
Mitha menatap layar ponselnya dengan tatapan tak bersemangat, namun saat telah mengetahui siapa yang menelepon, tatapan itu seketika berubah, mata yang awalnya terlihat sayu, seketika jadi terbelalak saat melihat nama “Kak Vino” terpajang nyata di layar ponselnya.
“Oh my god, Kak Vino???” Tanyanya seorang diri seolah tidak percaya.
Jantung Mitha mendadak mulai berdetak hebat, tubuhnya tiba-tiba saja terasa gemetaran saking merasa gugupnya. Karena bisa dikatakan, ini pertama kalinya Vino menelponnya di luar jam kerja, karena biasanya Vino selalu menelponnya saat masih berada di jam kerja dan hal yang dibahas juga selalu seputar pekerjaan.
Saking gugupnya, Mitha harus berkali-kali menghela nafasnya demi mengatur detakan jantung yang tak menentu agar kembali teratur.
“Huh,, huh,, huh,, ok Mitha, you can do it!” Ucapnya sebelum akhirnya ia pun mulai menjawab panggilan itu.
“Eemm ha,, halo.” Jawabnya pelan, terkesan sedikit ragu-ragu.
“Hei, kamu apa kabar?” Tanya Vino dengan suaranya yang terdengar sangat lembut di telinga Mitha.
“Ak,, aku baik kak,” Jawab Mitha, yang masih belum sepenuhnya bisa mengontrol rasa gugupnya.
"Hmm, aku ganggu kamu ya? Apa kamu udah mau tidur? Eemm, kalau gitu aku minta maaf ya, aku gak bermaksud…”
“Eh enggak kak!” Tegas Mitha bahkan sebelum Vino menyelesaikan ucapannya.
“Gak ganggu sama sekali!” Tambah Mitha lagi, seolah ia benar-benar tidak ingin jika Vino menutup teleponnya.
Telepon yang begitu dinantikan oleh Mitha, mana mungkin ia biarkan berakhir begitu saja.
“Oh ya? Are you sure?? Emm, soalnya aku beneran gak mau kalau telponku mengganggu waktu istirahatmu hehehe.” Jawab Vino yang di ujung kalimatnya, ia terdengar tertawa tipis, sangat meneduhkan indera pendengaran Mitha yang mendengarnya,
“Yakin kok kak! Lagian aku belum mau tidur, hmm lebih tepatnya lagi gak bisa tidur.” Mitha pun tersenyum.
“Gak bisa tidur?? Kenapa? ada yang lagi kamu pikirin ya? Atau lagi ada masalah di kantor?”
Mendengar pertanyaan itu, membuat Mitha terdiam sejenak, dan justru memilih bergumam di dalam hatinya.
“Udah jelas aku gak bisa tidur karena lagi rindu, rindu sama kamu kak Vino, kapan sih kamu bisa paham?” Gumam Mitha dalam hati.
“Thaaa.” Panggil Vino, saat Mitha seolah senyap, tak bersuara.
“Eh iy,, iya kak. Aku juga gak tau kenapa gak bisa tidur, mungkin karena instingku tau kak Vino mau menelponku malam ini hehehe.” Jawab Mitha akhirnya.
“Hahaha memangnya bisa gitu ya? Kalau gitu, berarti kuat juga instingmu ya.”
“Iya kuat hehe.” Mitha pun tertawa kecil.
“Sekuat cintaku padamu, kak.” Tambahnya lagi dalam hati.
“Kalau gitu, ayo kita buktiin, sekuat apa sih insting kamu hehehe. Emmm coba tebak, kenapa aku nelpon kamu malam ini??” Tanya Vino kemudian.
__ADS_1
“Eemmm,, kenapa ya?” Mitha pun nampak mulai berpikir.
“Karena ada urusan pekerjaan yang penting, maybe.” Jawab Mitha santai.
“Hahaha salah!"
"Hah?! Salah ya??"
"Iya salah. Eh tapi kenapa kamu bisa berpikir kegitu sih?”
“Jawabannya simple aja sih kak, karena sejauh ini emang selalu gitu kan?? hehehe.” Mitha pun mulai tersenyum lirih.
“Iya juga sih hehehe. Tapi kali ini enggak kok Tha!"
“Terus karena apa kakak nelpon malem-malem gini? Tumben banget, apa lagi kerasukan ya?”
“Hahaha apalagi itu Thaaa, ya jelas enggak lah!” Tegas Vino sembari tertawa renyah.
“Heemm, kalau gitu aku nyerah deh kak."
"Ih masa gitu aja udah nyerah sih?"
"Iya, ternyata instingku gak sekuat ini hehehe. Sekarang cepet kasi tau aku, karena apa kakak nelpon malam ini??” Rengek Mitha yang seolah mulai penasaran.
Namun meski singkat, hal itu terdengar begitu mengagetkan bagi Mitha, bahkan hanya karena mendengar dua kata itu saja, sudah mampu membuat jantung Mitha nyaris berhenti berdetak saking syoknya.
“Ha?!” Ucap Mitha yang tertegun, karena ia sangat tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar dari Vino.
“Hmm, harus banget nih aku ulangi lagi?”
“Ka,, kak Vino rindu?? Mak,, maksudnya rindu sama aku??” Tanya Mitha polos.
Pertanyaan Mitha itu pun sontak kembali berhasil mengundang tawa Vino.
“Hahaha ya jelas rindu sama kamu lah Thaa, masa rindu sama tetanggamu.” Jawab Vino yang terus tertawa.
Mitha pun semakin berdebar dibuatnya, wajahnya juga nampak mulai memerah hingga ia terus berusaha menahan kegirangannya agar tak terdengar oleh Vini. Bahkan tanpa sepengetahuan Vino, Mitha seketika langsung jingkrak-jingkrak dan berguling-guling di atas tempat tidurnya karena saking merasa senangnya.
“Mithaaa,, kok diem lagi? Are you ok? Atau,, atau kamu gak suka ya denger jawabanku tadi?? Astaga, kalau gitu aku minta….”
“Sukak! Aku suka kakak!” Jawab Mitha secara refleks, penyataan itu seolah keluar begitu saja tanpa bisa ia kendalikan.
“Apa Thaa?” Nada suara Vino pun terdengar menurun.
“Duh mati aku! Aku keceplosan!!” Gumam Mitha dalam hati yang mulai panik sendiri dengan ucapannya.
__ADS_1
“Oh mak,, maksudku eemm maksudku aku suka kok kak, gak mungkin aku gak suka kalau ada orang baik kayak kak Vino gini rindu sama aku hehehe.” Jawab Mitha yang mencoba berkilah, demi melindungi kegengsiannya.
“Oh hehehe.”
“Eemm ak,, aku juga,,,” Ucap Mitha kemudian, yang terdengar ragu-ragu saat ingin mengungkapkannya.
“Juga apa Thaa?”
Mitha terdiam sejenak, ia kembali menghela nafas dalam-dalam demi mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kalimatnya itu.
“Juga rindu!” Akhirnya, setelah beberapa saat terdiam, Mitha mampu mengatakan hal itu pada Vino.
Vino yang mendengarnya pun sontak dibuat tersenyum,
“Beneran?” Tanya Vino yang terdengar senang.
“Iya bener, hehehe.” Jawab Mitha malu-malu.
Vino pun akhirnya bisa tersenyum senang karena nyatanya Mitha juga merasakan hal yang sama dengannya. Malam pun semakin larut, udara malam juga terasa semakin sejuk, namun tidak dengan hati Mitha yang pada malam itu justru bisa merasakan kehangatan berkat obrolan manisnya dengan Vino. Cukup banyak hal yang mereka bicarakan pada malam itu, mulai dari membahas pekerjaan Vino di luar kota, hingga membahas tentang masa lalu saat di kampus.
Di sepanjang cerita, Mitha nampak begitu menikmati, bahkan tak jarang pula ia tertawa dengan begitu lepas saat mendengar hal yang menurutnya lucu. Mitha benar-benar dibuat kasmaran oleh kata-kata Vino pada malam itu, meski hanya sebatas kata rindu yang terlontar, namun nyatanya itu saja sudah cukup mengubah malam Mitha yang kelabu menjadi malam yang indah, seolah hatinya kini tengah dipenuhi oleh bintang-bintang yang bersinar.
Hingga tak terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 00:20 dini hari, Vino akhirnya menyudahi segala obrolan mereka pada malam itu dengan alasan, besok ia harus bangun pagi-pagi sekali karena harus meninjau lokasi untuk pembangunan perusahaan cabang mereka.
“Ok, good night Tha, Sleep tight.” Ucap Vino dengan sangat lembut.
“Good night kak Vino, mimpi indah ya.” Mitha pun tersenyum, hatinya kini dipenuhi dengan perasaan kasmaran yang menggebu-gebu.
“Mimpiin kamu boleh gak ya?” Tanya Vino secara mendadak.
Pertanyaan itu, lagi-lagi membuat Mitha jadi terdiam seketika.
“Ah hehe aku hanya bercanda Thaa, jangan dimasukin ke hati ya,” Tambah Vino lagi.
Mitha pun akhirnya melesu, karena sejujurnya ia sama sekali tidak berharap jika hal itu hanyalah candaan.
“Ya udah, aku tutup dulu ya, bye Mitha.”
“Bye kak.” Jawab Mitha pelan.
Panggilan pun berakhir, Mitha hanya bisa kembali terdiam sembari memandangi ponselnya dengan perasaan yang nano-nano.
“Huh! kenapa harus ada kata bercanda sih?? padahal kalau dia beneran mau mimpiin aku, aku sama sekali gak keberatan, justru aku bakalan seneng banget.” Gerutu Mitha seorang diri.
...Bersambung…...
__ADS_1