
Tak terasa jarum jam kini sudah mengarah ke pukul 12.15 siang, Lucas keluar dari ruangannya dengan membawa raut wajahnya yang masam efek dari kejadian interview sebelumnya.
Dan kebetulan, disaat yang sama Ronald pun nampak tengah melangkah menuju ke ruangannya.
"Papa kesini??"
"Ayo kita makan siang di luar." Ajak Ronald.
"Hmm." Lucas pun hanya mengangguk pelan dan langsung melangkah menuju lift bersama Ronald.
Beberapa puluh menit berlalu, kini Lucas dan Ronald sudah terduduk di s.alah satu cafe yang ada di sebual mall yang terletak tak jauh dari gedung perkantoran mereka.
"Jadi gimana? Apa mulai besok Sekretaris barumu udah bisa masuk kerja?" Tanya Ronald yang sama sekali belum tau kejadian.
Saat itu Lucas hanya menggelengkan pelan kepalanya sembari terus mengaduk-aduk minuman yang ia pesan dengan tatapan kosongnya.
"Loh kenapa?" Tanya Ronald yang mulai mengernyitkan dahinya.
"Belum ada yang cocok, pa!"
"Hah?! Impossible!"
"Beneran pa, gak ada satupun!" Jawabnya tak bersemangat.
"Dari tujuh orang, gak ada satu orang pun yang sesuai??" Tanya Ronald lagi.
"Iya. Selalu ada aja dari mereka yang bikin gak srek! Baik dari sikap, cara berbicara, wawasan, maupun penampilan. Aku pengen orang yang jadi Sekretarisku itu adalah orang yang emang bener-bener punya value pa, bukan cuma mengandalkan fisik aja."
"Tapi setidaknya kamu bisa rekrut yang paling baik aja dari ketujuh perempuan itu."
"Gak ada yang paling baik, semuanya sama aja! Bener-bener buang-buang waktu!"
"Jadi gimana? Gak mungkin kamu menghandle semuanya sendiri kan?!"
Pertanyaan itu pun sontak membuat Lucas terdiam sejenak.
"Hmm bahas itu nanti aja, kita makan aja dulu ya pa."
"Hmm ok deh,"
Selesai makan, Lucas memutuskan untuk langsung kembali ke kantor. Entah kenapa saat itu ia ingin sekali melihat Mitha, karena sejak pagi tadi ia sama sekali tidak ada melihat gadis yang selalu menatapnya dengan sinis itu.
"Sekretaris papa, apa dia kerja hari ini? Aku gak ada liat dia dari tadi." Tanya Lucas saat mereka dalam perjalanan untuk kembali ke kantor.
"Of course dia kerja hari ini. Mitha itu, dia gak bakal pernah mau libur kerja selain tanggal merah ataupun dia bener-bener sakit yang lumayan parah. Kalau cuma demam biasa, hmm itu bukan alasan baginya,"
__ADS_1
"Hmm Really?"
"Iya, loyalitasnya terhadap perusahaan sangat besar. Itu juga salah satu alasan kenapa papa selalu banggain dia, hehehe." Ronald pun tersenyum,
Lucas pun memilih diam, meski dalam hatinya, ia terus bergumam.
"Hmm tapi kenapa juga aku harus nanyain dia sama papa? Apa itu penting??" Gumamnya.
"Oh ya, papa pengen banget nanyain satu hal ini sama kamu,"
"Nanya apa pa?"
"Menurutmu Mitha orangnya gimana?"
"Gimana apanya??" Lucas pun mulai mengernyitkan dahinya.
"Menurut pandanganmu sebagai laki-laki, Mitha itu cantik enggak?" Tanya Ronald sembari tersenyum penuh makna saat menatap anak sulungnya,
"Hmmm,," Lucas nampak tengah berpikir.
Padahal sebenarnya ia sudah tau jawabannya tanpa harus dipikirkan lagi, tapi rasa gengsi lah yang membuatnya memerlukan waktu lebih lama untuk menjawab, bahkan untuk mengatakan jika Mitha memang cantik saja lidahnya terasa sangat berat,
"Hmm not bad lah!" Jawab Lucas akhirnya yang seolah bersikap datar.
"Haaaiss pa, kenapa tiba-tiba bahas kegitu sih? Apa itu penting ya?"
"Hmm papa cuma pengen tau seleramu aja, papa pengen tau sebagus apa penilaianmu terhadap seseorang,"
"Hmm kalau untukku, cantik itu nomor dua!"
"Terus nomor satunya apa?"
"Aku bakal lebih cepat tertarik sama perempuan yang bisa bikin aku penasaran." Jelas Lucas yang kali itu mulai ingin terbuka pada papanya,
"Oww really?" Ronald pun kembali tersenyum.
"Iya! Kalau cuma cantik, ketujuh perempuan tadi pagi bisa dibilang juga cantik semua, tapi gak ada satupun yang bikin tertarik, karena apa? Karena mereka sama sekali gak bikin penasaran." Ungkap Lucas lagi.
Ronald pun mulai mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengar penjelasan putra sulungnya itu, lalu lagi-lagi ia kembali tersenyum dan menatap Lucas dengan tatapan tak biasa.
"Terus, gimana dengan Mitha? Dia bikin kamu penasaran enggak?" Tanya Ronald yang semakin melebarkan senyumannya,
Mendapat pertanyaan seperti itu, sontak membuat Lucas seketika jadi merasa gugup dan gelagapan.
"Paaa??! What's wrong with you, pa? Kenapa terus nanyain si Sekretaris itu sih?"
__ADS_1
"Hehehe tinggal jawab aja apa susahnya?? Iya atau enggak?"
"Hmm apasih pa? Kayak gak ada pembahasan lain aja!"
"Kamu bahkan juga gak jawab enggak, kalaupun Mitha sama sekali gak bikin kamu penasaran. Itu artinya....???" Ronald pun semakin menyeringai.
"Ar,, artinya apa??" Lucas pun semakin gelagapan.
"Hahaha I know son, I know. Udah, gak perlu malu, papa juga laki-laki hehehe." Ronald pun menepuk-nepuk pundak Lucas lalu kemudian kembali menyandarkan diri ke sandaran kursi mobil sembari terus tersenyum memandangi jalanan dari kaca jendela.
Sementara Lucas, ia hanya bisa terdiam dengan rasa gugup yang tiba-tiba saja menyerangnya saat dicerca pertanyaan jebakan seperti tadi oleh papanya sendiri.
"Kalau di pikir-pikir, aku memang cukup penasaran sama cewek barbar itu, apa itu artinya aku....???" Lucas pun mulai bergumam dalam hati,
"Oh no!! Big no!! Aku gak bakal pernah sudi suka sama cewek barbar itu!" Tambahnya lagi yang terus meyakinkan dirinya,
Detik demi detik, menit demi menit sudah berlalu, kini mobil mewah Ronald kembali terparkir di sisi mobil Lucas.
"Gus, kalau kamu mau istirahat, kamu boleh pulang sekarang, nanti saya bisa pulang sama Lucas." Ucap Ronald pada supir pribadinya yang bernama Agus.
"Oh iya pak, makasih banyak pak."
"Iya, ya udah ya, hati-hati."
"Iya pak, saya permisi dulu.
Ronald dan Lucas pun kembali memasuki gedung kantor, mereka berjalan dengan begitu tenang meski pada saat itu jarum jam sudah mengarah ke pukul 14.10 siang, tidak ada yang bisa memarahi bos, mau jam berapa pun mereka datang.
"Apa papa ada kesibukan lagi?" Tanya Lucas begitu mereka baru saja memasuki lift.
"Hmm, kayaknya hari ini udah gak ada meeting. Papa bakal sedikit santai di ruangan, kenapa?"
"Ada banyak berkas di mejaku yang ingin aku arsipkan, tapi aku belum terlalu paham pola pengarsipan di kantor ini seperti apa. Ini seharusnya tugas Sekretaris, tapi berhubung aku belum punya, bisa gak papa....?"
"Oh ok, no problem hehe. Nanti papa bakal suruh dia datang untuk bantuin kamu." Jawab Ronald yang langsung memotong ucapan Lucas.
"Dia?? Mak,, maksud papa dia siapa?"
"Hehehe papa udah ngerti ke arah mana pembicaraanmu, nak! Udah tenang, Mitha akan segera datang ke ruanganmu, ok?" Ronald pun kembali melebarkan senyumannya.
"Ini akan jadi jalan yang baik untuk mendekatkan Lucas dan Mitha, aku yakin Lucas mulai tertarik dengan Mitha, semoga aja!" Gumam Ronald dalam hati.
Lucas lagi-lagi terdiam, dalam hati dia cukup senang, tapi di sisi lain juga gugup dan gelagapan, karena lagi-lagi juga papanya bisa dengan mudah menebak pikirannya.
...Bersambung......
__ADS_1