Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Tidak dibiarkan pergi


__ADS_3

Dengan kembali menampilkan senyuman keterpaksaannya, Mitha pun akhirnya kembali melangkah menuju meja kerja Lucas, meraih remote AC dengan sedikit kasar, lalu menghidupkan AC itu sesuai permintaan Lucas.


“Sudah pak!” Ucap Mitha yang meletakkan kembali remote AC itu ke atas meja.


“Oh ya, tolong sekalian bukain gorden jendelanya dong! karena aku gak suka ruangan yang tertutup kayak gini, terkesan sumpek. Aku lebih suka ruangan yang terangnya alami dari cahaya Matahari.” Pinta Lucas yang kembali tersenyum.


“Gorden jendela ini juga ada remotenya, jadi bapak bisa menekan tombolnya sendiri. Dan ini remotenya.” Mitha pun meletakkan remote yang berukuran kecil itu ke hadapan Lucas.


“Haaaiiss, apa susahnya sih tinggal mencet tombol doang???” Keluh Lucas yang terlihat memang sengaja ingin membuat Mitha kesal,


Bukan hanya itu saja, Lucas bahkan juga seperti sengaja mengulur waktu agar Mitha bisa tinggal sedikit lebih lama di ruangannya.


Namun kali ini, nampaknya Mitha masih bisa menahan amarahnya, ia pun akhirnya menuruti keinginan Lucas, menekan tombol pada remote control dan mulai membuat gorden pada jendela kaca yang berukuran raksasa itu mulai perlahan terbuka.


“Naaahh gini kan enak.” Celetuk Lucas yang mulai memandang puas ke sekeliling ruang kerjanya yang baru.


Saat itu Mitha memilih untuk tidak bersuara, lagi-lagi ia hanya memutarkan kedua bola matanya, karena ia benar-benar sudah jenuh melihat kelakukan Lucas yang menyebalkan.


“Sekarang tolong bukain laptop ini!” Pinta Lucas dengan tenang sembari melirik singkat sebuah laptop yang terletak di atas mejanya.


Mitha lagi-lagi menghela nafas kasar, ia sama sekali tidak membantah saat itu, lalu mulai melangkah mendekati meja, dan langsung membukakan laptop yang saat itu posisinya tengah tertutup.


“Idupin!” Pinta Lucas lagi.


Mitha masih terus bersabar dan terus mengikuti permintaan Lucas. Hal itu membuat jarak di antara Mitha dengan Lucas yang kala itu terduduk tenang di kursi kerjanya, jadi cukup dekat. Semakin dekat jarak antara keduanya, semakin tercium nyata pula aroma parfum berbau Vanilla dari tubuh Mitha, hingga membuat Lucas jadi semakin betah berada di dekatnya.


“Sial, kenapa dia harus sewangi ini sih?!!”  Gerutu Lucas dalam hati sembari mulai memandang lekat ke arah Mitha yang kala itu berada di sisinya.


Saat itu Lucas seolah terhanyut bersama aroma Vanilla yang seakan terus berlalu lalang di rongga hidungnya. Namun keterpanaan serta perasaan nyaman itu hanya terjadi beberapa saat, dan akhirnya seketika hal itu harus buyar saat Mitha secara tiba-tiba melangkah mundur beberapa langkah dari mejanya dan kembali berdiri tegak.


“Sudah pak!” Ucap Mitha datar.


“Oh,, eemm,,, ok!” Jawab Lucas yang seketika langsung tersentak kikuk.


“Ada lagi pak?” Tanya Mitha dengan wajah datar bahkan cenderung seperti tidak senang saat menanyakan hal itu.


Zayn yang jadi sedikit gelagapan akhirnya terdiam sejenak, diam-diam menghela nafas demi membuat dirinya kembali bersikap tenang di hadapan Rhea.


"Huh, gak bisa ini, gak bisa!! Lama-lama deket ni cewek, bisa lost control aku!" Gumam Lucas dalam hati.


“Eemm,, udah cukup!" Jawab Lucas akhirnya,


"Oh ok, kalau gitu saya permisi pak." Mitha pun akhirnya tersenyum dan bergegas ingin berlalu dari hadapan lelaki yang selalu membuatnya naik darah.


"Eh, wait! Aku belum mengizinkanmu pergi!"

__ADS_1


"Hmm kenapa lagi, pak??!!" Tanya Mitha penuh penekanan.


"Aku mau tanya sesuatu.” Kali ini Lucas kembali menatap Mitha dengan tatapan serius.


“Tanya apa?” Tanya Mitha sembari mengangkat kedua alisnya.


“Apa kau beneran gak papa?” Tanya Lucas sembari mulai menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Maksudnya?" Mitha kali ini nampak sedikit bingung.


"Wajahmu keliatan pucat."


Akhirnya Mitha mengerti sekarang, tapi bukan malah menjawab, Mitha justru seketika mendengus.


“Anda bertanya seperti itu, apa itu berarti anda mulai mencemaskan saya? ” Mitha pun mulai terkekeh geli.


“Dih, sama sekali enggak!” Tegas Lucas.


“Aku nanya kegitu, karena baru kali ini aku ngeliat seorang Sekretaris, tapi penampilannya lusuh kegini, gak fresh!" Tambahnya lagi.


Mitha yang mendengar hal itu sontak mendengus kesal seolah tak terima, lalu bersiap ingin meluapkan kekesalan yang sejak tadi terus berusaha untuk ia redam.


“Heh!! aku…”


Tapi Lucas seolah tidak memberikan Mitha ruang untuk meluapkan emosinya, ia pun kembali memotong ucapan Mitha dengan cepat.


“Gak dua-duanya!!” Tegas Mitha.


“Hei harusnya kau itu tau seberapa penting menjaga penampilan bagi seorang Sekretaris.”


Lagi dan lagi, Mitha semakin dibuat mendengus, ia benar-benar sudah tidak bisa lagi diam dan membiarkan Lucas terus menindasnya.


“Maaf ya pak Lucas Armando yang terhormat!!anda tidak perlu mengajari saya tentang gimana caranya berpenampilan yang baik saat di kantor, karena saya lebih paham!”


“Oh ya??”


“Hemm,, sepertinya segala perdebatan yang tidak berguna ini harus segera diakhiri!! Kalau begitu saya permisi!” Mitha pun akhirnya melangkah pergi.


Tapi untuk kesekian kalinya Lucas berhasil menggagalkan hal itu.


“Heh! Siapa yang menyuruhmu pergi??!” Seru Lucas.


Mitha semakin tak tahan, emosinya kini seolah makin membuncah, kali ini ia benar-benar ingin sekali meninju wajah lelaki yang sok kegantengan baginya. Ia pun kembali berbalik arah, melangkah cepat menghampiri Lucas dan mulai mengecakkan kedua tangannya di pinggang. Sorot matanya seolah memancarkan kobaran api yang menyenggau, seakan siap untuk membakar serta memusnahkan lelaki yang saat itu ada di hadapannya.


“Heh! Sebenarnya kau ini ada masalah apa denganku ha?! Dari tadi aku udah berusaha untuk tetap sabar ya menghadapi tingkah polahmu yang menyebalkan ini!” Ketus Mitha dengan suara yang mulai meninggi.

__ADS_1


"Kau mau ngajak ribut?? Ayok!! Aku gak takut! Aku juga gak takut kalau aku harus di pecat karena masalah ini!!" Tembah Mitha yang semakin terkesan menantang Lucas.


Lucas pun mendengus dan tersenyum sinis.


“Wahh, coba liat gimana kelakuan Sekretaris teladan ini!" Lucas pun pelahan bangkit dari duduknya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya dengan begitu tenang, sembari memandangi Mitha.


"Kau ini sadar gak lagi berhadapan dengan siapa sekarang??” Tanya Lucas lagi namun kali ini dengan volume suara yang lebih pelan.


Saat itu Lucas terlihat begitu tenang menghadapi Mitha yang tengah dikuasai emosi. Keduanya pun dalam posisi saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, saling menatap satu sama lain meski tatapan keduanya berbeda makna.


Siapapun kau, I, DONT, CARE!!” Ketus Mitha.


Mendengar hal itu, anehnya tidak membuat Lucas marah, ia justru mendengus lalu tersenyum tipis, entah kenapa ia begitu suka saat melihat Mitha menatapnya seperti itu. Dimatanya, Mitha benar-benar gadis langka, sangatlah berbeda dari gadis lain yang justru bersikap manis bahkan tak sedikit pula yang agresif padanya.


“Ku sarankan agar kau secepatnya merekrut seorang Asisten pribadi atau Sekretaris agar bisa melayanimu sepanjang waktu!” Ucap Mitha lagi.


“Kau gak perlu ngajari aku soal itu!”


“Ya udah, kalau gitu cari Sekretaris sendiri! Dan jangan merepoti aku lagi! Karena aku kerja untuk CEO, bukan untuk Direktur keuangan!! Kau paham??!” Tegas Mitha yang kemudian langsung pergi begitu saja, meninggalkan Lucas yang kala itu terlihat masih terpaku dengan ucapannya.


Mitha menutup pintunya dengan sedikit kasar, membuat Lucas yang mendengarnya sontak mendengus dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Perempuan itu, bener-bener gak ada takut-takutnya, omongannya tadi seolah-olah jadi buat aku merasa tertantang! Hemm ok, kita lihat aja nanti!!" Gumam Lucas seorang diri.


“Akan ku pastiin, dalam waktu dekat aku bakal punya Sekretaris sesuai dengan yang kau saranin. Dan akan ku pastiin juga, kau gak bakal bisa menolakku lagi!!" Tambahnya yang kemudian mulai kembali memancarkan sebuah senyuman.


Lucas pun akhirnya kembali duduk bersandar ke kursinya, ia memandangi sekali lagi ruang kerja yang masih terasa asing baginya.


Sementara Mitha, ia terus melangkah dengan sangat cepat menuju lift dengan membawa wajah ketatnya,


“Laki-laki itu!! Bisa-bisanya dia ngomentari penampilanku! Memangnya siapa dia??!” Gerutu Mitha dalam hati.


Mitha terus melangkah cepat menuju ruangannya, kebetulan saat itu Ronald juga terlihat baru saja keluar dari ruangannya.


“Hei Tha,”


“Pa,, pak Ronald.” Ucap Mitha yang sedikit kaget sembari seketika langsung menghentikan langkahnya.


“Gimana Tha? Apa kamu udah mastiin Lucas udah dapetin semua yang dia butuhin di ruangan barunya?”


“Su,, sudah pak.” Jawab Mitha yang sebenarnya kurang yakin pada jawabannya sendiri.


“Eemm bagus lah. Semoga aja dia betah disini, Lucas akhirnya mau bergabung di perusahaan ini, hal itu bener-bener impian saya dari dulu.” Ungkap Ronald sembari tersenyum.


“Kamu juga harus bantu dia ya, saya gak mau dia merasa kesulitan di awal dia bekerja disini. Saya gak mau dia berubah pikiran dan meninggalkan perusahaan yang sebenarnya udah disiapkan untuknya. Kamu paham kan Tha?” Tambah Ronald dengan lembut.

__ADS_1


“Pa,, paham pak.” Mitha pun mengangguk sembari menampilkan sebuah senyuman keterpaksaan.


...Bersambung…...


__ADS_2