
Albert terus berlari, hingga tak sadar ia malah menginjak sesuatu benda tajam, yang membuat kakinya terluka, ia terjatuh, dan terpaksa menyeret kakinya, tanpa henti terus berlari dalam hutan itu, karena Markas Braylee memang berada dalam hutan, meski tak terlalu jauh
"Sial! Bagaimana bisa berlari lagi, jika kakiku terluka," ujar Albert merasakan sakit yang teramat dari tapak kakinya. Tapi ia tak putus asa, tetap berusaha berlari untuk menyelamatkan dirinya.
,,,
Di rumah.
Raina tak bisa tenang, ia melihat sudah pukul 12 malam, tapi Braylee belum juga pulang. Wanita itu di buat tak tenang oleh perasaannya.
Membaringkan dirinya, memaksa untuk tidur, tapi nihil, tetap saja ia tak bisa terlelap. Kembali mendudukkan dirinya.
Ronald terganggu karena Mommynya yang sering membuat kasur begerak, akhirnya ia juga membuka kedua bola matanya yang tadinya terlelap.
"Mommy," panggil Ronald dengan suara seraknya.
Mendengar suara putranya, ia menoleh. "Sayang, kenapa kau bangun? Maaf jika Mommy mengganggu tidurmu sayang,"
"Tidak juga My, tapi Mommy kenapa? Apa Daddy sudah pulang My?" Tanya Ronald mengusap matanya yang terasa lengket karena masih sangat ngantuk.
Riana terdiam sejenak. "Belum, Daddy belum pulang sayang. Ronald, mari kita pergi ke rumah tante Lusy nak," ajak Riana pada putranya.
"Untuk apa kita ke sana My?" tanya Ronald heran mendengar ajakan Mommynya, apa lagi sekarang sudah tengah malam.
__ADS_1
Riana memegang tangan putranya. "Kau di sana dulu sayang, Mommy ingin pergi sebentar, apa bisa?"
Ia menyerjit. "Pergi? Tapi Mommy mau pergi kemana My?"
"Hanya sebentar sayang ... Bisakan?" tak berniat untuk menjelaskan pada putranya.
Perlahan Ronald mengangguk. "Bisa kok My,"
"Ya sudah, bersiap-siap, kita pergi sekarang,"
Mereka bersiap-siap, tak lupa Riana juga memakaikan putranya jaket yang tebal.
"Ayo,'' menarik tangan Ronald keluar dari kontrakannya.
Setelah puas menghubungi nomor Lusy, akhirnya gadis itu mengangkat ponselnya.
"Hello"
"Lusy, kau ke rumahku sekarang juga untuk menjemputku,"
"Malam-malam begini?" Tanya Lusy melihat jam yang ternyata sudah hampir pukul satu dini hari.
"Iya Lusy"
__ADS_1
"Hm, baiklah," Lusy tak bertanya apa pun pada sahabatnya itu, karena ia yakin, mana mungkin Riana menghubunginya jam seperti ini jika tak ada hal yang sangat penting.
Tanpa mengganti pakaiannya, ia mengambil kunci mobil dan bergegas ke rumah teman baiknya.
Tiba di sana, Riana naik ke mobil Lusy, mereka berdua langsung ke rumah Lusy.
Di rumah Lusy, ia menitip putranya pada Lusy, dan pamit ingin keluar sebentar, membuat gadis itu heran, karena tertanya-tanya dalam hati, sebenarnya temannya itu mau kemana.
"Kau mau kemana jam seperti ini? Inikan sudah jauh malam Riana," Tanya Lusy.
"Aku hanya ingin keluar sebentar, nanti juga akan aku ceritakan padamu, ok,"
"Tapi, ini sudah malam Riana, bagaimana jika terjadi apa-apa padamu,"
"Kau tidak perlu khawatir, aku hanya sebentar kok, udah ya, aku titip Ronald,"
"Baiklah" pasrah Lusy, meski dalam hati tak merelakan mereka untuk pergi.
"Mommy pergi sebentar ya sayang"
"Iya My,"
Riana langsung pergi dari halaman rumah Lusy setelah berpamitan. Tujuannya saat ini, ia ingin mendatangi Markas suaminya, meski ia baru sekali saja pernah menginjakkan kakinya di sana, tapi ia sudah lumayan hapal jalan ke Markas suaminya.
__ADS_1