
“Lucas, kamu bisa ke ruanganmu sekarang ya! Nanti juga akan ada seorang Sekretaris yang akan membantu pekerjaanmu. Sekarang papa mau ke ruangan papa dulu.” Ronald pun menepuk singkat pundak Lucas, lalu kemudian langsung melangkah pergi.
Begitu pula dengan Mitha yang sejak tadi terus menatap Lucas dengan tatapan tajam, nampaknya ia juga bersiap ingin mengikuti langkah atasannya, Ronald. Hal itu, membuat Lucas tak tinggal diam, ia pun tiba-tiba mendapat ide untuk kembali mengerjai Mitha.
“Heh Sekretaris, tunggu!” Seru Lucas.
Langkah Mitha pun seketika terhenti,
“Siapa? Aku?” Tanya Mitha dengan santai.
“Iya, kau! Memangnya disini ada Sekretaris lain selain kau?”
“Hemm, ada apa ya?” Tanya Mitha cuek.
“Tolong antar aku ke ruanganku!” Pinta Lucas.
Permintaan itu pun sontak disambut dengan respon yang tak biasa oleh Mitha. Ia seketika mendengus dan terkekeh geli di hadapan Lucas seolah tanpa sedikit pun rasa segan.
“Hahaha Excuse me,, memangnya anda siapa bisa memerintah saya sesuka hati ha?”
“Aku siapa?? Apa perlu ku jelasin lagi??” Lucas pun mulai mendelikkan kedua matanya pada Mitha
“Ya ya ya, aku tau anda adalah direktur keuangan yang baru, Right?”
“Nah itu kau tau!”
“Tapi sayangnya, anda bukan bos saya. Disini saya bekerja dan mengabdi hanya pada satu orang saja, yaitu pada CEO sekaligus Presdir perusahaan ini, yaitu pak Ronald Hendarto.” Tegas Mitha sembari tersenyum penuh percaya diri.
Lucas pun terdiam sesaat sembari mendengus.
“Oh ya?? Begitu ya?”
“Of course!” Jawab Mitha yang semakin mengembangkan senyumannya.
“Udah dulu ya, bye.” Mitha pun melambaikan tangannya dengan perasaan puas sembari kembali melangkah untuk menyusul Ronald yang sudah berjalan cukup jauh darinya.
“Ok, let's see!” Lucas pun lagi-lagi mendengus dan kemudian mulai tersenyum sinis.
“Paaa.” Panggil Lucas tiba-tiba.
Ronald yang masih bisa mendengar suara Lucas kala memanggil namanya pun kembali menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lucas. Begitu pula dengan Mitha, ia juga kembali menghentikan langkahnya dan kembali menatap Lucas dengan dahi yang sedikit mengkerut.
“Ada apa Lucas?” Tanya Ronald.
__ADS_1
“Pa, tiba-tiba aku lupa dimana letak ruanganku, maklumlah, ini pertama kalinya aku bekerja. Eemm,, bisa gak aku minta tolong sama Sekretaris papa untuk mengantarkan aku?”
“Oh sure.” Ronald pun tersenyum, lalu kemudian mulai menatap Mitha yang saat itu terlihat terperangah mendengar permintaan Lucas.
“Mitha, tolong antar Lucas ke ruangannya ya, pastikan dia mendapatkan semua yang dia butuhkan, baru setelahnya kamu bisa kembali ke ruanganmu, ok?”
"Ta,, tapi pak..." Mitha mencoba untuk menolaknya, namun ia juga bingung bagaimana cara mengatakannya pada Ronald.
"Kenapa Tha?! Ada masalah?" Tanya Ronald sembari mengernyitkan dahinya.
Mitha pun akhirnya jadi ciut seketika, dan sama sekali tidak sanggup mengeluarkan kata-kata penolakan di hadapan Ronald yang sudah sangat baik padanya.
"Hmm, ga ada pak." Jawabnya kemudian sembari menggeleng pelan.
"Ya sudah, kamu antar Lucas sekarang ya!"
“Ba,,, baik pak.” Jawab Mitha sembari mengangguk lesu.
Ronald pun kembali tersenyum dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Mitha yang mendadak jadi mati kutu.
Kali ini gantian, Lucaslah yang akhirnya bisa tersenyum dengan begitu puas saat melihat bagaimana Mitha yang awalnya menolak permintaannya dengan begitu percaya diri, kini sontak jadi tak berkutik.
“Gimana sekarang? Masih sanggup nolak?” Tanya Lucas yang tersenyum tipis, sembari mulai melangkah santai untuk menghampiri Mitha.
Namun Lucas sama sekali tidak takut saat melihat hal itu, ia justru semakin terkekeh geli dan sangat merasa puas karena berhasil membuat Mitha lagi-lagi terbakar oleh rasa emosinya sendiri.
“Sebenernya maumu apa sih ha? Aku salah apa sampai terus-terusan kau terror gini?” Tanya Mitha kesal.
“Salahmu?? Haha, salahmu banyak! Pertama, kau numpahin minuman ke kaos mahalku. Kedua, kau gak becus waktu ditugasin untuk jemput aku di bandara. Dan yang ketiga, ini yang paling fatal, kau teriak-teriak di rumahku sendiri dan nuduh aku jadi penyusup.” Jelas Lucas dengan tegas.
Mendengar hal itu, Mitha yang kesal pun akhirnya memilih diam menahan amarahnya.
"Oh ada satu lagi kesalahanmu! sekarang kau malah bersikap gak sopan sama Direktur perusahaan ini." Tambah Lucas lagi.
“Haaiish!!” Dengan kesal akhirnya Mitha pun kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan Lucas begitu saja.
“Heh mau kemana??!”
“Bukannya kau minta diantar ke ruanganmu??! Ayo cepet!!! Aku gak punya banyak waktu!” Ketus Mitha sembari terus melangkah.
Lucas pun lagi-lagi bisa tersenyum puas, lalu akhirnya mulai ikut menyusul langkah Mitha yang sudah berjalan lebih dulu.
Mitha terus melangkah cepat menuju lift, karena bagian keuangan berada satu lantai di bawah ruangan Mitha. Sepanjang langkahnya, ada begitu banyak pasang mata yang menyoroti mereka, baik itu pegawai wanita maupun lelaki.
__ADS_1
“Selamat pagi Mitha.” Sapa beberapa pegawai lelaki saat berselisih jalan dengannya,
“Yaa, pagi.” Jawab Mitha dengan senyuman manisnya.
“Kamu keliatan pucat Mitha, kamu lagi sakit ya? Mau aku beliin obat gak?” Tanya salah seorang pegawai yang meja kerjanya di lalui oleh Mitha.
“Oh enggak kok hehehe.” Jawab Mitha yang terus bersikap ramah.
Lucas yang mengikutinya dari belakang tentu bisa mendengar hal itu, entah kenapa saat itu ada perasaan sedikit kesal pada Mitha yang selalu bersikap ketus padanya, namun sikapnya bisa menjadi begitu ramah pada orang lain,
“Perempuan ini, dengan orang lain sikapnya manis dan ramah banget, tapi kenapa denganku selalu ketus?! Apa seleranya serendah itu ya??” Gerutu Lucas dalam hati sembari menatap datar ke arah beberapa laki-laki yang sejak tadi menyapa Mitha.
Langkah keduanya terhenti saat mereka tepat berada di depan lift, Mitha terus menatap lurus ke depan, seolah sama sekali tidak ingin melirik ke arah Lucas walau sesaat. Berbeda dengan Lucas yang beberapa kali sempat terlihat melirik ke arah Mitha yang bersikap dingin dan cuek padanya.
“Hai pak Lucas, apa anda mau kembali ke ruangan anda?” Tanya salah satu pegawai wanita yang ikut berdiri di depan lift.
“Ya.” Jawab Lucas sembari tersenyum singkat.
“Oh ya kebetulan, saya juga jadi bawahan bapak di bagian keuangan hehe itu berarti kita akan bekerja di lantai yang sama, pak.” Jelas wanita itu sembari tersipu malu.
“Oh ya kebetulan juga kalau gitu, bisa gak kamu anterin pak Lucas ke ruangannya sekalian? Karena beliau ini, lupa dimana ruangannya.” Pinta Mitha seketika dengan senyuman yang kembali terlihat mengembang.
“Oh, tentu aja bisa mbak Mitha, bisa banget!” Wanita itu pun nampak langsung bersemangat sembari mengangguk cepat.q
Namun tidak bagi Lucas, seketika dahinya terlihat mengkerut saat Mitha mengatakan hal itu.
“Ahh bagus deh, makasih ya sebelumnya,” Mitha pun semakin mengembangkan senyumannya pada pegawai itu.
“Ok pak Lucas, dia yang bakal lanjutin tugas saya untuk mengantar anda ke ruangan, karena saya ada tugas lain yang harus di kerjakan.” Mitha pun tersenyum dan langsung ingin melangkah pergi untuk kembali ke ruangannya.
Namun hal itu tampaknya tidak dibiarkan terjadi begitu saja oleh Lucas. Dengan cepat Lucas pun langsung menarik tangan Mitha, seolah benar-benar tidak membiarkannya pergi.
Mitha pun sontak terkejut saat Lucas melakukan hal itu padanya, terlebih lagi ia melakukannya saat di kantor bahkan juga di depan pegawai lain.
“Apa-apaan ini pak Lucas? Tolong lepasin tangan saya!” Tegas Mitha sembari melototinya.
Namun Lucas tidak bergeming, ia justru semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Mitha, membuat Mitha kini tidak bisa pergi kemana-mana.
Pegawai wanita itu pun juga seketika dibuat tercengang saat memandangi kejadian tak terduga itu.
“Eeemm, kamu gak perlu membuang banyak waktu berhargamu untuk mengantar saya, saya akan lebih senang jika kamu menggunakan waktu itu untuk menyelesaikan pekerjaanmu. Jadi biar dia saja yang mengantar saya! Karena ini sudah jadi tugasnya.” Ucap Lucas dengan tenang pada pegawai wanita itu.
“Ba,, baik pak.” Pegawai wanita itu pun mengangguk cepat.
__ADS_1
...Bersambung…...