Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Syukuran


__ADS_3

Malam itu, aula gedung terlihat mulai di penuhi oleh para karyawan/staff dari berbagai divisi. Berbagai jenis makanan juga nampaknya telah terhidang di sepanjang sisi aula yang luas, mulai dari makanan berat hingga makanan ringan, dan begitu pula dengan minuman yang tak kalah banyak macamnya.


Tak berapa lama, akhirnya sang pemilik acara nampak hadir dengan membawa serta keluarganya, siapa lagi kalau bukan Ronald Hendarto, sang Presdir sekaligus CEO.


Ronald nampak menggandeng hangat tangan istrinya di sisi sebelah kanan, sementara di sisi kiri, ada anak gadis semata wayangnya, ia bernama Dara Armanie, saat itu Dara yang manja juga terlihat menggandeng hangat tangan ayahnya. Sementara Lucas, ia nampak mengikuti langkah keluarganya di belakang. Malam itu, aura Lucas nampak seolah lebih kuat terpancar kala dia mengenakan pakaian yang formal. Ada banyak pasang mata yang menyorot ke arahnya dengan tatapan yang bermacam ragam.


Ronald dengan tenang langsung melangkah ke arah sebuah panggung kecil yang sengaja di sediakan, lalu mulai meraih sebuah microphone untuk memberi kata sambutan kepada para tamunya.


“Selamat malam semuanya, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih karena kalian sudah menyempatkan diri untuk hadir ke acara syukuran atas kepulangan anak sulung saya yang selama ini kuliah dan menetap di London, Inggris. Dan pada malam ini pula, saya ingin mengenalkannya pada kalian semua, Lucas Armando yang kelak nantinya dia lah yang akan menggantikan posisi saya sebagai presdir sekaligus CEO di perusahaan ini.” Ungkap Ronald dengan wajah yang begitu sumringah sembari menunjuk ke arah Lucas yang kala itu berdiri tak jauh darinya.


“Lucas, ayo kemari lah.” Pinta Ronald.


Lucas pun langsung menghampiri ayahnya, sorot mata Ronald kala itu benar-benar terlihat seolah sangat bangga pada anak lelakinya itu.


“Nah, jadi untuk kalian semua yang mungkin saja ada yang belum mengenal anak sulung saya, maka inilah dia orangnya.” Tambah Ronald lagi sembari menepuk-nepuk pundak Lucas yang ada di sampingnya.


Saat itu, Lucas pun akhirnya mulai tersenyum ramah, dan jangan tanya bagaimana wajahnya ketika tersenyum. Ketampanan lelaki itu pun bahkan seolah bertambah menjadi 10 kali lipat dari biasanya. Hingga membuat hampir seluruh wanita lajang yang menyaksikannya turut merasa geregetan, termasuk Vina.


“Aaaaaagh, ini sih gantengnya melebihi Lucas NCT.” Celetuk Vina sembari tersenyum gemas.


“Kupikir, tuan muda yang kaya dan tampan cuma ada di dunia Fiksi, ternyata malam ini aku menyaksikannya secara langsung dan beneran sangat nyata.” Ungkap salah seorang karyawan wanita yang juga berada tak jauh dari Vina.


“Benarrr, hingga detik ini aku masih tidak menyangka ternyata pak Ronald memiliki anak seganteng itu.” Tambah seseorang lagi.


Ronald pun mulai menyerahkan microphone yang dipegangnya pada Lucas.


“Apa kamu bersedia menyapa para pekerja di perusahaan papa?” Tanya Ronald pelan.


“Sure.” Jawabnya sembari meraih microphone itu dengan sebuah senyuman tipisnya.


“Selamat malam semuanya, hmm seperti yang telah di katakan oleh papa sebelumnya, aku adalah Lucas, Lucas Armando, anak papa yang telah lama menghilang dari peredaran.” Ucap Lucas di awal perkenalannya.


Hal itu pun sontak berhasil mengundang tawa seluruh staff pegawai yang ada disana.


“Aaaahh, bukan cuma tampan, ternyata dia juga humoris. Bukankah itu sebuah kesempurnaan yang nyata.” Gumam Vina yang merasa semakin gemas pada anak bossnya itu.

__ADS_1


“Salam kenal ya semuanya, semoga suatu saat nanti, entah kapan pun itu, kita bisa menjadi partner kerja yang baik. Selamat malam, selamat menikmati hidangan dari kami.” Tutup Lucas yang kemudian kembali menyerahkan microphone pada papanya.


“Uuuhh, jangankan partner kerja, jadi partner hidup juga aku mauuuuu.” Celetuk salah seorang pegawai wanita dengan suaranya yang begitu centil.


“Baiklah, selamat menikmati makan malam yang sudah kami sediakan, saya harap kalian semua menikmati jamuan makan malam ini, terima kasih.” Tambah Ronald yang juga kemudian mengakhiri kata sambutannya.


“Haaaiis, kali ini dugaanmu bener-bener salah Tha, apa ini yang katamu jelek?? Hih, bagiku dia bahkan berkali lipat jauh lebih ganteng dari Vino.” Gumam Vina dalam hati.


“Ehh wait, tapi dimana anak itu ya? Udah jam segini kenapa gak kelihatan juga batang hidungnya?” Vina pun mulai menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan sahabatnnya.


Tak lama, kedua orang tua Mitha pun terlihat datang memasuki pintu masuk Aula. Dara yang tak sengaja melihatnya, langsung memberitahukan hal itu pada ibunya.


“Maa, itu bukannya tante Mely dan om Hendra ya? Iya kan?" Bisiknya sembari menunjuk ke arah pintu masuk.


“Ah iya bener, akhirnya mereka datang juga, mama samperin mereka dulu ya. Kamu ikut?”


“Dara masih mau lanjutin makan ma, laper banget nih, mama duluan aja ya nanti Dara susul.”


“Oh, ok deh." Nonna dengan sumringah pun langsung saja menghampiri mereka.


“Iya, tadi jalanan agak macet, ya kan yah?” Jawab Mely dengan sebuah senyuman lebarnya.


“Iya, makanya jadi agak lama.” Tambah Hendra yang juga tersenyum.


“Ya sudah, gak masalah yang terpenting kalian sudah disini hehehe.” Nonna pun ikut tertawa kecil.


Namun seketika tawanya berganti menjadi raut wajah sedikit bingung.


“Oh ya, dimana Mitha? Dia ikut kan??” Tanya Nonna dengan dahi yang sedikit mengernyit.


“Oh itu, eemm Mitha lagi sakit, magh nya kambuh dari sore tadi katanya, jadi dia butuh istirahat lebih banyak malam ini. Dia juga menyampaikan permintaan maafnya karena gak bisa ikut hadir ke acara syukuran ini.”


“Oh ya ampun, sayang sekali ya, padahal aku mau ngenalin dia dengan Lucas hehehe.”


“Hehehe gak papa, mungkin bisa next time.” Jawab Mely yang kembali tersenyum.

__ADS_1


“Oh ok lah, ayo kita kesana, Ronald pasti belum tau kedatangan kalian.”


Nonna dengan semangat menuntun mereka ke tempat dimana Ronald, Lucas, dan beberapa rekan bisnisnya sedang berkumpul.


“Pa, lihat siapa yang datang.” Ucap Nonna sembari tersenyum lebar.


“Wahh Hendraaa.” Ronald pun langsung memeluk singkat Hendra sembari menepuk-nepuk punggungnya.


“Senang akhirnya kau bisa menyempatkan diri untuk datang.”


“Mana mungkin aku tidak datang hehe.”


“Hehehe terima kasih, terima kasih. Lagi pula sudah lama juga kita tidak bertemu kan?” Ronald pun terkekeh.


"Hehehe iya."


“Oh ya, ini Lucas, kalian ingat kan?” Ronald pun kembali menepuk pundak Lucas yang kala itu tengah berdiri di sisinya sembari sebelah tangannya tengah memegang segelas wine.


“Astaga Lucas, ini sungguh kamu??” Tanya Hendra seolah tak menyangka.


“Halo om, tante.” Sapa Lucas sembari tersenyum dan menjabat tangan mereka satu persatu.


“Ya ampun Lucas, kamu benar-benar keliatan beda banget dari terakhir kali kita ketemu. Sekarang kamu jadi keliatan semakin ganteng dan kharismatik.” Tambah Mely berdecak kagum.


“Hehehe terima kasih tante, tapi sepertinya pujian tante terlalu berlebihan hehehe.” Jawab Lucas tersipu malu.


“Aaah siapa bilang berlebihan, itu benar adanya.” Mely kembali melebarkan senyumannya.


Namun Lucas, ia hanya tersenyum, karena sejujurnya ia tidak terlalu mengingat Hendra dan Mely, karena saat terakhir kali bertemu, Lucas masih duduk di bangku SMA. Lagi pula, teman kedua orang tuanya bukan hanya mereka, itu pula lah yang membuat Lucas tidak bisa terlalu mengingat jelas siapa mereka.


“Oh ya, dimana Sekretaris pribadiku ha?” Tanya Ronald sembari menatap Hendra dan Mely secara bergantian.


Hal itu pun sedikit membuat Lucas merasa bingung, ia bingung kenapa papanya bertanya tentang Mitha pada mereka.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2