Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
DEG!


__ADS_3

Pria itu tersenyum tipis, dan menatap wanita di sampingnya. "Bagaimana jika aku benar-benar Ayah dari putramu?"


Riana terdiam mendengar ucapan Braylee. "Anda seorang pria dewasa, dan saya rasa anda juga tahu, yang mana bisa untuk di bawa becanda, dan yang mana tidak bisa!!"


Laki-laki itu terdiam menatap bibir merah wanita di depannya. "Apa aku bisa mencicipinya?" Tanya Braylee mendekatkan wajahnya pada wanita cantik itu.


Menyerjit, "Mencicipi? Cicip---- Mmmmpppppphhhhhhhhhh" ucapan Riana terhenti saat pria itu sudah membungkam mulutnya.


Asisten Xan yang mengemudi mobil hanya bisa tegang saat sadar apa yang di lakukan tuannya di belakang kursi penumpang.


Jiwa jombloku meronta-ronta. Batin Asisten Xan.


Tak berapa lama mobil yang ditumpangi Braylee sudah tiba di rumah sakit tempat Riana bekerja, ia mendorong tubuh Braylee, karena ia sudah kehabisan napas.


"Hus hus hus, hampir saja aku mati," kata Riana kesal mengusap bibirnya.


"Apa kau tidak pernah berc*uman? Kau sangat kaku," tanya Braylee berpura-pura tak tau tentang wanita di depannya.


"Bukan urusanmu!" Ketus Riana turun dari mobil dan sedikit menghempas pintu mobil Braylee,

__ADS_1


Braylee hanya tersenyum melihat kekesalan wanita itu. Kemudian ia menyuruh Asistennya menjalankan mobilnya semula ke kantor.


Riana melangkah masuk ke dalam rumah sakit, lagi-lagi ia berpapasan dengan dokter Riz, selama satu bulan ini, dokter Riz terus menghindarinya, semenjak ia mengetahui jika Riana sudah menikah dengan pria yang ia temui tempoh hari di sebuah Restoran.


Dokter Riz ingin melewatinya.Tapi Riana menahan lengan pria itu. "Kenapa kau terus menghindariku?'' Tanya Riana merasa sedih karena pria yang sudah lama ia sukai, malah terus menghindarinya.


"Aku tidak menghindarimu, aku hanya sedikit sibuk akhir-akhir ini, apa lagi jadwalku yang sangat padat,'' Jawab Riz beralasan pada Riana, tentu saja ia hanya berbohong.


"Aku tau kau pasti sedang berbohongkan?" Riana tak percaya dengan apa yang di katakan pria itu.


"Maaf, aku sibuk"


"Maaf,'' dokter Riz mengabaikan ajakannya, kemudian pergi dari hadapan wanita itu, membuat hati Riana sakit karena sikap dokter Riz yang sudah banyak berubah selama satu bulan ini.


,,,


"Bagaiaman? Apa kau sudah mendapat kabar dari anak buahmu yang kau utus mencari informasi di indonesia tentang istriku?" Tanya Braylee pada Asistennya saat mereka sudah tiba di kantor.


"Iya tuan, tapi informasinya tidak terlalu jelas" jawab Asisten Xan memegang sebuah amplop coklat berisikan informasi Riana.

__ADS_1


"Bacakan"


"Baik tuan,"


Asisten Xan mulai membacakan informasi tentang istri tuannya.


"Nona Sonata, maksud saya Nona Riana. Saat bekerja di hotel X enam tahun lalu, Nona masih berusia 17 tahun, Ayah Nona seorang pemain judi, dan kecanduan narkoba, ia bernama Ben Nito. Ibunya bernama Diana, dari informasi yang saya dapatkan, kedua orang tuan Nona Riana asli dari indonesia,"


"Apa kau yakin soal itu?" Tanya Braylee pada Asistennya, sebelum Asistennya menyelesaikan membaca informasi tentang istri tuannya.


"Maaf tuan, jika tuan bertanya pada saya, tentu saja saya tidak yakin, karena wajah Nona Riana, seperti wajah wanita blasteran perancis," jawab Xan jujur tentang apa yang yang berada di otaknya.


DEG!


Braylee tertegun, karena itu juga yang berada di benaknya selama ini. "Berapa umur istriku saat ia bekerja di hotel X?" Tanya Braylee memastikan pendengarannya.


"17 tahun tuan"


DEG!

__ADS_1


17 tahun ... Kenapa umurnya bisa sama dengan tahun kematian Daddy ... Tidak mungkin .... ini pasti hanya perasaanku saja, dan mungkin hanya kebetulan. Batin Braylee mencoba menenangkan perasaannya.


__ADS_2