
Albert melihat ada seorang yang menjemputnya di airport. Ternyata ia adalah anak buah pria paruh baya yang menyuruhnya untuk ke Amerika.
Albert naik ke mobil orang itu, dan orang itu membawa Albert ke sebuah tempat, yang akan ia tinggali selama berada di Amerika nanti.
,,,
Sudah dua hari Ronald sadarkan diri. Kondisi anak 6 tahun itu sudah jauh lebih baik.
Braylee sedang menyuapi putranya yang duduk di brankarnya.
"Daddy, apa Daddy sudah mendapat pekerjaan?" Tanya Ronald, karena ia juga tahu jika Daddynya sudah jatuh miskin.
Menggeleng dan tersenyum kecut.
Merasa tidak enak karena ia membohongi anak dan istrinya tentang kebangkrutan B.B Group, demi misi dan keselamatan keluarga kecilnya, iya meski ia sempat kecolongan baru-baru ini.
"Daddy belum mendapat pekerjaan son," jawab Braylee.
"Terus, uang untuk membayar biaya rumah sakit ini dari mana Daddy? Kalau uang Mommy mungkin, tidak akan cukup,"
__ADS_1
Braylee mengusap sayang kepala putranya, ia tak menyangka jika anaknya itu cukup paham dangan kondisi Mommynya yang hanya seorang ibu tunggal.
"Kau tidak perlu memikirkan itu son, cukup kau makan yang banyak, agar kau bisa lekas sembuh," ucap Braylee pada Ronald dengan nada yang sangat lembut.
"Siap Daddy," tersenyum cerah, anak itu tampak lebih ceria lagi setelah bertemu dengan Daddynya. Braylee sangat senang karena Ronald bisa menerima keberadaannya.
Selesai menyuapi putranya, ia pamit pada Ronalad, untuk keluar sebentar.
Tiba di luar ia di suguhkan dengan pemandangan yang membuat hatinya memanas.
Bagaimana tidak, ia melihat dokter Riz dan istrinya sedang berbicara, dan sesekali wanita itu tampak seperti sedang tersenyum. Tatapan Riana juga sangat jauh berbeda saat bersama dokter Riz, tapi jika dengannya, wanita itu menunjukkan seolah ia tak punya rasa sedikitpun padanya.
Braylee masih setia berdiri melihat istrinya dari jarak yang tak terlalu jauh.
Beberapa para nurse dan juga dokter yang seorang wanita, lewat di dekat Braylee, mereka semua tak berkedip melihat wajah pria itu, karena pria di depannya sangat tampan.
Ganteng bangettt.
Wah, apa dia sudah beristri? Siapa wanita beruntung itu?
__ADS_1
Malaikat ku ....
Bagaimana dia bisa memiliki wajah dan bentuk tubuh sesempurna itu.
Aku juga mahu kalo yang kayak gini.
Mahu dong ...
Wahhhh
Ada berbagai lagi bisik-bisikan dalam hati para wanita saat melihat wajah tampan Braylee, pria yang sering di tutupi masker itu, dan di kenali dengan nama MR X.
Perlahan mulai mendekati mereka berdua. ''Ku rasa kau lebih baik temani putra mu di dalam, jika kau sudah tidak mempunyai pekerjaan di sini lagi,'' kata Braylee berwajah datar, menahan gejolak yang hampir saja meledak di dadanya karena cemburu.
Riana melihat sekilas pada Braylee kemudian pamit pada dokter Riz, ia melangkah meninggalkan Braylee begitu saja tanpa menyapa pria itu sedikit pun.
Ia tak pernah mengeluarkan sepatah katapun pada suaminya terakhir kali ia bertengkar dua hari yang lalu.
Dokter Riz juga ingin beredar, tapi di hentikan oleh Braylee. "Kau tahukan jika Sonata itu adalah istriku? Jadi aku harap, kedepannya kau bisa menjaga jarak dari Istriku," ujar Braylee menatap dingin pada dokter Riz.
__ADS_1
"Maaf, apa Sonata mencintai anda? Kalau di lihat, ku rasa tidak, ku rasa wanita itu tidak mencintai anda sama sekali, mungkin karena anda kurang baik padanya, atau kurang cocok," tersenyum pada Braylee, tapi kata-katanya mengeluarkan sindiran seolah menantang, yang seperti sengaja memancing emosi pria berdarah dingin itu.