Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Sulit di pahami


__ADS_3

Riana sedang mengemudi mobilnya. Tiba-tiba ia seperti melihat sekilas bayangan ibunya. Ibu ... Apa aku hanya salah lihat, bukankah itu ibu. Batin Riana mengerem mobilnya, kemudian turun dari mobil mencari keberadaan wanita yang sempat ia lihat sekilas.


"Apa itu hanya perasaanku saja?" Batinnya. "Mana mungkin juga ibu bisa berada di Amerika." Gumam Riana.


"Hai cantik," sapa ketiga preman yang mendekatinya.


"Apa kalian tidak punya pekerjaan? Ini masih sore, tapi kalian sudah mengganggu saja." Kata Riana melangkah ingin kembali ke mobilnya.


"Sombong sekali kau,'' mereka bertiga serentak menyerang gadis itu.


Riana mengelak, dan mematahkan semua serangan ketiga preman tersebut. Berkata ilmu bela diri yang pernah Lois ajarkan padanya semasa di indonesia, ia tak begitu sulit menghadapi jika ia di ganggu oleh orang jahat.


Preman-preman itu babak belur di buatnya. Mereka langsung melarikan diri dari lokasi.


Tiba-tiba .......


DOR!


Sebuah tembakan terlepas begitu saja, dan hampir mengenai kepalanya, jika seseorang tak bergegas menariknya.

__ADS_1


Riana melihat seseorang itu. Ternyata suaminya. "Bagaimana kau bisa berada di sini?" Tanya Riana.


"Nanti saja kau bertanya," jawab Braylee menarik tangan istrinya saat terdengar suara tembakan dari sebarang arah.


"Kenapa mereka menyerang kita?" Tanya Riana sambil berlari mengikuti Braylee.


"Aku tidak tahu" jawab Braylee bohong, kemudian menembak para musuh yang sedang menyerangnya.


DOR! DOR! DOR!


Terdengar suara tembakan saling bersahutan di lokasi kejadian. "Mereka semangkin banyak" Kata Riana saat melihat pria bertubuh kekar, berpakaian pengawal sedang menyerang mereka berdua.


Braylee keluar dan mengahabisi mereka semua hanya dengan tangan kosong saja, karena dia sudah kehabisan peluru.


"Wow! Keren!" Seru Riana saat semua penjahat itu sudah tumbang tanpa ada lagi yang tersisa.


Braylee menghampirinya. "Mari kita pergi dari sini," menyatuhkan jari-jarinya pada jari-jari lentik Riana, kemudian menariknya.


,,,

__ADS_1


"Siapa mereka? Kenapa mereka menyerangku?" Tanya Riana, karena penjahat tadi jelas-jelas ingin menembaknya.


"Mereka hanya salah sasaran,'' lagi-lagi Braylee hanya berbohong pada Riana.


"Kau pasti sedang berbohongkan?"


"Tidak"


Hanya bisa menarik nafas saat pria itu terlihat sangat dingin dan datar. Karakternya terlalu sulit untuk di pahami. Batin Riana, karena pria itu kadang berubah jadi lembut, kadang juga tiba-tiba berkelakuan kasar.


Beberapa menit berlalu, mereka berdua sudah tiba di Mension.


Riana langsung mencari keberadaan putranya, karena ia tak melihat Ronald di dalam Mension megah itu. "Ada apa?" Tanya Braylee.


"Ronald mana? Kenapa dia tidak berada di kamarnya?" Tanya Riana khawatir berjalan ingin mencari putranya di kamar yang ia tempati bersama Braylee.


Braylee menahan lengannya. "Kau mau kemana? Apa kau bisa tenang dulu?" Ujar Braylee, karena melihat wanita itu sedang panik.


Menarik kasar tangannya dari pergelangan tangan pria itu. "Bagaimana aku bisa tenang! Di rumah ini semuanya tidak ada yang bisa di percaya! Kau bisa mengatakan 'tenang' dengan sangat mudah, karena Ronald bukan darah dagingmu!! Jadi kau tidak akan tahu kekhawatiran seseorang yang bergelar Ayah dan ibu!!!" Teriak Riana marah pada Braylee. Ia ingin menarik tangannya, tapi Braylee malah lebih dulu menariknya masuk ke dalam salah satu ruangan rahsia yang tak di ketahui siapapun penghuni Mension megah tersebut.

__ADS_1


"LEPAS!! KAU INGIN MEMBAWAKU KEMANA?" Pekik Riana memberontak.


__ADS_2