Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Emosi


__ADS_3

“Termasuk jugaa….”


“Siapa??? Ngomong yang jelas dong, Bro.” Ucap Dika seolah tak sabar untuk mendengar lanjutan kalimatnya.


“Termasuk juga, si Sekretaris idamanmu itu dong ya??” Tanya Lucas akhirnya.


“Hah?! Sekretaris idaman??” Dika yang nampak masih bingung mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena Dika akhirnya tau siapa yang di maksud oleh Lucas.


“Oh haha maksudmu Mitha ya??” Dika pun seketika langsung jadi begitu sumringah saat menyebut nama Mitha.


“Hmm.” Jawab Lucas yang sengaja bersikap datar, demi menutupi rasa keingintahuannya tentang Mitha di hadapan Dika.


“Hmm kalau Mitha, dia gak bakal mau kemari!" Jawab Dika tegas.


Jawaban itu, nyatanya kian memunculkan rasa penasaran yang lebih besar lagi dalam diri Lucas.


“Gak bakal kesini??! Kenapa gitu?” Tanya Lucas yang kali ini mulai menatap Dika dengan semakin serius.


“Ya tentu aja, Mitha itu anak rumahan, jarang banget keluar malam, kalau pun keluar malam, mungkin palingan dengan keluarganya aja.” Jelas Dika yang kelihatannya sudah sangat paham tentang Mitha.


“Haaiih kau ini sok tau!!" Lucas pun mendengus seolah tak percaya.


“Dihh, ya jelas lah aku tau, aku kan pengagum beratnya hahaha. Lagian ya, aku udah berkali-kali berusaha ngajak dia makan malam di luar, terutama waktu malam Minggu, tapi apa, sekali pun gak pernah kesampaian.”


“Dia menolakmu bukan berarti dia anak rumahan, bisa jadi dia memang udah punya pacar.”


“Eh enggak ada! Mitha gak punya pacar sekarang! dia sendiri yang bilang kalau dia udah gak pernah pacaran lagi semenjak tamat SMA.”


“Oww, Really?” Kali ini suara Lucas terdengar semakin pelan.


“Beneran! Lagian bukan cuma aku aja, ada banyak staff kantor yang pengen banget ngajak dia ngedate, tapi gak pernah ada yang berhasil. Huh, bener-bener sulit banget ngambil hatinya.” Keluh Dika sembari akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Hmm lumayan menarik!” Celetuk Lucas pelan sembari tersenyum tipis.


“Apa?!” Tanya Dika yang kurang mendengar dengan jelas ucapan Lucas.


“Oh gak ada.” Lucas pun menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum.


“Oh.” Dika akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Namun tiba-tiba, Dika kembali menatap Lucas dengan tatapan yang tak biasa.


“Eh tunggu! kenapa kamu tiba-tiba nanyain tentang Mitha?? Kenapa?” Tanya Dika sembari mulai memicingkan matanya.

__ADS_1


Mendapat pertanyaan mendadak seperti itu, sontak membuat Lucas jadi gugup dan gelagapan.


“Emm gak ada! Cuma tanya aja, memangnya gak boleh?” Jawab Lucas berkilah dan berusaha untuk tetap bersikap tenang di hadapan Dika, berharap ia tidak merasa curiga.


“Tapi ini bener-bener mencurigakan, heemm jangan bilang kamu juga udah mulai naksir sama dia ya?! Iya!?” Dika semakin memicingkan matanya pada Lucas, seolah menyelidik lebih dalam lagi.


Dan hal itu, membuat Lucas jadi semakin gelagapan, berkali-kali ia harus menelan ludahnya sendiri karena gugup, takut ketahuan jika ia memang ingin mencari tau tentang Mitha.


“Hah?! What? Are you kidding me?? Aku naksir sama si Sekretaris itu?? Oh Bro, come on, no way!” Jawab Lucas akhirnya, yang nampak begitu lihai dalam menyembunyikan fakta.


“Kamu yakin nanya kayak tadi, bukan karena mulai naksir sama dia??!!” Tanya Dika lagi seolah lebih ingin memastikan lagi.


“Of course, no!” Lucas pun mulai meraih kembali gelas minumannya, perasaan gugup ternyata sangat cepat membuatnya kembali merasa haus.


“Ok, aku pegang kata-katamu! Awas aja!” Tegas Dika yang kali ini mencoba untuk memperingati Lucas.


“Iya! Lagian gimana aku bisa naksir, aku kan belum pernah ketemu juga sama dia. Apa kau sudah gila nuduh aku naksir sama orang yang akupun gak tau gimana wujudnya?!"


“Oh hehehe iya juga, aku lupa.” Dika pun akhirnya bisa kembali tersenyum dan ikut menyeruput minuman miliknya.


Sementara Lucas, tanpa sepengetahuan Dika, berkali-kali ia menghela nafas lega, karena ia berhasil menutupi kegugupannya yang muncul karena ia memang sedang berbohong.


“Tapi bener juga, kenapa aku jadi penasaran banget sama perempuan nyebelin itu? Kenapa juga aku jadi pengen tau banyak hal tentang dia??” Tanya Lucas dalam hati sembari terus meminum minuman miliknya.


Tak terasa malam kian pekat, jarum jam kini sudah mengarah ke pukul 01:30 dini hari. Lucas mulai merasa jenuh dan berniat ingin pulang, ia pun meminta Dika untuk membayar semua pesanan mereka ke kasir dengan membawa Credit Card miliknya. Sementara itu, Lucas pun memilih untuk pergi ke toilet lebih dulu untuk mencuci mukanya agar tidak mengantuk saat di perjalanan.


Saat itu, Nia sudah setengah mabuk, karena ia memesan minuman cocktail yang mengandung alkohol yang strong di dalamnya.


“Ke toilet!” Jawab Lucas datar sembari langsung bangkit dari duduknya.


Lucas pun langsung beranjak pergi menuju toilet, tanpa ia sadari, Nia mengikutinya dari belakang dengan jalannya yang nampak sedikit sempoyongan.


Lucas berdiri di depan cermin, lalu mulai menundukkan kepalanya dan langsung membasuh wajah tampannya secara perlahan. Setelah beberapa saat, Lucas akhirnya kembali mengangkat wajahnya untuk menatap ke arah cermin yang ada di hadapannya, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Nia yang sudah berdiri di belakangnya dengan sebuah senyuman yang tak biasa, di tambah pula dengan pose berdiri yang cukup menggoda.


“Kau?!!” Ucap Lucas yang sedikit terkejut.


“Ngapain disini?” Tanya Lucas lagi dengan sorot mata yang sedikit menajam.


“Lucas, aku pusing banget.” Ucap Nia bernada manja sembari memegangi kepalanya.


“Kalau pusing, harusnya kau pulang ke rumah, bukan malah ngadu ke aku!” Jawab Lucas dengan sangat datar.


“Ah Lucas, kamu galak tapi kenapa justru jadi keliatan semakin ganteng dan gemesin ya?!” Nia pun dengan lancang mulai mencolek dagu Lucas.


Hal itu cukup membuat Lucas kesal, namun tetap mencoba untuk menahannya.

__ADS_1


“Ku sarankan kau jangan pernah lakuin hal itu lagi ke aku!” Tegas Lucas dengan tatapan matanya yang semakin tajam.


“Kenapa Lucas? apa kamu takut bakal tergoda denganku?” Bukannya jadi takut, Nia justru semakin melangkah mendekati Lucas dengan menampilkan senyumannya yang terlihat semakin menggoda.


“Minggir! Aku mau keluar!!” Lucas ingin melangkah pergi, namun langkahnya dengan cepat dicegat oleh Nia yang langsung berdiri di hadapannya dan hal itu tentu menghalangi jalan Lucas.


Nia masih tersenyum sembari menggelengkan pelan kepalanya.


“Aku ngerti kok, mungkin kamu berusaha jaga image di depan temen-temen kamu, makanya kamu jadi cuek gini sama aku. Tapi enggak disini, karena mereka enggak ada disini Lucas, jadi kamu gak perlu malu-malu lagi.” Ucap Nia setengah berbisik,


Dengan berani, Nia pun langsung saja memeluk tubuh atletis Lucas dengan erat, hal itu akhirnya berhasil membuat Lucas semakin bertambah murka hingga saat itu ia tak dapat membendung emosinya lagi. Dengan kasar Lucas langsung merentapkan kedua tangan Nia yang sudah dengan lancang melingkar di pinggangnya.


“Stop it!!” Bentaknya.


Hal itu sontak membuat Nia terperanjat.


“Aku ingetin sekali lagi, jangan pernah berani nyentuh aku lagi! Atau kau akan tau akibatnya!!” Ketus Lucas lagi yang kemudian langsung beranjak pergi begitu saja,


meninggalkan Nia seorang diri dalam keadaan masih shock akibat bentakan Lucas yang terdengar begitu menggelegar bak petir.


Lucas melangkah begitu cepat dengan membawa rasa kesalnya untuk kembali ke mejanya. Disana sudah menunggu Dika dan Aryo yang juga sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.


“Bro, ini kartu kreditmu.” Ucap Dika sembari menyerahkan kembali credit card milik Lucas.


Lucas pun menerimanya tanpa berkata apapun.


“Dan ini, billnya Bro, kamu bisa memeriksanya dulu kalau merasa ada yang….”


“Gak perlu!” Jawab Lucas yang langsung memotong ucapan Dika sembari menolak untuk menerima kertas struk yang diberikan oleh Dika padanya.


“Aku pulang duluan, Bye!” Lucas pun akhirnya pergi begitu saja, membawa wajah masamnya akibat kejadian tak terduga di depan toilet.


“Dia beneran gak ngelirik bill ini sedikit pun??? Dia bahkan gak mau tau berapa nominal yang baru aja dia keluarkan untuk bayar ini semua??!" Tanya Dika yang masih begitu tercengang memandangi kepergian Lucas.


“Apa gitu ya jadi orang kaya??? Huh, kapan ya aku bisa gitu??” Tambah Dika lagi yang kembali memandangi bill yang di bawahnya tertulis nominal yang cukup fantastis.


"Tapi dia kenapa ya? Kenapa begitu keluar dari toilet, mukanya jadi kecut gitu??" Tanya Aryo yang juga tercengang memandangi kepergian Lucas.


"Huh, entah lah! Orang kaya memang kadang membingungkan." Dika pun hanya mengangkat singkat kedua pundaknya.


Sementara Nia, ia tampak masih terpaku di depan toilet.


“Hah?! Barusan dia nolak aku?? Serius dia nolak aku??” Tanya Nia seorang diri seolah tidak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi padanya.


Nia pun mendadak jadi merasa lemas, ia berdiri bersandar di dinding dengan perasaannya yang masih sangat tidak menyangka dengan penolakan yang ia terima.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2