
-Pagi hari yang cerah-
Jam weker terus berbunyi, terdengar begitu melengking seakan memecah keheningan di dalam kamar Mitha yang pagi itu terasa begitu sejuk. Dahi Mitha perlahan mulai mengkerut, terlihat dengan jelas jika saat itu ia merasa sangat terganggu dengan bunyi-bunyian itu. Tanpa membuka mata, Mitha mulai meraba-raba ke arah atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya untuk meraih jam weker itu.
Tanpa ragu, ia pun langsung mematikan bunyi melengking yang sejak tadi terasa memekakkan telinganya, meletakkannya kembali ke atas nakas dan menarik kembali selimutnya untuk melanjutkan tidurnya yang nyaman.
Beberapa saat pun berlalu, kali ini bukan suara jam weker yang mengganggu tidurnya yang nyenyak, melainkan suara ketukan pintu kamarnya serta disusul pula dengan suara Mely yang terus memanggil-manggil namanya.
*Tok,,tok,,tok*
“Thaa,,, Mithaa!!” Panggil Mely sembari terus mengetuk pintu.
“Mithaa, kamu belum bangun juga udah jam segini???” Teriak Mely dari luar.
Mitha yang merasa tidurnya kembali terganggu pun mulai berdecak kesal,
“Kenapa sih bundaa?? Mitha masih ngantuk!” Rengeknya tanpa membuka sedikit pun matanya.
Mely yang mendengar hal itu pun cukup di buat terkejut. Bagaimana tidak, selama ini Mitha selalu saja sudah bangun bahkan sudah bersiap-siap setiap kali ia mengetuk pintu, namun berbeda halnya dengan hari ini, Mitha terdengar bermalas-malasan, tidak seperti biasanya.
“Astaga Mitha!! ini udah jam 7 Loh, kok tumben kamu belum bangun juga? Apa hari ini kamu gak kerja??” Tanya Mely heran.
Mendengar teriakan ibunya dari luar, sontak membuat kedua mata Mitha seketika mendelik.
“Apa?!! Jam tujuh??” Gumamnya yang begitu terkejut.
"Atau kamu lagi gak enak badan?” Teriak Mely lagi yang mulai merasa sedikit cemas.
Mitha pun sontak melirik ke arah jam wekernya, lalu langsung terperanjat dari tidurnya saat melihat jarum jam telah menunjukkan pukul 06:50 pagi.
“Aaah mati aku, aku kesiangan!!” Mitha yang panik sontak langsung bergegas turun dari tempat tidur meski dalam keadaan masih setengah sadar.
“Mithaa.” Panggil Mely lagi.
“Iya bunda, Mitha bakal turun sebentar lagi, tunggu aja di meja makan.” Jawabnya sembari langsung berlari menuju kamar mandinya.
__ADS_1
“Oh, ok. Bunda tunggu di bawah.”
“Iyaaa.”
“Aduhh sial, sial, sial!!! Kenapa bisa kesiangan gini sih ahh???” Keluhnya seorang diri sembari mulai melucuti dengan cepat pakaiannya.
Tidak tunggu lama, serta tidak pakai acara melamun terlebih dulu untuk menunggu nyawanya kembali full seperti biasanya, Mitha pun langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin, meski membuatnya jadi sangat menggigil, tapi hal itu memang sengaja ia lakukan agar ia cepat sadar dan tidak merasa ngantuk lagi.
“Aaagghh dingin banget astagaaa!!” Ringisnya yang terus menggigil.
Tidak seperti biasanya yang selalu memerlukan waktu setidaknya 25 menit paling cepat untuk aktivitasnya di kamar mandi, namun kali ini Mitha akhirnya bisa mencetak rekor terbarunya, yaitu menghabiskan waktu tercepatnya di kamar mandi yaitu hanya 10 menit di sepanjang sejarah ia bekerja di perusahaan Venus Corporation yang tak lain ialah perusahaan milik keluarga Lucas.
Mitha terlihat sangat kelabakan dan panik, dengan cepat ia memakai pakaiannya, tidak sempat berdandan, bahkan tidak sempat menyisir rambutnya.
“Oh my god, aku gak boleh telat, karena hari ini pak Ronald udah masuk kantor,” Gumamnya seorang diri sembari memasukkan bedak dan lipstiknya ke dalam tas sandang miliknya.
Mitha bergegas keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dengan langkah yang terburu-buru dan langsung menghampiri ibunya.
“Good morning bund.” Sapanya sembari mencium pipi Mely.
“Maaf bunda, aku kesiangan!” Jawabnya singkat sembari langsung meneguk dengan cepat segelas susu yang memang sudah disediakan untuknya.
“Kesiangan?? Tumben banget kamu kesiangan, memangnya semalam tidur jam berapa?”
“Aduh bundaaa, nanti aja ya tanya-tanyanya, Mitha lagi buru-buru ni, harus berangkat sekarang.” Mitha pun langsung mencium kembali pipi Mely dan bersiap untuk pergi.
“Eh, eh, eh!” Namun Mely menghentikannya.
“Kenapa lagi bunda?”
“Kamu gak sarapan?”
“Udah gak ada waktu lagi bunda, Mitha harus pergi sekarang.”
“Astagaaa, ya udah seenggaknya biarin bunda nyiapin bekal untuk kamu, ya?”
__ADS_1
“Gak usah bunda, masalah sarapan, gampang lah, Mitha bisa beli nanti di kantin kantor, Ok???” Mitha pun tersenyum singkat dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Hmm, ya udah kalau gitu." Mely pun hanya bisa menghela nafas.
“Yaudah Mitha pergi ya, Bye bundaa.” Ucapnya yang akhirnya langsung keluar dari rumah.
“Byee, hati-hati.” Teriak Mely.”
Sebelumnya, Mitha ternyata sudah memesan taksi online saat masih berada di kamarnya, hal itu bertujuan demi mempersingkat waktu. Dan tepat sekali, taksi online tak lama berhenti tepat di depan pagar rumahnya saat ia baru saja keluar dari rumah.
“Jalan pak.” Ucapnya saat memasuki mobil.
Mitha duduk dengan penuh rasa kegelisahan yang menyelimuti pikirannya, berkali-kali ia melirik ke arah jam tangannya dan hal itu justru semakin membuatnya semakin panik saat melihat jarum jam yang seolah berputar dengan sangat cepat.
“Maaf pak, bisa agak cepetan dikit gak pak? Soalnya saya buru-buru.” Mintanya dengan nada yang lembut.
“Ok, mba.” Sang supir pun mengangguk singkat dan mulai menambah kecepatan mobilnya.
Mitha mengurungkan niatnya untuk berdandan di mobil, karena ia berpikir jika hasilnya nanti tidak akan maksimal apalagi ada beberapa jalanan yang tidak rata bahkan ada banyak polisi tidur.
Waktu terus berjalan, satu jam pun berlalu, setelah harus melalui jalanan yang padat dan macet, akhirnya Mitha pun tiba di depan lobby utama kantor. Melihat keberadaan mobil Ronald yang sudah terparkir di tempat biasa, membuat jantung Mitha kembali terpacu hebat dan kembali merasa panik.
“Haaaiiss kannnn,, pak Ronald udah sampai kantor duluan dari pada aku.” Keluhnya.
Dengan menyingkirkan perasaan malunya untuk sejenak, akhirnya Mitha pun turun dari mobil dengan membawa wajahnya yang saat itu benar-benar polos tanpa polesan make up sedikitpun. Sebenarnya, ada atau tidaknya make up di wajahnya itu akan sama saja, Mitha yang polos tak bermake up tetap saja terlihat menawan, hanya saja ia jadi terlihat lebih pucat karena tidak mewarnai bibirnya dengan lipstik serta kantung matanya yang sedikit lebih jelas terlihat akibat tidur larut semalam.
Mitha pun terus berlari untuk mengejar lift yang nyaris tertutup rapat, namun sayang usahanya kali ini nampaknya tak berhasil hingga membuatnya harus menunggu lift yang satunya lagi.
“Haiss, kenapa sih setiap situasi lagi kegini selalu ada aja hal yang bikin aku jadi makin banyak buang waktu!!” Gerutu Mitha tak senang.
Jam sudah menunjukkan pukul 08:55 pagi, Mitha akhirnya tiba di lantai 30, ia terus melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruangannya. Namun anehnya, hampir seluruh ruangan yang ia lewati saat menuju ke ruangannya, rata-rata kosong seolah tak berpenghuni. Bahkan di beberapa bagian yang biasanya suasana terlihat ramai dan cenderung berisik, kini senyap dan begitu lengang.
“Kemana semua orang yang ada disini?” Tanya Mitha yang nampak bingung serta heran.
“Vina juga gak ada di ruangannya, kemana mereka semua?” Tanyanya lagi saat melintasi ruangan Vina yang saat itu kebetulan pintunya sedang terpangah hingga ruangan itu juga keliatan jelas jika sedang kosong,
__ADS_1
...Bersambung…...