
Mitha pun kembali melotot ke arah Vina karena ia sangat tak senang mendengar hal itu.
“Hehehe peace, jangan marah dong! Aku cuma becanda loh!!” Vina pun kembali cengengesan pada Mitha.
“Hei kamu, berhenti masang raut wajah seperti itu pada orang, aku takut nanti gak bakal ada yang mau denganmu kalau terus kegitu.” Ejek Lucas.
“Oh enggak pak! Pak Lucas jangan salah, walaupun dia selalu jutek kegini, tapi sahabat saya ini banyak yang suka loh, bahkan udah ada beberapa orang yang pernah datang untuk melamarnya hehehe yaaa, meskipun ujung-ujungnya ditolak juga sama dia hehehe.” Jelas Vina tersenyum.
“Oh ya? Udah ada yang mau melamar?? Eemm waw!” Lucas pun mendengus lalu tersenyum tipis.
“Terus, kenapa kamu nolak lamaran itu?” Tanya Lucas lagi yang kali ini mulai menatap Mitha jauh lebih dalam dari sebelumnya.
“Karena untuk sekarang ini, saya sama sekali belum kepikiran untuk menikah!” Jawab Mitha datar.
“Eemm, tapi bukan karena itu aja kok pak,” tambah Vina lagi.
“Terus, karena apa lagi?”
“Dia nolak beberapa lamaran dan bahkan enggak mau pacaran karena dia lagi nunggu seseorang hehehe.” Vina kembali tersenyum lebar.
Namun hal itu lagi-lagi membuat Mitha bertambah kesal hingga kembali memelototinya sembari mencubit pahanya.
“Heh ngomong apasih?!! diem enggak?!!” Seru Mitha berbisik.
“Aaaagh sakittt!!” Keluh Vina meringis sembari mulai mengusap-usap pahanya yang terasa pedih akibat cubitan Mitha.
*Deeeeggg*
Namun Lucas, entah kenapa ia mendadak jadi terdiam kala mendengar hal itu, perasaannya mulai merasa tak enak di susul pula dengan hatinya yang terasa seakan berdenyut.
“Dia nunggu seseorang?? But, who?” Tanya Lucas dalam hati.
Namun Bukankah kita semua tau jika Lucas adalah seseorang yang cukup mahir dalam menyembunyikan apapun itu terlebih perasaannya? Ya, saat itu Lucas pun berusaha untuk tetap bersikap tenang seperti sebelumnya, walaupun kini ketenangan jiwanya mulai terusik, ia tetap saja berusaha untuk menampilkan senyuman tipis yang seolah menyatakan bahwa ia baik-baik saja, seolah tidak ada kejadian.
“Oh ya?? Eemm waw, ternyata perempuan yang selama ini jadi Sekretaris papaku ini udah punya special someone ya.”
__ADS_1
“Hehehe iya pak, sahabat saya ini bahkan udah nunggu pujaan hatinya untuk nyatain cinta dari masih kuliah, sampai sekarang ini, dia pun masih setia banget nungguinnya,” jelas Vina lagi yang terlihat sangat bersemangat.
“Hehh!! Shut up!” Seru Mitha lagi.
“Hmm, miris banget ya. Gimana bisa kamu suka sama orang dan rela nunggu bertahun-tahun cuma demi laki-laki payah kegitu?” Lucas pun memiringkan senyumannya.
Mendengar perkataan Lucas yang seolah sedang menjelekkan Vino, akhirnya berhasil menghidupkan kembali kobaran api kemarahan pada Mitha.
“Maaf! Maksud anda apa ya bicara kegitu? Laki-laki payah??!! Anda bicara kegitu seolah kayak udah kenal aja sama dia, anda itu gak tau apa-apa tentang dia, jadi jangan sok tau!” Ketus Mitha dengan sorot mata yang menajam layaknya belati yang siap menyayat-nyayat wajah Lucas.
“Heh nonaa, memangnya sebutan apa lagi yang cocok untuk laki-laki yang udah ngebiarin seorang perempuan, nunggu lama sampe bertahun-tahun tanpa kepastian? Apa laki-laki itu beneran gak peka dan gak sadar kalau selama ini kamu suka sama dia? Kalau emang gitu, terus apa namanya kalau bukan laki-laki payah?!!” Lucas pun terkekeh pelan.
Mitha pun terdiam sejenak, begitu pula dengan Vina yang ikut terdiam, namun dalam benaknya juga membenarkan apa yang di ucapkan oleh Lucas.
“Hmm, bener juga sih.” Celetuk Vina dengan suara sangat pelan.
“Apa katamu?!” Mitha pun kembali melirik sahabatnya itu dengan tajam.
“Ah hahaha enggak, enggak! Haaiss, kenapa kamu jadi serius banget sih nanggepinnya?? Udah lah, santai aja kayak di pantai.” Vina mencoba untuk menenangkan Mitha dengan cara mengusap-usap pundaknya,
“Eeemm, sebenernya dia juga kerja di perusahaan yang sama dengan kita hehehe.” Jawab Vina cengengesan.
“Oh really?? Hahaha ternyata satu kantor?”
Vina pun mengangguk dengan memasang wajah cengengesan.
“Sekarang ini, posisinya sebagai GM di perusahaan kita,” tambahnya lagi.
“Apa?? GM??” Saat itu Lucas nampaknya sedikit terkejut.
Tiba-tiba saja ia teringat dengan ucapan papanya beberapa waktu lalu, yang mengatakan jika ia baru saja mengangkat seorang staf menjadi GM karena kegigihan dan loyalitasnya terhadap perusahaan.
“Apa yang dimaksud ini adalah orang yang sama dengan orang yang tempo hari diceritain sama papa?” Tanya Lucas dalam hati.
“Oohh.” Lucas pun akhirnya hanya mengangguk dengan singkat.
__ADS_1
“Apapun jabatannya, meskipun dia jauh di bawah anda, seenggaknya dia dapatin posisi GM seperti sekarang itu berkat usaha dan kerja kerasnya sendiri, bukan karena privilege dari orang tua!” Tegas Mitha yang kemudian mulai berdiri dari duduknya.
Saat itu Vina mulai ketakutan dengan apa yang diucapkan oleh Mitha pada Lucas, ia takut jika Lucas nantinya akan merasa tersinggung dengan ucapan Mitha yang terdengar cukup pedas dan bisa saja mereka langsung dipecat karena hal itu.
“Astaga Tha!! kenapa kamu berani banget ngomong kegitu sama pak Lucas?? Kamu lupa ya dia siapa???” Bisik Vina yang mulai gemetaran serta jadi merasa tak enak hati pada Lucas.
Namun Mitha seakan tidak perduli lagi, ia bahkan terus menatap Lucas tanpa ragu apalagi takut, begitu pula dengan Lucas, saat itu ia masih memilih diam dengan tatapan yang tak kalah lekat kala menatap Mitha yang terlihat begitu marah padanya.
“Saya rasa anda gak perlu terlalu mencampuri urusan pribadi para karyawan yang bekerja di perusahaan anda, termasuk saya!! Jadi saya harap anda bisa lebih profesional lagi ke depannya! permisi!” Tegas Mitha yang kemudian beranjak pergi menuju kasir.
Demi menjaga agar harga diri dan gengsinya tetap aman, Mitha pun memutuskan untuk membayar seluruh pesanan yang ada di meja itu termasuk pesanan Lucas. Vina yang saat itu masih terduduk di kursinya pun bergegas menyusul langkah Mitha.
“Kalau gi,, gitu sa,, saya juga permisi ya pak.” Vina pun menundukkan kepalanya dan langsung beranjak pergi meninggalkan Lucas yang masih terduduk dengan tenang di kursinya.
“Jadi, si GM itu yang disukai Mitha??” Tanya Lucas seorang diri sembari mulai mendengus.
“Aku mau tau, memangnya sebaik apa dia? Apa lebih baik dari aku???” Gumamnya lagi yang akhirnya ikut berdiri.
Lucas ingin membayar makan siangnya, namun ternyata makanannya sudah di bayar oleh Mitha, hal itu lagi-lagi membuat Lucas harus mendengus.
“Seumur-umur, baru kali ini aku dibayari sama perempuan, bener-bener perempuan yang langka.” Lucas pun terkekeh sembari mulai menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Huh, semakin menarik!” Celetuknya yang kemudian mulai beranjak pergi dari cafe.
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, Mitha terus mengomel pada Vina karena menurutnya Vina terlalu terbuka tentang masalah pribadinya pada Lucas yang seharusnya tidak perlu tau akan hal itu.
“Liat gimana tadi, berani-beraninya dia ngomong kegitu tentang kak Vino?!!” Ketus Mitha emosi.
“Eemm iya Tha, aku beneran minta maaf ya, aku kelepasan!” Ucap Vina yang terus memasang wajah murung, karena ia sungguh merasa bersalah.
“Kelepasan kamu bilang??! Udah berkali-kali loh aku nyuruh kamu diem Vin, dan berhenti ngomong tentang kak Vino sama orang itu, tapi apa?? Kamu seolah gak peduli dan terus aja melayani ocehan dia!!" Gerutu Mitha lagi.
“Iyaa, maafin aku, aku beneran salah, aku beneran gak bermaksud kegitu. Mungkin saking asyiknya ngobrol sama pak Lucas, jadinya aku gak berpikir panjang. Maafin aku ya Tha.”
Mitha pun akhirnya diam, ia hanya bisa menghela nafas berat dan memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah itu lagi.
__ADS_1
...Bersambung…...