
Wanita ini sudah banyak berubah dari pertama dan terakhir kali aku temui dia di hotel beberapa tahun lalu di indonesia. Batin Braylee melihat ke arah dada dan bokong Riana.
Sudah sangat berisi. Tambahnya dalam hati.
Riana yang sadar arah pandang Braylee menarik pakaiannya untuk menutup tubuhnya. Selain gila pria ini juga mesum, matanya liar sekali, cih!!. Geram Riana dalam hati. Alasan Riana memanggil Braylee 'Gila' itu karena Braylee yang baru sehari saja bertemu dengannya dan langsung mengajaknya untuk menikah, apa lagi Braylee menikahinya dengan ancaman dan paksaan.
"Ada apa tuan datang kemari?" tanya Riana.
"Kau tidak bekerja untuk ku, panggil saja sewajarnya." jawab Braylee menatap kedua bola mata Riana tanpa berkedip.
Ada apa dengan tatapannya itu. Batin Riana tidak nyaman di tatap.
"Terserah." gumamnya.
"Ada apa kau datang kemari?"
"Aku datang menjemput mu bersama putra mu untuk tinggal di Mension Ku'' langsung pada intinya.
"Kenapa harus tinggal di sana? tinggal saja di sini"
__ADS_1
"Aku mengajak mu tinggal di Mension ku, bukan bertanya pada mu mau atau tidak, karena aku sedikit tidak suka dengan penolakan" terdengar nada mengancam tersenyum tipis.
Ronald kembali menajam netranya saat sadar nada Braylee yang terus memaksa Mommy-nya.
Dia malah membalas tersenyum miring pada putranya.
Riana tidak punya pilihan terpaksa mengikuti kemahuan Braylee untuk tinggal di Mension-nya. Apa lagi ia malas berdebat dengan pria seperti Braylee.
"Kalau begitu aku mau bersiap dulu" kata Riana berdiri dari duduk-nya melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengemasi barang-barang nya.
Ronald berdecak melihat Braylee kemudian melangkah ke belakang. Berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam kamar Riana.
"Arkhhh" kaget Riana berteriak pelan, membalik badan melihat Braylee tanpa kaca mata di kedua bola mata indahnya, karena ia baru saja membuka kaca matanya.
Ternyata memang dia gadis malam itu. Batin Braylee melihat wajah anggun yang sering tertutupi kaca mata bulatnya.
"Ngapain kau masuk ke sini tanpa permisi?" menatap tajam pada Braylee.
Ibu dan anak sama saja, tidak ada yang bisa di ajak baikan. Batin Braylee. Ia tidak sadar jika dirinya juga sama seperti anak dan istrinya.
__ADS_1
"Aku bahkan bisa melakukan lebih dari ini meski tanpa permisi, karena kau itu istriku, apa kau lupa? sebelumnya kau juga melakukan sesuatu tanpa permisi" menyeringai.
Menatap Braylee saat mendengar kalimat ambigu dari Braylee. "Melakukan sesuatu tanpa permisi? apa maksudmu?" tanya Riana penuh selidik.
Mengangkat bahu acuh. "Kau ingin mencoba?" kembali mengeluarkan kalimat yang membuat Riana tidak mengerti dan bingung.
"Mencoba? mencoba apa?"
"Lupakan, apa ini milik mu" tanya Braylee menggantung dalaman di tangannya milik Riana.
Membolakan kedua matanya menarik dalaman dari tangan Braylee "Lancang sekali kau! keluar lah, kau membuat aku panas melihatmu" ketus Riana geram.
"Munafik" gumam Braylee masih bisa di dengar Riana.
Mendekati Braylee dan mendorong tubuh kekar Braylee untuk keluar dari kamarnya. "Keluar dari sini" masih ketus.
Braylee menahan tubuhnya dengan iseng malah memegang bokong padat Riana. Kembali membola menepis tangan Braylee yang lancang. "Tidak tau sopan santun!" mendengus kesal kembali melanjutkan mengemasi barang-barang miliknya tanpa memperdulikan Braylee lagi.
Menahan tawa melihat kekesalan di wajah Riana. Entah mengapa tiba-tiba ia berulah iseng pada istri barunya itu, padahal ia bukan laki-laki yang suka bertingkah iseng, tapi ia sangat suka jika melihat Riana marah-marah. Apa lagi dia sudah mengetahui jika Riana adalah gadis malam itu.
__ADS_1
Selesai mengemasi barang-barangnya ia pamit kepada Lusy untuk tinggal di rumah suaminya.