Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Menunggu keputusan


__ADS_3

“Tha, sedikit banyaknya kamu tau kan gimana saya merintis perusahaan ini dari nol hingga sampai seperti sekarang ini?” Tanya Ronald dengan lembut.


“Dan kamu juga tau kan kalau belakangan ini, saya sering drop karena kelelahan mengurus perusahaan yang semakin berkembang pesat ini?” Tanya Ronald lagi.


Mitha pun mengangguk pelan.


“Dan yang terakhir, kita berdua sama-sama tau kalau Lucas bisa dikatakan masih pemula dalam bidang ini, maka dari itu dia butuh kamu, seseorang yang sudah jauh lebih berpengalaman untuk mendampinginya.”


“Hiss kalau boleh jujur, sebenernya aku sama sekali gak peduli tentang laki-laki itu, mau dia jungkir balik juga bodo amat! Tapi… pas ngeliat raut wajah om Ronald yang seolah kayak bener-bener berharap denganku, aku jadi gak tega deh mau nolaknya. Duhh gimana ya??" Gumam Mitha dalam hati.


“Saya bener-bener gak akan maksa kalau kamu memang tetap pada pendirianmu Tha, itu seratus persen hak kamu. Tapi setidaknya tolong pikirin sekali lagi, sebelum kamu bener-bener memutuskannya.”


Mitha pun terdiam sejenak, karena saat itu dia benar-benar tidak tau harus menjawab apa pada Ronald yang selama ini sudah sangat baik dan perhatian padanya.


“Pak, boleh gak kasi saya waktu untuk berpikir?” Tanya Mitha setelah beberapa saat terdiam, dengan raut wajah yang seakan sedikit ragu-ragu.


“Boleh, tentu saja boleh!” Ronald pun tersenyum, bisa terlihat dari sorot matanya jika ia seakan tengah menaruh harapan besar pada Mitha.


“Terima kasih banyak, pak. Secepatnya saya akan memberitahukan apapun yang nantinya jadi keputusan saya pak.” Mitha pun mengangguk singkat lalu perlahan mulai mengutas sebuah senyuman tipis.


“Iya Tha, apapun keputusan yang nantinya akan kamu ambil , saya janji gak akan mempermasalahkannya.”


“Baik pak, kalau gitu saya permisi dulu.” Mitha pun akhirnya mulai bangkit dari duduk nya.


Ronald hanya mengangguk dan kembali tersenyum tipis. Tanpa berkata apapun lagi, Mitha langsung melangkah pergi untuk kembali ke ruangannya, kini ia langsung terduduk lesu di kursi kerjanya, sorot matanya kosong, namun otaknya tengah bekerja keras untuk berpikir keputusan apa yang paling baik untuknya.


“Aaaaagh! Kalau aku tetap lanjut kerja disini, hih aku gak bisa bayangin gimana jadinya aku yang harus tiap hari berurusan dengan laki-laki nyebelin itu. Ngebayanginya aja udah bikin frustasi, apalagi kalau udah ngejalaninya nanti, hih pasti mulai dari fisik serta mental, bakal di bombardir abis-abisan sama tu orang!!” Gerutu Mitha dalam hati sembari mulai menggigiti ibu jarinya.


“Enggak, enggak! Aku bener-bener gak bisa lanjutin kerjaan ini kayaknya! Kalau ku lanjutin pasti aku bakal ngalami penuaan dini karena stress tingkat dewa, terus juga bakal kena gangguan mental secara perlahan karena ngadepin tingkah lakunya!!” Mitha pun langsung bangkit seketika dari duduknya dengan raut wajah penuh keyakinan.


Saat itu juga ia bermaksud ingin kembali ke ruangan Ronald untuk segera memberikan keputusan akhirnya, karena menurutnya ia tidak mau berlama-lama memberi jawaban. Namun baru beberapa langkah berjalan menuju pintu, mendadak langkahnya terhenti saat secara tiba-tiba ia teringat dengan Vino.


“Wait, wait, wait!!!” Celetuknya sendiri.


“Kalau aku berhenti kerja dari sini, itu artinya aku gak bakal bisa ketemu sama kak Vino lagi dong??” Tambahnya yang mulai terlihat panik.


“Oh enggak, enggak!! Aku gak mau, gak bisa ini, gak bisaaa!! Jalani waktu dua bulan tanpa ngeliat dia aja rasanya berat, apalagi kalau gak bakal ketemu dalam waktu yang lebih lama lagi. Uhhh enggak, enggak, aku gak mauuuu!!” Mitha terus bergerutu seorang diri di dalam ruangannya seperti orang gila.


"Duh gimana ini?? Kenapa jadi gini sih ah! Berat banget cobaan hidup, astaga!!"

__ADS_1


Mitha akhirnya kembali terduduk lesu, saat itu ia benar-benar jadi sangat pusing memikirkan hal itu hingga akhirnya ia pun memilih untuk mengabaikan persoalan itu sejenak dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


Di lain sisi, Lucas yang kala itu tengah berada di ruangannya, semakin merasa gelisah dan tak tenang kala mengingat perkataan Mitha yang tidak mau menjadi Sekretarisnya. Rasa gelisah yang semakin memuncak itu nyatanya cukup mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Lucas pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruangan Ronald untuk menanyakan kelanjutan masalah itu.


*Tok,,tok,,tok,,* 


“Masuk!” Seru Ronald dari dalam.


Lucas pun langsung masuk dan berdiri tegak di hadapan papanya yang kala itu terlihat sedang terduduk tenang di depan sebuah laptop.


“Oh Lucas, kenapa? Apa yang membawamu datang kemari? Apa ada masalah?” Tanya Ronald sembari mulai mengernyitkan dahinya.


“Gimana pa??” Tanya Lucas to the point.


“Gimana?? Gimana apanya?” Ronald justru berbalik bertanya dan terlihat bingung.


“Masalah dengan Mitha pa, gimana jadinya?” Bisa terlihat dengan jelas jika saat itu wajah Lucas terlihat tegang.


“Oh itu, eemm, ya udah duduklah dulu! Kenapa terus berdiri disitu ha?!”


Tanpa berkata apapun, Lucas pun langsung duduk berhadapan dengan papa sekaligus atasannya di kantor.


"Dia bilang apa pa??" Tanya Lucas yang terlihat sangat tidak sabar.


"Astaga hahaha kamu kenapa Lucas? Kenapa keliatannya kayak cemas banget??"


"Haiss papa! Kenapa malah balik nanya, tolong jawab aja pa, please!" Keluh Lucas yang saat itu sedang tidak ingin bergurau.


"Hmm dia bilang, dia butuh waktu untuk berpikir.” Ungkap Ronald akhirnya.


“Haaiiss, apa perempuan itu gak terlalu lebay kegitu? Kenapa untuk hal kegini aja dia masih harus butuh waktu?!” Keluh Lucas yang seolah semakin dibuat kesal dan juga semakin merasa tak menentu.


“Lucas,, tenangkan dirimu! Kamu ini sebenernya kenapa ha? Kenapa jadi panik gitu?"


“Gak ada, aku cuma,,, eemm aku cuma gak habis pikir aja sama perempuan itu! gimana bisa dia nolak untuk adi Sekretaris pribadiku, sedangkan diluar sana ada banyak perempuan yang pengen banget ada di posisi itu.”


“Hehehe sikapmu kayak gini, apa karena kamu mulai suka sama Mitha??” Ronald pun mulai tersenyum.


“Eng,, enggak!” Tegas Lucas, namun terdengar seperti ragu-ragu,

__ADS_1


“Kamu tau kenapa Mitha kegitu??”


Lucas pun mengangkat singkat kedua pundaknya, sebagai kode, jawaban atas ketidaktahuannya,


“Itu tandanya, dia itu perempuan yang lain dari pada yang lain! Dia gak sama kayak perempuan yang kamu sebutin tadi.” Jelas Ronald.


"Disaat banyak perempuan yang begitu pengen jadi Sekretaris pribadimu, supaya bisa dekat denganmu yang tampan, udah pasti mapan, masih muda, tapi enggak dengan Mitha. Itu menandakan dia bukan perempuan yang silau dengan harta kamu, juga gak mandang fisik, dia kerja bener-bener pake hati." Tambah Ronald lagi.


“Haiss paa,, papa kayaknya terlalu berlebihan deh mujinya, mungkin itu juga yang bikin dia sekarang jadi besar kepala dan bertindak semuanya kayak sekarang ini.”


“No, no! Papa sama sekali gak melebih-lebihkan! Memang kegitu lah fakta yang harus kamu tau.”


“Heemmm.” Lucas pun hanya memutarkan kedua bola matanya sembari mulai menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


“Udah tenang aja! Yang jelas apapun keputusannya, mau gak mau kita harus terima dengan lapang dada.”


“Gak bisa pa! Gimanapun ceritanya, pokoknya aku mau yang jadi Sekretaris ku itu adalah dia, titik!!” Tegas Lucas.


“Nah, sikapmu ini??? Eemm,, kenapa kamu ngotot banget mau dia jadi Sekretaris mu? Apa dugaan papa tadi bener, kalau kamu….”


“No pa, no! Haaaiss, please lah pa, jangan salah paham! Aku cuma mau yang terbaik untuk perusahaan ini selama aku menjabat sebagai CEO, dan bukannya papa selalu bilang kalau perempuan itu adalah Sekretaris terbaik yang pernah papa punya, dan bisa diandalkan dalam berbagai kondisi dan situasi?”


“Hahaha ya ya ya, anggap aja papa percaya deh sama kamu, ok?” Ronald pun kembali terkekeh.


“Tapi pa,, sampai berapa lama kita harus nunggu keputusan dari perempuan itu ha? Kok dia lancang banget sih nyuruh kita nunggu gini?”


“Heii, saat ini yang lebih butuh siapa? Kita butuh dia, atau dia butuh kita?”


“Huh, ya udah lah. Tolong segera kabari aku apapun keputusannya nanti pa.” Lucas pun mulai bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.


“Ok, ok!”


Lucas pun langsung beranjak pergi dari ruangan Ronald dengan membawa perasaan yang justru dibuat semakin tak menentu karena Mitha.


“Kenapa harus ada perempuan nyebelin kayak dia?? Huh, bener-bener susah di percaya!” Gerutu Lucas sembari terus melangkah pergi.


Siang hari… 


Tak terasa sudah masuk jam istirahat, suasana kantor pun berangsur-angsur mulai hening karena ditinggal oleh para staf yang keluar untuk mencari makan siang.

__ADS_1


...Bersambung…...


__ADS_2