Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Tidak Tau


__ADS_3

Rumah sakit.


Tertegun saat dokter memberitahukan padanya jika ia sedang hamil tiga bulan lebih.


"Benih siapa yang aku kandung" gumam Riana mendudukkan dirinya di kursi tunggu rumah sakit. Ia sangat shock mengetahui dirinya hamil anak dari hasil cinta satu malam itu.


"Kau tidak apa-apa Riana?'' tanya Lusy menyentuh bahunya.


Menggeleng lemah "Aku tidak apa-apa ... Hanya saja aku tidak tau anak siapa yang berada dalam kandungan ku" merasa frustasi.


Kaget mendengar ucapannya. "Bagaimana bisa kau tidak tau siapa Ayah dari janin mu Riana?"


Mendongak melihat Lusy. "Aku melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Aku tidak tau siapa yang meniduri ku" jujurnya.


Menarik nafas menggeleng kasihan melihat sahabatnya. "Kau tidak perlu khawatir, aku akan membantu mu untuk membesarkan bayi mu ini, kita akan merawatnya bersama-sama, bagaimana?" Saran Lusy.


Terdiam. Mustahil ia akan mengeluarkan bayi tersebut, apa lagi bayinya sangat sehat seperti yang di sampaikan oleh dokter.


"Gimana?" Tanya Lusy.


Mengangguk pelan. "Baik lah," pasrah.


,,,


Malam hari kediaman Braylee.


Mommy Cellin ingin menurunkan serbuk tersebut ke dalam minuman Braylee, ia baru saja membuatkan putranya kopi dan berniat meracuni putranya memakai ramuan tersebut.


Berpikir dalam beberapa minit. "Huffffftttt"' menghembus nafas menyimpan ramuan tersebut, membawa kopi untuk putranya. Ia tidak tega ingin mencelakai putranya sendiri.


Walau bagaimana pun Braylee adalah putra kandungnya yang telah ia kandungan kan selama 9 bulan.


,,,


Enam tahun kemudian.

__ADS_1


Tampak seorang anak kecil yang sangat tampan bermata kebiru-biruan sama seperti sang Ayah sedang duduk bermain tab di tangannya.


"Ronald, mana tante mu sayang" tanya Riana pada putranya. Riana sudah menjadi seorang dokter bedah yang hebat. Tapi ia masih tetap berpenampilan culun dengan kaca mata bulat yang terang menutupi wajah cantiknya. Ia baru saja kembali dari rumah sakit.


Tentu saja ia tidak akan mengubah apa pun dari dirinya, karena ia masih bersembunyi dari sang Ayah.


"Kata tante Lusy, dia mau keluar sebentar Mom" jawab Ronald putra Riana dan Braylee.


"Apa tante mu ada mengatakan dia mau kemana sayang?" tanya Riana.


Menggeleng "Tidak Mom" singkatnya.


Siapa sebenarnya Ayah dari anak ini, kenapa aku merasa dia sangat datar, dia juga sangat pintar seperti di luar dari usianya yang baru enam tahun. Batin Riana pusing memikirkan benih siapa yang ia kandung.


"Membuat aku pusing saja" gumamnya melangkah masuk ke dalam kamar pusing memikirkan Ayah dari anaknya.


Malam hari.


Riana terpaksa kembali ke rumah sakit, karena ia mendapat panggilan darurat. Setibanya di rumah sakit ia langsung menjalani pembedahan ke atas pasien.


Melangkah di lorong rumah sakit yang sunyi mencengkam. Menuju mobil dan langsung mengemudi pulang ke rumah Lusy.


,,,


Dor! Dor! Dor!


"Suara tembakan" gumam Riana berada di jalan yang sunyi mengemudi mobilnya.


Dor!


Kikkkkkkkk


Satu tembakan mengenai ban mobilnya. Menghentikan mobil dengan paksa saat bannya pecah.


Muncul segerombolan mafia bertubuh kekar saling menembak di hadapannya. Keluar dari mobil dan bersembunyi di sisi mobilnya.

__ADS_1


Beberapa minit berlalu.


Mengintip sedikit saat tidak mendengar lagi suara bunyi tembakan yang saling bersahutan.


Melihat ada seorang pria bertubuh kekar sedang berkelahi dengan segerombolan pria berbaju hitam. Ia melihat dengan mudahnya pria tersebut menjatuhkan semua musuh dan serangan-serangan menghujani pria tersebut.


"Aura ini lagi.. Kenapa aku sering bertemu pria ini di mana pun" gumam Riana.


"Dia terluka" tambahnya saat melihat darah segar dari jaket Braylee.


Dia adalah Braylee yang di serang tiba-tiba oleh musuh. "Sepertinya mereka semua mafia." gumam Riana kembali bersembunyi menyandar di pintu mobilnya.


Tiba-tiba ia merasa sebuah benda dingin mengenai dahinya. "Apa yang kau lakukan di sini" tanya Braylee meletak ujung senjata api tepat di dahi Riana. Tentu saja Braylee tidak mengenal Riana yang berpenampilan culun, apa lagi sudah enam tahun lamanya kejadian mereka bersama di hotel.


GLEK!


Menelan saliva dengan susah payah.


"Berdiri" dingin Braylee.


Riana berdiri dan mengangkat kedua tangannya melihat wajah tampan Braylee.


DEG!


Kenapa wajahnya sangat mirip putra ku. Batin Riana.


"Jalan!" Perintah Braylee merapatkan senjata api di dahi Riana.


"A-aku mau pulang, aku hanya tidak sengaja berada di sini" kata Riana gugup.


Mengalih senjatanya tepat di jantung Riana. "Sekali aku melepaskan timah panas ini, kau akan mati seketika itu juga" ancam Braylee tidak main-main karena Riana menolak untuk melangkah.


"'B-baik, aku mau jalan kemana" tanya Riana.


"Jalan saja" Braylee menuntun Riana ke mobilnya dan menyuruh Riana mengemudi mobilnya. Alasan Braylee menahan wanita itu, itu karena Riana melihat wajah Braylee.

__ADS_1


__ADS_2