
Riana mendorong tubuh Braylee yang tiba-tiba saja menci*mnya. "Apa yang kau lakukan" kesal Riana kembali membaringkan dirinya tanpa memperdulikan laki-laki itu lagi. Braylee hanya diam menatap punggung Riana yang menolaknya.
,,,
Keesokan harinya.
Riana masih tertidur manis dalam kamar. Ternyata ia telat bangun, Braylee sedang bersiap-siap untuk ke kantor, ia sedang mamakai jam tangannya, dengan kedua bola mata tertuju pada wanita yang masih tertidur pulang di atas ranjang empuknya.
Ronald melangkah masuk ke dalam kamar. Ia sudah siap memakai seragam sekolahnya, berjalan ke ranjang dengan kedua bola mata menatap tajam Braylee yang hanya tersenyum miring saat mendapat tatapan tajam dari putra kandungnya sendiri.
"Mommy, Mommy" Ronald membangunkan Mommynya, karena sedari tadi ia menunggu Mommynya, tapi Mommynya itu belum ada tanda-tanda ingin bangun dari tidurnya.
"Mommy ... Bagun My ... Sebentar lagi aku pasti akan telat ke sekolah My .." Ronald sedikit mengguncang tubuh Mommynya.
Merasa ada yang membangunkannya, perlahan mulai membuka kedua bola matanya. Ia melihat putranya yang sudah siap dengan seragam sekolah.
"Kau mau kemana Ronald? Inikan masih malam" kata Riana mencari posisi nyaman.
__ADS_1
"Kata Mommy masih malam, tapi ini sudah hampir pukul tujuh pagi My, dan sebenar lagi aku pasti telat masuk sekolah"
Menyerjit. "Pukul tujuh,'' mendudukkan dirinya dan melihat ke arah jam dinding yang lumayan besar bergantung dalam kamar Braylee.
"RONALD!!! KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKAN MOMMY!!" Teriak Riana buru-buru turun dari ranjang.
"Kau yang terlambat bangun, kenapa kau meneriaki putramu," ujar Braylee menyorot tajam wanita itu, ia tak suka dengan sikap Riana, karena meneriaki putranya.
"Suka-suka aku dong, dia anakku, kenapa situ yang sewot," gumam Riana bertambah kesal pada Braylee. Karena semalam ia terbangun karena pria itu, yang membuatnya telat hari ini.
Wanita ini, awas saja kau nanti. Batin Braylee, ia berjalan mendekati putranya. Mengangkat tangan ingin menyentuh baju seragam yang di pakai oleh Ronald.
"Apa kau bisa memakai baju dengan benar, lihat pakaianmu, kau sangat berantakan," memperbaiki baju Ronald, ia juga tak lupa mengambil sisir dan minyak rambut, kemudian merapikan rambut putranya.
"Keren ... Kau sangat tampan," kata Braylee mengantongi kedua tangannya di saku.
Ronald hanya diam tak menjawab pria dewasa di depannya. Tapi tak di pungkiri, jika ia senang dengan kelembutan pria yang ia anggap ayah sambungnya itu.
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Ronald dengan wajah datar.
"Berterima kasihlah dengan benar," Braylee mengambil uang tunai dari dompetnya, kemudian memberikannya pada putranya.
"Pakai ini, untuk jajanmu di sekolah," lembut Braylee.
Ronald melihat uang di hadapanya. "Tidak usah Om, nanti juga Mommy kasih, lagi pula itu sangat banyak" tolak Ronald.
"Ini tidak banyak," mengambil ransel putranya, kemudian memasukkan uang itu ke dalam ranselnya.
"Kenapa kau memberikan uang sebanyak itu pada putraku?" Tanya Riana, ia baru saja selesai mandi, ia juga sudah siap memakai pakaian, karena tadi ia sengaja membawa pakaiannya masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa kau yakin, jika kau sudah bersih? Perasaan kau baru saja masuk ke dalam kamar mandi" bukannya menjawab, Braylee malah menyindirnya, karena Riana baru saja masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tapi selang hanya beberapa menit saja, wanita itu sudah selesai.
"Itu namanya mandi kilat, aku sudah telat, hari ini aku ada pembedahan,"
"Kau sedang curhat?" Tanya Braylee mendekati wanita itu.
__ADS_1
"Untuk apa aku curhat denganmu," gumam Riana.
"BRAYLEE!" Terdengar suara wanita berteriak dari luar pintu kamarnya.