Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Kedatangan orang asing


__ADS_3

Lucas pun akhirnya beranjak pergi, meninggalkan area komplek rumah Mitha, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat dimana Dika dan Aryo sudah menunggunya sejak tadi.


Hanya memerlukan waktu 15 menit saja, kini Lucas pun tiba di sebuah cafe yang banyak digandrungi oleh anak-anak muda yang cukup kekinian di kota itu.


Lucas turun perlahan dari mobilnya, melirik kesana kemari demi mencari keberadaan dua orang temannya yang katanya sudah tiba sejak tadi.


“Dimana mereka?” Tanyanya pelan sembari mulai meraih ponselnya.


Lucas pun langsung menghubungi Dika, tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan detik suara Dika sudah terdengar menjawab panggilannya.


“Kalian dimana? Aku udah di depan cafe.” Ucap Lucas datar.


“Oh akhirnya dateng juga bro!! Hmmm, masuk aja ke dalam bro, langsung naik ke lantai dua ya.” Jawab Dika memberi petunjuk.


“Oh, ok!” Lucas pun langsung mengakhiri panggilannya begitu saja dan bergegas masuk ke dalam cafe sesuai yang diarahkan oleh Dika.


Malam itu, pengunjung di Cafe yang sangat kekinian itu benar-benar padat merayap, sebagian besar pengunjung cafe itu memang lah anak-anak muda seumuran Lucas bahkan tak sedikit pula yang terlihat masih remaja. Lucas terus berjalan dengan tenang memasuki cafe, di sepanjang langkahnya tak sedikit pula mata yang terus memandanginya.


Sebagian besar wanita yang berada di sana, nyaris tidak ada yang tidak memandangi kedatangan Lucas dengan tatapan penuh kagum. Namun tentu saja hal itu sama sekali tidak membuat lucas menjadi besar kepala apalagi jadi salah tingkah, ia terus saja melangkah dengan sikapnya yang cool dan tenang, karena hal semacam itu memang sudah biasa terjadi padanya.


“Wah, wah, wah! ini dia bintangnya, akhirnya datang juga.” Sambut Aryo yang terlihat antusias saat mendapati Lucas yang tengah melangkah ke arah mereka.


“What’s up.” Ucap Lucas sembari tersenyum tipis.


“Kemana aja Bro? Kok lama banget?” Keluh Dika.


“Iya nih, kami hampir jamuran nungguin kamu.” Tambah Aryo.


“Sorry, tadi ada urusan mendadak!” Jawab Lucas beralasan.


“Hemmm, urusan apa dulu nih?? Urusan percintaan atau urusann kerjaan??” Dika mulai terkekeh sembari menatap Lucas dengan tatapan menyelidik.


“Haiss, gak ada cinta-cintaan! Aku beneran ada urusan tadi, urusan kerjaan.” Bantah Lucas dengan cepat.


“Hemm ya ya ya.”


“Kalian udah pesen makan? Cemilan? Minuman? Or something like that.” Tanya Lucas seolah ingin mengalihkan pembahasan.

__ADS_1


Karena saat itu ia benar-benar takut akan keceplosan pada teman-temannya bahwasannya ia baru saja mengantar Mitha pulang. Karena jika itu terjadi, sudah pasti ia akan diejek habis-habisan oleh kedua temannya itu, bukan hanya itu, bahkan mungkin hal yang lebih parah bisa saja terjadi, contohnya seperti Dika yang bisa saja akan marah dan cemburu padanya, karena seperti yang dikatakan oleh Dika sebelumnya, jika ia sangat mengagumi dan menyukai Mitha.


“Kamu gak liat nih?? kami bahkan udah ngabisin dua gelas minuman selama nungguin kamu.” Jawab Aryo yang kembali terkekeh kecil sembari menunjuk ke arah gelas-gelas kosong yang ada di atas meja mereka.


“Halah, masih juga dua gelas, ayo pesen lagi! biar aku yang bayar!” Ucap Lucas dengan tenang.


“Wow Asyikk nih, kalau gini siapa yang bakal nolak hehehe.” Dika pun seketika menyeringai dan bertambah semangat.


“Ya, kalau perlu pesen aja semua menu yang ada disini!” Lucas pun tersenyum tipis.


“Wohoo kelasss bener teman kita yang satu ini hahaha, gini nih enaknya kalau nongkrong sama orang kaya, mau makan atau minum apa aja gak perlu mikirin soal harga.” Ungkap Aryo yang juga ikut bersorak girang..


Dika pun kembali terkekeh, sementara Lucas, ia hanya mendengus sembari terus menampilkan senyumannya yang khas, kala melihat kelakuan dua temannya yang dari dulu tidak pernah berubah meski sudah menjadi orang kantoran.


Aryo dan Dika kembali memanggil pegawai cafe untuk memesan menu lagi, tak tanggung-tanggung, mereka memesan apa saja yang mereka inginkan saat itu tanpa memikirkan tentang seberapa mahal harga makanan yang mereka pesan. Sementara Lucas, ia justru hanya memesan segelas minuman Mojito mints yang memang sudah menjadi kesukaannya.


“Heh Bro, apa kau udah gila?? kau menyuruh kami untuk mesen banyak menu, sedangkan kau malah cuma pesen itu aja? Kenapa gak pesen makan?” Tanya Dika sembari mengerutkan dahinya.


Lucas pun menggelengkan kepalanya.


“Aku udah makan tadi di rumah with my family.” Jawabnya kemudian.


Mendengar hal itu sontak membuat Lucas lgai-lagi mendengus dan mulai terkekeh.


“Sejak kapan kau pernah ngerasa gak enak hati denganku ha?! Bukannya dari dulu kau udah terbiasa jadi bebanku ya? hahaha.”


“Hehehe iya juga ya. Ternyata kamu masih ingat tentang itu ya hahaha.”


“Tentu aja aku ingat, aku bahkan masih ingat banget gimana raut wajahmu yang bener-bener melas waktu kau kabur dari rumah, kau datang ke rumahku meminta makan dan numpang tidur di kamar tamu.” Ungkap Lucas lagi.


“Hahaha astagaa Lucas!! tolong hapus kenangan itu dari memory otakmu, jangan buat aku malu dong hahaha.” Ucap Dika yang terus terkekeh geli saat mengingat kejadian itu.


Tak berapa lama, saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja tiga orang wanita muda bergaya modis datang menghampiri mereka.


“Kamu Aryo kan??” Tanya salah satu wanita pada Aryo.


Wanita itu cukup manis, rambutnya lurus sebahu , dengan pakaian yang cukup seksi namun benar-benar terlihat modis.

__ADS_1


“Nia ya??” Aryo pun terkejut dan langsung bangkit dari duduknya.


“Hehehe iya, ini aku, Nia. Kamu masih ingat aku ternyata ya hehehe.” wanita itu pun tersenyum tipis.


“Astaga Niaaa, Tentu aja aku ingat, aku kan belum sepikun itu hehe.”


Dika yang menyaksikan hal itu pun seolah tak tinggal diam, ia pun mulai kembali menyeringai, lalu menarik pundak Aryo, dan berbisik,


“Haaaiisss, siapa lagi ini cewek-cewek ini Yo? Kok banyak banget cewek yang kenal sama kamu disini ha?! Hahaha.” Tanya Dika.


Sementara Lucas, seperti biasa ia pun hanya diam dan bersikap stay cool.


“Oh hehehe ini Nia, dulu dia ini tetanggaku waktu masih tinggal di kost-kostan.” Jelas Aryo sembari tersenyum sedikit malu-malu.


“Oh hai Nia.” Sapa Dika dengan sangat ramah sembari melambaikan tangannya pada Nia.


“Nia, kenalin! mereka ini temen-temenku dari jaman SMA dulu. Ini Dika,” Aryo pun mulai memperkenalkan Nia pada teman-temannya.


“Hai Dika, salam kenal ya hehe.” Nia pun tersenyum manis dan ikut melambaikan tangannya pada Dika.


“Dan yang ini, dia ini temenku yang baru aja balik dari London, namanya Lucas.” Ucap Aryo lagi sembari menunjuk ke arah Lucas.


Melihat Lucas, membuat Nia mendadak jadi terdiam, sebelumnya ia tidak terlalu memperhatikan wajah mereka, ia hanya fokus pada Aryo yang ia kenal. Namun ketampanan Lucas, nyatanya berhasil membuatnya terkesima saat pandangan pertama.


“Hai!” Sapa Lucas singkat, dengan sebuah senyuman tipis yang seolah dihasilkan karena keterpaksaan.


“Oh hmm, ha,,, haaii Lucas, senang bisa berkenalan denganmu.” Nia yang gugup akhirnya seketika menjulurkan tangannya ke arah Lucas, yang padahal hal itu tidak ia lakukan terhadap Dika.


Nia menatap Lucas dengan sebuah senyuman yang begitu manis, lagi-lagi ia terpana, ia terpaku akan ketampanan Lucas yang menurutnya wajah tampan seperti Lucas benar-benar sangat langka.


"Yang satu ini, visualnya keliatan yang paling dominan di antara ketiganya, bahkan mungkin juga paling dominan dari semua pengunjung cafe malam ini." Gumam Nia dalam hati.


“Ya, nice to meet you too.” Jawab Lucas yang akhirnya terpaksa membalas jabatan tangan Nia.


Namun tautan tangan itu hanya terjalin beberapa detik saja, karena setelahnya, Lucas langsung menarik kembali tangannya, seolah memang tidak berminat untuk berlama-lama berada di posisi itu, dan sudah jelas, hal itu terjadi karena Lucas tidak merasa adanya rasa ketertarikan pada Nia maupun kedua temannya yang lain.


“Oh ya, kenalin juga ini temen-temenku.” Kali ini gantian giliran Nia yang mengenalkan teman-temannya pada mereka semua.

__ADS_1


Dika dan Aryo pun menyambut mereka dengan sangat hangat dan ramah, tapi tidak dengan Lucas yang tetap memasang wajah datar, seolah ia merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang asing di mejanya.


Bersambung…


__ADS_2