Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Dia lagi dia lagi


__ADS_3

Lelaki itu pun menghentikan sejenak langkahnya, kedua matanya terlihat sedang menyisir ke seluruh sudut ruangan untuk mencari meja.


“Haihh, dia lagi, dia lagi!!” Gerutu Mitha dalam hati.


Jika sudah melihat bagaimana reaksi Mitha kala melihat lelaki itu, tentu saja kita semua tau jika lelaki yang baru saja datang itu ialah Lucas.


“Kok bisa kebetulan banget ya?” Tanya Vina lagi dengan tatapan yang tak lekang menatap kagum ke arah Lucas.


Saat itu juga, tak sengaja kedua mata tajam Lucas menyorot ke arah dua orang wanita yang kala itu juga sedang memandanginya. Lucas mulai memicingkan matanya sesaat, sebelum akhirnya ia menyadari jika salah satu di antara dua orang itu adalah wanita yang belakangan ini terus mencuri perhatiannya.


“Hmm, rupanya dia makan siang disini juga?” Gumam Lucas dalam hati sembari mulai tersenyum tipis.


Menyadari Lucas yang juga ternyata mulai menatap ke arahnya, membuat Mitha seketika kembali membalikkan badannya, lalu bersikap seolah acuh. Sementara Vina, ia pun sama saja, seketika ia memalingkan pandangannya kala Lucas menatap ke arah mereka saking merasa salah tingkahnya.


Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri Lucas yang saat itu masih berdiri tegak tak jauh dari pintu masuk utama.


“Silahkan mas, di sebelah sana masih ada meja kosong.” Ucap sang pelayan sembari menunjuk ke salah satu meja yang berada di sudut ruangan.


“Gak usah!” Jawab Lucas pelan sembari mengangkat sebelah tangannya.


“Aku mau duduk disana, mereka temanku.” Tambah Lucas lagi sembari menunjuk singkat ke arah Mitha dan Vina yang kala itu tengah terduduk membelakanginya.


“Oh, baik mas, silahkan.”


“Thanks.” Lucas tersenyum singkat, lalu mulai beranjak, melangkah dengan tenang menuju meja mereka tanpa ada rasa grogi sedikit pun.


Lucas menghentikan langkahnya saat ia sudah berada tepat di hadapan Mitha dan Vina. Tanpa ada rasa canggung, bahkan terlihat begitu tenang, ia pun mulai menyapa mereka dengan sebuah senyuman tipis.


“Hai.” Sapanya.


Vina dan Mitha sontak tercengang memandangi Lucasyang tiba-tiba saja sudah ada di hadapan mereka.


“Ha,, hai pa,, pak Lucas.” Jawab Vina yang spontan menjadi gemetaran, namun dengan tatapan matanya yang begitu berbinar kala melihat lelaki yang ia kagumi sudah ada di depan matanya.


“Hai!” Sementara Mitha, ia justru menjawab sapaan Lucas dengan nada datar.


“Kebetulan banget ya bisa ketemu kalian disini.” Lucas pun mulai kembali memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.


“Ke,, kebetulan?? Apa,, apa itu tandanya kalau kita jodoh pak? Hihihi” Tanya Vina yang kemudian langsung tersipu malu.

__ADS_1


Mendengar hal itu, cukup membuat Lucas terkekeh geli.


“Hahaha tentu aja enggak!” Jawab Lucas yang kala itu terlihat begitu tampan saat sedang tertawa.


Namun jawaban itu cukup membuat Vina seketika jadi melesu.


“Hmm, maksud saya, pembahasan kali ini lagi gak menuju ke arah sana.” Jelas Lucas lagi.


“Oh hehehe.” Vina pun akhirnya bisa kembali tersenyum.


“Maaf pak Lucas Armando yang terhormat, kalau boleh tau, hal apa yang membawa anda datang ke meja kami ya? Bukankah,, di cafe ini masih ada beberapa meja yang kosong?!” Tanya Mitha yang terlihat jelas jika ia sangat tidak senang dengan kehadiran Lucas.


“Nah itu dia masalahnya, ternyata semua meja yang kosong sudah di reservasi, itu sebabnya saya jadi gak kedapatan meja sekarang,” ungkap Lucas yang saat itu sudah sangat jelas jika ia sedang mengarang cerita demi bisa mengusik ketenangan Mitha.


“Oh ya? Hmm teruss, hubungannya sama kami apa ya?!” Mitha pun perlahan mulai memicingkan matanya.


“Jadi,,, apa boleh saya duduk bergabung disini aja?” Tanya Lucas tanpa beban.


Pertanyaan itu sontak membuat kedua mata Mitha membulat sempurna, ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Lucas begitu enteng mengatakan hal itu, padahal dia jelas tau jika Mitha teramat sangat membencinya.



“Bo,, boleh pak! Tentu aja boleh!!” Jawab Vina dengan cepat dan penuh semangat.


“Ah syukurlah.” Lucas pun akhirnya tersenyum puas.


Namun Mitha yang mendengar hal itu cukup terkejut dan berbalik melotot ke arah Vina.


“Heh! Apa-apaan sih kamu?!” Bisik Mitha kesal.


"Kenapa sih?"


"Kenapa malah biarin dia duduk bareng kita??"


“Aahh udah lah! tolong pengertianmu kali ini aja, kapan lagi aku bisa duduk berhadapan dengan pak Lucas yang ganteng?!” Jawab Vina yang juga dengan cara berbisik.


“Ah ayo pak, silahkan duduk, jangan malu-malu hehehe” Vina pun kembali menatap Lucas dengan tatapan penuh kegembiraan, ia sama sekali tidak menghiraukan Mitha lagi yang kala itu masih memandangnya dengan tatapan kesal,


“Oh iya, iya. Thanks ya..…” Ucapan Lucas terhenti sejenak.

__ADS_1


“Hmm, siapa namamu???” Tanya Lucas yang memang belum mengenal Vina.


“Vina Puspita pak, bapak bisa memanggil saya Vina, eeemm atau…”


“Atau apa?”


“Atau panggil sayang juga boleh kok pak hehehe.” Vina pun terkekeh dengan wajah yang sedikit memerah karena tersipu malu.


Lucas yang mendengar hal itu pun lagi-lagi hanya mendengus dan tersenyum, sangat berbeda dengan Mitha yang seketika merasa mual dan ingin muntah kala mendengar perkataan sahabatnnya yang ia anggap sangat kecentilan itu.


“Dihh, bener-bener ini si Vina, supaya apa coba ngomong gitu ke psikopat, geli banget iyuuhh!!” Gumam Mitha dalam hati.


Lucas dengan sengaja memilih untuk duduk di hadapan Mitha, hal itu cukup membuat Mitha merasa kurang nyaman karena Lucas terus memandanginya meski dalam diam.


“Ada apa sih sebenernya sama laki-laki ini? Apa kepalanya ada membentur sesuatu sampai sikapnya jadi aneh gini!” Gerutu Mitha yang terus memalingkan pandangannya kala Lucas mulai menatapnya.


“Makin kesini kok perempuan ini makin gemesin ya?? Apalagi kalau mukanya udah masam gitu hahaha astaga, aku ini kenapa sih??" Gumam Lucas dalam hati, sembari tersenyum singkat.


Tak lama seorang pelayan datang dengan sudah membawa makanan dan minuman pesanan mereka.


“Mbak, tolong bawain buku menunya lagi ya, soalnya bos saya belum pesen makanan.” Ucap Vina sesaat setelah pelayan menghidangkan makanan mereka,


"Ok, mbak." Jawab pelayan.


“It's ok, kalian makan aja duluan, gak apa-apa kok.” Ucap Lucas.


Tanpa menjawab, Mitha pun meraih kasar piring makanan miliknya dan mulai menyantapnya tanpa menawarinya lebih dulu pada Lucas. Saat itu Lucas masih memilih diam, ia sama sekali tidak merasa tersinggung atas perlakuan Mitha padanya, karena ia begitu menyadari jika sikap Mitha bisa sejutek itu karena memang disebabkan oleh sikapnya sendiri.


Beberapa puluh menit berlalu, mereka bertiga telah usai menyantap hidangan makan siangnya saat itu.


“Oh ya Vina, boleh saya tanya sesuatu?” Tanya Lucas sesaat setelah mengusap ujung bibirnya dengan tisu.


“Boleh dong pak, boleh banget hehehe.” Jawab Vina sembari mengangguk cepat, tak lupa sebuah senyuman manis juga ia sematkan di bibirnya.


“Kok kamu bisa betah sih temenan sama orang yang jutek kayakndia ini? Apa memang sifatnya begini ya?” Tanya Lucas sembari melirik ke arah Mitha yang kala itu terus diam dengan memasang wajah datarnya,


“Oh hahaha ya mau gimana lagi pak, saya juga terpaksa, karena kalau enggak, enggak bakal ada yang mau temenan sama dia hahaha. Selain jutek, dia juga bawel pak, siapa coba yang mau temenan sama dia?? Hahaha" Jawab Vina yang akhirnya mulai terkekeh geli.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2