
Keesokan harinya…
Siang itu, tepat ketika waktu telah memasuki jam istirahat, Vina masuk ke dalam ruangan Mitha yang saat itu terlihat masih begitu betah terduduk di kursi kerjanya.
“Ya ampun!! Udah jam segini, masih sibuk aja sih.” Celetuk Vina saat melangkah memasuki ruangan persegi yang bernuansa putih gading tersebut.
“Eh hai Vin, ada hal apa kesini?” Tanya Mitha dengan tenang yang kala itu hanya melirik singkat ke arah sahabatnya.
“Dihh,, masih nanya ada apa lagi! Ya tentu aja mau ngajakin kamu makan siang bareng, apalagi??" Jawab Vina yang kemudian mulai menduduki kursi kosong yang ada di hadapan Mitha.
“Oh astaga, udah jam makan siang ya?” Mitha pun sontak melirik ke arah jam tangan miliknya.
“Eeemm tuh kan, saking seriusnya kerja, sampai-sampai udah gak sadar lagi kalau ini udah siang.” Vina pun mendengus.
“Hehehe iya, kamu tau kan gimana sibuknya aku akhir-akhir ini.”
“Heemm ya ya ya. Tapi aku udah laper banget nih, ayo dong kita makan siang sekarang.” Pujuk Vina yang mulai memasang raut wajah seakan memelas.
“Ta,, tapi Vin, aku masih…”
“Haaaisss ayolah Tha!! kamu inget-inget aja sendiri ya, udah berapa hari kita gaknmakan siang bareng? Ha?? Udah berapa hari??” Vina pun mulai mengecakkan kedua tangannya di pinggang.
Mitha pun jadi terdiam sejenak sembari mulai menatap wajah lesu sahabatnya itu, batinnya seolah bergumam jika yang diucapkan Vina memang benar, ia dan Vina yang dulunya selalu melewati makan siang bersama, sudah dalam beberapa hari ini sudah tidak pernah lagi melakukannya.
“Eeemm ok, ok! Ok fine!” Merasa tidak tega melihat ekspresi Vina, Mitha pun akhirnya setuju dan memilih untuk menunda pekerjaannya.
“Yeeesss!!” Vina pun bersorak senang, ia tersenyum sumringah penuh kepuasan.
Mitha yang melihat hal itu pun hanya dibuat mendengus serta tersenyum sembari menggelengkan pelan kepalanya.
“Ayo ayo ayo, Ayo kita makan, makan makan makannn.” Gumam Vina seolah bernyanyi senang sembari kembali bangkit dari duduknya.
Mitha pun bergegas menyimpan data yang sejak tadi ia kerjakan, lalu menutup laptopnya dan akhirnya ikut beranjak menyusul langkah Vina yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu.
“Makan dimana kita hari ini bestie?” Tanya Vina penuh semangat sembari mulai menggandeng lengan Mitha.
“Heemm dimana ya???” Mitha juga nampak bingung dan seolah mulai berpikir.
“Ahh jangan bilang kita bakal makan di kantin lagi! Lagi dan lagi, always di kantin, ah aku bosen banget makan disitu!” Keluh Vina yang terdengar seakan merengek pada Mitha.
__ADS_1
“Iya, iya! Lagi pula aku juga lagi gak pengen makan disitu, kita cari makan diluar aja, tapi yang gak terlalu jauh dari sini. Ok??”
“Nahh, gitu dong!! Kegitu baru asik hahaha.” Vina nampak kembali tersenyum puas.
Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya menuju lift sembari terus berbincang ringan diselingi dengan candaan dan gelak tawa, namun tiba-tiba saja Vina seolah mengingat sesuatu tepat saat mereka sudah berdiri di depan lift.
“Oh my god!!” Celetuknya dengan kedua matanya yang terlihat begitu membulat.
“Kamu kenapa Vin?” Tanya Mitha sembari mulai mengernyitkan dahinya.
“Aku ninggalin sesuatu di ruanganku, kayaknya aku harus balik ke ruanganku dulu deh Tha!!”
“Memangnya ninggalin apa sih?” Dahi Mitha pun sontak mengkerut.
“Hpku!!” Jawab Vina yang kemudian langsung berlari untuk kembali menuju ruangannya.
Mitha pun melirik ke arah bagian atas pintu lift yang saat itu menampilkan jika lift sudah hampir tiba di lantai itu.
“Vin, aku tunggu kamu di lobby aja ya!!” Teriak Mitha pada Vina yang sudah berada sedikit jauh darinya.
“Ok!!” Jawab Vina yang juga ikut berteriak.
Pintu lift pun terbuka, saat itu lift terlihat kosong, tanpa ragu Mitha bergegas melangkah memasuki lift itu dengan tenang. Baru menuruni satu lantai, lift sudah kembali berhenti, menandakan jika ada orang yang akan naik dari lantai itu, lebih tepatnya lantai 29. Tak lama pintu lift pun kembali terbuka dan langsung menampakkan seseorang yang telah berdiri menunggu di depan lift itu.
Kedua mata Mitha sontak membulat sejenak saat menyadari jika seseorang yang ingin naik ke lift itu tak lain ialah musuh bebuyutannya, Lucas. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena Mitha langsung mengalihkan pandangannya seraya memutarkan kedua bola matanya seolah sama sekali tidak tertarik dengan seseorang yang kini ada di hadapannya.
"Dihh, orang ini lagi!! Males banget deh berduaan di lift sama nih orang!" Gerutu Mitha dalam hati.
“Wow, kebetulan banget.” Celetuk Lucas dengan tenang, sembari mulai melangkah memasuki lift,
Tanpa segan Lucas pun berdiri di sisi Mitha meskipun ada sedikit jarak yang memisahkan mereka.
Saat itu Mitha memilih tetap diam dan tidak merespon celetukan Lucas sedikit pun.
Pintu lift dengan cepat tertutup, kini di dalam lift itu hanya ada mereka berdua. Sesaat suasana di dalam lift itu jadi cukup terasa canggung bagi keduanya, namun Mitha maupun Lucas nampaknya cukup pintar menyembunyikan hal itu dibalik sikap tenang yang mereka tampilkan.
“Ehem, mau kemana?” Tanya Lucas datar sembari mulai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Makan!” Jawab Mitha singkat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Lucas.
__ADS_1
“Mau makan siang dimana emang?”
“Untuk apa anda harus tau?!” Ketus Mitha.
“Ehm gak ada! Cuma nanya aja! Karena aku juga mau makan siang.”
Mendengar hal itu Mitha pun mendengus.
“Gak ada yang nanya!” Ucapnya kemudian.
“Emang gak ada yang nanya sih, tapi aku cuma berinisiatif aja untuk ngasi tau. Siapa tau kau mau…” Lucas mulai melirik ke arah Mitha dengan senyuman yang berbeda.
“Mau apa???” Mitha pun akhirnya menoleh ke arahnya dengan dahi yang mengkerut.
“Mau makan siang denganku.” Jawab Lucas dengan cara membisikkannya ke telinga Mitha sembari semakin melebarkan senyumannya yang begitu menggoda.
Jika hal seperti itu terjadi pada gadis lain di kantor, mungkin mereka bisa saja langsung meleleh dan pingsan saking senangnya. Tapi sayangnya, hal itu tidak terjadi pada Mitha yang saat itu justru menatapnya dengan tatapan yang tajam.
“Never!!” Tegas Mitha pelan.
“Why?” Kini Lucas pun ikut mengerutkan dahinya.
“Kenapa kau gak mau makan siang denganku? Aku ganteng, keren dan juga kaya, di luar sana ada banyak perempuan yang sangat menggilaiku. Apa kau sadar sama ucapanmu ini?” Lucas yang tidak terima mulai mendekati Mitha secara perlahan.
“Jawabannya simple, mau tau??!”
Lucas pun mengangguk pelan.
"Because, I HATE YOU!!" Tegas Mitha sembari menahan serta mendorong tubuh Lucas dengan jadi telunjuknya, yang kala itu terlihat semakin mendekat padanya.
Namun entah apa yang terjadi, entah semesta yang sengaja ingin melakukannya atau memang murni kesalahan teknis, lift yang mereka tumpangi tiba-tiba saja bergetar hebat, hal itu membuat Mitha langsung panik serta berteriak, hingga membuat Lucas secara refleks menarik jari telunjuk Mitha yang saat itu masih tertancap di sekitar dadanya, karenanya, tubuh Mitha pun jadi tertarik dan masuk ke dalam dekapan Lucas
Tubuh Lucas langsung tersandar ke salah satu sisi dinding pada lift, dengan disusul tubuh mungil Mitha yang akhirnya ikut tersandar pada tubuh kokoh Lucas.
Hal itu membuat keduanya sontak tercengang sembari saling melempar tatapan satu sama lain.
Ini pertama kalinya, pertama kali bagi kedua mata mereka saling bertemu serta beradu pandang dalam waktu yang lumayan lama serta jarak yang begitu dekat. Jiwa Lucas mendadak terasa menghangat, saat menatap kedua mata indah wanita yang semakin hari semakin membuatnya penasaran itu. Aroma vanilla yang keluar dari tubuh wanita itu juga ikut menambah perasaan nyaman pada Lucas hingga membuatnya semakin betah pada posisi itu.
...Bersambung…...
__ADS_1