
Lucas menerima telepon sembari mulai menapaki satu persatu anak tangga untuk menuju ke kamarnya dengan langkah tenang. Saat itu yang meneleponnya adalah Yoseph, teman satu kampusnya saat berkuliah di London sekaligus juga rekan kerja part timenya saat menjadi animator untuk beberapa project perfilman di Inggris yang cukup ternama.
“Lucas, kapan kau balik kesini?” Tanya Yoseph yang terdengar sedikit cemas.
“I don’t know, but, mungkin aku gak bakal balik lagi kesana!” Jawab Lucas ringan.
“What?? Kau bilang apa??! Gak bakal balik lagi??” Yoseph terdengar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Ya, maybe.”
“Oh Bro please, Don’t!” Pinta Yoseph seolah penuh harap.
“Why?”
“Bro, come on! Kau tau project yang kita jalani disini cukup besar dan sangat menjanjikan dari segi materi, gak mungkin kau bakal ninggalin ladang emas gitu aja kan?”
“Yes, I know! But,,,” Ucapan Lucas terhenti sejenak, dan entah kenapa, tiba-tiba saja ia merasa jika ia sudah terlanjur nyaman saat kembali ke negara asalnya.
Seolah saat itu Lucas benar-benar enggan untuk kembali ke London, terlebih lagi, di saat yang sama, ada seorang gadis yang berhasil menimbulkan rasa penasaran pada diri Lucas terhadapnya. Gadis yang tak lain ialah Mitha, kini tanpa ia sadari, ia telah berhasil membuat seorang Lucas Armando, merasa cukup tertarik dan penasaran setengah mati padanya. Hal itu bisa terjadi karena sikap Mitha, sikap Mitha yang seolah begitu acuh dan ketus padanya, benar-benar lain dari pada yang lain, yang selama ini tidak pernah Lucas alami dari wanita-wanita lain yang pernah ia temui.
“But why, Bro??” Tanya Yoseph.
“Entah lah, tapi kayaknya aku butuh waktu untuk berpikir.” Ungkap Lucas yang mendadak merasa bimbang.
“Ok, tolong kau pikirin lagi dengan matang, Bro. Kau harus ingat, saat kau disini, berapa banyak uang yang telah kita raup saat berhasil mengerjakan satu project animasi. Dan kalau kau gak balik lagi kesini, apa kau yakin disana kau akan mendapatkan penghasilan yang sama seperti disini??? Jadi tolong kau pikirkan!” Ungkap Yoseph yang benar-benar berharap jika Lucas akan kembali.
Yoseph sama sekali tidak tau, jika keluarga Lucas adalah keluarga yang kaya raya, pemilik perusahaan yang masuk ke dalam daftar lima perusahaan termaju dan terbesar di negaranya. Dan Lucas, ia memang sengaja tidak memberitahukan tentang latar belakang keluarganya saat ia merantau ke London. Karena bagi Lucas, tidak ada gunanya juga ia memberitahukan tentang kekayaan keluarganya pada teman-temannya di London, selain tidak mau dinilai sombong, hal itu juga bertujuan untuk menghindari orang-orang yang ingin memanfaatkannya saja.
“Ya, aku tau! Jadi biarin aku berpikir dulu untuk beberapa waktu, kalau udah ada keputusan, aku bakal langsung menghubungimu, ok?”
__ADS_1
“Ok bro, tapi aku masih berharap kau tetap balik kesini. Ok, salam untuk keluargamu disana ya, bye.”
“Bye.” Jawab Lucas singkat yang kemudian langsung mengakhiri panggilan.
Lucas meletakkan ponselnya ke atas nakas yang ada di sisi ranjang, lalu ia beralih menuju balkon yang ada di kamarnya. Ia berdiri memandangi hijaunya dedaunan dari taman yang ada di depan rumahnya, membiarkan angin yang berhembus sepoi-sepoi menyentuh permukaan kulitnya yang cukup bersih untuk ukuran seorang lelaki. Lucas pun termenung, dengan pikiran yang kembali berkelana bebas sesukanya, tanpa hambatan. Semakin dalam ia berpikir, semakin nyata jawaban yang diberikan oleh hati dan pikirannya.
“Hampir lima tahun aku hidup sendirian di London, no family, no love, sehari-hari cuma menjalani rutinitas yang sama, saat weekend cuma bisa sendirian di tengah hiruk pikuknya kota London yang super sibuk. Aku menghasilkan banyak uang, tapi saat disana uang itu cuma bisa kunikmati sendiri. Keluargaku? Hmm, mereka udah sangat kaya, jelas gak bakal butuh uangku.” Gumam Lucas dalam hati dan pikirannya.
“Kalau aku balik kesana, itu artinya aku bakal balik lagi menjalani hidup yang sama, rutinitas yang sama, bener-bener monoton dan membosankan. Tapi kalau aku stay disini, aku bisa aja kerja dengan papa, berkumpul dengan keluarga, bahkan ada banyak hal yang bisa kulakukan disini, terutama ngerjai perempuan itu, bisa terus-terusan bikin dia kesel hahaha oh god, itu bener-bener sangat menyenangkan.” Ungkap Lucas yang terus berceloteh seorang diri.
Lucas semakin menemukan jawaban atas kebimbangannya, namun ia tidak mau langsung mengabari Yoseph, ia pun berniat untuk memikirkannya sedikit lebih lama lagi, karena ia tidak mau merasa menyesal dengan keputusan yang nantinya akan berpengaruh besar bagi hidup dan masa depannya.
Berhenti sampai disana, Lucas akhirnya menyudahi lamunannya dan kembali melangkah memasuki kamarnya. Ia berbaring di atas ranjangnya yang empuk, entah kenapa saat melirik ke arah ponsel, ia tiba-tiba saja kembali teringat pada Mitha. Ia pun langsung meraih ponsel pintarnya dan kembali membuka akun sosial media milik Mitha.
Senyumnya terlihat sedikit mengembang saat melihat jika Mitha memiliki update-an terbaru tepat satu jam yang lalu. Di update-annya tersebut, Mitha nampak menuliskan:
Lucas yang membaca tulisan itu pun seketika dibuat mengernyitkan dahi serta sebuah senyuman yang sulit untuk diartikan.
“Oh wait, wait! Jangan bilang dia nulis ini untuk nyindir aku? Hahaha.” Celetuk Lucas terkekeh.
“Ah bener, gak salah lagi, ini pasti tentang aku, aku yakin orang menyebalkan yang dia maksud adalah aku.” Tambah Lucas lagi yang semakin mengembangkan senyumannya, seolah benar-benar puas saat mendapati Mitha yang curhat tentang dia di media sosial miliknya.
“Berani-beraninya dia curhat tentang aku di media sosialnya, apa aku beneran sespesial itu ya??” Lucas pun mendengus lalu memiringkan senyumannya.
-Malam hari-
Makan malam berlangsung dengan damai seperti biasa di kediaman keluarga Ronald, Lucas yang telah berhasil menghabiskan makan malamnya lebih dulu, mulai menatap ke arah Ronald dan berkata,
“Pa, selesai makan malam ini, boleh kita bicara?” Tanyanya dengan sikap tenang,
__ADS_1
“Bicara?? Hmm sure.” Jawab Ronald sembari tersenyum tipis.
"Kita bicaranya di ruang kerja papa aja ya, sekalian ada yang mau papa kerjakan disana."
"Ok pa, gak masalah." Jawab Lucas yang ikut tersenyum.
Selang beberapa menit setelah makan malam selesai, Ronald pun langsung meminta Lucas untuk ikut bersamanya ke ruangan kerja pribadinya.
“Mama naik duluan aja ke kamar, papa mau ngobrol dengan Lucas dulu.” Pinta Ronald pada Nonna yang kala itu masih terduduk bersama dengan Dara.
“Iya pa.” Nonna pun mengangguk lalu tersenyum manis.
“Kenapa bicaranya gak disini aja sih??!” Celetuk Dara yang merasa penasaran.
“His, ini urusan laki-laki, anak kecil tidur sana!” Jawab Lucas santai.
Dara pun menggeram kesal karena lagi-lagi di panggil anak kecil oleh kakaknya.
Lucas pun hanya terkekeh sebelum akhirnya ia mulai beranjak mengikuti langkah Ronald menuju ruang kerjanya yang berada tak jauh dari ruang keluarga.
“Memangnya apa yang mau kamu bicarakan dengan papa? Apa ini tentang pembahasan kita tadi pagi?” Tanya Ronald sembari mulai duduk di kursi kerjanya.
“Oh no, no! Bukan itu pa!” Tegas Lucas yang ikut duduk di kursi yang berada di depan meja kerja ayahnya.
“Oh bukan ya? Terus tentang apa?” Ronald pun mulai merasa penasaran.
“Hmm gini pa, kalau aku stay disini dan gak balik lagi ke London, apa boleh?” Tanya Lucas to the point, tanpa basa basi.
...Bersambung…...
__ADS_1