Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Lembur


__ADS_3

Lucas keluar lift lebih dulu, karena ruangannya berada di lantai 29.


"Aku duluan, pa." Ucapnya sembari langsung melangkah keluar dari lift itu.


"Ok."


Ronald pun kembali tersenyum puas saat ia semakin meyakini jika Lucas benar-benar mulai tertarik pada Mitha yang sejak awal memang sudah berencana ingin ia jodohkan pada anaknya.


Ronald pun tiba di depan ruangan Mitha, lalu langsung mengetuk singkat pintu itu.


"Masuk!" Jawab Mitha dari dalam.


Ronald pun membuka pintu itu dan berdiri di depannya.


"Mitha."


Mitha pun melirik ke arah sumber suara, lalu seketika langsung terkejut dan bangkit dari duduknya.


"Eh iya pak, ada apa?" Tanya Mitha sedikit segan.


"Kamu ngapain? Apa kamu sedang sibuk?"


"Oh ini pak, cuma lagi atur jadwal meeting untuk Minggu depan. Gak terlalu sibuk kok pak, ada apa pak? Ada yang bisa saya bantu?"


"Oh, bukan tugas yang urgent berarti."


"Bukan kok pak."


"Kalau begitu, apa boleh saya minta tolong?"


"Tentu boleh pak, apa yang bisa saya bantu?" Tanya Mitha sembari tersenyum tenang.


"Sebenarnya bukan saya, tapi Lucas."


Mendengar nama Lucas, mendadak membuat raut wajah Mitha langsung berubah drastis. Dari yang awalnya begitu semangat dan terlihat sebuah senyuman yang begitu mengembang, kini senyuman itu sontak lenyap dari bibir mungil gadis itu,


"Ada banyak berkas yang perlu di arsipkan, dan Lucas belum terlalu mengerti tentang itu, kamu bisa bantu dia kan?"


Mitha terdiam, namun dalam hati terus bergerutu.


"Laki-laki itu!!! Kupikir dengan hari ini sudah menginterview banyak perempuan cantik, dia gak bakal ganggu ketenanganku lagi, tapi kenapa masih aja???!!"


"Mithaa?? Kenapa diam saja? Apa kamu keberatan?"


Mitha pun tersentak.


"Oh ti,, tidak pak!" Jawabnya akhirnya meski itu dengan berat hati.


"Ah syukur lah, kalau gitu, kamu bisa langsung ke ruangannya sekarang ya! Mungkin dia udah nungguin."


"Iy,, iya pak." Mitha pun mengangguk lesu.


"Kalau gitu saya kembali ke ruangan ya."


"Iya pak."


Ronald pun pergi, meninggalkan Mitha yang kembali menggeram di dalam ruangannya.


"Ihhhhh, bener-bener ganggu banget tuh orang!!! Astaga, belum pernah rasanya aku sebenci ini sama orang!!! Kenapa harus ada orang kayak dia sih aaaghhh!!"


Di sisi lain ruangan Lucas...


Lucas terduduk di kursinya sembari memandangi tumpukan berkas yang ada di mejanya.


"Kalau cuma segini, pasti perempuan itu bakal cepet banget selesainnya." Gumam Lucas dalam hati.


Lucas pun mulai memikirkan cara, bagaimana agar bisa mengulur waktu Mitha agar bisa kberada lebih lama di dalam ruangannya.

__ADS_1


Tak lama Lucas pun bergegas bangkit dari ruangannya, lalu melangkah cepat menuju ruang arsip yang juga masih berada di dalam ruangannya yang cukup besar itu.


Tanpa pikir panjang, ia langsung kembali mengeluarkan beberapa berkas yang sebenarnya sudah di arsipkan oleh asisten direktur keungan yang lama. Tapi Lucas tetap lah akan menjadi Lucas, yang memiliki seribu macam cara demi bisa mewujudkan apapun yang ia inginkan.


Dengan senyuman manis, ia pun membawa kembali tumpukan berkas itu ke atas mejanya, hingga membuat tumpukan yang awalnya hanya ada dua tumpukan berkas, kini berubah menjadi tiga tumpukan.


"Nah, kalau gini dia bakal perlu waktu lebih lama kan?" Celetuk Lucas sembari tersenyum puas memandangi tumpukan berkas itu.


Namun tiba-tiba, senyuman itu hilang saat ia melirik ke arah pintu ruangannya yang tertutup rapat.


"Tapi mana perempuan itu?? Kenapa belum muncul juga?!!" Gerutunya sembari melirik ke arah jam tangan mewahnya,


Tapi, pucuk di cinta ulam pun tiba, baru beberapa detik yang lalu dia menggerutu, tiba-tiba saja suara ketukan pintu pun terdengar.


Mendengar hal itu, Lucas yang awalnya berdiri tak tenang di ruangannya, sontak langsung berlari menuju kursinya. Ia pun bergegas duduk, menatap sikapnya untuk kembali tenang seolah tidak terjadi apapun.


"Masuk!" Ucapnya datar.


Tak lama, gadis yang sejak tadi telah ditunggu-tunggu pun muncul dari balik pintu.


"Permisi pak." Ucapnya dengan memasang wajah yang juga tak kalah datar.


Lucas yang awalnya berpura-pura memegang sebuah map, mulai menghempaskan pelan map itu ke meja, lalu mulai menatap Mitha.


"Oh, jadi kamu orang yang di utus papa untuk bantu arsipin semua ini?" Tanya Lucas yang berpura-pura tidak tau menau.


Padahal dialah otak di balik datangnya Mitha ke ruangan itu.


Saat itu Mitha memilih untuk tidak menjawab, saking malasnya dia dengan lelaki itu, ia pun memilih untuk langsung melangkah untuk menuju ke tumpukan berkas itu.


Namun lagi-lagi Mitha dibuat terperangah saat mendapati tiga tumpukan berkas yang sudah menjulang tinggi di atas meja kerja Lucas.


"Segini banyak???" Tanya Mitha terkejut.


"Hmm." Jawab Lucas mengangguk tenang.


"Jangan tanya aku, kau bisa tanya langsung ke Direktur yang lama, kalau pengen banget tau." Jawab Lucas enteng.


Lucas menjawab seperti itu, karena ia sangat yakin Mitha tidak mungkin melakukannya, karena ia pun tidak terlalu mengenal dekat orang yang sebelumnya menjabat sebagai direktur keuangan.


"Kamu bisa mulai sekarang! Jangan banyak buang waktu." Tambah Lucas lagi yang kembali menyandarkan dirinya ke sandaran kursi.


Mitha pun kembali menatapnya dengan sinis.


"Lalu anda?? Apa anda cuma bakal duduk bersandar disitu??"


"Ya iya lah! Aku kan bosnya! Apa gunanya memiliki Sekretaris?"


"But, I'm not your Secretary!!" Ketus Mitha tegas.


Ucapan itu seolah seperti tamparan keras bagi Lucas, hingga membuatnya terdiam sejenak.


"Hmm udah lah! Ini bukan waktunya berdebat! Cepat kerjakan!" Pungkas Lucas berkilah.


Mitha pun mendengus, dengan menghela nafas kasar, ia pun mulai menyusun berkas-berkas itu dengan berdasarkan tanggal dibuatnya berkas itu. Saat itu Mitha terlihat begitu fokus dan tekun, bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan Lucas yang saat itu tengah ada di hadapannya. Hal itu membuat Lucas terus diam dan terus memperhatikannya. Cara kerja Mitha benar-benar rapi, terlihat cekatan, juga sangat elegant, benar-benar semakin membuat Lucas tanpa sadar mulai tertarik padanya.


"Kalau lagi diem dan fokus gini, perempuan ini keliatan 10 kali lebih menarik." Gumam Lucas dalam hati sembari tanpa sadar mulai tersenyum kala memandangi Mitha.



Tak terasa waktu terus berputar, siang telah berganti menjadi petang, kini jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sore, sudah waktunya jam pulang kantor, tapi sayangnya saat itu Mitha masih belum menyelesaikan pekerjaannya.


"Haaissh, udah jam 5, udah jam pulang kantor, kenapa belum selesai juga?" Keluh Lucas.


Namun Mitha, dengan wajah lelahnya, sama sekali tidak melirik ke arah Lucas dan hanya menjawab.


"Anda bos, anda bisa pulang kapan saja yang anda mau!" Ketus Mitha sembari terus berkutat pada tumpukan berkas itu.

__ADS_1


Lucas lagi-lagi terdiam, ia kembali menatap Mitha yang kala itu benar-benar terlihat lelah, entah kenapa mulai muncul perasaan tidak tega padanya, perasaan yang benar-benar tidak bisa dimengerti bahkan oleh Lucas sendiri.


"Kalau gitu, pulang sana! Kau bisa lanjutkan besok!"


"Tidak usah! Lebih baik saya selesaikan hari ini juga, jadi besok saya tidak perlu ada di ruangan ini lagi!!" Tegas Mitha.


Lucas pun mendengus, seolah tak percaya dengan respon Mitha.


Namun tak lama, Dika dan Aryo pun nampak memasuki ruangan Lucas, karena jam kerja sudah habis mereka berniat ingin mengajak Lucas nongkrong di cafe.


"Bro." Ucap Dika begitu memasuki ruangan itu tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu.


Lucas dan Mitha pun sontak menoleh ke arah yang sama.


Dika dan Aryo yang melihat keberadaan Mitha di ruangan itu, sontak dibuat terkejut.


"Mithaa?? Sejak kapan kamu disini? Kok aku gak ada liat kamu lewat??" Tanya Dika yang langsung saja menghampiri Mitha.


"Apa kau lupa caranya mengetuk pintu?" Tanya Lucas datar.


"Haaiss Bro, ini udah bukan jam kerja lagi, kita kembali jadi temen sekarang." Jawab Dika tanpa segan.


Lucas pun hanya mendengus.


"Mitha kamu kok disini? Ini udah jam 5 lewat loh, kamu gak pulang?" Tanya Dika lagi.


"Aku lembur, Dik. Ada tugas dadakan!" Jawab Mitha singkat.


"Oh ya? Duhh kasian banget kamu, mau aku temenin gak?"


"Heh, heh! Kalau mau deketin cewek, bukan disini tempatnya! Pulang sana, jangan ganggu konsentrasinya, nanti bisa makin lama dia selesai!" Ketus Lucas yang entah kenapa merasa tidak senang.


"Bro, kamu tega bener sama Mithaku, kenapa kamu bikin Mithaku yang cantik jadi lembur?"


"Dia sendiri yang mau lembur!"


"Beneran gitu Tha??" Tanya Dika memastikan.


"Iya, aku tipekal orang yang gak biasa menunda kerjaan."


"Yaudah, kalau gitu aku temenin kamu ya, kantor udah makin sepi loh."


"Ah gak perlu! Pulang sana pulang!! Kalau kalian ada disini kalian bisa memperlambat kerjaan, pulang sana!!" Usir Lucas sembari mulai menarik tangan Dika.


"Ta,, tapi Bro.."


"Oh, atau mau kupecat??!"


Dika pun seketika terdiam, lalu mulai melirik ke arah Aryo yang kala itu hanya bisa mengangkat kedua pundaknya.


"Tunggu apalagi? Pulang atau pecat??"


"Pu,, pulang! Ya udah kami pulang, iya pulang." Dika pun bergegas ingin keluar dari ruangan Lucas.


"Mithaa, maaf ya. Aku harus pulang."


"Iya, gak papa."


Dika dan Aryo pun akhirnya keluar dari ruangan Lucas dan kembali meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu.


"Bapak bisa pulang duluan, gak ada gunanya juga bapak nungguin, sama sekali gak membantu!" Ucap Mitha kemudian.


Lucas yang kesal pun akhirnya lagi-lagi dibuat mendengus.


"Hmm ok, aku pergi, selamat bersenang-senang dengan para hantu penghuni gedung ini." Ucap Lucas yang langsung keluar dari ruangannya begitu saja.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2