Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Lagi-lagi dikerjai


__ADS_3

“And you! jangan pernah berpikir kau bisa dengan mudah mangkir dari tugas!” Tegas Lucas yang kembali melototi Mitha.


Mitha, entah bagaimana cara menjelaskan kekesalannya pada saat itu terhadap Lucas, namun andai saja membunuh itu diperbolehkan, maka mungkin saja dia sudah membunuh Lucas saat itu juga demi menunjukkan betapa kesal dan tidak sukanya ia terhadap lelaki itu.


Mitha dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Lucas, dan hal itu cukup berhasil karena Lucas akhirnya membiarkan pergelangan tangan yang begitu pas dalam genggamannya itu lolos begitu saja.


“Memangnya apa bedanya?? Tujuannya kan sama!”


“Jelas bedalah!”


“Ya apa bedanya?? Lagi pula sebenarnya ini kan memang bukan tugas saya!”


“Heh, denger ya! Apapun yang udah diperintahkan oleh CEO perusahaan ini padamu, itu berarti udah termasuk tugasmu, dan kau wajib patuh!” Tegas Lucas sembari sedikit mendekatkan wajahnya pada Mitha.


Lagi-lagi hal itu berhasil membungkam mulut Mitha hingga ia pun terdiam dan hanya bisa bergerutu dalam diamnya.


“Kurasa hal ini sebenernya udah gak perlu ku jelasin lagi, bukannya kau Sekretaris andalan papa, jadi kurasa kau udah paham.” Tambah Lucas lagi yang akhirnya kembali berdiri tegak dan mulai menatap Mitha dengan senyuman sinisnya.


Saat itu Mitha masih tak bersuara, yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah memutarkan kedua bola matanya saja.


Tak lama pintu lift pun terbuka, dengan cepat, Mitha langsung masuk lebih dulu dengan membawa wajah masamnya, lalu disusul pula oleh Lucas dan satu pegawai wanita yang ikut menunggu lift bersama mereka sebelumnya.


*Tingg* 


Pintu lift kembali terbuka saat mereka telah turun satu lantai dari ruang rapat sebelumnya, lagi-lagi Mitha mengambil langkah lebih dulu untuk keluar dari lift itu, lalu terus melangkah cepat menyusuri sebuah ruangan yang cukup luas, di setiap sisi kanan dan kiri ada sebuah meja panjang berbentuk "U" yang terdapat banyak sekat, dengan masing-masing setiap space yang disekat memiliki satu komputer untuk setiap pegawai. Dengan begitu, tentu saja ruangan itu sangat ramai karena di padati oleh banyak pegawai yang ditempatkan di dalam satu ruangan yang luas itu.


Melihat kehadiran Mitha dan Lucas yang melintas di tengah-tengah sisi kiri dan kanan meja mereka, membuat situasi di ruangan itu sontak jadi hening seketika. Bagaimana tidak, semua mata kini hanya tertuju pada Lucas dan Mitha, termasuk pula Dika dan Aryo yang secara kebetulan juga bekerja di bagian keuangan.


“Mithaa?? tumben banget kamu turun ke divisi keuangan, hehehe ada apa? Mungkin aja aku bisa bantu??” Tanya Dika yang nampak begitu sumringah saat melihat Mitha berkunjung ke divisinya.


Seolah tak memberikan Mitha kesempatan untuk menjawabnya, Lucas pun dengan cepat menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.


“Dia kesini untuk mengantarku!” Jawab Lucas datar.

__ADS_1


“Oh Bro, kenapa kau mendadak jadi kayak anak manja yang harus diantar sama Mitha ke ruanganmu??” Keluh Dika yang saat itu masih menganggap Lucas sebagai temannya seperti di luar kantor.


Dika benar-benar lupa siapa Lucas ketika mereka di dalam lingkungan pekerjaan.


“Siapa yang kau sebut Bro??” Tanya Lucas dengan tenang sembari mengangkat kedua alis matanya.


Dika pun akhirnya tersadar dan langsung melirik ke sekitarnya, saat itu ada banyak pegawai yang menyaksikan, hingga tidak seharusnya ia memanggilnya dengan nama panggilan saat di kantor.


“Oh ma,, maaf pak, eemm, mak,, maksud saya pak Lucas, iya pak Lucas” Dika pun mendadak terlihat jadi gelagapan.


“Hmm ya udah Dik, aku lanjut dulu ya.” Mitha pun tersenyum singkat dan ingin kembali melanjutkan langkahnya.


“Tu,,tunggu Mithaa!” Tapi Dika kembali menghentikan langkah Mitha.


Dan hal itu cukup membuat Lucas jadi merasa tidak senang, entah kenapa ia bisa merasakan hal semacam itu, padahal sebelumnya ia pun juga tau jika sahabatnya itu sangat mengagumi Mitha bahkan berniat ingin mendekatinya. Namun saat melihat sikap Dika yang seperti itu pada Mitha di hadapannya, benar-benar membuatnya kesal.


“Kenapa Dik?” Tanya Mitha yang kembali menoleh ke arah Dika.


“Wajahmu keliatan pucat hari ini, apa kamu lagi gak enak badan?"


"Kamu yakin? Kalau kamu memang lagi sakit, kamu bilang aja, jadi biarin aku aja yang anterin pak Lucas ke ruangannya.” Ungkap Dika menawarkan diri.


Dan hal itu, lagi-lagi membuat Lucas semakin tidak senang hingga mulai mengerutkan dahinya. Lucas kembali ingin menjawab perkataan sahabat yang kini sekaligus juga sudah resmi menjadi bawahannya itu, namun kali itu nampaknya Mitha sudah lebih dulu berinisiatif untuk menjawab.


“I’m ok kok Dik,” Mitha pun tersenyum pada Dika.


“Lagian pak Ronald yang udah nugasin aku untuk nganterin pak Lucas ini ke ruangannya, jadi aku harus menjalani tugasku sampai selesai." Tambah Mitha lagi,


"Hmm gitu ya??" Dika pun akhirnya mulai mengangguk-anggukan kepalanya.


"Iyaa, karena aku gak mau dibilang enggak profesional apalagi dibilang mangkir dari tugas.” Kali ini Mitha pun mulai melirik tajam ke arah Lucas.


Lucas yang bisa mendengar hal itu pun akhirnya mendengus dan mulai tersenyum puas dengan jawaban Mitha.

__ADS_1


“Hmm baguslah kalau perempuan ini sadar!! aku jadi gak perlu repot-repot untuk ngasi alasan palsu lagi sama Dika.” Gumam Lucas senang dalam hati.


“Hmm gituuu, ya ya ya. Ya udah kalau gitu.” Dika pun tersenyum lirih dan perlahan ia kembali duduk ke kursinya.


Mitha kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang, membuat Lucas yang masih berdiri disana akhirnya kembali tersenyum puas serta mulai memberi semangat pada seluruh bawahannya yang berada di bawah kepemimpinannya.


“Semangat ya semua, semoga kalian bisa fokus bekerja dan tidak memikirkan cinta-cintaan dulu saat berada di kantor.” Ucap Lucas sembari melirik singkat ke arah Dika, menandakan jika ia sedang menyindir temannya itu,


Lucas dengan sikap tenang akhirnya kembali melanjutkan langkahnya menyusul Mitha yang lagi-lagi telah berjalan lebih dulu di depannya.


Sementara Dika, ia sontak dibuat tercengang mendengar kata sindiran yang dilontarkan oleh Lucas.


“Haaiss, apa barusan dia beneran nyindir aku??” Tanya Dika seorang diri.


Mitha dan Lucas akhirnya tiba di depan pintu yang bertuliskan “Direktur Keuangan”. Dengan cepat Mitha membuka pintu itu, lalu ia masuk dan mempersilahkan Lucas untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya yang baru.


“Ini dia ruangan anda dan selamat bekerja.” Mitha pun tersenyum singkat, lalu bergegas ingin beranjak pergi begitu saja.


Namun lagi-lagi Lucas menahannya.


“Wait!” Seru Lucas.


Mitha yang sudah berjalan beberapa langkah menuju pintu, akhirnya menghentikan lagi langkahnya sembari menghela nafas kasar.


“Ya, ada apa lagi pak???!” Tanyanya dengan senyuman yang dipaksakan.


“Tolong dong hidupkan Acnya!” Pinta Lucas datar sembari mulai duduk dengan tenang di kursi kekuasaannya.


“Pak,, itu remot AC nya ada di meja kerja bapak, lebih tepatnya di depan mata bapak, jadi saya rasa pak Lucas yang lulusan luar negeri ini bisa nyalain ACnya sendiri.” Tolak Mitha yang berusaha mati-matian untuk bersikap lembut pada Lucas yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya, hal itu ia lakukan karena mengingat saat ini ia dan Lucas sedang berada di kantor.


“Yes I know! Tapi masalahnya aku lagi males gerak sekarang ini. Jadi tolong lakuin aja apa yang ku bilang tadi. Ok?!” Lucas pun tersenyum tipis, senyumannya terlihat begitu manis, tapi terkesan seolah sedang memperolok Mitha yang saat itu tak punya kuasa untuk menolak perintahnya.


Mitha lagi-lagi menghela nafasnya begitu dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya yang sebenarnya sudah sangat ingin mencabik-cabik wajah lelaki itu.

__ADS_1


“Calm down Mitha, calm down! Ini gak bakal lama kok, sebentar lagi juga selesai, jadi sabar aja dulu ya.” Gumam Mitha dalam hati, seolah sedang memberi dukungan pada dirinya sendiri.


...Bersambung…...


__ADS_2