Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Perginya sang pujaan hati


__ADS_3

“Hahh?! kok bisa gitu? Hmm, Jangan-jangan dia orang yang pelit ya? hahaha.” Vino pun kembali tertawa lebar..


Belum sempat Mitha menjawabnya, Vino dengan cepat kembali bertanya seolah ia sangat penasaran.


“Oh ya, gimana wajah anak sulung pak Presdir? Pasti ganteng ya?” Tanya Vino lagi yang menatap Mitha dengan senyumannya yang khas.


Hal itu sejenak membuat Mitha terdiam, memandangi senyuman Vino dari jarak yang cukup dekat, benar-benar mampu membuatnya merasa jadi jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Kak Vinoo, gimana bisa kamu berfikir lelaki menyebalkan itu ganteng?? Tapi anggaplah kalau pun ternyata dia memang ganteng, tidak peduli seberapa gantengnya dia, bagiku tetap kamu yang paling ganteng kak.” Gumam Mitha dalam hati sembari ikut tersenyum tipis.


Saat itu dahi Vino pun mulai mengkerut saat memandangi Mitha yang terus memandanginya tanpa respon sedikit pun, membuatnya langsung memetikkan jarinya di hadapan Mitha, hingga membuatnya sontak tersadar.


“Eh, eng,, enggak kak!" Jawab Mitha spontan.


“Enggak??? Apanya yang enggak Tha? Are you ok kan?" Tanya Vino yang terlihat sedikit bingung.


“Mak,, maksudnya aku gak ketemu sama dia di bandara tadi. Entah aku yang kelamaan sampai di bandara atau dia yang terlalu tergesa-gesa, yang jelas dia udah pulang ketika aku sampai.” Jelas Mitha secara singkat.


“Ohh really?”


Mitha pun hanya mengangguk pelan.


“Hmm, sayang banget ya,”


“Sayang kenapa kak?”


“Oh enggak ada hehe. Lagi pula, nanti malam juga kalian ketemu dengan anak pak Presdir yang di gadang-gadang ganteng itu.”


“Kalian?? Terus kak Vino? Kakak gak dateng ke acara syukuran nanti malam?” Mitha pun mulai mengerutkan dahinya.


Kali ini, giliran Vino yang menggelengkan pelan kepalanya sembari tersenyum lirih.


“Hah?? Ta,, tapi kenapa kak?” Tanya Mitha sedikit terkejut.


“Aku ada perjalanan tugas ke beberapa kota selama 1 atau 2 bulan, Eemm gak tau juga pastinya sampai kapan.”


“Hah???!” Mitha pun seketika terbelalak.


“Kenapa? Kok kamu kayak kaget banget gitu Tha?”

__ADS_1


“Oh ti,, tidak kak, ak,, aku hanya…”


“Hehehe hal ini adalah hal yang wajar jika udah menjabat sebagai GM Tha, jadi kamu gak perlu kaget gitu.” Jelas Vino dengan lembut.


“Memangnya kapan kakak berangkatnya? Kok kayaknya mendadak banget?”


“Sama sekali gak mendadak kok, agenda ini memang udah di jadwalkan dari beberapa Minggu yang lalu, tapi mungkin kamunya aja yang baru tau hal ini hari ini hehehe” jawab Vino masih dengan senyumannya yang hangat.


Mitha pun terdiam, perasaan sedih kini menjalar masuk ke hatinya, senyuman yang tadinya begitu berkembang, seolah layu bagaikan bunga yang tak lagi disirami.


“Dan rencananya aku pergi setelah makan siang ini, itulah sebabnya aku gak bisa datang ke acara nanti malam.” Tambah Vino lagi.


“What???!!” Kali ini, Mitha pun berhasil dibuat semakin terbelalak.


“Hahaha kamu ini kenapa sih Tha?? Kenapa dari tadi keliatannya kamu kaget terus tiap kali aku ngomong?? bahkan aku juga jadi ikut kaget saat liat ekspresimu begitu hehehe.”


“Se,, setelah makan siang ini kakak langsung pergi?? Ke,, kenapa cepat sekali kak?” Mitha pun semakin bertambah lesu.


“Ya mau gimana lagi Tha, namanya juga kerjaan, di kejar deadline pula hehehe.”


Mitha pun kembali terdiam, ia mendadak jadi begitu murung dan mulai menundukkan kepalanya. Tak lama pelayan pun kembali datang dengan sudah membawa makanan dan minuman yang mereka pesan.


Sangat berbeda dengan Mitha, rasa laparnya mendadak lenyap begitu saja saat mengetahui jika dirinya tidak bisa bertemu dengan Vino dalam waktu yang sangat lama baginya. Mitha dengan tatapan sendu, diam-diam terus memandangi wajah Vino yang kala itu mulai menyantap makanan miliknya dengan tenang.


“Gimana aku bisa sanggup jalani hari-hari tanpa ngeliat kak Vino di kantor? Sedangkan hari Minggu, saat libur kerja aja aku berharap agar hari itu cepat-cepat berganti jadi hari Senin. Dan ini, sebulan, dua bulan, dan bahkan gak tau pasti sampai kapan? Apa aku sanggup??” Gumam Mitha lirih di dalam hatinya.


Namun kesedihan itu, hanya Mitha yang tau, bahkan hingga saat ini, ia masih sama sekali tidak berniat untuk mengutarakan perasaannya pada Vino. Dan hal itu pula lah yang membuat Mitha seolah tak mampu berbuat apapun, ia sama sekali tak kuasa untuk menahan kepergian Vino, apalagi membujuknya untuk tetap tinggal, itu adalah suatu hal yang nyaris tidak mungkin ia lakukan. Karena meskipun dalam hatinya sangat tergila-gila pada Vino, ia pun juga memiliki rasa gengsi yang begitu tinggi dan cenderung menjadi sangat pemalu pada seseorang yang dia sukai.


“Hei Tha,” Vino kembali menepuk pelan pundak Mitha karena menyadari ia sama sekali belum menyentuh sedikit pun makanannya.


“Eh iyaaa.” Untuk kesekian kalinya Mitha tersentak dari lamunannya.


“Kenapa masih melamun sih?? Itu makananmu kesian kalau terlalu lama di anggurin, nanti mereka protes loh karena kamu kacangin.”


Mitha pun melirik lesu ke arah makanan miliknya.


“Ayo makan lah.”


“Emmm iya kak.” Ucapnya pelan.

__ADS_1


Mitha akhirnya mulai menyantap makanannya dengan sangat tidak bersemangat, sembari beberapa kali ia mencuri-curi pandang untuk melirik ke arah Vino walau hanya beberapa detik.


Setengah jam berlalu, Vino sudah berhasil menghabiskan makanan miliknya lebih dulu. Ia pun kembali melirik ke arah Mitha yang masih dengan lesu menyantap makanannya. Vino memandanginya dengan senyuman, lalu menggelengkan pelan kepalanya sembari meraih selembar tisu yang ada di atas meja.


“Seorang Sekretaris pribadi Presdir yang begitu handal, tapi ternyata saat makan masih aja kayak anak kecil hehehe.” Ucap Vino sembari dengan tenang mulai mengusap sisa makanan yang ada di ujung bibir mungil Mitha.


Hal itu pun cukup membuat Mitha terkejut sekaligus kedua pipinya mulai memerah karena malu, ia pun dengan cepat meraih tisu itu dari tangan Vino dan kembali mengusap bibirnya sendiri.


“Eh maaf kak, aku bener-bener gak sadar.”


“Gak apa-apa, lagi pula aku suka kok melakukannya.” Jawab Vino dengan tenang.


Mendengar hal itu, sontak membuat Mitha terdiam, wajahnya yang sendu mendadak semakin memerah layaknya kepiting rebus, dan entah kenapa mendadak pula tenggorokannya terasa aneh hingga membuatnya terbatuk.


“Ma,, maksud kak Vino?” Tanyanya dengan sedikit gugup dan malu-malu.


Vino pun kian melebarkan senyumannya, namun belum sempat menjawab, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Vino dan Mitha


“Pak Vino.” Panggil orang itu.


Vino dan Mitha pun menoleh secara serentak ke arah sumber suara, ternyata suara itu berasal dari seorang lelaki yang masih sangat muda yang tak lain adalah bawahan Vino di kantor. Berawal dari anak magang yang dijadikan asisten kedua oleh Vino, hingga akhirnya kini lelaki yang dikenal bernama Prass itu benar-benar di rekrut oleh Vino sesaat setelah ia di angkat menjadi GM.


“Oh Prass, gimana Prass? Apa semua sudah siap?”


“Pak, semua berkas yang nanti bakal kita butuhkan selama di luar kota sudah saya siapkan, begitu juga dengan pakaian dan perlengkapan lainnya, semua sudah ada di mobil.”


“Eemm ok, good! lalu gimana dengan segala kebutuhanmu? Apa sudah juga?” Tanya Vino memastikan lagi.


“Sudah pak. Dan kita boarding jam 16:10 pak.”


“Oh ya?? Hmm, kalau begitu kita berangkat sekarang!"


“Baik pak, kalau begitu saya tunggu di mobil ya pak.”


“Eeemm.” Vino pun mengangguk singkat.


Mendengar hal itu, membuat hati Mitha semakin terasa sedih dan pilu, seolah benar-benar tidak siap melepas kepergian Vino yang terkesan begitu mendadak baginya. Bahkan raut wajah murungnya pun tak bisa ia sembunyikan lagi dari Vino kala itu.


...Bersambung…...

__ADS_1


__ADS_2