
Lelaki itu pun terkejut.
“Hah?! Be,, beneran mbak?? Mbak Mitha yakin bersedia bantu saya?” Tanya lelaki itu seolah sangat tidak menyangka.
“Iya, mana berkasnya? Serahkan aja sama saya!” Jawab Mitha tersenyum.
“Oh iya mbak, ini,, ini berkasnya.” Lelaki itu pun bergegas memberikan beberapa map yang berisi lembaran kertas laporannya pada Mitha.
Mitha meraih beberapa map itu, memeriksanya sejenak, lalu ia kembali menatap lelaki itu dengan tenang serta senyuman tipisnya.
“Hmm ok, besok pagi kamu bisa ambil ke ruangan saya ya.” Ucap Mitha.
“Baik mbak, terima kasih banyak sebelumnya ya mbak Mitha, terima kasih sudah mau repot-repot menolong saya.”
“Iya sama-sama.”
Mitha pun melanjutkan langkahnya, memasuki lift yang akan membawanya turun ke loby. Dengan tenang ia terus melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan lobby. Namun sesaat setelah masuk ke dalam mobil, Mitha yang sebelumnya terlihat begitu tenang, mendadak mulai mengerutkan dahinya dan merasa panik saat mobilnya tidak bisa di starter.
“Loh, loh, apa-apaan ini?!!” Gumamnya seorang diri.
Mitha pun mencoba untuk menstarter mobilnya hingga beberapa kali, namun hasilnya tetap sama. Hal itu pun cukup membuatnya kesal dan mulai mengeluh.
“Haaiihh, bener-bener gak tau situasi dan kondisi banget ni mobil, kenapa disaat kegini malah mogok!!” Gerutu Mitha yang menggeram seorang diri di dalam mobilnya.
Mitha pun akhirnya kembali keluar dari mobilnya dengan membawa perasaan kesal, tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, ia pun langsung berinisiatif untuk memesan taksi online. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, kini taksi online yang dipesan olehnya telah datang menjemput di depan lobby utama kantor.
Mitha bergegas masuk, dan duduk dengan tenang di dalamnya, ia kembali meraih ponselnya untuk menelepon montir dari salah satu bengkel langganan keluarganya. Lalu memintanya untuk mengecek mobilnya serta membawanya ke bengkel untuk diperbaiki. Selesai urusan mobil, akhirnya Mitha bisa kembali menghela nafas lega, dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, benar-benar hari yang sangat melelahkan baginya,
Setengah jam berlalu, mobil yang ditumpangi Mitha akhirnya tiba di depan pekarangan rumah mewah milik bossnya.
“Ini pak,” Ucap Mitha sembari memberikan selembar uang berwarna merah pada sang supir.
“Kembaliannya ambil aja pak.” Tambahnya lagi yang langsung bergegas keluar dari mobil itu.
Mitha melangkah pelan menuju pintu utama rumah Ronald, kebetulan sekali, saat itu ada seorang pembantu yang sedang menyiram tanaman bunga di taman bagian depan rumah itu..
“Ehh mbak Mitha kan? Sekretarisnya pak Ronald di kantor?” Tanya bik Nur, seolah ingin lebih memastikan.
“Hehehe iya bi.” Jawab Mitha sembari tersenyum ramah.
“Aahh bener kan mbak Mitha, soalnya bibi lupa-lupa ingat juga hehehe tapi bibi yakin sih, karena bibi liat wajah cantiknya kayak gak asing hehehe.” Bik Nur pun ikut tersenyum.
“Ah bibi bisa aja deh hehe.” Mitha pun mulai tersipu malu.
“Oh ya bi, saya kesini mau ketemu dengan pak Ronald, ada berkas yang harus di tanda tangani, Penting bi, bapak ada di rumah kan?” Tanya Mitha lagi.
“Oh ada mbak, bapak dan ibu lagi duduk di ruang keluarga.” Jelas bik Nur sembari mulai meletakkan selang penyiram bunga yang sebelumnya tengah ia pegang ke rerumputan.
“Kalau gitu mari mbak, silahkan masuk.” Bik Nur pun langsung bergegas mempersilahkan Mitha untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Mitha pun kembali tersenyum dan mengangguk singkat, lalu mulai ikut masuk mengikuti langkah bik Nur. Bik Nur terus melangkah tenang, membawanya masuk ke ruang tamu yang letaknya di sisi sebelah kiri rumah.
“Silahkan duduk dulu ya mbak, bibi mau ngasi tau ibu dan bapak kalau mbak Mitha ada disini."
“Iya bik, terima kasih sebelumnya.” Mitha pun duduk di sebuah sofa yang empuk.
Ruang tamu di rumah itu terbilang sangat indah dan nyaman, tepat di depan sofa tempat dimana Mitha terduduk, ada sebuah sekat dan pintu yang terbuat dari kaca transparan, yang dimana pintu itu dapat langsung menghubungkan ruang tamu itu ke taman samping rumah yang semakin terlihat menarik karena ada kolam renangnya.
Sore itu, Ronald dan Nonna tengah duduk berdua di sebuah sofa empuk nan panjang, menikmati secangkir teh hangat sembari menonton sebuah film lawas favorit mereka berdua sejak dulu.
“Pa, papa benar gak papa? Apa gak perlu check up ke Dokter?” Tanya Nonna yang masih sedikit merasa cemas pada kesehatan suaminya yang akhir-akhir ini sering menurun.
“Gak papa ma, papa cuma perlu istirahat aja dalam dua hari ini, itu aja udah cukup. Mungkin akhir-akhir ini papa terlalu sering kelelahan, makanya jadi sedikit drop.” Jawab Ronald sembari menyeduh pelan teh hangat miliknya.
Tak lama, Bik Nur pun muncul.
“Maaf mengganggu pak, bu.”
“Kenapa bi?” Tanya Nonna dengan lembut.
“Itu bu, ada mbak Mitha di depan, katanya ada berkas yang harus ditandatangani oleh bapak.” Jelas bi Nur.
"Mithaa???” Wajah Nonna sontak langsung berbinar saat mendengar kedatangan Mitha.
“Iya bu.”
“Aaah ya udah, saya bakal langsung kesitu.” Jawab Nonna dengan penuh semangat.
“Aduh ma, tanggung nih filmnya ma, mama duluan aja yang nyamperin Mitha ya, nanti papa nyusul.” Jawab Ronald yang ternyata sedang asyik menikmati film lawas kesukaannya, meskipun sebenarnya ia sudah berulang kali menonton film itu.
“Ya udah deh, mama temui Mitha sekarang ya pa.”
“Eemm.” Ronald pun menganggukkan kepalanya tanpa memalingkan tatapannya dari layar televisi.
Nonna melangkah penuh semangat untuk menghampiri Mitha, saat itu Mitha pun terlihat tengah duduk menunggu sembari membaca sebuah majalah.
“Mithaaa.” Panggil Nonna yang terlihat sangat senang dengan kedatangannya.
“Tanteee.” Mitha pun langsung berdiri untuk menyambut Nonna.
Nonna pun menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk Mitha, Mitha tersenyum dan langsung memeluk hangat tubuh Nonna dengan sebuah senyumannya yang khas.
“Apa kabar kamu sayang? udah baikan kan?” Tanya Nonna sembari melepaskan tautan tubuh mereka, lalu mengajak Mitha untuk kembali duduk.
“Udah kok tante hehehe.”
“Ah syukurlah hehe.”
“Tante, maaf banget ni, sore-sore gini Mitha terpaksa harus ganggu waktu istirahat om dan tante. Tapi ada berkas yang bener-bener penting yang butuh tanda tangan om.” Jelas Mitha singkat.
__ADS_1
“Oh gak papa sayang, lagian om juga lagi menonton film di dalam. Mana berkasnya? Sini biar tante suruh dia untuk langsung tanda tangan sekarang.” Nonna pun menjulurkan tangannya.
Mitha pun langsung menyerahkan beberapa berkas yang ia bawa.
“Ini tante, tanda tangani semua yang ada nama om di bawahnya, jangan lupa bilang sama om untuk sertakan stempel juga ya tante.”
“Iya siap bos hehe.” Nonna pun tersenyum dan kembali bangkit dari duduknya.
"Bik Nurr." Panggil Nonna kemudian sebelum ia beranjak pergi.
"Iya bu." Tak lama Bik Nur pun muncul.
"Bik, dimana Lucas? Saya mau ngenalin dia sama Mitha." Ucap Nonna sembari tersenyum lebar.
Mitha yang mendengar hal itu, sontak berceletuk dalam hatinya.
"Haiis, untuk apa kenalan sama cowok nyebelin itu, belum kenal aja udah bikin kesel, apalagi kalau udah kenal." Gumam Mitha dalam hati.
"Oh sepertinya tadi saya lihat dia pergi jogging bu,"
"Ohh gitu ya, hemm ya udah deh kalau gitu."
"Oh ya Bik Nur, tolong buatin minum ya untuk Mitha,"
"Iya bu, siap."
"Sekalian juga kue yang saya buat tadi siang, tolong di hidangin juga."
"Iya bu, beress."
“Mitha, kamu tunggu disini sebentar gak papa kan sayang?" Nonna kembali tersenyum pada Mitha sebelum akhirnya beranjak pergi menuju ruang keluarga.
“Iya tante, gak papa.”
Nonna kembali meninggalkan Mitha sendiri di ruangan itu, sementara Mitha, ia bermaksud untuk melanjutkan membaca majalah demi membunuh rasa bosan karena harus menunggu lagi. Namun hal itu sontak ia urungkan saat mendengar suara seperti ada seseorang yang melompat ke kolam renang.
*Kcebuarrrr*
Suara itu membuat Mitha langsung melirik ke arah kolam yang posisinya tepat ada di depannya, ia pun segera bangkit, lalu perlahan mulai melangkah kearah pintu kaca transparan, menuju taman yang cukup luas hingga akhirnya ia berdiri tepat di tepi kolam. Mitha memandangi kolam renang itu dengan sedikit heran, karena seingatnya ia baru saja mendengar suara cipratan air yang sangat besar, seperti ada yang melompat ke kolam, namun saat ia lihat ke kolam itu, seperti tidak ada siapapun yang berenang disana.
“Jadi tadi yang ku dengar suara apa ya?” Tanya Mitha seorang diri sembari terus memandangi ke arah kolam.
Kolam dengan air yang seolah berwarna biru tua itu memang nampak begitu tenang, membuat Mitha semakin heran dan penasaran hingga ia mulai duduk berlutut untuk memandangi ke arah dasar kolam agar lebih terlihat jelas. Namun tiba-tiba saja, hal yang tak terduga pun terjadi, dari dasar kolam yang tenang itu, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang begitu mengagetkan Mitha hingga membuatnya refleks berteriak.
“Aaaghhh!!!” Teriak Mitha yang spontan jadi terduduk saking terkejutnya.
Sama halnya dengan Mitha, lelaki yang muncul dari kolam itu pun ikut dibuat terkejut saat mendengar suara teriakan Mitha tepat ketika ia baru saja muncul ke permukaan air.
“Aaaaaaaa!!!” Teriak lelaki itu sembari dengan spontan memercik kan air kolam ke arah Mitha.
__ADS_1
“Heh stop!!” Bentak Mitha sembari terus menutupi wajahnya dengan kedua tangannya demi melindungi wajahnya dari siraman air.
...Bersambung......