
Mendengar pertanyaan seperti itu, tentu membuat raut wajah Ronald seketika jadi berbinar.
Bagaimana tidak, jika boleh jujur, hal itu lah yang sejak dulu diharapkan olehnya, namun dulu Lucas seakan seperti masih begitu menikmati hidup barunya di London, hingga sangat sulit memintanya untuk pulang ke rumah pada masa itu.
“Kamu mau stay seterusnya disini?” Tanya Ronald dengan begitu sumringah.
“Rencananya sih gitu.” Jawab Lucas dengan tenang.
“Ohh Really?”
“Eemm.” Lucas pun mengangguk pelan.
“Of course boleh nak, boleh banget! justru itulah yang papa harapkan hehehe.” Ronald pun akhirnya tertawa senang.
“Hmm tapi itu masih rencana pa, kalau aku gak berubah pikiran.” Ucap Lucas lagi.
“Haaiiss, apa lagi yang dipikirin? Lagi pula untuk apa kamu balik kesana?? Kalau alasannya karena kerjaan, maka lupain hal itu, karena disini papa sendiri yang menjamin kalau semua kebutuhanmu bakal terpenuhi.”
“Ya, I know pa, tapi….”
“Tapi apa? Kamu meragukan usaha yang kita punya sekarang ini?”
“Oh tentu aja enggak pa!”
“Terus apalagi yang bikin kamu bimbang nak?”
“Seenggaknya, kalau aku stay disini, tolong kasi aku pekerjaan pa.” Ucap Lucas polos.
Hal itu pun seketika membuat Ronald kembali terkekeh geli saat mendengar perkataan putra sulungnya itu.
“Hahaha astaga Lucas, Lucassss!" Ronald pun semakin tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Why?” Tanya Lucas yang terlihat sedikit bingung.
“Papa gak salah denger ha? Permintaan macam apa itu? Hahaha”
__ADS_1
“It’s a simple thing, right?” Tanya Lucas.
“Dengar! Untuk apa kamu minta pekerjaan kalau perusahaan yang papa bangun nantinya bakal jatuh ke tanganmu?”
Mendengar hal itu membuat Lucas seketika mendengus dan tersenyum.
“Sebenernya, udah lama papa nunggu moment ini, seharusnya di usia papa yang sekarang, papa udah tinggal memetik hasil dari kesuksesan bisnis keluarga kita ini aja. Papa pengen nyantai, menghabiskan banyak waktu di rumah, dan bisa ngajakin mamamu berlibur kemanapun dan kapanpun yang dia mau.” Ungkap Ronald lagi.
“Paa, tapi kurasa sekarang terlalu cepat untuk menggantikan posisi papa sebagai Presdir sekaligus CEO di perusahaan. Seenggaknya untuk saat ini, kasi aja aku jabatan di bawah papa, jabatan yang biasa aja, Hmm kayak GM contohnya.” Ungkap Lucas santai.
“Oh jangan nak! kamu bisa pilih jabatan apa aja asal jangan minta jabatan sebagai GM! Karena papa baru setahun yang lalu mengangkat salah seorang staff perusahaan jadi GM yang baru karena kinerjanya di perusahaan kita sangat bagus.” Jelas Ronald.
“Oh ya? Apa dia beneran sebagus ini?”
“Ya, dia bener-bener sangat profesional, sangat teliti dan papa sangat suka cara kerjanya yang memiliki loyalitas tinggi terhadap perusahaan kita. Namanya Vino Ardana, dia juga masih sangat muda, mungkin usianya mirip-mirip denganmu.”
“Oh, hemm gitu ya?”
"Tapi sebenernya memang ada orang yang pingin papa ganti, yaitu Direktur keuangan, apa kamu minat?"
“Ya udah gini aja, besok kamu ikut papa ke kantor ya, supaya kamu bisa beradaptasi dengan lingkungan kantor dan orang-orangnya. Untuk masalah jabatan, gampanglah, kita pikirin nanti. Ok?”
“Hemm ok deh pa.” Lucas pun mengangguk singkat dan tersenyum tipis.
“Dan papa mau kamu pake jas ya, supaya keliatan lebih formal, karena biar gimanapun, kamu udah dikenal sama seluruh pegawai papa sebagai anak dari owner, CEO, sekaligus presdir hehehe.”
“Ok pa,” Lucas pun kembali tersenyum manis.
Merasa jika hal yang ingin dibicarakan olehnya sudah tersampaikan seluruhnya, Lucas pun akhirnya perlahan mulai bangkit dari duduknya.
“Emm ok lah pa, kalau gitu aku mau balik ke kamar,” Ucapnya.
“Oh iya, iya. Kalau bisa tidur lebih awal, supaya pas bangun besok pagi, kamu jadi lebih fit dan fresh hehehe.”
Lucas pun seketika mendengus dan tertawa pelan.
__ADS_1
“Ku usahakan pa,” Jawabnya sembari mulai melangkah pergi.
Ronald pun semakin mengembangkan senyumannya saat memandangi kepergian Lucas.
“Good night, pa.” Ucap Lucas sebelum akhirnya ia benar-benar beranjak pergi dari ruangan sepetak itu.
“Night, son.”
-Sisi lain di kamar Mitha-
Mitha masuk ke dalam kamarnya sesaat setelah makan malam bersama keluarganya selesai. Tidak langsung menuju ranjang, ia justru langsung menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya, lalu berdiri didepan cermin yang ada di wastafel kamar mandi. Menyikat gigi dan mencuci muka sebelum tidur memanglah sudah menjadi rutinitasnya setiap malam. Beranjak dari kamar mandi, kini Mitha mulai beralih menuju meja riasnya, mulai dari toner, serum, hingga cream malam dari brand ternama tak luput ia torehkan ke wajah cantiknya.
Tak terasa jam pun sudah menunjukkan pukul 22:00 malam, selesai dari semua skincare rutinnya malam itu, akhirnya Mitha bisa merebahkan tubuhnya dengan damai ke atas ranjangnya yang empuk. Lagi dan lagi, bayang-bayang Vino kembali melintasi pikirannya, seutas senyuman simpul kembali terpancar dari bibir mungilnya kala mengingat momen terakhirnya bersama Vino saat di cafe.
“Kak Vino, I miss you so much. Please buruan balik, aku nungguin kamu, selalu.” Ungkap Mitha lirih dari dalam hati, tatapannya juga terus menatap sendu ke arah langit-langit kamarnya.
Selang beberapa saat, Mitha dengan lesu mulai melirik ke arah ponselnya yang terletak tak jauh dari bantalnya. Dengan cepat ia meraihnya, lalu membuka aplikasi hijau, aplikasi yang banyak digunakan orang-orang untuk berbalas pesan. Lagi-lagi tatapannya kembali sendu kala melihat ada banyak chat yang masuk, tapi di antara banyaknya orang yang mengirimnya pesan, pesan dari Vino ternyata tidak termasuk di antaranya.
“Kalau dia memang suka, kenapa semenjak jauhan dia sama sekali gak pernah menghubungiku?” Tanya Mitha dalam hati sembari memandangi kontak Vino.
Mendadak, Mitha pun mulai berpikir untuk mengirimnya pesan lebih dulu,
“Hemm, apa aku aja yang chat dia duluan ya? Seenggaknya kalau sekedar nanyain kabar, kurasa gak bakal jatuhin harga diri deh,” Gumamnya seorang diri sembari jemari tangannya seolah bersiap ingin mengetik sesuatu pada aplikasi hijau itu yang tentunya di tujukan untuk Vino.
Tapi hal itu lagi-lagi di hadang dengan cepat oleh rasa gengsinya yang sangat besar yang seolah tak membiarkan dia sebagai wanita melakukan hal itu lebih dulu.
“Enggak, enggak! Gak bisa! Mau diletak dimana wajahku kalau aku ngechat duluan?? Apa yang nanti bakal dipikirin sama kak Vino kalau aku ngelakuin itu? Hiss, pasti dia bakal berpikir kalau aku ini sama aja dengan cewek-cewek lain di luar sana yang ngejer-ngejerin. Enggak, enggak! Gak boleh terjadi, gak boleh!!” Gumam Mitha lagi yang seketika langsung menghapus kata-kata yang sudah ia ketik sebelumnya.
Mitha pun kembali meletakkan ponselnya dengan perasaan yang jadi tak menentu, di satu sisi ia sangat rindu dengan Vino dan ingin sekali berkomunikasi dengannya, tapi di sisi lain, ia tetap bersikeras mempertahankan gengsinya dan memilih untuk tidak menghubungi Vino lebih dulu.
Tak ada yang bisa ia lakukan saat itu selain memilih untuk mulai memejamkan mata indahnya dan bersiap untuk tidur. Namun, baru saja beberapa saat kedua mata itu terpejam, sudah harus dibuat kembali mendelik saat mendengar ponselnya berbunyi dan bergetar di waktu yang sama.
“Ihhh, orang lancang mana yang sanggup nelpon malem-malem gini sih?” Gerutunya yang merasa sedikit kesal sembari mulai meraih ponselnya kembali.
__ADS_1
...Bersambung…...