
Waktu petang telah berganti menjadi malam, cukup banyak waktu terbuang saat mereka berdebat hingga bertaruh tentang pisang. Kini Mitha nampak kembali lesu saat harus menghadapi tumpukan berkas yang tersisa setengah tumpukan lagi.
Lucas yang semakin tidak tega, akhirnya bangkit dari duduknya dan berinisiatif untuk membantu Mitha.
"Bener-bener lelet! Udah sini biar ku bantu!" Ucap Lucas yang langsung mengambil alih posisi Mitha.
Mitha pun terdiam sejenak, lalu kembali mendorong pelan tubuh kokoh Lucas.
"Udah minggir!! Biar aku aja!"
"Biar cepet, ini udah malam!! Kamu mau kita semalaman ada disini ha?"
Mitha akhirnya diam, dan kali ini memilih patuh.
"Kamu susun yang itu, biar aku susun yang ini!" Ucap Lucas sembari membagi dua tumpukan berkas yang tersisa.
"Ok." Jawabnya lesu.
Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam, akhirnya Mitha duduk tersandar di sandaran kursi saat baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Huh, akhirnyaaa." Celetuknya.
Lucas pun meliriknya sesaat lalu kembali mendengus pelan. Setelah semua selesai, akhirnya Lucas dan Mitha pun keluar bersamaan dari ruangan itu.
Semakin malam, suasana kantor terasa semakin sepi, wajar saja, hanya ada mereka berdua di lantai itu.
*Tingg*
Pintu lift terbuka, Mitha masuk lebih dulu, dan langsung menekan tombol yang bertuliskan angka 30. Lalu kemudian disusul pula dengan Lucas yang memilih memencet tombol lobby.
"Kau mau naik lagi ke atas?" Tanya Lucas dengan dahinya yang sedikit mengkerut saat menyadari lift itu bergerak naik.
"Iya."
"Untuk apa lagi?" Tanya Lucas.
"Tasku masih tinggal di ruangan."
"Oh."
*Tingg*
Lift kembali terbuka saat mereka sudah tiba di lantai 30, tapi alangkah terkejutnya Mitha saat mendapati lantai 30 yang sudah gelap,
Lucas yang juga menyaksikan hal itu, sontak melirik ke arahnya.
"Kau yakin masih mau lanjut?"
"Aku harus ke ruanganku, hp dan kunci mobil juga tinggal disana." Jawab Mitha yang sedikit ragu-ragu untuk melangkah keluar.
"Mau ku temani?" Tanya Lucas yang saat itu terus menahan tombol "open" agar pintu lift itu tidak menutup.
"Eng,, enggak." Jawab Mitha ragu,
Dari sorot matanya jelas ia cukup takut saat harus melintasi ruangan yang gelap, tapi lagi-lagi gengsinya yang cukup tinggi membuatnya seolah tidak membutuhkan bantuan, apalagi jika orang yang ingin membantu itu adalah Lucas.
Mitha pun menghela nafas dalam-dalam, lalu akhirnya mulai melangkah keluar dari lift dengan langkah yang sedikit bergetar.
"Haiss kenapa harus segelap ini sih." Gumam Mitha dalam hati.
Lucas sangat paham situasinya, ia pun bisa melihat jelas jika Mitha cukup merasa takut saat itu. Tak peduli apapun jawaban Mitha pada saat itu, Lucas akhirnya memilih untuk ikut turun dan mengikuti langkah Mitha.
"Ke,, kenapa kau ikut turun kesini?" Tanya Mitha saat menyadari hal itu.
"Aku tau kau takut, gak perlu gengsi di situasi kegini." Jawab Lucas yang terus saja melangkah.
__ADS_1
Lucas memilih untuk melangkah lebih dulu, membiarkan Mitha berjalan di belakangnya seolah ingin memberikan perlindungan bagi wanita yang kini cukup membuatnya tertarik.
"Aneh banget, lampu di lantai 29 semuanya menyala, kenapa disini malah dimatiin?" Gerutu Mitha pelan.
Namun Lucas masih bisa mendengar hal itu.
"Itu karena security tau aku masih ada di ruanganku." Jawabnya datar.
"Oh ya? Terus kenapa gak bilang sekalian sama security untuk gak matiin lampu di lantai ini juga??"
"Ya mana aku tau kau bakal balik lagi kesini!" Jawab Lucas.
Mitha pun akhirnya kembali diam dengan wajahnya yang masam. Lucas terus melangkah tenang menuju ruangan Mitha yang bersebelahan dengan ruangan papanya. Lalu langsung mencoba untuk membuka pintunya namun gagal.
"Pintunya di kunci!" Ucap Lucas.
"Oh ya?" Mitha pun melangkah cepat menuju pintunya.
"Selain security, kau pasti punya kartu akses untuk membuka pintunya kan?"
"Punya kok." Dengan tenang Mitha pun mulai merogoh saku pada blazernya.
Namun sontak kedua matanya mendelik saat baru saja menyadari jika kartu akses masuk itu juga tertinggal di dalam ruangannya,
"Astaga mati aku, kartunya juga tertinggal di dalam!" Keluh Mitha yang mulai nampak panik.
"Hah?! Astaga, yang bener aja!!"
"Duhh gimana ini??"
"Hmm mau gimana lagi?" Ambil besok aja!"
"Mana bisa, kunci mobilku ada di dalam!"
"Huh, kau ini bener-bener ngerepotin ya!"
"Mana aku tau jadinya bakal gini."
"Ya udah, ayo ku antar kau pulang!" Ucap Lucas yang terlihat sedikit terpaksa,
"Gak perlu, aku bisa naik taksi online."
"Hmm ya udah, bagus lah!" Jawab Lucas akhirnya.
Mitha kembali merogoh-rogoh sakunya.
"Aaaghh damn it!!" Keluh Mitha lagi.
"Kenapa?"
"Hpku,, Hpku..."
"Kau mau bilang hpmu juga tinggal di dalam, gitu?"
Mitha pun menatap Lucas dengan tatapan sendu sembari mengangguk pelan. Sementara Lucas, saat itu ia hanya mendengus dan tersenyum sinis.
"Kalau gitu, kau bisa pesan taksi online via telepati aja." Ucap Lucas seolah mengejek.
"Ya udah kalau gitu, good luck ya." Tambah Lucas lagi yang akhirnya mulai ingin melangkah pergi.
Mitha yang menyaksikan hal itu, tentu tidak tinggal diam.
"Tunggu!!"
Lucas pun sontak menghentikan langkahnya, lalu kembali menoleh ke arah Mitha.
__ADS_1
"Kenapa? Kau mau minjem hp untuk mesen taksi online?? Iya??"
Saat itu Mitha masih diam.
"Hmm, kabar buruknya adalah, hpku mati karena habis batrei." Tambah Lucas sembari menunjukkan ponselnya yang mati pada Mitha.
"Ya udah ya, aku mau pulang dulu." Lucas pun kembali melangkah sembari tersenyum.
"Tunggu!!!" Panggil Mitha lagi.
"Apalagi sih??!" Lagi-lagi langkah Lucas terhenti.
Mitha pun bergegas melangkah untuk menghampiri Lucas yang saat itu sudah begitu dekat jaraknya dengan lift.
"Ok aku setuju!" Ucap Mitha tiba-tiba.
"Setuju apanya?!" Tanya Lucas mengernyitkan dahinya sembari tersenyum bingung.
"Aku setuju kau antar pulang!" Ucapnya tanpa basa basi yang kemudian langsung melangkah lebih dulu memasuki lift.
Lucas pun sontak mendengus, lalu kembali tersenyum puas, karena lagi-lagi, Mitha seolah kalah dalam permainannya.
Mitha terus terdiam saat mereka berada di dalam lift, suasana mendadak jadi sedikit canggung bagi keduanya. Begitu lift terbuka, Mitha langsung keluar lebih dulu dan terus melangkah cepat menuju pintu utama lobby.
"Hei, kau tau kan apa syaratnya kalau mau ku antar pulang??!"
"Syarat apa?"
"Jangan duduk di belakang!!! Karena aku bukan supir!" Tambah Lucas lagi yang kali ini langsung melangkah lebih dulu untuk memasuki mobilnya.
Mitha pun terdiam sejenak sembari mulai mengangkat sebelah sisi bibirnya karena geram.
"Hiss, mau gimana pun, tetap aja kau nyebelin!!" Gerutunya pelan sembari akhirnya mulai melanjutkan langkahnya menuju mobil.
Mitha duduk dengan tenang dan mulai memasang sabuk pengaman, namun tiba-tiba Lucas memberikan sebuah amplop berwarna coklat ke hadapannya.
"Nih." Ucapnya.
"Apa ini?" Tanya Mitha yang nampaknya sudah melupakan masalah taruhannya dengan Lucas.
"Hadiahmu dari taruhan tadi."
"Oh iya aku lupa." Mitha pun meraih amplop itu, lalu memandanginya sejenak, dan hal tak terduga pun terjadi.
Bagaimana tidak, tiba-tiba saja Mitha mengembalikan amplop itu pada Lucas.
"Ini, ambil balik." Ucapnya santai.
"Loh kenapa?" Tanya Lucas yang nampak bingung.
"Gak papa, kalau di pikir-pikir aku gak terlalu butuh."
"Udah lah ambil aja, kau yang menang!"
"Gak usah. Kau udah nganterin aku malam ini, anggep aja itu hadiahnya. Jadi ambil balik nih uangnya."
"Gak mau!"
"Hmm kalau gitu, kamu kasi aja sama yang lebih butuhin uang ini, ok?!" Mitha pun meletakkan amplop coklat itu begitu saja ke pangkuan Lucas.
Lagi-lagi hal itu membuatnya tercengang, baru kali ini ada seseorang yang menolak ketika dikasi uang, apalagi yang itu sebenarnya adalah haknya karena menang taruhan.
"Hmm, ternyata gak sematrek yang kupikir." Gumam Lucas yang akhirnya mulai melajukan mobilnya.
...Bersambung......
__ADS_1