can I come in?" Tanya seorang yang suaranya begitu familiar, yang tak lain ialah Nonna.


*Ceklek*


Nonna pun mulai melangkah masuk ke kamar anak sulungnya itu dengan sebuah senyuman yang begitu merekah. Lucas yang menoleh singkat ke arahnya sontak dibuat mendengus pelan.


"Hmm begitu masuk udah langsung senyum-senyum kegitu, ada apa ma? Kenapa feelingku mendadak jadi gak enak gini ya?" Celetuk Lucas yang mulai tersenyum tipis, namun terlihat masih fokus menatap laptopnya.


Nonna pun langsung duduk di hadapan Lucas, wajahnya nampak semakin berbinar penuh makna.


"Kenapa ma?"


"Gimana hari pertama kerja sebagai CEO?"


"Hmm not bad." Jawab Lucas santai.


"Kamu menikmati posisi barumu, nak?"


"Lumayan."


"Haiss!! Mama nanya serius loh ini."


"Hahaha apa sih ma? Aku juga jawabnya serius!" Jawab Lucas namun masih saja tetap fokus pada laptopnya.


Hal itu pun membuat Nonna mulai mendengus dan terus memandanginya. Menyadari hal itu, membuat Lucas akhirnya lagi-lagi tersenyum.

__ADS_1


"What??" Tanyanya sembari menaikkan singkat kedua pundaknya.


Namun Nonna saat itu masih diam dan terus memandanginya, Lucas pun mengerti dengan ekspresi itu hingga akhirnya ia langsung menutup laptopnya.


"Hmm ok, ok! Ya udah to the point aja, mama sengaja malam-malam kesini, mau ngomong apa?" Tanya Lucas dengan nada lembut sembari menatap lekat ke arah Nonna.


Nonna pun akhirnya bisa kembali menampilkan senyuman kepuasan dan mulai memegang lengan anaknya.


"Mama mau bahas masalah yang kemarin."


"Masalah kemarin?? Masalah yang mana?" Tanya Lucas yang nampak bingung dengan dahinya yang mulai mengkerut.


"Masalah pernikahan." Jawab Nonna yang nampak semangat.


"Pernikahan siapa?" Dahi Lucas nampak semakin mengkerut.


"Ya pernikahanmu lah, siapa lagi??!"


"What??! Hahaha maa, please jangan mulai!!" Lucas pun terkekeh geli.


"Hei, hei!! Kamu udah janji loh ya!! Kamu janji bakal mau bahas masalah ini lagi, kamu sendiri yang janji."


"Iy,, iyaa I know ma, but..."


"Hoo, jadi anak mama ini udah mulai gak bisa di pegang lagi ya kata-katanya sebagai laki-laki sejati? Iya??"


"Bukan gitu maa, tapi...."


"Mama gak mau tau, pokoknya malam ini mama mau bahas masalah itu!"


Hal itu pun membuat Lucas seketika menghela nafas berat sembari menampilkan wajahnya yang kecut.


"Hmm ok, fine." Ucapnya yang akhirnya nampak pasrah.


"Lalu kapan?"


"Apanya yang kapan? Nikahnya?"


"Iya dong!"


"Hahaha astaga maa, calonnya aja belum ada, gimana mau nikah?" Lucas pun terkekeh lirih.


"Belum ada??"


"Hmm." Angguk Lucas tak bersemangat.


"Gimana kalau mama carikan jodoh untuk kamu??"


"What?? Oh no ma, big no!! Ini bukan jaman kuno lagi ma!"


"Haaiss, please Lucas, sekali ini aja!"


"No!!"

__ADS_1


"Sekali ini aja, mama udah ada calon yang cocok untuk kamu. Kalian bisa kenalan dulu dan PDKT." Ungkap Nonna yang semakin terlihat semangat.


...Bersambung......


__ADS_2