
"Ada apa denganmu?" Tanya Dokter Riz saat melihat Riana Mual.
"Aku tidak apa-apa," Jawan Riana cepat.
Laki laki itu tak percaya, ia mendekati wanita di depannya dengan pandangan curiga.
"Kau mau apa?" Riana was-was saat melihat tangan Riz terjulur ingin menggapainya.
Tersenyum miring tanpa menjawab pertanyaan Riana, ia mengambil tangam Riana dengan paksa, kemudian mengecek nadinya.
Sedetik kemudian ia tersenyum jahat,. "Wah, ternyata kau sedang mengandung anak kedua kalian lagi ya ... Sepertinya akan seru jika Braylee kehilangan calon bayinya yang baru saja berkembang," kata dokter Riz mengambil pisau lipatnya.
"Menjauh kau bajingan! Jangan kau apa-apakan aku!" Pekik Riana berdiri untuk menjauhi dokter Riz yang terlihat seperti psikopat, tapi hanya selangkah kebelakang karena kakinya di batasi dengan rantai yang mengikatnya.
"Kau takut?" senyuman pria itu membuat Riana sedikit merinding. karena saat ini ia sedang hamil, ia takut jika laki-laki itu sampai berani bertindak di luar dugaannya.
"Berhenti dokter Riz, sudah berkali-kali aku katakan! jika aku tidak ada kaitannya dengan permasalahan kalian berdua! Tapi kenapa kau terus menahanku di sini!" Seru Riana.
__ADS_1
Riz sudah bertdiri tepat di depannya. "Kau benar, jika kau memang tidak ada kaitannya dengan Braylee, dan juga denganku, tapi janin yang berada dalam kandunganmu itu, adalah darah daging Braylee, yang sudah membunuh adikku,'' Riz menjalankan pisau tersebut di wajah Riana.
"Kenapa kau sangat jahat! Dia yang membunuh adikmu! kenapa aku yang kau sekat? bukankah kau sama saja seperti pecundang!" mendorong dokter Riz dengan keras.
Tak di sangka, laki-laki itu malah ingin menggores wajahnya dengan pisau di tangannya, tapi secepat kilat ia mendorong tangan dokter Riz, pisau tersebut malah mengenai lengannya.
SRET
Darah segar langsung membanjiri lengan Riana yang terkena pisau tajam milik Riz.
"Sakit?" Tanya Riz malah tersenyum senang melihat penderitaan wanita yang terluka di depan matanya. Setelah itu ia keluar dari kamar tersebut, dan membiarkan Riana yang terluka parah.
"Aku merindui kalian berdua ... Aku ingin pulang ..." Ia meringkuk di sudut ranjang dan memeluk kedua lututnya dengan darah yang keluar deras dari lengannya, tapi ia tak memperdulikannya.
,,,
Markas Braylee.
__ADS_1
Setelah lelah mencari keberadaan istrinya, tapi tetap saja nihil, ia tak bisa menemukan Riana, akhirnya ia kembali ke Markasnya dengan aura yang ingin membunuh saat itu juga.
Tiba-tiba saja Braylee mengangkat tangannya yang memegang senjata api, dan di arahkan kepada Fredly.
Mereka semua yang berada di Markas itu kaget melihat tindakan Braylee, kecuali Asisten Xan.
"Apa yanga kau lakukan kak Braylee," Tanya Fredly.
"Aku menahanmu selama ini di sini, dan tidak membunumu atas pengkhianatan yang telah kau lakukan padaku, itu karena aku menganggapmu seperti adik kandungku sendiri, tapi saat semua yang aku lakukan untukmu, tapi kau tidak melihat kesungguhanku, lebih baik kau mati saja!!" menekan senjata api itu di otak Fredly.
"Kemana kau menyembunyikan istriku!! Cepat katakan! mana istriku!! Aku tidak segan-segan untuk membunuh mu detik ini juga, dan aku akan membuat hidupmu menderita, jika sampai terjadi apa-apa pada istrku!!" Braylee sudah menarik pelatuknya ingin memecahkan kepala adik angkatnya yang telah berkhianat selama ini.
Tiba-tiba saja laki-laki itu tersenyum miring. "Ternyata kau sudah mengetahui semuanya kak Braylee," sinis Fredly.
"Aku bukan bodoh! Aku sudah lama mengetahui tentang kebusukanmu!!"
"Baguslah kalau begitu ... Jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku, karena kau tidak akan mendapatkan informasi apa pun dariku," menatap menantang pada Braylee.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan semua ini Fredly? Tuan sudah menganggapmu seperti adik kandung tuan sendiri, dan bagaimana bisa kau menikamnya dari belakang," Tanya Vanus menggeleng.