
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, tak terasa sudah tiga hari lamanya Lucas sama sekali tidak ada berkomunikasi lagi dengan Mitha setelah malam itu, malam dimana ia mengantar Mitha pulang.
Selama tiga hari itu pula dia terus memikirkan cara bagaimana agar ia bisa kembali mendatangkan Mitha ke ruangannya, tapi selalu saja tidak gagal dan Mitha selalu saja punya cara untuk menghindar.
Hal itu membuat Lucas kesal, ia juga tidak mengerti kenapa hal itu bisa ia rasakan. Tapi yang jelas, ia menjadi uring-uringan karena tidak ada gadis yang bisa dibuatnya kesal seperti sebelumnya.
"Haiss, kenapa akhir-akhir ini dia selalu bisa menghindar ya?" Gumam Lucas sembari terus mondar mandir di dalam ruangannya,
Malam hari di kediaman Lucas...
*Tok,,tok,,tok*
Lucas dengan sedikit ragu-ragu, mulai mengetuk pintu ruangan kerja Ronald, lalu langsung membuka pintu itu meski belum disuruh masuk oleh papanya.
"Pa, sibuk gak?" Tanyanya saat berdiri di depan pintu.
Gak terlalu, cuma lagi ngecek email aja. Kenapa nak?? Hmm masuk lah!" Jawab Ronald.
Lucas pun melangkah masuk dan duduk di hadapan papanya.
"Ada apa? Apa ada masalah di kantor?!" Tanya Ronald.
"Masalah sih gak ada pa, tapi ada hal penting, ini tentang keputusanku." Ungkap Lucas, dengan raut wajah yang sangat serius,
"Keputusan?? Keputusan apa?" Sajah Ronald pun mendadak jadi nampak tegang.
Lucas pun menghela nafasnya begitu dalam, lalu akhirnya mulai menyampaikan apa yang akhir-akhir ini sudah ia pikirkan matang-matang, mengenai keputusannya di kantor yang cukup membuat Ronald terkejut bukan main,
Keesokan harinya…
Pagi ini, Ronald selaku CEO sekaligus Presdir di perusahaan, kembali membuat heboh para pegawainya di kantor, terutama Mitha. Bagaimana tidak, hari ini ia kembali mengumpulkan para dewan direksi di ruang rapat, hal itu ia lakukan karena ingin mengumumkan hal yang cukup mengejutkan.
Ia mengumumkan, jika mulai Minggu depan, ia sudah tidak akan menjabat sebagai CEO maupun Presdir lagi, bahkan bukan hanya itu, ia juga menunjuk putra sulungnya Lucas Armando, untuk menggantikan posisinya sebagai CEO perusahaan yang baru.
Alasan Ronald akan hal itu pun cukup simple, ia mengatakan jika sejak kemarin, ia memang sudah sangat ingin menyerahkan perusahaan itu pada Lucas, tapi sayangnya kemarin Lucas belum merasa siap untuk mengemban tanggung jawab besar. Tapi berbeda halnya dengan sekarang, Lucas sudah memutuskan untuk bersedia menjadi CEO berikutnya, menggantikan posisi Ronald. Ia juga mengatakan jika ia ingin menghabiskan hari tuanya lebih banyak dirumah, menikmati sisa hidupnya bersama istri tercinta dan melakukan banyak hal berdua.
Dan hal itu tentu lah langsung disetujui oleh dewan direksi yang lain, mengingat jika selain menjabat sebagai CEO dan Presdir, Ronald juga pemilik sah perusahaan itu.
Mitha sama sekali tidak diberitahukan hal ini sebelumnya oleh Ronald, itulah sebabnya ia pun sangat terkejut mendengar hal yang terkesan sangat mendadak itu.
Saat itu ada beberapa staff yang berdiri di depan ruang rapat, tak sedikit pula yang menyambut antusias keputusan Ronald yang menunjuk Lucas sebagai CEO perusahaan yang baru. Tapi hal itu nyatanya tidak terjadi pada Mitha, ia yang juga berada disana, justru nampak cemas dan terlihat sedih.
Tak lama, Ronald dan Lucas pun keluar dari ruang rapat beserta jajaran direksi yang lainnya. Beberapa pegawai yang sejak tadi berada di depan ruangan itu pun seketika menyambut mereka dengan penuh semangat dan tak lupa pula mengucapkan selamat pada Lucas.
__ADS_1
“Selamat ya pak Lucas, CEO baru, semoga juga jadi semangat yang baru untuk kami semua hehehe.” Ungkap salah satu pegawai.
“Ya, terima kasih.” Jawab Lucas sembari tersenyum tipis.
Jajaran direksi pun langsung pamit undur diri lebih dulu, tak lama di susul pula dengan para staff pegawai yang juga undur diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Tinggal lah Mitha, yang kala itu terlihat masih berdiri mematung, dengan raut wajah penuh kecemasan dan tampak murung.
Lucas pun mulai melirik ke arahnya, lalu kembali mengutas senyuman tipis dan mulai menghampirinya.
“Hy my Secretary, morning.” Sapa Lucas dengan tenang.
Bukan malah membalas sapaan Lucas, Mitha justru seketika nampak mengerutkan dahinya.
“Maaf pak, tapi saya Sekretaris pak Ronald, bukan anda.” Jawab Mitha tegas.
Ronald yang mendengar hal itu pun seketika ikut menghampiri Mitha.
“Ya benar, Mitha Sekretaris papa!” Ucap Ronald sembari tersenyum tenang menatap Mitha dan Lucas secara bergantian.
“Tapi, cuma dalam satu Minggu terakhir ini aja hehehe, selebihnya Mitha akan jadi Sekretaris Pribadi Lucas.” Tambah Ronald lagi sembari menepuk pundak Lucas,
Bak disambar petir di siang bolong, kedua mata Mitha sontak terlihat terbelalak saat mendengar pernyataan yang dikeluarkan langsung oleh Ronald.
“Ha??!! Mak,, maksud bapak?” Tanya Mitha yang mendadak gelagapan.
“Ta,, tapi pak, kenapa pak Lucas tidak merekrut Sekretaris baru yang lebih handal dan berpengalaman saja? Lagian bukankah beberapa hari lalu dia sudah menginterview beberapa orang?"
“Dia tidak mau merekrut Sekretaris baru Tha, karena tidak ada yang sesuai.”
“Ta,, tapi pak, sa,, saya…”
“Apalagi sih??” Tanya Lucas yang ikut mengerutkan dahinya.
“Pak Ronald, saya sudah terbiasa bekerja dengan bapak, saya juga sudah nyaman pak. Jadi, sepertinya saya tidak akan merasa nyaman dan aman jika bekerja dengan CEO baru,” jelas Mitha tanpa melirik ke arah Lucas sedikit pun,
Mendengar hal itu, membuat Lucas cukup merasa tak terima.
“Heh, apa bedanya sih? Kau tetap bekerja untuk CEO perusahaan ini, dengan pekerjaan dan rutinitas yang sama!” Tegas Lucas,
“Pekerjaannya memang sama, tapi rasa nyamannya yang tidak sama!! Kenyamanan dan keamanan dalam pekerjaan itu penting bagi saya!” Tegas Mitha yang mulai menatap tajam ke arah Lucas.
“Heh! Memangnya kau anggap aku ini apa ha? Memangnya aku ini penjahat apa, sampai membuatmu merasa gak aman?”
“Bahkan kayaknya lebih buruk dari sekedar penjahat!” Gerutu Mitha pelan.
__ADS_1
Namun Lucas ternyata masih bisa mendengarnya, hingga membuatnya semakin tak terima.
“Apa katamu??!!" Lucas pun mulai melototi Mitha.
Namun Mitha sama sekali tidak takut apalagi membuat nyalinya ciut, ia masih bisa berdiri dengan tenang di hadapan Lucas tanpa ada rasa gemetaran sedikit pun meskipun saat itu Lucas terlihat begitu murka padanya,
Sementara Ronald, mendengar perdebatan mereka cukup membuatnya tersenyum dan terkekeh sembari menggeleng-gelengkan pelan kepalanya.
“Sudah, sudah!” Ucap Ronald yang mencoba jadi penengah mereka berdua.
“Pak Ronald, kalau anda memang sudah memutuskan untuk tidak bekerja lagi, maka begitu juga dengan saya pak. Sepertinya saya juga akan mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain saja pak.” Ungkap Mitha dengan memasang waut wajah sendu,
“Hei, hei Tha!! Kenapa kamu bicara seperti itu??” Tanya Ronald yang nampak sedikit terkejut dengan pernyataan Mitha saat itu.
Begitu pula dengan Lucas, ia juga mulai nampak panik saat mendengar hal itu, karena itu sungguh jauh dari dugaannya.
“Iya pak, saya sudah terlanjur nyaman bekerja dengan bapak, saya gak yakin bisa merasakan hal yang sama dengan pak Lucas.” Keluh Mitha yang nampak begitu jujur dan terbuka.
“Heemm ya sudah, ya sudah! Lebih baik kita bicarakan hal ini di ruangan saya saja. Ok?”
Mitha pun mengangguk pelan.
“Ayo.” Ucap Ronald yang mulai melangkah pergi.
Mitha pun bergegas menyusul langkah Ronald dan meninggalkan Lucas seorang diri yang kala itu masih terlihat terpaku menahan rasa kesal dan herannya,
“Hah!! dia beneran nolak jadi Sekretarisku?? Yang bener aja!! Perempuan itu sebenernya waras gak sih??!!" Tanya Lucas seorang diri.
“Huh, ini bener-bener udah keluar dari rencana. Enggak, enggak! Ini gak boleh terjadi! Gimanapun juga, dia harus tetep jadi Sekretarisku! Kalau enggak, untuk apa aku mau ngajuin diri jadi CEO kalau gak bisa bikin dia jadi Sekretarisku!!” Tambah Lucas lagi yang kemudian mulai melangkah pergi, menuju ruangannya.
Ronald duduk di kursi kejayaannya, lalu di susul pula dengan Mitha yang menduduki kursi yang ada di depan meja kerja Ronald.
“Sebenarnya apa yang membuatmu jadi bicara kayak tadi Tha?” Tanya Ronald pelan.
“Saya yakin bapak sudah tau penyebabnya pak.” Jawab Mitha.
“Maaf sebelumnya pak kalau saya harus mengatakan hal ini, tapi saya dan Lucas beneran gak bakal pernah bisa akur, semenjak kejadian di rumah bapak, Lucas selalu membuat saya kesal dan mungkin begitu pula sebaliknya. Jadi gimana bisa kami kerja sama??” Ungkap Mitha lagi secara terus terang.
“Eemm ya, ya saya tau masalah itu. Tapi Tha, saya sudah percaya sama kamu 1000%. Selain Lucas yang memang meminta kamu untuk jadi Sekretarisnya, saya secara pribadi juga gak yakin kalau Sekretaris yang baru bisa seloyal dan totalitas seperti kamu Tha.” Pujuk Ronald dengan lembut.
Mitha pun mulai terdiam mencerna penjelasan dari Ronald.
...Bersambung…...
__ADS_1