Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Manjauh


__ADS_3

Saat mendapat sedikit celah tikungan tajam yang tersembunyi, Braylee membanting setir mobil secepat kilat, mobil itu masuk ke dalam semak-semak, dan bersembunyi diam di sana. Braylee juga tak lupa mematikan mesin mobilnya.


Beberapa mobil melewati mereka, karena tak melihat mobil Riana yang di sembunyikan oleh Braylee.


Setelah penjahat itu pergi semua, ia kembali mengeluarkan mobilnya. Dan mengemudi ke rumah kontrakan yang sudah lama mereka tidak datangi itu.


Riana turun dari mobil dan mengecek mobilnya di belakang bekas tabrakan dan tembakan, mobilnya tampak memprihatinkan.


Braylee menghampirinya. "Ada apa?" tanya Braylee seolah tak bersalah.


Riana menatap kesal padanya karena mobilnya hancur. Braylee hanya membuat wajah santai kemudian melangkah masuk ke dalam menggandeng putranya.


"Wajahnya tidak merasa bersalah, setelah mobilku hancur kayak gini ck," decak Riana menyusul masuk ke dalam rumah.


Tiba di dalam, ia membolakan kedua bola matanya saat melihat dapur yang berantakan seperti kapal pecah, di mana terakhir kali Cellin yang masak di dapur.


"Braylee!!" Teriaknya masuk ke dalam kamar, melihat pria itu.


Seperti biasa laki-laki itu akan menulikan kedua telinganya saat Riana hanya memaggil namanya saja.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan dapur itu!! Semua berantakan!!" Riana malah mengomeli suaminya.


Braylee berdiri dari duduknya, keluar kamar dan masuk ke dapur, ia mengemasi semua dapur yang di buat berantakan oleh Mommynya sebelum mereka pergi dari rumah.


Riana menyusul suaminya dan melihat Braylee sedang mengemasi dapur itu. "Kau istirahat saja, nanti aku yang membuat pekerjaan itu," kata Riana merasa tidak enak pada suaminya karena pria itu terlihat tanpa ekspresi.


Tapi Braylee masih tetap mengemasi dapur tersebut tanpa memperdulikan ucapannya.


Apa dia marah? Tapi tunggu, kok dia bisa membuat semua pekerjaan seperti ini? Salut juga sama seorang pemimpin satu ini, karena bisa bersih-bersih. Batin Riana.


Tanpa sadar Braylee sudah selesai membersihkan dapurnya. Ia melangkah ingin melewati istrinya, tapi sebelum melewatinya, pria itu berhenti tepat di sebelahnya.


Ah, ternyata dia marah karena aku memanggil namanya saja lagi seperti hari itu.


,,,


Malam hari.


Riana masak untuk keluarga kecilnya. Ia sedang sibuk di dapur, sedangkan Braylee menemani putranya belajar. Saat ia sudah siap masak, Riana memanggil Braylee dan Ronald untuk makan bersama, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia.

__ADS_1


Tadinya Riana yang mendiami suaminya, tapi sekarang malah pria itu yang mendiaminya. Selesai makan malam, Riana mengemasi bekas makan mereka, setelah itu ia melangkah ke kamar.


Ia melihat Ronald sudah tertidur pulas di ranjang.


"Menjauh dari laki-laki itu, aku tidak suka kau dekat dengannya," kata Braylee menyuruh Riana untuk menjauh dari dokter Riz.


"Kenapa? Apa yang salah? kami hanya berteman," jawab Riana.


''Apa kau bisa tidak membantahku Sonata? jika aku kata menjauh, maka menjauh lah, ingat, kau itu sudah bersuami Sonata" menyorot istrinya.


Riana memilih diam dari pada berdebat dengan pria itu. Naik ke ranjang, dan membaringkan tubuhnya.


"Apa kau mendengarku?" Tanya Braylee lagi.


"Iya, aku dengar" jawab Riana.


,,,


Albert sangat kaget saat mendapat kabar dari pria paruh baya itu, di mana posisi putrinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2