
“Wah, ternyata udah kenal ya? ” Tanya Dika yang kembali terkekeh.
“Aku cuma tau nama, tapi enggak orangnya! Lagian aku bener-bener gak minat kenalan sama seseorang yang gak becus dalam menghandle tugasnya!" Ungkap Lucas yang terlihat kembali kesal saat mengingat kejadian yang membuatnya menunggu lama di bandara.
"Hah?! Gak becus??! Siapa yang kamu sebut gak becus bro? Mitha??" Tanya Dika bingung.
"Ya iya lah! Siapa lagi??!! Coba kalian bayangin aja ya, udah sejam lebih aku nungguin dia di bandara, tapi apa, batang hidungnya pun gak keliatan! Saking lamanya aku menunggu, sampai-sampai ada wanita lokal yang gak kalah nyebelin, dia menabrakku dan parahnya lagi apa, wanita itu numpahin minumannya di baju putihku. Huh, jadi apa namanya kalau gak becus?? Gara-gara nungguin dia aku jadi ketiban sial! Dan ujung-ujungnya, aku tetap pulang naik taksi!" Ungkap Lucas yang terlihat kembali kesal saat menceritakan kejadian miris yang menimpanya di bandara.
"Hemm, tapi masa Mitha bisa ngaret gitu sih? Setauku di kantor dia sangat gesit, dia juga disiplin, dan bisa menghandle apapun tanpa ada masalah." Jelas Aryo yang juga terlihat heran.
"Tapi itulah faktanya! Hmm, yang jelas aku beneran gak minat!" Tegas Lucas lagi.
“Haaiss, saranku kamu harus ngeliat orangnya dulu baru bicara! Dia itu beneran cantik bro, bodynya langsing, wangi lagi hahaha. Kalau dia udah lewat nih, aromanya langsung semriwing bahkan masih bisa kecium padahal orangnya udah jauh hahaha. Dan bukan hanya itu, she’s very smart bro.” Jelas Dika yang masih terus berusaha meyakinkan Lucas.
“Yups, ada banyak staff disini yang juga mengaguminya.” Tambah Aryo.
“That’s right! termasuk aku salah satunya hahaha.” Dika pun kembali terkekeh.
“Halah, kalau cuma Sekretaris aja, mana aku tertarik.” Jawab Lucas menyombong.
“Loh, memangnya kenapa kalau Sekretaris? Bukannya Sekretaris itu termasuk pekerjaan yang bagus, secara gak langsung jadi tangan kanan bos. Iya kan??" Ujar Aryo.
“Haha don’t be stupid lah! yang namanya Sekretaris, apalagi kalau masih muda, cantik, langsing seperti yang kalian katakan, hemm sudah rahasia umum, kalau hampir rata-rata Sekretaris selalu memiliki hubungan gelap dengan bosnya, kebanyakan sekretaris bekerja hanya mengandalkan tubuhnya aja!" Ungkap Lucas penuh percaya diri.
“Hmm kamu punya pikiran begitu, apa itu artinya kamu berpikir kalau Mitha juga punya hubungan gelap dengan papamu? Begitu?” Kali ini Dika mulai menampilkan senyuman aneh sembari menaikkan sebelah alis matanya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, sontak membuat Lucas langsung terdiam sejenak dengan raut wajah yang terlihat sedikit kikuk.
“Mak,, maksudku…” Lucas pun mulai terbata-bata.
Hal itu membuat Aryo dan Dika kembali menyeringai.
“Heh! Papaku gak begitu! Maksudku, image Sekretaris itu kurang baik di mataku, itulah sebabnya aku gak tertarik.”
“Ohh begitu ya? Hemm ya udah, kita lihat aja nanti.” Aryo pun kembali melebarkan senyumannya.
“Lihat apa lagi? Apa kurang jelas ucapanku? Aku gak tertarik sama Sekretaris! Kecuali kalau dia wanita yang berprofesi sebagai seorang Dokter, Pengacara, atau pun Designer, mungkin masih bisa ku pertimbangkan."
“Oh ok, jadi jelas ya, kalau kamu gak akan pernah menyukai Mitha apalagi sampai mendekatinya.” Dika pun mulai menatap serius wajah Lucas, seolah ingin lebih memastikan.
“Never!” Tegas Lucas penuh keyakinan.
“Ok fine, awas aja ya kalian berdua, jangan ada yang berani menikungku untuk mendekati Mitha. Ok?” Dika pun menatap pekat ke arah kedua temannya.
Hal itu pun kembali membuat Lucas mendengus serta tersenyum geli.
“Ya ya ya, ambil lah Mithamu itu, silahkan ambil!” Jawabnya kemudian.
__ADS_1
Mereka bertiga pun akhirnya kembali tertawa bersama setelah membuat kesepakatan itu. Lalu memilih untuk beralih memperbincangkan topik lainnya yang tak kalah seru bagi mereka.
Ke esokan harinya…
Pagi ini Mitha terlihat tengah berjalan santai menuju ruangannya. Seperti biasa, di sepanjang langkahnya ada banyak staff yang menyapanya pagi itu, terutama para staff lelaki.
“Selamat pagi Mithaa.” Sapa salah satu staff dengan sangat ramah.
“Pagi.” Jawabnya sembari ikut tersenyum ramah.
“Wah Tha, kamu keliatan makin cantik saat memakai baju warna Maroon.” Imbuh seseorang lagi.
“Oh ya? Hehe thanks ya.” Jawabnya lagi masih dengan senyuman ramahnya sembari terus melangkah menuju pintu.
Selang beberapa detik, langkah Mitha sontak dibuat terhenti saat ponselnya yang tiba-tiba berdering. Dengan cepat ia meraih ponsel dari dalam tasnya, lalu kembali tersenyum tipis saat mendapati nama “Pak Ronald” terpajang di layarnya.
“Halo pak, selamat pagi.”
“Pagi Tha, gimana keadaanmu hari ini?”
“Sudah baik-baik saja pak, ini juga saya baru tiba di kantor.” Jawab Mitha yang akhirnya kembali melanjutkan langkahnya dengan santai.
“Soal semalam saya minta maaf ya, pasti karena saya lupa mengabarimu kalau Lucas sudah pulang duluan, kamu jadi telat makan sampai sakit.”
“Ah gak apa-apa pak, lagi pula memang saya juga yang sedikit lalai dari tanggung jawab.”
“Oh baik pak, urusan kantor bapak bisa percayakan semua pada saya. Bapak tidak perlu khawatir, dan beristirahat saja dengan tenang di rumah.”
“Hehehe ok, terima kasih Tha."
“Iya pak sama-sama, sudah tugas saya.”
“Ok selamat bekerja, dan kalau ada hal-hal darurat, tolong segera hubungi saya.”
“Baik pak, semoga tidak ada.”
“Hehe ok,”
Mitha pun mengakhiri panggilannya, kebetulan pula ia sudah tiba di depan ruangannya dan ingin segera masuk. Tapi lagi-lagi langkahnya kembali dihentikan oleh dua orang staff yang datang menghampirinya.
“Mitha, pak Ronald kira-kira datang jam berapa ya hari ini?” Tanya salah seorang staff wanita.
“Oh, hari ini sampai besok, pak Ronald tidak masuk kantor, beliau sedang istirahat dirumah karena kelelahan.”
“Yahh, jadi gimana untuk meeting dengan klien jam 9 nanti? Setauku gak ada perubahan jadwal deh, bahkan klien sedang bersiap untuk menuju kesini.” Tanya seseorang lagi, kali ini laki-laki.
“Oh gak papa, urusan itu biar aku yang handle, pak Ronald udah mempercayakan semuanya sama aku selama dia gak ada, jadi jangan khawatir ya." Jawab Mitha sembari tersenyum.
__ADS_1
“Oh gitu ya?” Kedua staff itu pun mulai mengangguk-anggukan kepalanya.
“Iya, dan kalau bisa setengah jam lagi semua materi untuk meeting kita nanti harus udah siap semuanya ya, jadi aku masih punya waktu untuk mempelajarinya lebih dulu sebelum dipresentasikan di depan klien, ok?”
“Oh ok kalau gitu Tha, setengah jam lagi kami antar semua materinya ke ruangan kamu ya.”
“Ok. Semangattt ya!" Jawab Mitha yang seolah sedang memberi semangat pada rekan kerjanya.
“Beruntung pak Ronald punya kamu sebagai Sekretarisnya hehehe karena kamu bisa menghandle semuanya dengan tenang kayak gini.” Celetuk staff lelaki itu.
“Hehehe iya, pantesan aja pak Ronald sangat sayang sama kamu, selain pintar, kamu juga cekatan, Tha.” Tambah staff wanita.
“Haaaiis kalian ini! Gak gitu ah, kalian terlalu berlebihan deh.” Mitha pun mendengus dan kembali tersenyum.
“Hehe ya udah, kalau gitu kami permisi ya Tha,”
“Iyaa, sampai ketemu jam 9 di ruang meeting ya temen-temen.” Jawab Mitha yang kemudian langsung masuk ke dalam ruangannya.
Mitha pun memulai segala aktivitasnya di meja kerjanya, mengemban tanggung jawab yang diberikan oleh Presdir, cukup membuatnya nyaris tidak punya waktu untuk beristirahat dengan tenang hari itu.
Meeting selama lebih dari 2 jam pun berjalan dengan lancar sesuai harapan, Mitha akhirnya bisa tersenyum manis saat berjabat tangan dengan klien di akhir pertemuan mereka hari itu. Begitu pula dengan rekan-rekan kerjanya yang juga ikut serta pada meeting hari itu, mereka terlihat semakin kagum pada Mitha yang memang begitu handal jika menyangkut urusan menghandle klien terutama jika itu klien baru.
Mitha pun melanjutkan aktivitasnya kembali di ruang kerjanya yang nyaman, bahkan ia sama sekali tidak sempat untuk turun ke kantin untuk menikmati makan siangnya. Hal itu pun cukup mengundang rasa iba dari Vina yang mengetahui begitu sibuknya sahabatnya itu hari ini. Setelah selesai menyantap makan siangnya di kantin, Vina pun berinisiatif untuk membelikan makanan untuknya.
*Tok..tok..tok*
“Masuk!” Jawab Mitha dengan sorot mata yang sama sekali tidak berpaling dari layar laptopnya.
Tak lama, Vina pun muncul dari balik pintu, ia langsung melangkah mendekati meja Mitha dan meletakkan bungkusan makanan di atas mejanya.
“Nihh, makan dulu!” Ucapnya.
Aktivitas Mitha pun sontak terhenti, ia melirik ke arah bungkusan yang ada di depannya, lalu beralih menatap wajah Vina.
“Apa ini Vin??”
“Udah jangan banyak tanya! Makan saja! Apa kamu mau Magh mu kumat lagi karena telat makan??!!" Jawab Vina sembari mendelikkan matanya saat menatap Mitha.
Hal itu bukan malah membuat Mitha takut, ia justru mulai tersenyum haru dan langsung bangkit dari duduknya untuk memeluk sahabatnya itu.
“Aaaaa Vinaku sayang, so sweettt banget sihh. Makasih ya, kamu perhatian banget, jadi terharu deh," Ungkap Mitha girang.
“Eeemm mulai deh lebay, udah, ayo cepet makan dulu, mumpung masih anget tuh!”
“Hehehe iya bawel.” Mitha pun kembali duduk ke kursinya.
Begitu pula dengan Vina yang ikut duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Mitha.
__ADS_1
...Bersambung......