Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Wajah memerah


__ADS_3

"Gimana? Apa kamu masih gak berubah pikiran untuk aku antar pulang??" Tanya Lucas yang kembali menatap Mitha.


Kala itu Mitha hanya diam dan terlihat kikuk, sangat gengsi baginya jika harus mengatakan iya pada Lucas.


"Hmm, kamu diem, itu berarti jawabannya iya." Ucap Lucas yang menyimpulkan sendiri.


"Ya udah, let's go!" Ucap Lucas yang langsung melangkah menuju setir kemudi.


"Kalau begitu aku pulang duluan ya Bayu, Aryo." Ucap Mitha sembari tersenyum singkat ke arah mereka berdua.


"Iya Mitha, hati-hati di jalan ya, teriak aja kalau Lucas mau macam-macam sama kamu." Ucap Bayu yang menampilkan wajah cemasnya.


Kala itu Mitha hanya tersenyum dan kemudian langsung masuk ke dalam mobil.


"Ngapain sih sama mereka? Lama banget!" Gerutu Lucas yang entah kenapa sedikit merasa cemburu.


"Lamanya apanya, cuma pamit aja."


"Ngapain coba pamit sama mereka, kayak orang tua aja!"


"Ya setidaknya kan menghargai sebagai sesama rekan kerja, apa salahnya sih?" Jawab Mitha.


"Hmm iya, iya! Mentang-mentang kamu cantik, terus kamu juga tau kalau Bayu naksir berat sama kamu, terus kamu jadi sok manis di depan mereka, itu sama aja kamu PHP namanya."


"Dih siapa juga yang PHP." Mitha pun seketika langsung memanyunkan bibirnya.


"Eh tunggu, tadi kamu bilang apa?? Aku cantik?? Hmm, apa itu artinya secara gak langsung kamu mengakui kalau aku ini cantik?" Mitha pun seketika tersenyum penuh kemenangan saat menatap Lucas yang mendadak wajahnya jadi memerah karena gugup dan malu.


"Aaaghh sial!! Kenapa juga aku harus ngomong gitu ke dia?? Lihat tuh, jadi GR kan dia." Gerutu Lucas dalam hati.


"Aaa, kenapa kamu jadi mendadak diem? Nah tuh liat deh, wajah kamu merah tu hahaha." Mitha pun tertawa puas.


"Merah apanya? Ngarang banget! Lagian ini gelap, mana mungkin keliatan!" Elak Lucas.


"Ya udah, intinya kamu udah ngakui kan kalau aku cantik."


"Hmm iyain aja deh, biar seneng!" Jawab Lucas akhirnya.


Mitha pun akhirnya terdiam sembari masih terus tersenyum karena puas mengolok Lucas yang kala itu benar-benar terlihat jadi mati gaya.


"Astaga, tapi kenapa aku jadi seneng gini ya pas denger dia bilang aku cantik? Duhh perasaan apa ini??" Gumam Mitha dalam hati.


"Hmm, by the way, kamu beneran tau kan kalau Bayu naksir berat sama kamu?" Tanya Lucas seolah mengalihkan pembicaraan.


"Dia gak pernah bilang secara langsung sih kalau naksir aku, cuma emang sering perhatiin dan care aja sama aku."


"Oh! Hmm, Bayu bilang dia naksir berat sama kamu, gimana menurutmu?"


"Gimana apanya? Ya gak gimana-gimana, itu hak Bayu dong mau suka sama siapa aja." Jawab Mitha santai.

__ADS_1


"Ya I know, tapi gimana? Apa kamu bersedia dideketin sama Bayu, kalau iya, aku akan sampaikan sama dia biar dia gak ragu-ragu lagi." Ucap Lucas, yang sebenarnya hanya memancing Mitha, karena ingin tau bagaimana perasaan Mitha kepada Bayu.


"Hmm kayaknya enggak deh," Jawab Mitha yang menggelengkan pelan kepalanya.


"Kenapa enggak?"


"Aku anggep Bayu itu udah sebagai temen, gak bisa lebih dari itu."


Mendengar hal itu, entah kenapa Lucas merasa lega hingga bersorak dalam hati.


"Oh iya, aku lupa. Kamu kan udah ada lelaki idaman ya, hmm pantes aja gak mau sama Bayu."


"Hmm kali ini aku gak mau jawab, lagi males bahas tentang itu!" Ketus Mitha yang langsung membuang muka ke arah kaca jendela mobil.


"Ya udah, gak ada yang maksa juga!" Jawab Lucas santai.


Beberapa puluh menit berlalu, akhirnya mobil jeep Rubicon milik Lucas kini terhenti di depan pagar rumah Mitha. Mitha pun kembali menoleh ke arah Lucas sembari melepaskan sabuk pengaman miliknya.


"Thanks Lucas, kayaknya malam ini aku banyak nyusahin kamu."


"Memang iya." Jawab Lucas pelan.


Mendengar hal itu sontak membuat Mitha seketika jadi cemberut.


"Hemm just kidding!" Ucap Lucas kemudian.


"Iya, lagian kamu jadi banyak luka karena aku, jadi emang udah seharusnya aku bertanggung jawab."


"Hmm tapi gimana kalau ternyata setelah aku pulang, ada luka lainnya yang baru ketahuan, apa kamu masih bakal mau tanggung jawab?"


"Ya, aku usahain bakal tanggung jawab, jadi tenang aja."


"Hmm ok, let we see."


"Ya udah, kalau gitu aku masuk dulu ya." Mitha pun tersenyum singkat dan kemudian langsung membuka pintu mobil.


"Iya, selamat beristirahat ya, sleep tight." Ucap Lucas,


Mendengar ucapan semacam itu keluar dari mulut Lucas, mendadak membuat Mitha merasa keheranan hingga kembali menatapnya dengan tatapan yang tak biasa. Lucas yang mulai merasa terindimasi dengan tatapan Mitha, sontak kembali merasa gugup hingga lagi-lagi berdalih.


"Maksudku bilang begitu, biar besok kamu bisa kerja dengan semangat dan gak ngantuk disaat jam kerja." Ungkap Lucas yang lagi-lagi mengelak.


Namun nampaknya alasannya kali ini, justru membuatnya jadi bertambah malu,


"Bukannya besok hari Minggu?" Tanya Mitha yang terus menahan senyumannya.


Hal itu sontak membuat wajah Lucas kembali memerah karena malu.


"Aaghh sial, sial, sial!! Bodohnya aku, kenapa aku bisa lupa kalau besok hari Minggu!!" Gerutu Lucas dalam hati yang seolah terus menyumpahi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mak,, maksudku,,,"


"Hmm mukamu lagi-lagi keliatan memerah." Ejek Mitha lagi.


"Hais udah deh, lupain aja soal tadi, anggap aku gak pernah bilang gitu! Ok?!"


"Hiss, tadi sikapmu keliatan manis banget, sekarang tiba-tiba berubah jadi galak lagi, hmm dasar aneh!" Ucap Mitha yang akhirnya keluar dari mobilnya.


"Aku pulang dulu!" Ucap Lucas datar yang sudah terlanjur merasa malu pada Mitha.


"Iya, hati-hati di jalan."


"Hmm." Jawab Lucas yang kemudian langsung melajukan mobilnya.


Melihat hal itu Mitha pun kembali mendengus pelan dan kembali tersenyum saat memandangi mobil Lucas yang sudah bergerak menjauh darinya.


"Bener-benar orang aneh." Celetuknya yang kemudian mulai melangkah memasuki pagar rumahnya.


Setibanya di rumah, Lucas dengan langkah tenang langsung memasuki kamarnya, merasa jika saat itu tubuhnya terasa remuk akibat perkelahiannya dengan Dony, ia pun langsung saja membaringkan tubuhnya.


Namun tak lama suara ketukan pintu pun terdengar.


"Lucas!!" Panggil Nonna.


"Masuk aja ma, pintunya gak dikunci." Jawab Lucas dengan lesu.


Nonna pun langsung masuk begitu saja ke kamar Lucas membawa wajahnya yang nampak begitu sumringah.


"Dari mana aja sih kamu?? mama dari tadi nungguin lo."


"Cuma nongkrong sebentar di cafe ma." Jawab Lucas yang berusaha duduk.


Nonna pun sontak terkejut saat mendapat wajah tampan anaknya yang dipenuhi dengan memar dan luka di ujung bibirnya.


"Astaga!! Kamu kenapa sayang? Kamu berantem?"


"Duh tenang aja ma, cuma luka ringan kok, tadi ada insiden kecil di cafe, tapi masalahnya juga udah selesai kok" jelas Lucas yang tidak ingin membuat Nonna cemas.


Nonna pun terdiam memandangi anaknya dengan mengernyitkan dahi, nampak raut wajah kecemasan saat itu terpajang jelas di wajah Nonna,


"It's ok, it's ok, aku gak papa kok ma, tenang ya." Ucap Lucas lagi sembari mengusap-usap lembut tangan Nonna.


"Ya ampun Lucas!! Lain kali jangan gitu lagi ya, mama khawatir loh ini, serius!"


"Iya ma, gak lagi, promise!"


Nonna pun akhirnya menghela nafas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya udah, jadi hal apa yang bikin mama masuk ke kamarku malem-malem gini??" Tanya Lucas dengan tenang sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2