
Lucas tiba di ruangannya dengan membawa wajah datar, tidak langsung duduk di kursi kerjanya, ia justru lebih tertarik untuk menuju ke arah jendela kaca yang berukuran sangat besar itu.
Menekan tombol pada remote control, membuat gorden dengan perlahan terbuka dan menampilkan pemandangan pagi hari yang cukup menyegarkan mata.
Tak terasa waktu dua puluh menit pun berlalu dengan cepat, suara ketukan pintu pun tiba-tiba terdengar hingga menyentakkan lamunan Lucas yang sejak tadi terus berdiri di depan jendela.
"Masuk!" Ucapnya singkat.
"Permisi pak, selamat pagi." Sapa salah seorang pegawai wanita yang diketahui sebagai HRD di perusahaan itu.
"Pagi," Lucas pun menoleh dan mulai melangkah dengan tenang menuju kursinya,
"Perkenalkan sebelumnya pak, saya Lia, HRD di kantor ini. Saya kesini untuk mengantarkan beberapa pelamar yang akan menjalani interview pak."
"Ohh hmm sudah dua puluh menit ya?"
"Saya baru dapat kabar dari Resepsionis, katanya sudah dua puluh menit dan dia meminta saya untuk membawa naik peserta interviewnya, dan sekarang mereka sudah ada di depan ruangan bapak,"
"Hmm ok kalau begitu, suruh mereka masuk satu persatu ke ruanganku."
"Baik pak, permisi." Lia pun kembali keluar untuk mulai memanggil satu persatu para wanita cantik itu untuk berhadapan langsung dengan Lucas.
Peserta interview pertama pun mulai masuk, Lucas menyambutnya dengan wajah datarnya seperti biasa. Lalu tanpa membuang waktu langsung menghujaninya dengan beberapa pertanyaannya yang menjadi point penting dalam mempertimbangan orang itu layak untuk menjadi sekretarisnya atau tidak.
Waktu terus berjalan, sejauh ini sudah ada Enam dari Tujuh orang yang sudah di interview secara langsung oleh Lucas. Namun entah kenapa dari keenam wanita cantik dan tentunya sudah berpengalaman di bidangnya itu, masih saja belum ada yang pas bagi Lucas.
"Sudah Enam orang yang masuk, tapi kenapa gak ada satupun yang bikin aku srek?!" Gumam Lucas dalam hati.
Dan tibalah saatnya wanita ketujuh dan merupakan wanita terakhir yang akan di interviewnya hari itu masuk ke dalam ruangan itu. Bisa di bilang, wanita itu berpenampilan paling terbuka di antara wanita-wanita yang sebelumnya.
Dengan memakai rok sepan yang ketat di atas lutut, tangtop hitam yang lumayan menampilkan belahan dadanya, lalu dibalut dengan sebuah blazer berwarna hijau mint yang benar-benar ngepress di tubuhnya.
Wanita itu langsung tersenyum begitu memasuki ruangan Lucas, dengan percaya diri ia pun langsung melangkah menuju kursi yang ada di hadapan Lucas dan mulai mendudukinya.
__ADS_1
"Selamat pagi pak Lucas." Sapanya dengan senyuman yang tak biasa.
"Pagi," Jawab Lucas yang meliriknya singkat, lalu kemudian langsung beralih memandangi CV nya.
"Mitha Riana Dewi?" Ucap Lucas begitu melihat CV nya.
"Benar pak." Jawab wanita yang memiliki rambut pirang itu sembari kembali tersenyum manis.
"Huh, namanya sama lagi dengan cewek bar bar itu, hmm semoga aja kualitasnya juga sama." Gumam Lucas lagi dalam hati,
"Baik, berhubung kamu yang terakhir yang menjalani interview hari ini, saya mau to the point saja!"
"Ok pak, mau to the point atau tidak, no problem."
"Hmm ok! Berhubung saya sudah cukup penat, jadi kali ini saya hanya akan mengajukan satu pertanyaan saja. Dan jika jawaban yang kamu bisa memuaskan bagi saya, membuat saya senang dan tertarik, saya akan langsung menerimamu sebagai Sekretaris pribadi saya." Ungkap Lucas dengan tenang.
Mendengar hal itu, membuat wanita cantik itu pun seketika kembali tersenyum penuh percaya diri.
"Kamu siap?"
"Sangat siap pak." Jawab wanita itu dengan nada begitu lembut.
"Ok, sebelumnya sudah ada Enam orang yang sudah masuk kesini dengan membawa pengalaman pekerjaan yang berbeda-beda dan kualitas yang berbeda pula, tapi sejauh ini belum ada yang terlalu membuat saya tertarik dari keenamnya. Jadi tolong jawab, menurutmu apa kelebihan yang kamu punya, yang tidak dimiliki enam orang sebelumnya, yang tentunya bisa membuat kamu di terima di perusahaan ini?"
"Hmm hanya itu saja?"
"Ya, cukup simple kan?" Jawab Lucas.
"Ok pak, saya akan jawab."
"Silahkan!"
"Kelebihan saya bila dibandingkan dengan enam orang sebelumnya, tentu saja banyak, pak. Selain saya lebih cantik, seksi, dan berpenampilan menarik, saya juga sudah berpengalaman beberapa kali menjadi sekretaris pribadi bos-bos besar." Jelas wanita itu dengan nada bicara yang semakin terdengar menggoda.
__ADS_1
Namun bagi Lucas yang mendengar hal itu, sontak membuat dahinya mulai mengkerut. Jawaban wanita itu benar-benar diluar ekspektasinya, bahkan jawabannya sama sekali tidak ada mengarah ke arah tentang keahliannya di dunia kerja.
"Dan bukan hanya itu saja pak, saya juga paling pintar membuat bos-bos saya merasa nyaman, puas, dan tentunya merasa happy." Tambahnya lagi sembari mulai menggigit bibir bagian bawahnya.
"Maksudnya??" Tanya Lucas yang dahinya terlihat semakin mengkerut.
"Aaaah bapak, saya yakin bapak tau maksudnya. Intinya, apapun yang bapak inginkan dari saya, saya akan berikan. Kapanpun dan dimanapun bapak mau, saya ladeni. Di ruangan ini, di mobil, apalagi hotel, dimanapun bisa. Yang pasti bapak akan puas, bapak bakal ketagihan, dan satu lagi pak,,,"
Wanita itu pun perlahan mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Lucas.
"Saya sangat mahir ketika posisi di atas, bapak bisa membuktikannya nanti." Bisik wanita itu yang kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Lucas.
Lucas pun seketika mendengus namun juga tercengang, karena wanita itu benar-benar sudah salah paham pada pertanyaannya. Namun hal itu justru membuatnya jadi tau seberapa nilai wanita itu, ia bahkan merasa geli dan jijik saat mendengar jawaban tak senonoh itu keluar dari mulut seorang perempuan yang melamar menjadi calon sekretaris di perusahaannya.
"Hmm begitu ya?" Tanya Lucas pelan yang saat itu ia masih benar-benar tidak percaya dengan jawaban yang barusan ia dengar.
Wanita itu pun mengangguk dan lagi-lagi menampilkan senyuman menggodanya.
"Kalau begitu,, silahkan pergi ke tempat pelacuran saja!! Saya sedang mencari Sekretaris, bukan pelacurrr!!!" Tegas Lucas yang tiba-tiba mulai meninggikan suaranya sembari menghentakkan tangannya ke atas meja.
Hal itu pun sontak membuat wanita itu terkejut hingga terperanjat.
"Sepertinya kau lebih berbakat jadi placurr ketimbang jadi Sekretaris! Jadi silahkan keluar dari sini dan pergi ke tempat dimana seharusnya kau pergi!!" Ketus Lucas lagi yang menatap wanita itu dengan begitu tajam.
Wanita itu pun ciut, ia langsung bangkit dari duduknya dengan rasa takut, dan bergegas keluar dari ruangan itu tanpa berkata sepatah katapun lagi.
Lucas kembali mendengus, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Haih, bener-bener gak habis pikir!! kenapa gak ada satupun yang beres?? Bener-bener buang waktu!!" Gerutunya seorang diri sembari memijiti pelipisnya.
Lucas benar-benar kesal, dari ketujuh wanita yang sudah berhadapan dengannya, tidak ada satupun yang memiliki value seperti Mitha. Awalnya Lucas membayangkan jika salah satu dari wanita itu ada yang memiliki kualitas melebihi Mitha dan membuatnya srek. Tapi ternyata tidak ada satu pun, baik itu dari sikap, penampilan, wawasan, dan lainnya, tidak ada yang membuat Lucas merasa penasaran seperti dia penasaran pada Mitha.
...Bersambung......
__ADS_1