Benih Siapa Yang Aku Kandung

Benih Siapa Yang Aku Kandung
Bodoh


__ADS_3

Braylee duduk di depan brankar Ziery yang masih menutup kedua bola matanya.


Kapan kau akan sadar ... Aku ingin sekali bertemu dengan orang yang sudah membunuh Daddyku ... Batin Braylee.


Tuan," Panggil Asisten Xan melangkah masuk ke ruangan itu.


"Di mana Riana?" Tanya Braylee memnaggil istrinya dengan namanya, ia tak memanggil wanita itu lagi dengan sebutan nama identitas palsunya.


"Nona Riana masih berada di rumah temannya tuan"


"Dia tidak kembali ke rumah?"


"Tidak tuan, dan mungkin Nona juga tidak akan kembali ke sana, setelah apa yang terjadi semalam, tuan,"


Braylee megangguk pelan. "Pulang sekolah, aku mau kau menjemput Ronald nanti, dan bawa dia kemari," perintah Braylee.


"Maaf tuan, tapi kalau boleh saya sarankan, apa tidak sebaiknya tuan sendiri yang menjemput tuan muda?" Ujar Asisten Xan berhati-hati


"TIdak Xan, aku tidak ingin jika nanti bertemu dengan Riana, buat sementara waktu, aku tidak ia mau melihat wajahnya,"


"Tapi kenapa tuan? Bukankah tuan sendiri tahu, jika bukan Albert yang membunuh tuan basar," Asisten Xan.

__ADS_1


"Kau benar Xan, tapi jika bukan karena Albert, mereka tidak akan berkesempatan untuk membunuh Daddyku begitu saja,'' ternyata pria pria tampan itu belum masih saja dendam.


Ternyata tuan belum benar-benar menerima perbuatan Albert, tapi apa yang di katakan tuan itu benar juga, jika bukan karena Albert, pembunuhan itu tidak akan pernah terjadi. Xan.


"Baik tuan, saya akan menjemput tuan muda, sepulang tuan muda sekolah nanti tuan,"


"Hm.''


,,,


Saatnya Ronald pulang sekolah. Anak itu sudah menunggu Mommynya di depan sekolahnya, tiba-tiba ia melihat Asisten Xan yang melangkah mendekatinya.


"Selamat siang tuan muda," sapa Asisten Xan.


"Om temannya Daddykan?" Tanya Ronald.


"Iya, Daddy tuan muda menyuruh saya untuk menjemputmu di sekolah,''


Ronald terdiam sejenak. "Tapi, bagaimana jika nant-------ucapan Ronald terhenti saat mendengar suara seorang gadis yang menghampirinya.


"Ronald!! Tante datang!!" Teriak Lusy melambaikan tanganya pada anak kecil itu.

__ADS_1


Ronald mengembamngkan senyumannya saat melihat Lusy. "Tante!" Teriak Ronald.


"Ayo kita pulnag," memegang tangan Ronald ingin memebawanya pergi, tapi saat meklihat wajah Asisten Xan, bola mata gadis cantiik itu, lansung terpanah.


"Tampan banget ...." Gumam Lusy terpanah. "Tapi kenapa wajahnya seperti tidak asing ya? dimana aku pernah melihatnya?" tambah Lusy masih bergumam.


"Maaf Nona, tapi tuan Braylee mengarahkan saya untuk menjemput putranya," Sopan Xan.


"Putranya? Owh, ralat, lebih tepatnya, anak tirinya, kau tidak perlu repot-repot, aku sudah menjemputnya," Jawab Lusy, ia memang belum mengetahui jika Ronald adfalah anak kandung Braylee Ayah kandung Ronald, karena Riana belum pernah menceritakan hal sebenarnya pada Lusy.


"Maaf nona, tapi ini perintah langsung dari tuan Braylee, untuk menjemput tuan muda Ronald, dan membawanya kepada tuan Braylee, mohon kerja samanya," Jelas Asisten Xan.


Lusy melihat ke arah Ronald. "Tapi kamu benarkan? Kamu tidak beniat untuk menculik anak sahabat ku inikan?" Tanya Lusy memastikan.


Gadis bodoh, mana mungkin aku menculik anak majikan ku sendiri, bisa-bisa kepalaku akan di bocorkan oleh taun Braylee.


"Tidak nona"


"Baiklah, kau bisa membawanya.


"Terima kasih Nona"

__ADS_1


Asisten Xan pun membawa Ronald pergi dari halaman sekolahnya, membawa Ronald ke Markas.


__ADS_2