Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Tidak tega


__ADS_3

Mitha pun hanya terdiam memandangi kepergian lelaki yang teramat sangat ia benci itu, lalu kembali fokus pada satu tumpukan berkas yang tersisa.


Namun tiba-tiba, ucapan Lucas secara mendadak sedikit mengusik ketenangannya. Mitha pun mulai memandangi ke sekeliling ruangan yang cukup besar itu dengan perasaan sedikit was-was. Tapi pada dasarnya Mitha adalah seorang gadis yang tidak terlalu penakut dengan hal-hal mistis, hingga membuatnya hanya menggelengkan kepalanya demi mengeluarkan pikiran-pikiran buruk di kepalanya.


"Huh! Lebih baik aku lembur bersama hantu asli, dari pada harus berduaan di ruangan ini dengan hantu berwujud manusia seperti kau!!" Gerutu Rhea seorang diri.


Sementara Lucas, saat itu ia terus melangkah menuju lift dengan membawa perasaan kesalnya terhadap Mitha. Suasana kantor saat itu benar-benar sudah sangat sepi, bahkan suara langkah kakinya jadi begitu terdengar jelas akibat saking sunyinya ruangan besar itu. Tanpa pikir panjang ia langsung memasuki lift yang langsung terbuka begitu ia menekan tombol "open"


Lucas terus berpikir selama berada didalam lift, ada perasaan tidak tega meninggalkan Mitha sendirian di ruangannya, disaat para staff kantor yang lain sudah berpulangan.


"Apa gak terlalu kejam ya kalau aku ninggalin dia sendirian disana?" Gumam Lucas dalam hati.


*Tingg*


Tak lama pintu lift pun kembali terbuka saat dia sudah berada di lantai dasar gedung pencakar langit itu. Di loby belum terlalu sepi, masih ada cukup banyak staff yang melintasi loby untuk menuju pintu utama.


Di ruang tunggu juga sudah ada Ronald yang duduk menunggunya dengan keadaan tengah memegang ponselnya.


"Pa?"


"Oh ini dia, papa baru aja mau nelpon kamu." Ucap Ronald yang kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya,


"Ya udah, yuk kita pulang!" Ronald pun mulai bangkit dari duduknya dan siap untuk melangkah keluar.


Tapi Lucas, saat itu ia sedikit ragu untuk mengikuti langkah papanya menuju pintu utama. Ronald yang menyadari hal itu, sontak menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Lucas yang masih berdiam diri belakangnya.


"Lucas, tunggu apa lagi?"


"Ak,, aku..."


"Ada apa?" Tanya Ronald yang kembali menghampirinya.


"Pa, papa bawa aja mobilku, kayaknya aku bakal tetap disini."


"Loh kenapa?" Ronald pun sontak mengernyitkan dahinya.


"Mitha pa, dia belum selesai arsipin semua berkas dan lebih milih untuk lembur hari ini, jadi kurasa bakal lebih baik kalau aku juga ikut lembur sama dia. Karena posisinya, dia lembur untuk tugas yang harusnya bukan jadi tugas dia."


"Jadi Mitha masih di ruanganmu???" Ronald pun nampak sedikit terkejut.


Saat itu Lucas hanya mengangguk pelan. Sementara Ronald, ia akhirnya kembali tersenyum, entah kenapa dia begitu senang mendengar keputusan anak sulungnya itu.


"Kamu mengambil keputusan yang tepat, nak!" Ronald pun semakin melebarkan senyumannya, sembari menepuk-nepuk pelan pundak sang putra.

__ADS_1


Saat itu Lucas hanya tersenyum tipis sembari menyerahkan kunci mobilnya pada papanya.


"Ini pa, papa bawa aja mobilku pulang, aku bisa naik taksi atau gampang lah nanti."


"Gak perlu, papa pulang naik mobil kantor aja, tuh kebetulan masih ada supir kantor." Ucap Ronald sembari menunjuk ke arah supir yang memang bekerja khusus untuk operasional kantor.


"Are you sure, pa?"


"Why not, hehe."


"Ya udah, papa pulang duluan ya."


"Ok pa, hati-hati."


Lucas melirik ke arah jam tangannya, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.35 sore, suasana kantor kian sepi, bahkan di loby juga begitu.


Lucas tidak langsung kembali ke ruangannya, ia memilih untuk berjalan keluar dari gedung, tepat di samping kantor mereka ada sebuah cafe yang hanya menjual berbagai jenis minuman dan cemilan saja.


Menyadari Mitha yang hari ini telah banyak membantunya, bahkan sampai rela lembur, membuat Lucas berinisiatif untuk membelikannya minuman dan beberapa cemilan demi menyemangatinya.


Beberapa puluh menit berlalu, Lucas akhirnya kembali memasuki gedung kantor dengan sudah membawa beberapa bungkus cemilan, mulai dari kentang goreng, mini pangsit goreng, pisang keju, jamur krispi, serta minuman lychee tea yang begitu menyegarkan.


Lucas melangkah dengan tenang keluar dari lift, terus melangkah untuk kembali ke ruangannya, tempat dimana ia meninggalkan Mitha seorang diri.


"Ohh, selamat sore pak Lucas."


"Sore, apa kamu yang berjaga?"


"Benar pak, saya kesini untuk mengecek dan seluruh ruangan di lantai ini."


"Ohh." Lucas hanya mengangguk singkat.


"Maaf sebelumnya pak, kenapa bapak belum pulang disaat yang lain sudah pulang? Apa ada masalah?"


"Oh tidak! Saya hanya ingin lebih lama di kantor, ada pekerjaan yang belum selesai."


"Oh baik pak, kalau begitu saya tidak akan mematikan listrik di lantai ini."


"Ok, terima kasih."


Lucas pun melanjutkan langkahnya, begitu pula dengan sang Security yang juga melanjutkan tugasnya untuk mengecek lantai lain.


*Ceklek*

__ADS_1


Mitha sangat terkejut saat mendengar pintu ruangan Lucas tiba-tiba terbuka,


"Astaga!!" Celetuknya saat terkejut.


dan tak lama Lucas pun kembali muncul dari balik pintu dan langsung masuk begitu saja.


"Kau??!! Kau belum pulang juga?!" Tanya Mitha yang nampak terkejut.


"Kenapa? Apa kau takut? Kau pikir aku ini hantu ya?" Tanya Lucas sembari tersenyum tipis dan terus melangkah menuju kursinya.


"Enggak!"


"Kalau takut, kenapa gak pulang aja?"


"Aku gak takut!"


"Hmm." Lucas pun hanya mengangkat kedua alisnya dan mulai duduk di kursi kerjanya.


"Ini, minum dulu!"


Mitha pun melirik singkat ke arah beberapa bungkusan yang dibawa oleh Lucas.


"Gak perlu."


"Minum dulu!! Aku tau kau mulai capek dan pasti haus, ayo minum dulu! Biar makin semangat dan biar makin cepat selesai." Lucas pun meletakkan satu cup Lychee tea ke hadapan Mitha.


Saat itu Mitha hanya diam sembari memandang sinis ke arah Lucas yang kala itu terkesan memaksanya.


"Udah, gak perlu berterima kasih, minum saja!" Tambahnya lagi yang kembali memberikan minuman itu pada Mitha.


Mitha pun seketika mendengus saat mendengar ucapan Lucas yang terdengar begitu percaya diri.


"Dih, siapa juga yang mau bilang makasih!" Gerutu Mitha dalam hati.


"Ayo, ambil!"


Mitha dengan tatapan tajam, akhirnya meraih cup minuman itu dan mulai meminumnya secara perlahan. Sebenarnya ia memang benar-benar haus sejak tadi, tapi begitu malas untuk keluar mengambil minum.


Mitha pun terus meminum minuman miliknya hingga hanya menyisakan setengah dari minumannya. Melihat hal itu, membuat Lucas lagi-lagi tersenyum.


"Beneran haus rupanya ya? Haus-haus tapi sok gengsi!" Celetuknya.


Mitha hanya diam, benar-benar sudah sangat malas untuk meladeni lelaki yang sangat menyebalkan baginya itu. Ia pun meletakkan cup minumannya dengan sedikit kasar ke atas meja, lalu memilih untuk kembali melanjutkan tugasnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2